Berkeliling Kota Mentaya

Good afternoon guys!

Sore ini saya insya Allah ingin melunasi janji saya yang telah saya utarakan pada tulisan “Catatan pra-mudik 1434H”.  Benar! saya akan menulis tentang jalan-jalan keliling Sampit, Kota Mentaya.

***

2013-08-28 06.09.49

Di suatu sore, saya bersama adik saya Akbar Indarjo memutuskan untuk ngabuburit berkeliling kota. Sesuai dengan kebiasaan, saya memilih rute favorit.

Rumah – Bundaran KB – Jalan Kembali – Menyusuri pinggir Sungai Mentaya – Masjid Jami – PPM (Pusat Perbelanjaan Mentaya) – Bandara H. Asan – Stadion 29 November – bundaran Polisi – Rumah. 

Nah, kita mulai dengan Bundaran KB. Seperti yang ada dalam benak kalian, KB disini adalah singkatan dari Keluarga Berencana. Entah. Saya yang orang sampit asli juga masih heran dan tak mengerti apa alasan pemerintah daerah membangun Bundaran KB ini.  Padahal seperti yang kalian tau, kota Sampit bukan lah kota yang padat. Sama sekali bukan. Teringat waktu zaman SMP dulu, saya pernah  mendapatkan tugas mencari tahu jumlah penduduk kecamatan, satu kecamatan paling ramai di Sampit penduduknya hanya berjumlah 65 ribu jiwa. Jadi seharusnya alasan pemda bukan untuk melarang penduduknya untuk memiliki anak banyak-banyak. Lalu apa? -____- . Namun terlepas dari alasan pemerintah yang masih misterius itu, Bundaran KB tetap merupakan salah satu ikon Kota Mentaya. Setiap hari di setiap sore, bundaran ini selalu ramai dilewati. Terutama muda-mudi yang entah kenapa hobi sekali berputar-putar mengelilingi bundaran ini. Sampai-sampai ada istilah untuk menggambarkan fenomena berkeliling bundaran KB ini, yakni Tawaf. What the! -____-

walaupun tak lazim, saya tetap suka dengan bundaran ini

walaupun tak lazim, saya tetap suka dengan bundaran ini

Setelah tawaf di Bundaran KB, saya dan Akbar melanjutkan perjalanan dengan belok ke Jalan Kembali. Tak banyak yang dapat saya ceritakan soal jalan ini. It’s just an ordinary street, i think. Jalan ini waktu saya kecil masih penuh dengan hutan karet di kanan-kirinya, tapi sekarang sudah cukup ramai dengan perumahan. Wow, perubahan terjadi dimana-mana bung! (oposee)

Saya memilih melewati Jalan Kembali tidak lain karena jalan ini lah jalur yang paling cepat menantarkan saya menuju sungai kebanggaan segenap warga Sampit, Sungai Mentaya.  Seperti sungai-sungai Kalimantan pada umumnya, Sungai Mentaya sama sekali tidak mirip dengan mayoritas sungai-sungai yang ada di Pulau Jawa. Sungai Mentaya itu gagah men (kayak apaan aja)! Sungai ini lebar, tak kurang dua kali panjang lapangan sepak bola lah kira-kira. Di pinggir sungai ini, banyak terdapat kapal-kapal bersandar. Mayoritas diantaranya adalah kapal Tongkang. Kapal kayu dengan moncong panjang. Selain Kapal Tongkang, hal lain yang memesonakan mata adalah kehidupan warga yang kampungnya berada di pinggir sungai. Ibu-ibu mencuci pakaian keluarganya, anak-anak laki-laki mandi beramai-ramai di sungai (padahal itu sungai dalam banget), rumah-rumah panggung berpondasikan kayu ulin yang kokoh, dan yang lainnya. They are so cool! 🙂

salah satu tongkang yang bersandar

salah satu tongkang yang bersandar

mencuci baju di sungai

mencuci baju di sungai

rumah panggung

rumah panggung

kapal penumpang yang bersandar di pelabuhan

kapal penumpang yang bersandar di pelabuhan

eit, ada juga lho warung  jajanan terapung. keren kan? :-)

eit, ada juga lho warung jajanan terapung. keren kan? 🙂

Kemudian saya melintasi Masjid Jami, salah satu masjid terkeren di Kota Mentaya (semuanya keren ding padahal). Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan shalat teraweh di masjid ini. Rasanya kurang lengkap saja kalau tidak sempat. Hehe.

Pemandangan selanjutnya yang saya temui adalah Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM). Sesuai dengan namanya, PPM merupakan pasar terintegrasi yangterdiri dari kios-kios yang menjual berbagai macam hal . Mulai dari peralatan pancing-memancing, kebutuhan dapur, mainan, perhiasan, elektronik hingga tekstil. Nyaris semua ada deh! Oya, sebagai info, PPM adalah pusat perbelanjaan terbesar se-Kalimantan Tengah lhoo! Keren kaan? 🙂

pusat perbelanjaan mentaya

pusat perbelanjaan mentaya

Setelah PPM, saya dan Akbar kembali menikmati eloknya Sungai Mentaya sore hari. Lurus terus, hingga kami sampai pada Bandara H. Asan. Lagi-lagi tak jauh-jauh dari namanya, lahan bandara ini merupakan wakaf dari seorang ulama Sampit, Haji Asan. Beliau dengan kerennya mewakafkan tanah yang sama sekali tidak kecil itu kepada pemda untuk dibangun bandara diatasnya. Beliau pastilah seorang sosok yang visioner. Saya jadi terpikir untuk dapat mewakafkan tanah juga di suatu hari, berharap di atasnya akan terbangun Bandara Pararawendy (opojal?) .

papan nama bandara H Asan

papan nama bandara H Asan

bandara kebanggan Kota Mentaya

bandara kebanggan Kota Mentaya

Setelah melewati bandara, saya dan Akbar menuju Jalan Tjilik Riwut lalu tampaklah Stadion 29 November. Stadion ini selain berfungsi sebagi venue acara-acara keolahragaan, juga digunakan sebagai tempat berlangsungnya annual expo kabupaten. Biasanya setiap awal tahun, pemda mengadakan pameran terpadu untuk merayakan hari jadi Kota Sampit. Pameran tersebut selalu digelar di stadion ini. Oya, fungsi lain stadion ini adalah sebagai tempt diadakannya konser-konser musik jika ada artis ibukota tour ke daerah kami. Kemuduan perjalanan kami lanjutkan, sampailah kami pada Bundaran Polisi. Bundaran yang juga sering disebut Bundaran Pemda ini baru merupakan bundaran pada umumnya yang terdapat di kota-kota lainnya. Tidak seperti Bundaran KB tadi. Haha 😀

papan nama stadion

papan nama stadion

bundaran polisi

bundaran polisi

Bundaran Polisi sekaligus menjadi spot penting terakhir yang kami lewati. Saya dan Akbar menyudahi ngabuburit yang keren itu dengan kembali ke home-sweet-home. Jalan Teratai 5 Jalur 1 No 16. Mission acomplished! 🙂

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: