Kuingin Seperti Layang-Layang

Bagaimana hidupmu, kawan? Apakah kau (sudah) menikmati hidupmu? Apakah hidupmu sesuai dengan ekspektasi indahmu? Atau, jangan-jangan, hidupmu (sedang) kelabu? Terlalu banyak hal yang tak sesuai keinginan, lantas membuatmu terpuruk berkepanjangan?

Apa kau bilang? Aku iri padamu? Hidupmu terlalu mudah? Oh, sungguh kau telah salah menyangka, kawan. Hidupku dan hidupmu sebelas-duabelas saja sebenarnya, sungguh! Aku juga tak jarang hampir putus asa dengan hidupku. Saat kumau ‘ini’ tapi yang terjadi ‘itu’. Saat semua orang terlihat tak menghargai segala usaha yang kuperbuat. Pun saat begitu banyak hal menyebalkan tiba-tiba terus saja terjadi tanpa bisa ku kendalikan.

Tapi, kawan. Setiap semangatku nyaris ambruk, aku selalu mengingat layang-layang. Ya, layang-layang, salah satu mainan legendaris kita dulu. Tentu kau tahu layang-layang, bukan? Bahkan dulu kau yang mengajariku membuat tali teraju* yang kokoh dan membuat layang-layangku terbang dengan kada berinik*** di langit. Kau adalah ‘dewa’  layang-layang di kampung kita.

Nah, bukan maksudku mengguruimu tentang layang-layang –mana mungkin aku menggurui guruku?. Malam ini, aku hanya ingin kita bersama mengingat sedikit tentang mainan kita dulu itu, tentang cara kerjanya. Benar, tentang bagaimana cara menerbangkan sebuah layang-layang. Lagi-lagi, tentu kau lebih fasih dariku merapal caranya. Stop, kali ini izinkan aku mengingat apa yang kau lakukan dulu.

***

sunset_kite_01_by_54kaHal pertama yang akan kau lakukan ialah, sambil membawa layang-layang andalanmu, kau akan bergegas mencari tanah lapang. Entah itu padang rumput, ilalang, maupun lapangan yang biasa kita jadikan tempat bermain bola 5 lawan 5. Pokoknya, asal menurutmu cukup lapang, kau akan memulai ‘penerbanganmu’ disana. Setelah kau menemukan tempat ‘penerbanganmu’, kau akan mendongak, pandanganmu menyisir sekeliling dengan cepat. Sesuatu yang biasanya menahan pandanganmu sejenak adalah pohon-pohon tinggi. Kau akan melihat arah gerakan daun, ranting pohon yang tinggi itu, kemana mereka bergerak. Benar, kau ingin mengetahui kemana arah angin bertiup. Biasanya, semakin kencang angin bertiup, kau akan semakin senang. Setelahnya, misalkan saat itu kau menyimpul bahwa arah angin adalah ke barat. Kau akan mulai berlari dengan layang-layangmu, berlari kemana? Ke timur. Kau berlari melawan arah angin. Tak sampai semenit kemudian, hampir pasti kulihat layang-layangmu telah terbang membumbung tinggi. Begitulah caramu menerbangkan layang-layang, apakah ada satu ritualmu yang kulewatkan?

berlari menerbangkan layang-layang, aku rindu kadang-kadang :-)

berlari menerbangkan layang-layang, aku rindu kadang-kadang 🙂

Izinkan aku sedikit melanjutkan celotehku ini. Di sore-sore tertentu, mungkin 5 atau 6 kali dalam sebulan, kau lebih bersemangat memainkan layang-layangmu. Sebabnya adalah, kau mendapatkan ‘tamu’ yang tak pernah kau duga dengan pasti kapan datangnya. Kau diajak betegang***. Semua teman sepantaran kita di kampung tau benar bahwa kau adalah raja betegang. Kau nyaris tak pernah kalah setiap kali betegang, layanganmu jarang sekali putus. Yang terjadi adalah setelah pertarunganmu adalah layang-layangmu justru terbang semakin tinggi. Saat ku tanya, apa rahasiamu sebenarnya? Kau memberitahuku singkat, “Kuncinya satu wal****, perbanyak mengulur daripada menarik.

***

Kau sadar? Ternyata layang-layang kita dulu menyimpan banyak pelajaran tentang hidup, kawan. Pertama, kita selalu mulai menerbangkannya di tanah yang lapang. Inilah perlambang kelapangan dada, kebesaran hati. Layanganmu tak akan bisa, susah, diterbangkan jika kau tak menerbangkannya dari tanah yang lapang, karena besar kemungkinan akan tersangkut kabel listrik, ranting pohon, maupun yang lain. Begitu pula hidup. Saat dadamu ‘sempit’, kau tak akan bisa meraih mimpi-mimpimu, kawan.

Selanjutnya, tentang ritualmu berlari melawan arah angin. Kenapa? Jelas jawabnya. Layang-layang hanya akan bisa terbang jika melawan arah angin. Semakin deras angin yang mengenainya, ia akan terbang semakin tinggi. Kita dapat meniru sifat layang-layang kita yang ini saat terasa begitu banyak cobaan hidup didepan mata. Semakin banyak aral, rintangan, halangan yang menghadang, kita harusnya bisa ‘terbang’ lebih tinggi. Jadikan semua hambatan itu justru menjadi pemicu kita untuk semakin berhasil.

Akhirnya, tips jitumu betegang ternyata mengajari kita tentang pentingnya bersabar saat menghadapi cobaan. Katamu “Perbanyaklah mengulur benangmu ketimbang menariknya”. Benar saja, saat kesulitan secara mengejutkan datang menyapa, kesabaranlah yang harus kita tampakkan. Dengan bersabar, semoga kita dapat melewati kesulitan tersebut dan justru membuat kita semakin tinggi, semakin mulia.

Karena semua pelajaran inilah, terkadang kuingin seperti layang-layang, semangatlah kawan! 🙂

layang-layangku terbang tinggi :-)

layang-layangku terbang tinggi 🙂

***

*(tali/simpul,biasanya membentuk segitiga, yang berguna untuk menyambungkan layang-layang dengan benang–yang dapat digulung)

**(bahasa banjar, artinya kurang lebih: stabil, tanpa banyak bergerak)

***(istilah di kampung kami, Sampit, untuk “gelasan”: ‘bertarungnya’ dua atau lebih layang-layang yang terbang hingga salah satu layang-layang putus)

****(sapaan antar teman dalam bahasa banjar, kurang lebih punya arti yang sama dengan “bro”)

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: