Amanat Pembina Apel Asrama C4 (1 Juli 2013)

Catatan: Bagi kalian yang sampai di post ini untuk mencari contoh amanat pembina apel, saya telah menuliskan contoh amanat yang jauh lebih bagus daripada yang terdapat dalam post yang ini

***

Hari pertama di bulan Juli tahun ini, saya berkesempatan menjadi pembina apel di asrama. Bermula dari obrolan singkat dengan Komandan Senior Residence, Kak Firman Kurniawan, yang isinya kurang lebih begini


“Parara belum pulang?”, tanya beliau
“wah, belum kak, masih lama, insya Allah sekitar awal Agustus baru pulang” jawab saya padat
“oh berarti selalu stay di kampus dong ya?” tanya beliau lagi
“iya kak, kayaknya, kenapa begitu?” tanya menanya balik
“iya, berarti nanti bisa diminta bantuannya dong di BNF”
“BNF? Apa itu BNF kak?”
“Be New Family, jadi pembina apel gitu bisa ya?” Kak Firman menjelaskan
“Oooh, Be New Family. Hmm.. Insya Allah kak”

Dan akhirnya senin kemarin saya benar-benar menjadi pembina apel di C4. Berikut amanat yang saya sampaikan pada apel pagi itu

***

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh!

semangat pagi!
kurang semangat, semangat pagi!
Kemudian, saya yakin kalian sudah diajarkan untuk menjawab apa yang akan saya serukan ini. Bersama di Asrama! (together to be better!). Bersama di Asrama!(together to be better!). Ya, itulah jargon kebanggan asrama TPB IPB.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena limpahan rahmat dan karunia-Nya lah kita semua dapat menghadiri apel pagi ini dalam keadaan sehat tanpa kurang sesuatu apapun. Selanjutnya Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW yang karena risalah yang beliau bawa lah, kita dapat meninggalkan zaman yang penuh kejahilliahan menuju zaman yang terang benderang dan penuh dengan ilmu pengetahuan.

Kemudian, karena saya tidak ingin diantara kalian yang jika ditanya temannya, “siapa yang memberi amanat pada apel tadi?”, dia tidak tahu, maka izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Pararawendy Indarjo, mahasiswa departemen matematika IPB angkatan 48. Asal saya dari sebuah kota yang terletak 250 km arah selatan kota Palangkaraya, Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah. Sampit nama kotanya. Ada yang tahu?

Selanjutnya selingan, sedikit berbicara tentang riwayat saya waktu di TPB dulu. Saya waktu TPB kebetulah diamanahi untuk menjadi ketua Klub Tutor Sebaya. Bagi kalian yang telah mendatangi Dormitory Fair, pasti sudah tahu Klub Tutor Sebaya. Saya kebetulan juga terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi Asrama angkatan 48. Dan Alhamdulillah, IPK TPB saya 4,0.

Oke, saya dengar hari ini kalian akan kuliah perdana matrikulasi, benar? Berbicara soal matrikulasi, saya akan memulainya dari definisinya dulu. Walaupun saya yakin banyak diantara kalian yang telah mengetahuinya, definisi lepas saya tentang matrikulasi adalah periode masa kuliah yang IPB sediakan khusus untuk mahasiswa baru yang masuk melewati jalur undangan. Setiap dari kalian nanti akan mendapat satu mata kuliah untuk dimatrikulasikan selam satu bulan. Jadi matrikulasi itu padat. Untuk bisa lebih membayangkan betapa padatnya matrikulasi, satu semester di IPB itu umumnya terdiri dari 14 minggu perkuliahan. Tujuh minggu pertama adalah periode UTS, tujuh selanjutnya adalah UAS. Kemudian, di dalamnya juga terdapat periode UTS dan UAS yang masing-masing memakan waktu kurang lebih dua minggu. Jadi kalau ditotal, satu semester di IPB itu setara dengan 14 ditambah 4 minggu sama dengan 18 minggu. Jadi terbayang, kan? Periode yang 18 minggu itu dijadikan hanya menjadi 1 bulan. Jadi matrikulasi itu sudah tentu padat.

Namun, bagi segolongan mahasiswa yang bisa mengoptimalkannya, matrikulasi justru mereka anggap sebagai bonus. Sebab jika mereka matrikulasi kemudian lulus dengan nilai yang bagus, mereka tidak perlu kuliah mata kuliah yang sama pada periode perkuliahan reguler nanti. Jadi misalkan seeorang mendapat matrikulasi fisika, kemudian ia dapat A, maka saat nanti di periode reguler kelasnya ada jadwal fisika, ia bisa tidur di asrama. Kurang lebih seperti itu.

Nah, untuk mengoptimalkan matrikulasi ini. Ada dua hal teknis yang ingin saya bagi pada kalian.

Yang pertama adalah saya ingin mengingatkan pada kalian bahwa ketika kalian sudah menyandang status mahasiswa di IPB, maka yang menjadi soal selanjutnya adalah bukan soal bisa atau tidak bisa, melainkan soal mau atau tidak mau. Sekali lagi, bukan soal bisa atau tidak bisa, melainkan soal mau atau tidak mau. Mengapa saya katakan demikian? ya pasti kalian sudah tahu bahwa kalian telah lolos seleksi dan mengalahkan banyak sekali siswa-siwa di luar sana yang juga mendaftar ke IPB. Kalian lah yang lolos, tentu nilai rapot dan nilai UN kalian tinggi. Jadi, saya yakin kalian pasti semuanya bisa. Oke? Sepakat ya! Ditambah lagi, seperti yang mungkin kalian sudah tahu. Nyaris semua mata kuliah yang ada di TPB itu hanya merupakan ulangan dari mata pelajaran yang ada waktu SMA. Jadi, lagi-lagi, kalian pasti semuanya sudah bisa. Sepakat?

Yang kedua adalah jangan menjadi deadliner. Deadliner, dari kata deadline dan imbuhan er di akhir. Jadi kasarnya pelaku deadline. Jadi begini, jangan menerapkan sistem SKS lagi. Saya sama sekali tidak merekomendasikannya. Sebab materi kuliah itu nanti akan sangat banyak, ditambah lagi seperti yang sudah kita ketahui, matrikulasi itu sangat padat. Jadi usahakan mengulang materi kuliah di setiap harinya. Kemudian, khusus bagi yang mendapatkan fisika, nanti itu selain kuliah, kalian juga akan ada yang namanya praktikum. Nah, praktikum ini menuntut kalian dengan laporan laporan yang deadlinenya sempit. Jadi kerjakan laporan itu secepatnya, jangan menjadi deadliner. Oke!

Baik, itulah tadi dua hal teknis yang bisa saya bagikan. Semoga bisa mengoptimalkan matrikulasi. Selain tentu saja hal-hal non teknis seperti selalu meminta doa orang tua dan menjaga kesehatan. Soal menjaga kesehatan, saya dulu 3 bulan pertama di asrama sakit-sakitan, tidak cocok makanan dan pola makan, dan itu sangat mengganggu proses kuliah. Jadi kalian harus menjaga kesehatan.

Oke, tanpa berpanjang kata, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan. Izinkan saya mengakhiri amanat ini dengan memimpin jargon kebanggan TPB. Ada yang sudah tahu? Jadi ketika saya serukan TPB! Kalian menjawab Bisa! Oke, dimulai ya. TPB!!! TPB!!! TPB!!!

Akhir kata wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: