The Miracle of Being Grateful

Tulisan saya kali ini ada hubungannya dengan tulisan yang ini ni. Mengenai apa kedudukan tulisan kali ini, itu terserah penafsiran kalian. Namun saya pribadi kurang setuju jika kalian menafsirkan bahwa tulisan ini merupakan “jawaban” dari tulisan saya yang kemarin itu.
Mungkin lebih tepat jika ditafsirkan bahwa tulisan ini hanya berupa “sebagian dari jawaban”. Karena memang substansi tulisan ini tidak mengurai secara rinci tentang definisi “keren”.

***

Well, just drop me to the point, sir! 😀

Ok!

Beberapa hari belakangan kegalauan saya terhadap definisi “keren” kembali kambuh dengan sangat. Tengok ke sebelah sini, galau. Tengok kesebelah sana, galau. Sama saja. Saya rungsing sendiri.
Kemudian, malam ini tanpa dinyana (diksinya begitu banget sih 😀 ) melintaslah sebuah kata yang menawarkan kegalauan itu. Apakah satu kata yang tentunya sakti ini? Bersyukur. Memang kalau di-translate ke english jadinya dua kata (lihat judul tulisan ini). Hahaha :p

Benar, setelah saya pikirkan lagi dan lagi. Saya menemukan satu kesamaan yang dimiliki oleh teman-teman yang saya uraikan satu-satu di tulisan saya yang kemarin itu. Kesyukuran, itulah dia.
Mereka sama-sama bersyukur dengan apa yang mereka dapati, mereka jalani. Itu tercermin jelas dari senyum yang tersungging di wajah mereka saat mereka menjalani apa yang mereka tekuni. Tercermin pula dari rasa bangga yang mereka pancarkan untuk kegiatan itu.

Kesyukuran ini lah yang kemudian turut membangun objek kegalauan saya. Kesyukuran yang menciptakan aura, demikian saya menangkapnya. Cool Aura. Aura inilah yang kemudian membangun citra keren pada kegiatan yang mereka jalani. Efeknya, orang yang mengamati mereka merasa bahwa mereka itu keren. Apa yang mereka lakukan itu keren.

Sedikit lebih jauh, kalian tentu akrab dengan pepatah “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau”. Nah, saya pikir bahwa seseorang yang paling pertama mengucapkan perkataan ini telah merasakan Cool Aura yang dipancarkan oleh teman-temannya pada saat itu. Sehingga ia berpikir bahwa teman-temannya itu keren dan bahkan cenderung lebih keren dari dirinya. Kemudian muncullah pepatah ini.

***

Finally, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah keyakinan bahwa bersyukur akan membuat apa yang kita dapati, jalani dan tekuni menjadi terasa lebih keren. Amiiin… 🙂

*NB: Somehow, saya masih galau

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “The Miracle of Being Grateful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: