SIN-SUM Backpackers Adv 1st day: Arriving Singapore and Undescribeable Feeling

Selamat malam!

Setelah beberapa kali ter-distraksi karena satu dan lain hal, tibalah saatnya saya menceritakan petualangan saya di awal tahun 2015 yang lalu. Petualangan saya bersama empat sahabat saya yang bertajuk (udah macam konser aja) SIN-SUM Backpackers Adv. Kami berpetualang menjelajah Singapura dan Pulau Sumatera. SIN untuk SINgapura, SUM untuk SUMatera.

Selamat membaca! 🙂

***

Kok bisa sih liburan se-”niat” ini?

Semuanya berawal dari pembicaraan lepas di pertengahan tahun 2014. Waktu itu, ada gathering mahasiswa math IPB angkatan 50 (tahun masuk 2013, red) sebagai bagian dari rangkaian acara MPD (Masa Perkenalan Departemen). Selepas acara, saya, Aher, Arli dan Vina bermain game Deal or No Deal di telenan (tab, red) Vina. Sambil bermain, karena sebentar lagi liburan semester –dan lebaran, kami menceracau tentang liburan. Saya yang memang sudah lama ingin menjejak kaki di tanah Sumatera bilang ke Arli saya ingin bertamu ke rumahnya –di Lampung. Kemudian, salah satu di antara kami nyeletuk “asik kali ya, kalo keliling Sumatera gitu”, kami jadi antusias dan benar-benar ingin mewujudkannya –liburan keliling sumatera. Kami pun mulai berandai liburan menyusuri Sumatera dari Medan atau Padang di atas, terus ke bawah sampai lampung.

Beberapa saat kemudian Henny melipir ikut bergabung dalam obrolan. Masih limbung dengan angan-angan keliling Sumatera, Aher nyeletuk “Kenapa gak sekalian mampir Singapur, tanggung amat udah sampe atas Sumatera”. Saya langsung menimpali “Ayolah, siapa takut!”. Vina, Arli, dan Henny juga tak kalah semangat. Maka, malam itu, resmilah terbentuk SIN-SUM Backpackers Adventure. Kami berikrar di bawah rembulan (udah macam sepasang kekasih berikrar cinta) bahwa kami akan liburan dengan rute Bogor-Singapura-Batam-Riau-Padang-Bengkulu-Palembang-Lampung-Bogor dengan durasi 10 hari.

Menyadari betapa tidak sederhananya rencana liburan ini, kami sepakat untuk mengeksekusinya di Januari 2015, selepas UAS semester depan. Kami menyediakan waktu 6 bulan untuk menyiapkan segala sesuatunya, membuat passport, memesan tiket pesawat, penginapan, dan tentu saja mengumpulkan uang!

***

17 Januari 2015

Setelah melewati Terminal Kampung Rambutan yang agak menyebalkan (karena ada oknum oknum yang  mengarahkan, memaksa menggunakan “jasa”nya),  saya, Arli dan Vina akhirnya sampai di Bekasi. Rumah Aher kami jadikan base keberangkatan. Henny, yang memilih berangkat dari rumahnya di Jakarta sampai di Bekasi beberapa saat kemudian. Okay, personil SIN-SUM lengkap!

Pukul 3 dini hari keesokan harinya, kami diantar oleh bapaknya Aher ke Soetta untuk mengejar pesawat kami yang pukul 06.30, setelah sebelumnya disuguhi sarapan oleh Ibunya Aher. Terimakasih keluarganya Aher 🙂 . Tiba di bandara in-time, kami shalat shubuh lalu check in. Kami cengar-cengir begitu bahagia satu sama lain, belum sepenuhnya percaya hari keberangkatan SIN-SUM Backpackers Adv telah tiba.

Nah, di check-in ini ada kejadian yang sedikit (banyak padahal) membuat kami shock. Masak, mba-mba petugas counter check in nya bilang kalo kami sudah harus punya tiket pulang? Terus bilang kalo gak punya, kami akan langsung di deportasi selepas tiba di bandara singapur. Dia kemudian mengarahkan kami untuk langsung membeli tiket pulang dari maskapai yang sama. What the! Sontak wajah kami berlima langsung pias. Jangan bilang liburan yang sudah dinanti setengah tahun lebih ini kandas begini saja? Di deportasi? Setelah saya ngotot bilang ke mba-mba (yang nyebelin dan sotoy) itu kalo kami akan tetap berangkat, apapun risikonya (udah kayak di FTV-FTV ya) –sebab kami tak mungkin membeli tiket pesawat karena rencana kami pulang ke indonesia via ferry ke Batam—saya disuruh menandatangani surat pernyataan yang isinya tak akan menuntut pihak maskapai jika kami akhirnya benar-benar di deportasi. Sedih amat~

***

Mendarat di Singapura!

Pukul sembilan-an waktu Singapura (FYI, Singapura menganut GMT +7, which is satu jam lebih awal dari WIB kita), pesawat kami mendarat di Changi Airport. Perasaan saya buncah! Seperti ada kupu-kupu yang menggeleparkan sayapnya dengan hebat di dada. Saya masih setengah percaya saya benar-benar berada di Changi Airport, bandara yang sering saya kunjungi di papan permainan monopoli sejak zaman SD. Terlebih, ini adalah pengalaman pertama saya ke negeri orang. Pokoknya undescribeable feeling deh!

Sampai di Changi, sesuai rundown, kami akan leyeh-leyeh a.k.a ngasoo sejenak di bandara tersebut. Ohiya, bagi kalian yang belum tau, sebagai pendatang asing (bukan penduduk singapura, red), kita akan diminta menyerahkan passport dan form yang menerangkan kedatangan kita ke negeri singa tersebut ke petugas imigrasi di bandara. Form tersebut bisa diperoleh di ruang tunggu bandara keberangkatan (kami dikasih sewaktu di ruang tunggu Soetta), tapi misalkan terselip, kalem jangan panik. Sebab form tersebut disediakan pula di Changi, tinggal ambil saja. Mengenai apa saja yang diisi di form, adalah informasi yang berkaitan dengan kunjungan kita ke Singapura. Data diri, riwayat kunjungan ke luar negeri, durasi dan tujuan kunjungan, serta alamat tinggal sementara saat di singapura adalah data yang harus kita siapkan.

tempat pengisian form embarkasi (gak ada bahasa indonesia hiks)

tempat pengisian form embarkasi (gak ada bahasa indonesia hiks)

pos imigrasi Changi Airport

pos imigrasi Changi Airport

Di tempat imigrasi, jantung saya degap-degup, teringat omongan mba-mba soal deportasi di Soetta tadi. Apa jadinya kalau ternyata kami benar-benar dideportasi macam TKI ilegal di berita-berita? Duh, tak karuan rasanya. Ternyata eeh ternyata, si mba-mba emang nyebelin dan sotoy banget. Kami melenggang bebas aja tuh tanpa ditanyai sudah punya tiket pulang apa belum. Senaaang! 🙂

Sembari leyeh-leyeh, saya terpana dengan tingkat kemapanan Changi. Bangunannya yang futuristik lah, kelengkapan sarana-prasarananya lah (ada kran air minum, kursi pijat, taman indoor, spot foto-foto, dan monorail untuk moda transportasi antar terminal bandara dan masih banyak yang lainnya). Setelah penat lumayan memudar, kami memulai journey yang sebenarnya! Kami menaiki MRT untuk menuju destinasi pertama kami di negeri Singa. Yap, apa lagi kalau bukan landmark-­nya yang masyhur berupa patung singa menyembur air itu?

ada service assessment dimana-mana (ini di toilet)

ada service assessment dimana-mana (ini di toilet)

ini dia fitur yang paling bikin heboh, kami udah kayak bercumbu dengan itu ujung keran air buat nyobain :-D

ini dia fitur yang paling bikin heboh, kami udah kayak bercumbu dengan itu ujung keran air buat nyobain 😀

tuh ada telpon umum dan kursi pijat gratis :3

tuh ada telpon umum dan kursi pijat gratis :3

kebayang ya panjangnya ini terminal segimana, jalan sampe lima menit bro!

kebayang ya panjangnya ini terminal segimana, jalan sampe lima menit bro!

di bandara ada beginian coba :3

di bandara ada beginian coba :3

Groufie pertama Sin Sum di Changi :-)

Groufie pertama Sin Sum di Changi 🙂

papan petunjuk di Changi

papan petunjuk di Changi

Mungkin ada dari kalian yang bertanya, berapa harga tiket MRT? Jawabannya murah sekali, tidak sampai 1 SGD (FYI, 1 SGD saat itu 9400-an IDR). Bernarkah? Ya, karena kami membeli Singapore Tourist Pass untuk tiga hari seharga 30 SGD. Jadi, Singapore Tourist Pass (STP) ini adalah kartu sakti. Sakti? Ya, karena dengan kartu ini, kita bisa menjelajah Singapura sepuas-puasnya dengan menggunakan moda transortasi umum di sana (MRT, LRT dan Bus). Unlimited, mau naik berapa kali juga boleh. Mirip seperti kartu THB (tiket harian berjaminan) –nya Commuter line kita, 10 SGD dari harga yang 30 SGD itu adalah deposit. Jadi akan dikembalikan ke kita saat pengembalian kartu tersebut.

kartu sakti!

kartu sakti!

***

Di dalam MRT, Aher dengan gesit membuka-buka The Map of Singapore yang sudah diambil di Changi. Kemudian, ia mengatakan bahwa kami berhenti di stasiun MRT Raffles Place, karena stasiun inilah yang terdekat dengan Merlion (nama landmark-nya Singapura tadi teh). Keluar dari stasiun Raffles Place, kami disambut oleh bangunan-bangunan megah nan tinggi menjulang. Benar saja, karena stasiun ini memang terletak di jantung perkantorannya Singapura.

peta Singapura, tersedia suma-cuma di Changi :-)

peta Singapura, tersedia suma-cuma di Changi 🙂

penampakan di dalam MRT, si Vina sama Henny sempat seenak udelnya makan sama minum, belum sadar denda dimana-mana -...-

penampakan di dalam MRT, si Vina sama Henny sempat seenak udelnya makan sama minum, belum sadar denda dimana-mana -…-

Setelah cukup lama menebak-nebak kemana jalan menuju merlion dan nihil, saya memustuskan untuk bertanya kepada bapak-bapak security salah satu gedung. Dengan petunjuk beliau, kami akhirnya sampai di Merlion. Ternyata ukuran patung singa tersebut lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Dan, ternyata lagi, Merlion ada di semacam taman di pinggir sungai gitu. Walaupun waktu hampir tengah hari, suasana di Merlion ramai betul (ya iyalah, landmark dunia!). Di sana lah saya pertama kali ada di lingkungan yang heterogen banget, dari mata sipit sampai lebar, dari kulit putih sampai hitam, dari tingginya biasa aja (ya kayak orang kita gini lah) sampe tinggi banget, dari rambut hitam sampai pirang. OMR, semuanya meyakinkan saya kalau saya sedang berada di Singapura!

Percaya gak kalo yang motoin ini mba-mba dari banyumas yang ngomongnya ngapak parah? :-D

Percaya gak kalo yang motoin ini mba-mba dari banyumas yang ngomongnya ngapak parah? 😀

viewnya juga bisa marina bay, btw itu barang bawaan lu kok ganyante sih par? wkwk

viewnya juga bisa marina bay, btw itu barang bawaan lu kok ganyante sih par? wkwk

eh ketemu si Non yang cuakep ini, abang poto dulu lah :-D

eh ketemu si Non yang cuakep ini, abang poto dulu lah 😀

Setelah puas berfoto-foto di Merlion, kami bergegas menuju penginapan. Adalah Hostel Mitraa Inn yang kami daulat sebagai tempat bermalam di Singapura. Berlokasi di daerah Little India, Mitraa Inn adalah hostel yang memang men-spesialisasikan diri untuk para backpacker seperti kami. Harganya yang relatif murah (perorang permalam hanya 25 SGD  include free breakfast) dan lokasinya yang strategis adalah kelebihan yang dimiliki hostel ini. Tepat pukul dua (jam dibukanya check in kamar) kami tiba di Mitraa Inn, setelah menyerahkan voucher hotel yang telah kami pesan jauh-jauh hari via Agoda.com dan deposit 10 SGD, kami dipersilakan masuk kamar.

"tekka

makan berat pertama di negeri orang :3

makan berat pertama di negeri orang :3

kedai jualan nan (roti tradisional india) ini selalu rame bung

kedai jualan nan (roti tradisional india) ini selalu rame bung

elaaah, jauh-jauh melancong, makannya NAsgor deuiii -....- ahahaha 3.5 SGD

elaaah, jauh-jauh melancong, makannya NAsgor deuiii -….- ahahaha 3.5 SGD

ini dia nan-nya, itu yang di mangkuk namanya Mutton Masala, semacam gulai kambing gitu, tapi rasanya errrwww -....-

ini dia nan-nya, itu yang di mangkuk namanya Mutton Masala, semacam gulai kambing gitu, tapi rasanya errrwww, cuma henny yang doyan  -….-

selepas makan siang, sholat dulu di masjid seputaran Serangoon Road

selepas makan siang, sholat dulu di masjid seputaran Serangoon Road

Hanya setengah jam menikmati empuknya kasur hostel, rundown memaksa kami untuk segera berangkat lagi. Kami harus ke bianglala terbesar di asia tenggara, The Singapore Flyer. Lagi-lagi dengan map singapura-nya, aher menuntun kami sampai di sana. Kami terlebih dulu menukarkan tiket online kami sebelum menaiki Singapore Flyer. Ternyata, Singapore Flyer itu bukan hanya bianglala, melainkan berupa semacam museum (mirip PP IPTEK di TMII lah). Sembari menuju bianglala, kita akan melewati koridor yang berisi fakta dan sejarah Singapore Flyer dan yang lainnya, game-game, dan sesi pemotretan (kita difoto per-rombongan).

koridor menuju bianglala

koridor menuju bianglala

IMG_20150118_154517

ada ginian juga :3

ada ginian juga :3

kreatif banget deh, apa aja jadi seni!

kreatif banget deh, apa aja jadi seni!

ini dia, kami berada di dalam kapsul bianglala terbesar!

ini dia, kami berada di dalam kapsul bianglala terbesar!

pemandangan dari dalam kapsul :)

pemandangan dari dalam kapsul 🙂

Mengkhatamkan Singapore Flyer, kami menuju Marina Bay, hotel terintegrasi mall yang legendaris itu via jalan kaki melalui Helix Bridge. Sesampainya di pelataran Marina Bay, kami sempat gegana a.k.a gelisah galau merana mau ke Art and Science Museum dulu kah atau ke Garden By the Bay dulu. Kami akhirnya memilih ke Garden By The Bay dulu dan merencanakan akan ke Art Science Museum sepulangnya. Namun pilihan tersebut akhirnya kami sesali karena ternyata saat kami kembali dari Garden By The Bay, pendaftaran pengunjung Art Science Museum telah ditutup. Mereka tutup pukul 6 sore (iya pukul 18.00 disana masih sore, matahari masih ada), kami sampai sana pukulsetengah tujuh.

di sana, tiap tempat penyeberangan pasti ada ini :3

di sana, tiap tempat penyeberangan pasti ada ini :3

groufie di helix bridge

groufie di helix bridge

sekarang jadi tau kan kenapa namanya helix bridge? :)

sekarang jadi tau kan kenapa namanya helix bridge? 🙂

tuh beneran kayak DNA tuh :3

tuh beneran kayak DNA tuh :3

ini dia yang saya cari-cari di Gardens By the Bay, si Bayi melayang!

ini dia yang saya cari-cari di Gardens By the Bay, Planet, si Bayi melayang!

sky-tree, kami gak kesana karena berbayar :p

sky-tree, keren sih tapi kami gak kesana karena berbayar :p

gak boleh masuk, kita groufie deh di depan Art Science Museum~ tuh kan masih terang jam setengah tujuh :3

gak boleh masuk, kita groufie deh di depan Art Science Museum~ tuh kan masih terang pukul setengah tujuh :3

Dengan hati kuyu (halah lebey), kami melanjutkan petualangan ke Esplanade, mall sekaligus pusat pertunjukan seni. Sampai sana, kami agak kecewa, karena ternyata pertunjukan seninya berbayar  dan kami mengurungkan niat menonton (dasar kere). Kami hanya numpang shalat maghrib di sana –di spot mall yang sepi, karena tidak ada musolla.

oleh-oleh dari Esplanade ini doang :3

oleh-oleh dari Esplanade ini doang :3

Sekitar pukul setengah delapan, kami keluar Esplanade dan menuju Orchard Road. Rencanyanya sih nyari makan malam di sana. Et et ZONK. Alih-alih berisi tempat makan dengan harga terjangkau, Orchard Road adalah komplek mall dan pusat perbelanjaan elite terbesar di Singapore. Bayangkan saja, satu jalan itu isinya mall dan gerai barang-barang branded semua, bung! Walhasil, kami hanya cuci mata saja di sana. Akhirnya setelah tak sanggup menahan lelahnya kaki berjalan dan cacing perut yang berdemo, kami putar haluan ke pusat jajanan Newton di pinggiran kota, cari makanan murah.

Ohiya, kita sebagai muslim tak usah khawatir mencari makanan halal, sebab di Singapura –yang saya temui di setiap pusat jajanan—para penjual makanannya sudah mengerti dengan kriteria makanan umat muslim. Biasanya, mereka pasti memajang label “halal” di papan nama kedai mereka secara jelas.  Jadi mudah saja membedakan yang mana yang halal dan yang tidak. Jika tidak ada label “halal”, maka hampir pasti makanannya memang tidak halal. Tapi kalau masih ngebet, tanya saja “no pork? No lard?” untuk memastikan. Sejauh yang saya tau, mereka cukup fair kok, kalo mengandung bahan yang tidak halal, mereka pasti bilang. Soal harga, satu porsi makanan berat disana –di pusat jajanan—berkisar antara 3 SGD-6 SGD. Yaa, kurang lebih dua kali lipat dari di Jakarta lah.

lagi-lagi makan di kedainya orang india, soalnya nyaris cuman mereka yg halal -....-

lagi-lagi makan di kedainya orang india, soalnya nyaris cuman mereka yg halal -….-

menu dinnernya vina, martabak senilai 50 ribu :3

menu dinnernya vina, martabak senilai 50 ribu :3

Makan malam di Newton menandai akhir petualangan kami hari pertama SIN-SUM Backpacker Adv. Kami tiba di Mitraa Inn hampir tengah malam. Setelah bersih-bersih diri dan shalat isya, kami tepar masing-masing. What a day!  🙂

mitraa

bersambung…

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: