Tentang Tidurnya Orang Puasa

Ramadhan kian mendekat πŸ™‚ . Di H-3 menuju bulan puasa 1434 Hijriah ini saya akan mencoba menulis sesuatu tentang ramadhan. Sebab saya memang sudah berencana untuk menulis tulisan yang bertemakan “puasa dan serba-serbinya” dalam periode ini, mencoba untuk bersinergi.

Well, sejatinya intisari tulisan ini adalah sesuatu yang klasik. Saya hanya mencoba menuliskannya kembali dengan bahasa saya.

Kalian semua tentu sudah pernah mendengar satu hadis yang isinya seperti ini kurang lebih seperti ini berikut.

Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya terkabulkan dan amalannya dilipat gandakan

Saat saya menulis tulisan ini, saya sadar bahwa status hadits ini masih diragukan. Apakah shahih ataukah dhaif.Β Namun, terlepas dari itu, saya pribadi menilai bahwa tidak ada salahnya menganggap hadits tersebut benar. Namun seharusnya didasari dengan beberapa catatan pemahaman. Pemahaman yang baik.

Pemahaman itu lah yang ingin saya bagikan lewat tulisan ini.

***

Saya pertama kali mendengar hadits tersebut kalau tidak salah saat saya masih menjadi siswa sekolah dasar, sudah lama sekali. Waktu itu berpuasa adalah barang yang relatif masih baru bagi saya. Karena seingat saya, saya baru aktif berpuasa ramadhan sehari penuh itu kelas dua sekolah dasar.

Saya, waktu itu, kemudian sering mendengarkan Umi beberapa kali mengatakan kembali hadits tersebut ke saya. Umi sering sekali mengucapkan hadits tersebut saat saya lagi bertingkah (nakal, red) di tengah hari saat puasa.

“Kata Nabi, tidurnya orang puasa itu ibadah lho, Nak. Coba daripada bertingkah gitu, memancing temennya berkurang pahala puasanya, mending kamu tidur. Dihitung ibadah, dapat pahala.”

Saya ingat betul perkataan Umi itu. πŸ™‚

Merenugni perkataan Umi, sampailah pada pemahaman yang pertama. Tidurlah jika tidak ada kegiatan baik (bermanfaat) yang dapat kita lakukan. Atau dengan bahasa lain, tidurlah saat kita cenderung ingin berbuat sesuatu yang sia-sia, tidak ada gunanya (seperti nakalnya saya tadi). Daripada melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kekhusyukan berpuasa, tidur akan lebih baik.
Selanjutnya, hadits ini di lapangan kerap kali ‘disalahgunakan’. Banyak orang yang kemudian menggunakan hadits ini sebagai ‘tameng’ pembenaran untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan, lalu menganggap bahwa mengisi puasa dengan tidur itu sudah sangat cukup. Woi! Tentu bukan begitu. Tidur itu memang ibadah, tapi ibadah yang paling minimum.

Seperti yang salah seorang teman saya katakan, “Bulan puasa itu bulan dimana diadakan diskon besar-besaran terhadap pahala”. Jadi seharusnya, kalimat yang menjadi implikasi logis dari hadits ini adalah “Ayo semangat beribadah di bulan Ramadhan! Lha wong tidur saja itu lho dinilai ibadah, apalagi kalau kegiatan yang dalam keseharian memang sudah dinilai sebagai ibadah”. Itu baru benar!

Nah, itu lah poin pemahaman yang kedua. Pahamilah bahwa tidur yang dimaksud dalam hadits ini itu adalah satu hal minimum untuk mendapatkan pahala di bulan ramadhan. Jadi, selama kita mampu melakukan ibadah yang ‘lebih hebat’ dari tidur, kenapa tidak kita lakukan? πŸ™‚

diagram analogi sederhana :-)

diagram analogi sederhana, terjadi pergeseran titik netral saat Ramadhan Β πŸ™‚

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

4 responses to “Tentang Tidurnya Orang Puasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: