Kampoeng Inggris #2

Kereta yang sama seperti dua tahun silam, namun lebih memanusiakan manusia.

Itulah satu kalimat yang menurut saya dapat mewakili keadaan kereta api Brantas. Benar, dua tahun yang lalu saya berangkat ke kampung inggris juga menggunakan kereta api Brantas. Perbedaan yang paling noticable tentu soal harga (kalau kalian berpendapat sama, kalian mahasiswa sejati), dua tahun silam harga tiket Jakarta-Kediri Rp 47.500, sekarang menjadi Rp 110.000. lidah Harga memang tak pernah bohong. Peningkatan harga dibarengi dengan peningkatan pelayanan. Mulai dari penambahan embel-embel “AC” di status kelas kereta, dari “ekonomi” jadi “ekonomi AC”, kebersihan gerbong, hingga kelaikan kamar kecil (hal yang paling krusial dalam moda transportasi jarak jauh 😀 ).

tuh kan beneran ada AC :D satu gerbong kalo gak salah ada 8 AC lho. Gima itu yak listriknya?

tuh kan beneran ada AC 😀 satu gerbong kalo gak salah ada 8 AC lho. Gima itu yak listriknya?

ada juga colokan disetiap bangku

ada juga colokan disetiap bangku

???????????????????????????????

ini dia jalur yang dilewati Kerta Brantas

ini dia jalur yang dilewati Kerta Brantas

Malam semakin meninggi, kantuk pun tak terelakkan. Tibalah perjuangan terberat dalam perjalanan menggunakan kereta api jarak jauh (baca: kereta ekonomi): menidurkan diri dengan nyaman. Walaupun tadi dibilang sudah banyak berubah, tetap saja bangku penumpang masih terlalu tegak (ya iyalah namanya kereta ekonomi). Hasilnya, tidur dengan nyaman bak peribahasa jauh panggang dari api. 😦 . Coba saja kursi penumpang juga di-upgrade dengan pengatur kemiringan, kan tanggung  (gak tau diri).

***

Kami tiba di Stasiun Besar Kediri sekitar pukul delapan pagi, 17 Januari. Di halaman stasiun, telah terparkir mobil colt coklat kepunyaan Pak Nur, siap menjemput Trio Hap-Hap. Oya, Pak Nur adalah pemilik camp tempat saya tinggal dua tahun lalu saat pertama kali ke kampung inggris. Saya sengaja meminta Pak Nur menjemput dengan alasan kepraktisan. Berhubung, tidak ada moda transportasi umum yang langsung menuju ke kampung inggris dari stasiun. Kalau tidak ingin naik ojek, kita mesti naik becak menuju tempat stop-an bus, menunggu bus tujuan Malang, naik, minta turun di pertigaan BEC, naik becak (lagi), baru deh sampai.

plang stasiun kediri

plang stasiun kediri

narsis dulu :-P

narsis dulu 😛

Di atas mobil, Pak Nur tiba-tiba bilang “Hei Parara, use the seat-belt! I must pay 100 thousand if police see you dont use it”. Saya pias sekejap, lalu merespon dengan mengenakan sabuk pengaman (seadanya). Lidah saya seperti diberi pelumas penghilang kaku, saya kemudian menyauti omongan Paknur, obrolan dalam bahasa Inggris pun mengalir. Aura kampung inggris telah kembali saya rasakan! 🙂

Pak Nur memang lancar berbahasa Inggris. Beliau adalah salah satu (dari tidak banyak) warga biasa (bukan tutor maupun pelajar) Kampung Inggris yang English nya cas-cis-cus. Dulu, saat pertama kali beliau mengajak saya ngobrol dengan bahasa inggris,  saya bahkan susah mengimbanginya. Kereen! 😀

Pak Nur

Pak Nur

***

Perjalanan dari stasiun menuju kampung inggris tidak kurang 40 menit. Tempat pertama yang kami tuju adalah Zeal Camp Boy 3 yang terletak di jalan Glagah. Lhoh, jadi gak nge-camp tempatnya Pak Nur? Yap, pas di perjalanan saya sempat bilang “I’m sorry before Pak Nur, now i will not stay at your camp, i’ve chosen Zeal 3”. Buerhubung Pak Nur juga tak tau persis dimana lokasi camp Zeal 3, di jalan Glagah, beliau sempat menghentikan mobilnya di depan sekelompok pemuda yang sedang asik bercengkrama, “do you know where is Zeal Boy 3?”. Salah satu dari pemuda spontan menjawab “Oh, over there mister, the yellow house over there” sambil menunjuk-nunjuk arah depan mobil kami. Saya semakin yakin bahwa saya sudah berada di kampung Inggris!  Well, begitulah gambaran kampung inggris, kampung dimana pembelajaran bahasa inggris sangat masif di nyaris seluruh sudutnya. 🙂

Sampai di camp, saya celingukan, setelah beberapa kali mengucap salam namun tiada jawaban. Tiba-tiba seseorang datang dan menyuruh saya langsung masuk saja kedalam, mengantarkan saya menemui seseorang yang lain di dalam camp. Terdengar suara audio tape pembelajaran bahasa inggris dengan tema “Watcha” saat itu. Oleh seseorang yang lain ini, yang ternyata bernama Mr. Otong, saya dan Aher disilakan masuk ke kamar dan meletakkan barang bawaan. Kemudian, Mr Otong menginstruksikan agar kami melakukan registrasi di kantor pusat Zeal, Webster namanya. Tentu saja, semua instruksi dan komunikasi saya dan Mr. Otong terjadi dalam bahasa inggris :-p.

Kami kembali ke mobilnya Pak Nur, sekarang tinggal mengantarkan Henny menuju ke campnya, Mahesa Princess 2. Selesai mengantar Henny, Pak Nur pamit. Oke, resmi lah Trio Hap-Hap memulai petualangannya sendiri di Kampung Inggris. 😀

***

Registrasi di Webster lancar-lancar saja, terlepas insiden salah alamat (gara-gara saya sedikit sotoy ogah bertanya), untunglah ada penduduk kampung yang menunjukkan tempat :-P. Mbak-mbak petugas administrasi meminta kami menandatangani kuitansi, setelah saya menyerahkan struk bukti tranfer senilai 750 ribu. Yap, Zeal Boy 3 satu orangnya 375 ribu per bulan. Memang lebih mahal dibanding camp Henny yang ‘hanya’ 170 ribu. Tapi ternyata , lagi-lagi harga tak pernah bohong. 😀

Destinasi selanjutnya adalah Mahesa Institute. Aher dan Henny (juga saya) tertarik untuk bertanya tentang program yang ada di sana. Hasilnya, Aher dan Henny langsung fix ngambil program Grammar Short Holiday (kalo gak salah) berdurasi 2 minggu. Saya? Nihil, rencana saya melanjutkan Grammar I yang sudah saya ambil dua tahun lalu dengan mengambil Grammar II gagal. Waktunya tidak memungkinkan. Durasi Grammar II itu satu bulan, sedangkan yang saya punya hanya tiga minggu. Waaah. -..-

Papan nama mahesa institute

Papan nama mahesa institute

Kami kemudian melanjutkan long march, misi selanjutnya adalah menyewa sepeda. Berjalan sekitar 400 meter, kami menemukan sebuah rental sepeda. Syukurlah tawar-menawar berlangung cepat, sudah dekat waktu shalat Jumat. Tiga sepeda 180 ribu. Dapat sepeda ‘baru’, kami langsung berkeliling kampung inggris, menuju Ke Daffodills, tempat les  speaking paling kece se-Kampung Inggris. Kali ini gantian saya yang langsung fix ngambil kelas di Daffodils: Speak Second. Si Aher dan Henny terjebak nostalgia galau karena jadwal speak second bentrok sama kelasya di Mahesa. Nah loh, sudah kayak KRS-an aja 😀

daffodils

Oya, di perjalanan menuju Daffodils, kami dengan resmi memberlakukan kesepakatan yang sudah direncanakan jauh dari Bogor (yang akhirnya klise, gatot a.k.a gagal total): “English is a Must”, semua percakapan diantara Trio Hap-Hap harus dalam English. Saya bersemangat mencoba ber cas-cis-cus ria, Aher juga tak kalah. Henny? Terdiam, mungkin lidahnya belum terbiasa. 😛

suasana parkiran Daffodils (ini tergolong belum rame lho)

suasana parkiran Daffodils (ini tergolong belum rame lho)

sekarang ternyata banyak yang beginian, dua tahun lalu gak ada sama sekali

sekarang ternyata banyak yang beginian, dua tahun lalu gak ada sama sekali

another one

another one

Pengeras suara masjid-masjid sudah saling bersahutan, saya dan Aher berpisah dengan Henny. Kami harus siap-siap shalat Jumat.

(bersambung)

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Kampoeng Inggris #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: