Semoga Tak Berujung pada Kelatahan Melangkah

Beberapa hari terakhir, saya (lagi-lagi) terserang galau. Padahal lagi minggu-minggu perang (UTS ,red) tetep aja badai kegalauan tak dapat terhindarkan. -____-

 

Galau edisi kali ini mengangkat tema “Kelatahan Melangkah”. Mungkin dengan dua kata ini, kalian akan tahu kemana arah tulisan ini akan saya explore . . .

***

Menurut kbbi.web.idlatah adalah menderita sakit saraf dengan suka meniru-niru perbuatan atau ucapan orang lain. Latah yang dipahami orang kebanyakan adalah latah dalam artian ini. Orang yang latah seringkali “digoda” dengan kejutan-kejutan sehingga latahnya muncul, lalu tertawalah orang-orang disekitarnya. Kurang lebih begitulah.

 

Latah dalam tulisan ini mengambil makna yang sedikit berbeda dari itu. Latah disini secara lepas saya artikan sebagai fenomena ikut-ikutan bertindak sesuai trend yang sedang nge-hits. Latah dalam artian ini contohnya juga dapat dengan mudah ditemui disekitar kita, kalian tentu tau gelang Power Balance yang populer di masa-masa putih abu-abu kita beberapa tahun silam, bukan?Gelang yang konon katanya berkhasiat meningkatkan matabolisme lah, kesehatan ini itu lah.  Nah, pada saat gelang tersebut populer, pasti banyak dari teman-teman kalian (atau jangan-jangan kalian juga :D) ikut-ikutan membeli dan menggunakan gelang tersebut tanpa penelaahan lebih lanjut mengenai kebenaran khasiat gelang itu. Langsung ikut-ikutan membeli saja (padahal harganya mahal). Fenomena ini termasuk contoh latah dalam artian ini. Contoh lain, kali ini yang lebih serius dari sekadar gelang, misalnya pada fenomena artis yang banting stir ke dunia politik praktis. Tentu juga tidak sukar menyebut contohnya, banyak. Nah, apabila si A (misalkan nama artis kita) yang tanpa kompetensi dan persiapan yang pantas ikut-ikutan juga banting stir, memasang baliho besar-besar yang berisi foto close-up dan nomor urutnya di pemilu, ini juga latah dalam konteks tulisan ini.

 

Nah, belakangan saya galau ya gara-gara ini. Sekitar sebulan terakhir, di kampus sudah mulai terasa periode kaderisasi kepengurusan seluruh organisasi mahasiswa. Mulai dari himpunan profesi, BEM fakultas, hingga BEM Keluarga Mahasiswa. Beberapa spanduk besak sudah tegak berdiri di beberapa spot, berusaha mengenalkan calon pemimpin yang akan maju di pemira (pemilihan raya). Itu untuk BEM KM dan fakultas. Himpro belum kelihatan, mungkin memang belum timeline-nya.

 

Atmosfer mempromosikan sosok-sosok calon pemimpin kampus semakin terasa saja. Ekspektasi-ekspektasi tinggi yang diciptakan, visi-visi yang progresif, semuanya sedikit-banyak mengusik pemikiran saya.

 

Saya sungguh tak ingin latah melangkah . . .

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: