Kampoeng Inggris #1

“ini bawaanku, mana bawaanmu?”

ini dia bawaannya si Aher

ini dia bawaannya si Aher

Pesan singkat Aher pada grup Whatsapp “Trio Hap Hap” membuat saya tersenyum simpul. Lima belas menit kemudian, Aher terlihat turun dari ojek, membawa tas yang sama persis seperti pada foto yang dikirimnya di grup whatsapp. Saya dan Aher bertemu di pelataran BNI Kantor Cabang IPB Dramaga. Beberapa saat kemudian, kami sudah berada dalam angkot, menuju stasiun Bogor. Salah satu liburan paling berkesan pun dimulai! 🙂

UAS semester 5 terakhir, si pengawas dengan bangga memajang ini :D

UAS semester 5 terakhir, si pengawas dengan bangga memajang ini 😀

***

Setelah Aher membeli dua tiket harian berjaminan khas miliknya Commuter Line, kami pun membopong barang-barang bawaan kami melewati pintu elektronik, lalu menuju peron stasiun. Saya baru sadar, ternyata bawang bawaan saya (terdiri dari satu koper, satu tas ransel dan satu kantong plastik ukuran sedang) tidak bisa dibilang tidak banyak. -..- Padahal, saya sudah berniat untuk tidak membawa banyak barang.  Ah, sudahlah.

iklan ada dimana-mana -..-

iklan ada dimana-mana -..-

Ternyata kereta jurusan Tanah Abang-Jatinegara baru saja berangkat saat kami menjejak lantai peron. Bukan suatu masalah, waktu masih panjang. Jadilah kami duduk menjeplak saja di lantai, saya sesekali bersenandung (kayak bisa nyanyi aja), Aher sibuk dengan telepon genggamnya.  Cukup lama menunggu, akhirnya kereta yang dinanti datang juga. Kami berangkat!

Adalah Stasiun Pasar Senen yang menjadi tujuan kami berikutnya. Yang cukup memorable dalam perjalanan kami menuju Stasiun Pasar Senen itu adalah kami seperti menjadi penumpang paling setia duduk di dalam kereta. Sebab, kami merasakan dua siklus lengkap penumpang kereta: dari ramai di awal Stasiun Bogor, lumayan sepi menjelang stasiun Manggarai, kembali ramai setelah dari Manggarai, kemudian sepi kembali saat mendekati stasiun Senen. Wah!

commuter line dari bogor gak akan berhenti di Senen langsung, melainkan di satu stasiun setelahnya "Sentiong". Jangan panik, turun saja di Sentiong dan naik commuter line arah sebaliknya. Sampai deh  :)

commuter line dari bogor gak akan berhenti di Senen langsung, melainkan di satu stasiun setelahnya: “Sentiong”. Jangan panik, turun saja di Sentiong dan naik commuter line arah sebaliknya. Sampai deh 🙂

Waktu menunjukkan pukul dua siang lebih saat kami sampai di Stasiun Senen. Saya dan Aher kemudian hendak menghubungi Henny sebelum menukarkan tiket. Eh, belum sempat dihubungi, Henny sudah setengah berteriak memanggil nama kami yang lewat persis didepannya, di ruang tunggu depan stasiun. Akhirnya Trio Hap-Hap lengkap lah sudah. Parara, Aher dan Henny siap menguasai dunia berlibur panjang!

cara mencetak tiket mandiri, kebaca gak sih?

cara mencetak tiket mandiri, kebaca gak sih?

ini dia komputer desktop yang disediakan untuk cetak tiket mandiiri. touchscreen bro!

ini dia komputer desktop yang disediakan untuk cetak tiket mandiiri. touchscreen bro!

sok diisi datanya :D

sok diisi datanya 😀

jeng jeng, kebetulan Henny satu struk tiket sama saya

jeng jeng, kebetulan Henny satu struk tiket sama saya

ini dia yang sempet bikin panik, masa waktu mencet "cetak", eh taunya kertas tiket di printer desktop saya habis coba?! -..- untungnya bisa cetak manual (terus buat apa gaya pake cetak mandiri -..-)

ini dia yang sempet bikin panik, masa waktu mencet “cetak”, eh taunya kertas tiket di printer desktop saya habis coba?! -..- untungnya bisa cetak manual (terus buat apa gaya pake cetak mandiri -..-)

Karena waktu kami rasa masih longgar dan kami semua belum makan siang, kami kemudian bergegas mencari penganan untuk makan siang. Kami memilih sebuah warung makan yang berada di sekitar kawasan stasiun. Berbeda dengan Aher dan Henny yang memesan makanan untuk makan ditempat, saya memesan untuk dimakan nanti (dibungkus, red). Sebab saya memang sudah menyiapkan makan siang saya, beli sebelum berangkat di kampus (irit berlebihan detected!). Benar saja. Saya nyaris saja ‘dipukul’ oleh pemilik warung dengan harga yang dipermainkan. “punya saya berapa mbak?” tanya saya ke mbak penjaga warung, yang ditanya terlihat kebingungan sesaat, sebelum ragu menjawab “em, dua belas mas”, saya reflek menimpali “lho, tadi kata ibu yang jaga sebelumnya sepuluh lho mba” benar saja, mbaknya terlihat panik lalu berkata “oh, iya mas”. Untung saja saya sempat menanyakan harga pada ibu ibu yang terlihat lebih senior (mungkin pemilik warung) sebelumnya. Walau tak seberapa, tetap saja saya bersyukur gagal dipukul. Jujur, saya termasuk orang yang paling alergi dan sebal dengan praktik permainan harga yang kerap terjadi di lokasi wisata dan tempat tempat pelayanan umum seperti stasiun.  Saya heran saja, mungkin mereka berpikir seperti ini: ah, paling orang ini sesekali saja makan ditempat saya, jadi naikkan saja harganya! Astaga!

***

Akhirnya kereta ekonomi Brantas terparkir di jalurnya, kami bertiga pun cekatan menuju gerbong satu. Secekatannya kami, ternyata gerbong sudah penuh saja. Tentu bukan kursinya yang penuh, melainkan tempat menaruh barang bawaan. Namun, masalah terpecahkan dalam beberapa saat kemudian. Seluruh tas besar kepunyaan Trio Hap Hap berhasil ditaruh dengan (lumayan) rapi. Kampung Inggris, here we come! 🙂

???????????????????????????????

(bersambung)

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: