Magang Jadi Pecinta Alam: Bukit Kapur & Munara

Halo jiwa-jiwa penuh gelora! 🙂

Kalau saya bertanya hobi, kalian akan menjawab apa? Olahraga? Membaca? Tidur? Makan? Atau jangan-jangan (jangan) belajar? 😀

Setiap orang saya yakin punya hobinya masing-masing. Sesuatu yang menimbulkan sensasi bahagia saat kita mengerjakannya. Tak seperti pasangan hidup (apa banget gitu analoginya), hobi tidak harus tunggal, unik. Seseorang bsia saja punya banyak, lebih dari satu hobi. Semisal, menarik dan mengulur hati orang crafting (membuat kerajinan tangan) dan mempromosikan apapun ke orang (selama itu baik). Asik banget ya kalau punya hobi seperti itu, sinergis. Jadi setelah bahagia bikin banyak craft, terus dipromosiin deh ke orang-orang, jadi duit. Lalu, hobi juga bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis. Ada lho orang yang secara periodik berganti hobi (emang ada ya Par? sotoy lu). Ahaha, yang jelas ada itu yang namanya hobi baru, yaitu hobi yang baru ketemu, baru sadar kalau sesuatu itu menyenangkan –terus dijadiin hobi deh.

Sekarang saya tanya begini, apa hobi baru kalian? Sesuatu yang baru saja resmi kalian daulat sebagai hobi? Berburu begal motor? (Ya kali aja kan, soalnya ini begal lagi nge-hits binggo 😀 )

Kalau saya, hobi barunya teh jadi pecinta alam. Yap, sejak saya tahun baru-an di atas Bukit Kapur kemarin, saya jadi suka saja naik-naik. Saya suka naik gunung (belum pernah padahal, baru bukit) karena menurut saya baik gunung (atau bukit, apa ajalah) itu miniatur dari filosofi menjalani hidup. Kita harus berlelah-lelah untuk naik ke puncak, saat sampai di puncak rasa lelah akan terbayar dengan melihat pemandangan yang indah binggo. 🙂

Tapi, sesuai dengan judul posting ini, status saya (rasanya) masih “Magang”. Sebab saya baru khatam menaiki dua bukit. Posting kali ini akan berisi tentang cerita singkat saya tentang dua bukit tersebut. Simak yak!

***

Bukit Kapur

Bukit kapur terletak di kecamatan Ciampea, Bogor. Bukit yang dapat dengan mudah dilihat jalan raya dramaga, arah Ciampea ini sebenarnya belum resmi dikukuhkan manjadi tempat wisata. Bukti nyatanya adalah (setau saya) masih belum terdapat satu pun penunjuk arah menuju bukit ini di sepanjang akses menuju bukit. Nama bukit ini pun sebenarnya belum terlalu jelas. Ya, selain Bukit Kapur, ada yang bilang ini Gunung Galau, ada juga yang menyebut Gunung Cibodas. Ah sudahlah ya, toh bukit ini sukses menghantarkan saya menikmati detik-detik tahun baru 2015 kemarin dengan gegap-gempita –karena disekeliling bukit terlihat pesta kembang api yang meriah sekali.

Bicara tentang akses menuju lokasi, saya tidak ingat persis. Yang jelas, kalau dari kampus IPB, keluar gerbang belok kanan, terus menuju arah Ciampea. Jalan menuju base pendakian bukit ini ada di daerah Cibadak. Jika kalian berangkat dari arah kampus dan sudah sampai di daerah cibadak, pelankan sedikit kecepatan kendaraan kalian sampai kalian temukan SMK Pandu. Nah, dekat dengan SMK ini, ada jalan bergapura pink (atau merah ya? lupa) di kanan jalan, itulah dia jalan menuju base nya. Jika kalian sudah masuk jalan bergapura pink ini, ikuti saja kata hatimu jalannya, ketemu pertigaan, belok kiri, lurus sedikit, sampai deh. Motor dapat dititipkan di rumah warga yang berada di paling pojok jalan.

Bagi pendaki pemula bagi saya, trek pendakian bukit ini lumayan menantang. Jalur pendakian adalah jalan setapak yang licin dan terjal. Di setengah pendakian awal kita akan menapaki tanah kuning yang sangat licin jika dalam kondisi basah. Setengah perjalanan selanjutnya, lebih menantang lagi, karena trek dipenuhi dengan batu-batu yang terjal. Dengan durasi perjalanan untuk mencapai puncak kurang lebih sekitar setengah jam, mendaki bukit ini sebenarnya tak menguras banyak tenaga. Namun, keekstra hati-hatian lah yang utama sekali diperlukan.

Sampai di puncak, kita akan mendapati sebidang tanah yang cukup lapang, feasible sekali untuk area camping. Dari atas, tersaji pemandangan kota maupun kabupaten bogor. Ohiya, satu hal yang menurut saya perlu diperhatikan ketika mendaki bukit ini adalah tidak adanya sumber air dipuncaknya. Jadi pastikan kalian membawa bekal air yang cukup ya, sebab tak ada pula itu yang namanya warung di sepanjang jalur pendakian. 🙂

Gaya di puncak bukit kapur

Gaya di puncak bukit kapur

tenda melayang! #naon :-D

tenda melayang! #naon 😀

kerjaan di tenda

kerjaan di tenda

sebelum turun

sebelum turun

ini juga yang ngangenin, makan bareng :-)

ini juga yang ngangenin, makan bareng 🙂

Meriahnya malam tahun baru :-)

Meriahnya malam tahun baru 🙂

kena satu! :-)

kena satu! 🙂

Bukit Munara

Setelah sukses menikmati tahun baru di Bukit Kapur, minggu lalu saya diajak kawan-kawan untuk mendaki Bukit Munara. Bukit ini berlokasi di kecamatan Rumpin, masih di lingkup Kabupaten Bogor. Akses menuju lokasi bisa kita tempuh dari Parung Maupun Ciampea. Sampai di jalan raya Ciampea-Rumpin kilometer kesekian gitu, di kiri jalan, kalian akan menemukan jalan bergapura biru dengan plang “Situs Gunung Munara”. Masuk saja ke jalan itu, ikutin jalan, maka sampailah pada halaman yang terdapat banyak motor terparkir. Itulah base pendakian kita.

Sama-sama berstatus bukit (walaupun warga lokal menyebutnya gunung), Bukit Munara dan Kapur memiliki beberapa kesamaan. Kesamaan mereka antara lain mereka sama-sama bukit yang getol sekali dibilang gunung (apasih, ini mah udah barusan kan Par), durasi pendakian sampai puncak relatif sama 30 menitan, dan sama-sama tidak memiliki sumber air di puncaknya.

Sekarang mari kita bahas perbedaannya. Bukit Munara, mungkin karena lebih (duluan) populer, jadi lebih mumpuni sarana-prasarana pendakiannya. Mulai dari karcis parkir dan masuk (masing-masing 5000 rupiah), banyaknya warung-warung di sekitar base maupun jalur pendakian (di puncak pun ada warung lho). Trek pendakian lah yang menurut saya mencolok perbedaannya, trek munara jauh lebih bersahabat, treknya dominan landai dan beberapa tanjakan sudah dibuat berundak.

tempat parkir yang sudah disiapkan di base pendakian

tempat parkir yang sudah disiapkan di base pendakian

ini dia, bukitnya terletak di kampung sawah, rumpin

ini dia, bukitnya terletak di kampung sawah, rumpin

Nah, sebelum naik, wajib didata dulu, sekalian bayar karcis masuk dan motor

Nah, sebelum naik, wajib didata dulu, sekalian bayar karcis masuk dan motor

udah masuk waktu shalat? shalat aja dulu di musholla :-)

udah masuk waktu shalat? shalat aja dulu di musholla 🙂

Ohiya, jika diibaratkan sebuah fungsi, bukit munara ini bukan fungsi unimodal, sebab puncaknya ada banyak, ada dua dengan jarak antar keduanya tak sampai 20 menit. Yang pertama, berupa dua bukit batu yang terjal dengan puncak sempit. Sedang yang kedua cukup landai dengan beberapa spot camping ground. Puncak kedua inilah yang lebih ramai pula. Tak kalah dari bukit kapur, pemandangan dari atas Puncak Munara juga indah bro!

jembatan yang sudah afkir menyambut di awal trek pendakian

jembatan yang sudah afkir menyambut di awal trek pendakian

Tuh kan treknya landai

Tuh kan treknya landai

ini puncak yang pertama,  gak lega kan?

ini puncak yang pertama, gak lega kan?

sok candid :-P

sok candid 😛

naik-turun ke puncak pertama menggunakan tali kayak gini

naik-turun ke puncak pertama menggunakan tali kayak gini

ada spot begi juga :-)

ada spot begi juga 🙂

gaya terus jang

gaya terus jang

puncak kedua , lebih ramai

puncak kedua , lebih ramai

ini dia spot wajib buat foto, di ujung puncak kedua

ini dia spot wajib buat foto, di ujung puncak kedua

Gunung Munara sudah resmi jadi tempat wisata :-)

Gunung Munara sudah resmi jadi tempat wisata 🙂

foto lengkap geng pendakian munara

foto lengkap geng pendakian munara

***

Dua pendakian awal ini memantabkan hati saya menjadi pecinta alam. Karenanya, saya ingin segera menanggalkan status “magang” saya, mungkin saya akan menghilangkan status itu saat saya telah mendaki sebuah gunung (beneran gunung, bukan bukit). Gede Pangrango sih sudah ada dalam plan. Doakan ya gaes! 🙂

“Sebuah negara tidak akan kekurangan sosok pemimpin jika generasi mudanya sering berpetualang di hutan, gunung dan lautan” – Henry Dunant 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: