Catatan Pra-Mudik 1434 H

Selamat puasa semuanya! 🙂

***

Langsung saja ya, dua hari terakhir bagi saya berjalan sangat lama! Mungkin kalian yang sudah berdiam diri di rumah tercinta masing-masing akan mengatakan sebaliknya. Tapi tidak dengan saya, dua hari terakhir ini rasanya super lama karena saya masih ‘setia’ menemani Bogor. -___-

Jadi begini ceritanya (siapa yang minta cerita?), dua bulan lalu, setelah saya meyakinkan diri akan mengikuti Semester Pendek (SP) saya menelpon (padahal cuma misscall, minta ditelpon balik) orang tua.  Saya meminta untuk mulai dicarikan tiket mudik. Saat itu, sudah keluar selebaran pengumuman dari DitAP (Direktorat Administrasi Pendidikan)  perihal penyelenggaraan SP. Dalam pengumuman itu tertulis bahwa SP dijadwalkan akan berlangsung selama bulan Juli, dari tanggal satu sampai tigasatu. Atas dasar selebaran itu dan pemikiran saya (yang akhirnya salah kaprah), saya meminta untuk dibelikan tiket untuk tanggal keberangkatan 3 Agustus. Biar aman, kalau seumpama jadwal SPnya ngaret-ngaret 1-2 hari.

Dan ternyata, tanggal tiga Agustus itu terlalu aman sodara-sodara! -____-

Sekitar tiga hari setelah permintaan itu, saya mandapat kapar fix soal penyelenggaraan SP di departemen matematika. Kabar itu berbunyi: “SP akan dimulai dari tanggal 1 Juli dan selambat-lambatnya akan berakhir pada tanggal 31 Juli”. Tragis! Tiket saya baru saja terbeli, masih anget bak fresh from the oven . -_____-

Singkat kisah, SP pun berakhir. Kalian tau tanggal berapa ujian terakhirnya? 30 Juli! -___- Jadilah saya termenung, merenungi pemikiran ‘cari aman’ saya soal tanggal mudik dahulu. Di saat kawan-kawan perantauan sudah bercengkrama hangat dengan keluarganya masing-masing, saya masih (terpaksa) ngasoo di Bogor.

***

Sudahlah, tak ada gunanya diratapi terus menerus, bukan? Mari kita tatap hari esok (bukan arti kiasan, sebab faktanya besok itu sudah tanggal 3 Agustus 😛 ). Yap, besok insya Allah saya mudik ke kampung halaman. Sampit Kota Mentaya 😀 . Saya sudah mempersiapkan banyak agenda, keinginan yang ingin saya lakukan selama di Kota Mentaya. Berikut beberapa diantaranya

  1. Berkeliling Sampit. Beputar-putar mengelilingi Sampit itu selalu selalu menyenangkan. Kalian tau? Sampit itu kota kecil. Paling lama satu jam, kalian sudah bisa khatam mengelilingi seluruh kota, dari ujung selatan sampai ujung utara. Ujung selatan kota adalah Bundaran KB (dekat rumah saya :D), dan ujung utaranya adalah Bandau Udara H.Asan (noh, siapa yang bilang sampit gak punya bandara? 😛 ). Rute favorit saya adalah mengawalinya dengan Bundaran KB, lalu belok ke ujung timur kota, menyisir Sungai Mentaya. Saya selalu tersenyum saat melihat deretan tongkang (kapal kayu dengan moncong panjang, red) yang parkir di pinggir sungai, anak-anak kecil mandi berenang di sungai (padahal dalam banget), ibu-ibu yang mencuci pakaian, dan rumah-rumah panggung yang berdiri di atas sungai. Semuanya Keren! Kemudian lurus terus, sampai bandara. Lalu, belok memutar, melewati ujung barat kota, mengelilingi bundaran polisi. Kemudian lurus, dan belok kiri, lalu selesai! Sampai di rumah kembali. 🙂 Kalian penasaran, kan? Baik, baik. Saya akan mendokumentasikan jalan-jalan keliling Sampit saya nanti dan saya taruh di satu post khusus. Insya Allah  🙂
  2. Shalat Jumat di Masjid Raya. Ini keinginan lama, dari tahun lalu. Tetapi belum terwujud, karena ternyata tahun lalu masjidnya belum jadi -____-. Semoga tahun ini sudah jadi dan sudah dipergunakan secara reguler. 🙂 Sekilas info, Masjid Raya adalah masjid terbesar di Kota Sampit. Bahkan, dengar-dengar juga terbesar di kalimantan Tengah!
  3. Shalat teraweh di Masjid Kota. Majid Kota itu spesial. Karena terletak di bangunan pasar yang berseberangan dengan pelabuhan, saat teraweh kita bisa melihat kapal pelni yang besar dan gemerlap sedang bersandar di pelabuhan, jika kita beruntung. Doakan saya beruntung ya nanti! 🙂
  4. Ngantar jemput adik sekolah. Ini harus  saya rasakan sensasinya. Adik saya, Akbar Indarjo barus saja masuk SMP. Mengikuti jejak abang-abangnya, dia juga memilih SMP Negeri 1 Sampit. Saya ingin mengantar jemputnya kesekolah selama saya di rumah! 🙂
  5. Makan telur mata gajah. Kalian pikir saya salah tulis? Seharusnya telur mata sapi? Tidak. 😀 . Telur mata gajah adalah jajanan khas Kota Sampit. Secara sederhana saya menggambarkannya dengan sejenis bakwan yang ditambah dengan telur puyuh di atasnya. Rasanya? Jelas wueenaak! 🙂

Itulah beberapa hajat di rumah nanti. Semoga semuanya, dan keinginan-keinginan saya yang lain bisa benar-benar terlaksana. Amiiin.. 🙂

rindu dengan plang raksasa ini :)

rindu dengan plang raksasa ini 🙂

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: