Menyoal Kenaikan BBM

Halo semua!

Kali ini penulis ingin sedikit mengomentari tentang kebijakan terbaru Pemerintah kita. Penulis katakan ‘terbaru’ karena memang umur kebijakan ini relatif masih sangat muda, baru setengah bulan. Setelah berhasil ‘mengabaikan’ seluruh rintangan yang ada, akhirnya pemerintah kekeuh untuk tetap menaikkan harga salah satu komoditi kunci perekonomian itu. Yap, tentu yang saya maksud disini adalah BBM. As you know, harga BBM jenis premium alias Ron 88 sekarang harganya 6500 perak, sedangkan untuk jenis solar menjadi 5500.

Kebijakan yang mulai berlaku aktif sejak tanggal 22 bulan Juni kemarin ini menuai banyak kontroversi. Dan tentu saja, selayaknya kontroversi yang baik, kebijakan ini punya dua sisi ‘tribun’ yang saling berseberangan. Tribun pertama berisi ‘penonton’ yang kontra terhadap kebijakan ini, sedang tribun yang ada di seberangnya berkata sebaliknya.

***

Soal latar belakang

Tanpa mengurangi ke-universalan hukum sebab-akibat. Semua kebijakan yang muncul ke permukaan tentu saja punya sesuatu yang menjadi latar belakangnya. Begitu juga dengan kebijakan pemerintah yang satu ini. Dalam kasus ini, penulis menangkap dua isu sentral yang dijadikan alasan pemerintah untuk menaikkan harga BBM.

Postur APBN yang semakin tidak ideal, itu isu yang pertama. Pemerintah menilai bahwa APBN kita sudah mencapai titik kritisnya dan harus segera dibenahi. Penyebab tidak idealnya APBN ini kemudian ditengarai merupakan dampak dari salah satu sub komponen alokasi APBN, yakni subsidi BBM. Ujarnya, pemerintah kita mengalokasikan lebih dari 23o triliun per tahun untuk subsidi itu. Jumlah itu bahkan diprediksi akan terus membengkak, melihat fakta bahwa harga minyak mentah dunia memang terus mengalami kenaikan. APBN akan ambrol. Tiga kata itulah kesimpulan yang diambil pemerintah setelah menelisik postur APBN yang ada. Walhasil, kemudian pemerintah bersama DPR membentuk APBN-P. Tujuannya jelas : memangkas subsidi BBM secara signifikan.

Subsidi BBM tidak tepat sasaran. Penulis simpatik dengan isu kedua yang dibawa oleh pemerintah ini. Banyak lembaga survei yang menerbitkan hasil surveinya soal ketepat-sasaranan subsidi pemerintah ini di masyarakat. Hasilnya adalah sebagian besar dari mereka mengklaim bahwa lebih dari 60% subsidi ini salah sasaran. Cara lain yang lebih gamblang untuk mengatakan hasil survei tadi adalah bahwa banyak masyarakat ‘berada’ yang menjadi konsumen setia premium dan solar. Atas dasar ini lah pemerintah berencana membuat kebijakan yang lebih berkeadilan. Yaitu mengalihkan sebagian subsidi BBM untuk program yang secara nyata berorientasi kepada rakyat miskin. Program yang lebih tepat sasaran.

tidak tepatnya subsidi BBM

tidak tepatnya subsidi BBM

Nah, kedua isu tersebut lah yang menjadi pembenaran pemerintah untuk menaikkan harga BBM, 44,4% untuk premium dan 22,2% untuk solar. Dari sisi latar belakang, penulis berpendapat tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kedua isu yang dibawa cukup masuk akal. Tentu saja yang kita semua harapkan adalah bahwa lembaga-lembaga survei yang mengeluarakan data yang menjadi dasar isu kedua tadi adalah lembaga yang netral dan independen, tidak mempunyai kepentingan politik praktis dengan penguasa. Itu mutlak perlu agar menjamin keabsahan data tersebut.

***

Soal waktu eksekusi kebijakan

Seperti yang telah tertulis pada bagian awal tulisan ini, kebijakan kenaikan harga BBM ini disahkan pada tanggal 22 Juni 2013. Waktu yang sangat dekat dengan bulan ramadhan, tidak sampai sebulan. Dampak dari kedekatan ini adalah kenaikan harga kebutuhan masyarakat yang lebih dini. Mengingat kebiasaan yang ada mengatakan bahwa kenaikan harga barang akan terjadi pada bulan puasa menjelang lebaran. Karena itu banyak pihak yang menyayangkan ketidak-pasan waktu eksekusi ini. Berbeda dengan pandangan mereka, penulis justru beranggapan bahwa ini lah waktu yang paling tepat untuk menaikkan haraga BBM. Sebab, menurut penulis, justru karena ‘budaya tahunan’ kenaikan harga barang saat bulan puasa itulah maka diharapkan masyarakat tidak terlalu terkejut dengan naiknya harga-harga. Kemudian, mari berhusnuzan ria bahwa sistematika pasar akan mengenali ini (kenaikan harga, red) sebagai fenomena tahunan biasa. Jika benar demikian, (semoga) pasar akan mengembalikan harga seperti semula saat pasca lebaran kelak.

***

Soal saran kepada pemerintah dan penutup

Merunut pengalaman yang sudah-sudah, kenaikan harga BBM memang berdampak luas. Nyaris semua komoditi lain ikut naik harga karenanya. Dan sepertinya efek domino itu sudah memulai start-nya. Republika edisi tiga hari yang lalu (1 juli 2013) melansir bahwa kenaikan harga telah terjadi di hampir semua komoditi. Tercatat kenaikan tarif angkot 28-35%, rencana kenaikan tarif taksi 30%, kenaikan biaya industri 10%, 5-10% naiknya harga sembako dan kenaikan 10-15% biaya angkutan logistik.

efekdomino

Agar efek domino ini tidak semakin menjadi-jadi, pemerintah wajib cekatan mencari solusi ril dan efektif. BLSM saja agaknya tidak cukup. Pemerintah mungkin seharusnya dapat menaikkan UMR secara serentak dan membuka seluas-luasnya lapangan pekerjaan baru.

Akhirnya, penulis berharap kita semua dapat mendukung kebijakan yang diambil pemerintah kita ini. Toh, dengan bersikap kekeuh tidak terima dan terus mencaci tidak akan mengembalikan harga BBM. Faktanya, hampir semua negara-negara sahabat kita di ASEAN ternyata sama sekali tidak mensubsidi harag BBM untuk rakyatnya. Di sana (negara-negara yang tidak mensubsidi BBM), BBM dijual pada harga ekonominya, satu liter bensin dengan bilangan oktan di sekitar 87-92 dijual dengan harga yang mencapai 14 ribu (jika dikonversikan ke rupiah). Bandingkan dengan kita, baru 6500 saja sudah teriak-teriak. Jangan lah begitu. Negara ini hanya sedang dalam proses penciptaan ekuilibrium perekonomian yang baru, perekonomian yang lebih maju. Amin.

tidak sampai begini juga, kan? :D

tidak sampai begini juga, kan? 😀

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Menyoal Kenaikan BBM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: