Senarai: Renungan tentang Sukses-Gagal

Salam bahagia kawan!

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa semua orang, saya yakin sudah memikirkan topik yang akan saya angkat pada posting kali ini paling tidak sekali saja. I guarantee that dengan taraf nyata limit mendekati 0%. (emang ada ya taraf nyata limit-limitan gitu). Tapi seriusan, saya yakin dan percaya setiap raga yang jiwanya masih cukup sehat pasti pernah menanyai dirinya sendiri tentang topik ini, lantas mencari pemahaman yang kiranya layak diinternalisasi bagi diri.

success (1)

Oukay, lets strike to the topic then. Tengah malam ini, saya ingin berbagi sekelumit pemahaman saya tentang “Sukses-Gagal”. Iyap, topik yang klise populer binggo bukan? Kalian tentu pernah, bahkan sering memikirkannya bukan? I know you so well guys (SKSD a.k.a Sok Kenal Sok Deket banget dah lu Par! 😀 ) 🙂

***

Seperti yang sudah saya tulis di bagian mukaddimah barusan, semua orang pasti punya pemahaman masing-masing tentang “Sukses-Gagal”. Tentu saja, karena –Maha Besarnya Sang Pencipta– tidak ada dua orang yang punya pemikiran yang identik sama, maka tentu ada berbagai pemahaman yang muncul. Namun, nampaknya sebagian besar pemahaman itu bermuara pada satu kesepakatan tentang hubungan antara kata satu dan yang lainnya, hubungan tentang Si Sukses dan Si Gagal. Hubungan itu telah ditasbihkan menjadi salah satu kata-kata bijak yang paling bijak yang pernah ada:

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

PP vrohSaat saya masih bermuka imut ribuan tahun yang lalu kecil dulu, ketika saya pertama kali memikirkan tentang topik ini, saya belum bisa menerima pemahaman yang banyak pengikutnya ini. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak hal yang terjadi dalam hidup, dan akhirnya saya setuju dengan kata-kata bijak tersebut, lengkap dengan ragam kata-bijak turunannya, macam:

Kegagalan adalah kesuksesan, jika kita dapat belajar darinya

Kegagalan akan mengalahkan pecundang, namun justru menginspirasi pemenang

Kegagalan hanyalah membuat kesempatan untuk memulai dari awal, namun dengan lebih bijak

Kesuksesan berangkat dari kegagalan dan kegagalan lainnya tanpa kehilangan spirit

Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu selagi masih muda

Mural di pagar SMK Adi Sanggoro, muasal dari post ini :-D

Mural di pagar SMK Adi Sanggoro, muasal dari post ini 😀

Nah, pepatah yang terakhir inilah yang saya tertarik membahasnya. 🙂

Lagi-lagi, saya juga percaya bahwa tak sedikit orang yang setuju dengan pepatah terakhir tadi. Bener apa bener hayoo? Saya juga termasuk orang yang meyakini bahwa dalam setiap hidup seseorang, jumlah kegagalan yang akan dia alami adalah suatu konstanta tetap semisal N. Kemudian kegagalan-kegagalan yang berjumlah ini menyebar dengan pola sebaran tertentu dalam hidup seseorang yang bersangkutan. Bisa saja menyebar normal, beta, gamma, eksponensial, atau seragam. (ngomong naon ie? maaf yak teman-temin kebawa diksi di kampus eh 😀 ). Apapun sebarannya pokoknya menyebar dengan acak gitu lah.

Nah, karena adalah bilangan yang tetap, maka ketika seseorang si empunya kegagalan ini mengalami satu demi satu kegagalan, maka tadi akan semakin berkurang satu demi satu juga, dan pada akhirnya nya akan habis. Alias, ia tak akan mengalami kegagalan lagi. Begitu. Maka muncullah kata-bijak kita tadi: Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu selagi masih muda. 

Pesan dari kata-bijak ini agaknya cukup jelas, kita jangan takut mencoba, jangan takut gagal, semakin banyak gagal, justru semakin baik karena itu berarti jatah gagal kita akan semakin sedikit dan rentetan kesuksesan yang tiada henti telah semakin dekat. Eit, eit, tunggu dulu kawan! Agaknya kalimat yang saya tulis miring barusan perlu kita bahas lebih lanjut, lebih hati-hati.

Kenapa begitu? Ya, karena menurut saya banyak juga yang memahami kata-bijak kita ini dengan serampangan, asal-asalan. Mereka mengartikan frasa “habiskan jatah gagalmu” dengan bulat-bulat tanpa merenunginya dulu. Lantas menyimpul dengan nada begini “Ah, pokoknya gue ikutan lomba ini dan itu ah, asal-asalan aja, kalah gak papa, kan dalam rangka menghabiskan jatah gagal, entar suatu saat pasti gue menang”. Awas, ini namanya salah kaprah!

Kalau begitu caranya, sampai kapanpun saya jamin jatah gagal kita tak akan habis. Yang ada kita akan gagal dan gagal terus. Sebab memang bukan itu tafsirannya. Frasa “Jatah gagal” di kata-bijak kita ini mengacu kepada kegagalan setelah kita lakukan yang terbaik, serius. Life will never be so easy, dude! Kegagalan jenis inilah, yang ada di Fix You-nya Coldplay “when tou tried your best but you don’t succeed” inilah, yang dihitung sebagai pengurang jumlah kegagalan N kita.

Jadi intinya, kita harus selalu melakukan usaha yang terbaik kita di setiap urusan. Then, the rest is nothing to lose, kalau kita sukses di urusan kita, tentu alhamdulillah, tapi kalau toh gagal, nevermind, itu artinya kita sudah berhasil mengurangi jatah gagal kita satu demi satu. 

***

Sekian, semoga (sedikit) mencerahkan. Salam 🙂

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: