Soga Gedung C2 14 Mei 2015

Happy Sunday Noon Everyone!

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis 14 Mei, saya untuk kedua kalinya diminta untuk mengisi soga a.k.a social gathering gedung di asrama TPB IPB. Setelah kali pertama dulu di C3, kali ini yang beruntung (sok-sokan banget lu Par) saya sambangi adalah Asrama Putra C2. Saya di-request untuk menyampaikan materi tentang Tips Menyongsong Kehidupan Pasca TPB dan Motivasi Menghadapi UAS.

Slide1

Curcol sedikit, sebenarnya saya hampir menolak tawaran dari Kang Galih (Senior Residence yang mengundang saya ngisi soga), sebab undangan beliau yang agak dadakan. Saya baru dikabari H-1, dan beliau meminta materi dalam bentuk slide ppt. Berhubung biasanya saya kalau menyiapkan materi teh dua harian, jadi awalnya saya tidak langsung mengiyakan. Eh, tapi kemudian Kang Galih memberi keringanan, bilang tak apa tidak ada slide, nanti diskusi tanya jawab saja acaranya, okedeh saya iyakan.

Sampai H-4 jam, saya belum menyiapkan materi apapun untuk disampaikan. Saya hanya mengawang saja kira-kira apa saja pertanyaan yang bakal keluar dari insan-insan asrama di C2. Kemudian saya merasa bahwa saya harus menuliskan poin-poin yang harus saya sampaikan dalam bentuk soft-file, biar nanti diskusinya terarah maksudnya. Magically speaking, tiba-tiba saja saya

menyelesaikan slide ppt soga dalam waktu kurang dari satu jam! Memang benar kata orang, kalau kita niatnya lurus, ingin membagikan sesuatu yang insya Allah baik, bantuan-Nya sungguh sangat dekat. 🙂

***

Slide2

Segenap insan asrama TPB IPB 51, waktu-waktu ini pasti dilanda perasaan yang begitu bergejolak (lebey). Sudah hampir genap satu tahun tinggal di asrama, tibalah saatnya mempersiapkan diri menjadi sophomore a.k.a mahasiswa tingkat dua. Kira-kira apa saja poin yang perlu diperhatikan untuk menyongsongnya?

Pertama, tak kan ada lagi asrama.

Slide3

Yep! Setelah TPB, kalian tak akan lagi tinggal di asrama ini (TPB IPB, red). Mayoritas dari kalian akan tinggal di kost, atau kontrakan. Mungkin hanya beberapa dari kalian yang melanjutkan di asrama, seperti asrama Omda (organisasi mahasiswa daerah) masing-masing, asrama beasiswa (PPSDMS misalnya) atau asrama lainnya. Yang pasti bukan asrama TPB IPB. Lalu apa poinnya, tak ada lagi asrama?

Kebebasan. Benar, lepas dari asrama, nyaris semuanya menjadi lebih bebas. Membawa alat elektronik yang –semula terlarang– kedalam kamar, tidak ada keharusan untuk bangun pagi disaat ada agenda rutinan ngaji lorong maupun apel pagi, dan mungkin yang paling signifikan adalah tidak adanya jam malam. Kalian bebas mau pulang jam berapapun (asumsikan kost/kontrakan kalian tidak memberlakukan jam malam pada penghuninya), atau bahkan tidak pulang sekalipun.

Namun, kebebasan ini sejatinya dapat dipandang sebagai pedang bermata dua. Semuanya bergantung pada diri kita sendiri. You yourself rule your own self. Impact dari kebebasan ini kita sendiri yang menentukan, mau baik atau buruk. Baik, misalnya kalian, dengan tidak adanya jam malam, semakin produktif dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler positif yang memang agendanya mengambil jadwal di malam hari –bahkan kadang sampai larut. Yang buruk? Saya rasa kalian bisa mengambil contoh sendiri. 🙂

Kedua, mata kuliah yang terfokus.

Slide4

Tak sedikit mahasiswa IPB bilang bahwa TPB adalah Tingkat Paling Berat–secara akademik. Sebab, di TPB, tak peduli apapun departemennya, kalian akan tetap mendapatkan mata kuliah yang sama –terlepas dari adanya matakuliah mayor/interdep sejak TPB 48. Anak biologi misalnya, akan tetap diwajibkan mengambil matakuliah fisika yang mungkin sebagian besar orang akan sepakat bahwa korelasi ilmu biologi dan fisika itu tak besar-besar amat (untuk tidak dibilang nol). Begitupun sebaliknya dengan anak fisika.

Selepas TPB, percayalah bahwa deretan matakuliah yang akan kalian hadapi akan semakin terfokus. Anak matematika ya fokus pada matakuliah yang “matematik banget”. Lalu biasanya apa yang terjadi? Ya, lumrahnya, prestasi akademik akan cenderung meningkat setelah kita di departemen. Ada seorang teman saya yang biasa-biasa saja di TPB, tapi IPK semester 4 sampai khatamnya perfecto a.k.a 4.00. Jadi, optimislah bahwa di departemen semuanya akan lebih baik. Aamiiin. 🙂

Ketiga, jadwal yang lebih padat.

Slide5

Berapa jumlah total SKS TPB? 36-38. Banyak sekali ruang untuk berleha-leha di sela-sela kuliah. Sekarang lihat buku panduan akademik! Di departemen, nyaris tak kan ada lagi belasan SKS dalam satu semester, rata-rata mungkin 22-23 SKS. Imbasnya, jadwal perkuliahan akan semakin padat. Belum lagi yang departemennya terkategori “praktikum mania” macam departemen-departemen di FPIK dan FATETA. Di departemen-departemen praktikum mania, kepadatan akan meningkat lebih signifikan lagi.

Jadi poinnya, kalian harus pandai-pandai me-manage waktu. Kapan harus belajar, kapan harus menulis laporan, kapan harus reviu, kapan harus berleha–sebentar. So, bagi siapapun yang merasa setahun terakhir (masa TPB, red) ini jadwal kalian sudah padat, hati-hati saja semakin keteteran di departemen nanti.

Keempat, minor dan supporting course.

Slide6

Salah satu hal baru yang akan kalian dapati di departemen adalah minor dan supporting course (SC). Seperti yang sudah sebagian besar dari kalian tahu, minor adalah sepaket mata kuliah dari departemen lain yang jika kita berhasil meng-khatam-kan semuanya, kita akan mendapat nilai tambah keahlian yang diakui dan tertulis di ijazah kita kelak. Sedangkan SC adalah matakuliah random yang bisa kalian ambil dari departemen manapun (asumsikan pilihan SC kalian tidak jatuh pada matakuliah yang memiliki prasyarat) untuk memenuhi jumlah total SKS yang 144 itu.

Bagaimana tips seputar minor dan SC? Menurut saya, utamakan mengambil minor dahulu. Jika kemudian di tengah jalan kalian dapati susahnya menyelesaikan minor tersebut, misalnya karena terlalu banyak bentrok dengan mayor  atau ternyata mata kuliah minornya menyebalkan (penghancur IPK, red), lepas saja dan beralih lah ke SC. Sedangkan tips untuk SC, pilih lah SC yang memberi feedback yang baik untuk IPK. Tanyakan pada senior kalian apa saja kiranya SC-SC semacam itu. 🙂

***

Sekian dulu. Saya rasa akan lebih baik jika topik “motivasi menghadapi UAS” saya simpan untuk posting selanjutnya. 🙂

Salam.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Soga Gedung C2 14 Mei 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: