SIN-SUM Backpackers Adv 3rd day: Singapore Farewell & Batam Welcome

20 Januari: Kesiangan (lagi)

Agaknya, kami berlima abai dengan peribahasa “keledai tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya”. Tak belajar dari kesalahan di hari sebelumnya, kami lagi-lagi kompak bangun kesiangan. Dan parahnya, kesiangannya lebih parah. -…..-  Kami bangun sekitar pukul 7.40 disaat langit Singapura sudah terang benderang karena cahaya mentari paginya. Untuk kedua kalinya, sholat shubuh kami overtimed (tolong tetep dicatet yaa, malaikat Raqib 😦 ). Setelahnya, kami bergegas mandi dan packing. Ya, packing. Karena kami harus segera meninggalkan masa lalu tuk dijadikan kenangan indah antara kita berdua hostel dan menikmati hari terakhir kami di negeri Singa.

Kami pun sarapan. Sarapan kami hari kedua ini serasa lebih nikmat karena kami mengikutsertakan (apasih bahasanya) pop-mie yang kami bawa dari Indonesia. Seduhan pop-mie panas ditambah dengan telur ayam rebus, nikmat pisan euy. Puja-puji kerang ajaib pop-mie yang aguung! Setelah memastikan sekali lagi bahwa tidak ada satu pun barang yang tertinggal di kamar dan kamar mandi, kami turun ke lobby lengkap dengan segenap barang-barang kami yang beratnya lumayan (banget) itu. Kami check out, uang henny 10 SGD untuk deposit dikembalikan utuh (alhamdulillah tingkah aneh kami di kamar tak mengakibatkan dikenai charge xixixi) oleh recepsionist. Kami siap kembali menjadi kura-kura travellers –dengan tempurung berupa tas-tas ransel besar dan berat yang selalu kami bawa! 😀

Good Bye and thanks Mitraa Inn. :-)

Good Bye and thanks Mitraa Inn. 🙂

Ohiya, ada satu hal yang agak “serem” di hostel kami. Apakah itu pemirsah? Di malam terakhir kami di hostel, tengah malam, kami mengendap-endap (apasih (lagi) ) menuju ruang makan. Kami membuka kulkas dan bahagia karena hostel menyediakan air putih secara cuma-cuma. Kalap, kami mengisi seluruh botol minum kami penuh-penuh, sambil menyeringai penuh kepuasan. Kalian tau apa yang terjadi kemudian? Pagi harinya, saat saya mandi sambil nyanyi-nyanyi di kamar mandi (ya iyalah par masak di lobby!), saya –antara sadar dan tidak– meneguk air dari shower. Dan, dan, kok sepertinya rasanya familiar ya di lidah? Ternyata! rasanya sama persis dengan air minum di kulkas tadi pemirsah! if you know what i mean Huahuahuaa (nangis sambil ketawa).

***

Karena ketakdisiplinan kami –bangun kesiangan, kami terpaksa harus men-skip satu destinasi di hari ketiga “National University of Singapore” hiks hiks. Kami berhitung, tak ada gunanya memaksakan diri kesana dengan sisa waktu yang ada. Kami kemudian berencana menggantinya dengan mengunjungi Art Science Museum –yang gagal dikunjungi pada hari pertama. Tapi eh tapi, seakan melawan takdir –yang tak bisa dilawan, setelah kami sampai di depan pintu Art Science Museum, kami dicegat oleh petugas yang berkata “maaf, hari ini museum sedang digunakan untuk pameran karya-karya pablo picasso dengan harga tiket masuk 30 SGD, untuk pameran biasa yang gratis hari ini tidak dibuka”nyeesss banget gak sih. 😦

Akbaar ikam harus kesini laah deeng suatu saat :-)

Akbaar ikam harus kesini laah deeng suatu saat 🙂

ahaha, si pindut kreatif, borongan ini namanya :-D

ahaha, si pindut kreatif, borongan ini namanya 😀

lagi-lagi pemirsah, ditolak Art Science Museum -....-

lagi-lagi pemirsah, ditolak Art Science Museum -….-

Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata terakhir di Singapura. Adalah aquarium terbesar se-Asia Tenggara, S.E.A Aquarium a.k.a South East Asia Aquarium! Karena berlokasi di Sentosa Island, kami pun mengulangi rute yang kami lakukan kemarin –saat mengunjungi USS, menuju Harbour Front MRT Station, lalu transit menggunakan Sentosa Express. Sesampainya di loket S.E.A Aquarium, kami diminta menukarkan dahulu tiket online kami  di loket AsiaTravel yang terletak di basement, sekitar 300 meter dari loket S.E.A. Setelah tiket asli di tangan, kami melenggang menikmati indahnya akuarium!

Ini koridor menuju pintu masuk SEA, konsepnya pameran seni budaya antar negara gitu. keren

Ini koridor menuju pintu masuk SEA, konsepnya pameran seni budaya antar negara gitu. keren

tereeet, gaya sama pindut di sekitar pintu masuk SEA :-D

tereeet, gaya sama pindut di sekitar pintu masuk SEA 😀

Bagi saya, S.E.A aquarium adalah tempat yang sangat layak untuk dikunjungi. Sebagai akuarium raksasa, S.E.A aquarium menawarkan pengalaman berwisata dengan melihat berbagai macam jenis satwa laut. Mulai dari berbagai jenis ikan dan ubur-ubur, lengkap dengan beragam satwa laut lain macam bintang laut dan satwa-satwa laut unik lainnya. Ditambah, ada satu spot utama dari S.E.A berupa auditorium dengan akuarium ekstra besar berada di depan. Ada hiu, beragam jenis pari, ikan-ikan besar, gurita dan yang lainnya bebas berenang di depan mata kita. Di spot ini, kita seperti diajak melayang ke dunia terasing dan terdalam di samudera, dengan background musik yang epic betul. Sungguh betah berjam-jam duduk manis menikmati spot ini.

Welcome to SEA Aquarium :-)

Welcome to SEA Aquarium 🙂

akhirnya punya fotoo beginiii jugaa :-D

akhirnya punya fotoo beginiii jugaa 😀

Mr. Tentacles :3

Mr. Tentacles :3

pariii, ada banyak juga macemnya

pariii, ada banyak juga macemnya

Cantik cantik koleksi ikannya :-)

Cantik cantik koleksi ikannya 🙂

ini dia, spot the best di SEA, hanyut meen!

ini dia, spot the best di SEA, hanyut meen!

Waktu lah yang memaksa kami keluar dari S.E.A yang keren itu, kami harus segera bergegas menuju pelabuhan feri Harbour Front, untuk menyeberang ke Batam sekaligus menyudahi momen tiga hari dua malam yang sungguh memorable di negeri Singa. Sampai di Harbour Front sekitar pukul 15.00, bukannya langsung membeli tiket feri, kami justru kepincut salah satu toko sandal & sepatu. Saya pribadi sempat khawatir karena takut kehabisan tiket feri karena terlalu sore. Tapi syukurlah, ternyata jadwal feri di Harbour Front cukup padat (per 15 menit sekali kalau tidak salah) dan sampai pukul 17.00 keberangkatan terakhir. Kami kebagian feri pukul 16.35. Ohiya, ada satu hal yang sempat bikin panik terjadi di ruang tunggu feri, petugas pelabuhan sempat meminta Arli untuk berhenti sejenak, saya pikir ada apa kan ya, eh ternyata beliau, sambil menujuk baju Arli, bilang “harusnya I Love Indonesia ya, bukan SG”. Ahaha, betul, mungkin karena kostum kami hari ketiga yang kompak mengenakan “I love SG”, kami jadi agak menarik perhatian (PD abis)

kami mengembalikan kartu sakti STP, mengaharap deposit yang utuh :3

kami mengembalikan kartu sakti STP, mengaharap deposit yang utuh :3

nota pembelian tiket ferry, satu orangnya 23 SGD

nota pembelian tiket ferry, satu orangnya 23 SGD

ini dia jadwal ferry nya :-)

ini dia jadwal ferry nya 🙂

Okelah, Bye Singapore! I promise i’ll visit you in the future.

See You Again, Sentosa, Singapore!

See You Again, Sentosa, Singapore!

***

Saya pikir, perjalanan Singapura-Batam setidaknya akan memakan waktu 1 jam, ternyata hanya 30 menitan saja. Kami tiba di batam pukul 4 sore kurang. He? Kok bisa? Perasaan berangkatnya saja sudah setengah lima? Ya, karena seperti yang sudah saya ceritakan di post pertama, waktu Singapura itu lebih cepat satu jam dari WIB kita. 😀

Sampai di pelabuhan Batam Centre, kami langsung menumpang taksi menuju daerah Nagoya. Hotel yang telah kami incar untuk disinggahi ada di sana soalnya, Hotel Gloris. Hotel Gloris adalah salah satu –dari sekian banyak– hotel melati yang ada di daerah Nagoya, pertokoan Nagoya tepatnya. Rating yang lumayan tinggi di Agoda.com membuat kami kepincut menjadikannya tempat bersinggah di Batam.

Beberapa saat menjejak kaki di Nagoya, kami tiba-tiba khawatir. Melihat nyaris tidak ada angkutan kota yang mondar-mandir di sekitar hotel, ditambah dengan suramnya jawaban dari beberapa orang yang kami tanyai tentang plan liburan kami, tentang spot wisata apa saja yang menarik di Batam dan bagaimana cara menuju kesana, dan utamanya adalah bagaimana caranya menuju Pekanbaru dengan menggunakan kapal?

Betul, Batam sebenarnya hanya kami agendakan sehari saja di rundown Sin-Sum. Rencana awalnya, kami tiba sore hari tanggal 20 Januari, kemudian istirahat, keesokan harinya kami jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Batam. Setelahnya, sekitar habis zuhur, kami mengantar Arli a.k.a Hercules –atas alasan ada urusan dengan rektorat–berpisah untuk pulang ke terbang ke Jakarta dari bandara Batam, barulah kami berempat berangkat ke Pekanbaru menggunakan kapal. Tapi masalahnya adalah, beberapa orang kami tanyai, mulai dari resepsionis hotel, satpam hotel, sampai kenalannya bapaknya Aher, tidak meyakinkan kami bahwa perjalanan menuju Pekanbaru itu mudah. Katanya, kami harus ke pelabuhan Sekupang (yang jaraknya belasan kilometer dari hotel), ditambah jadwal keberangkatan kapal ke Riau itu hanya satu kali dalam sehari, pukul 7 pagi. Wew. Ditambah (lagi), katanya tujuan akhir kapal yang menuju Riau itu bukan Pekanbaru, entah daerah apa gitu, lupa, pokoknya masih sekitar 3 jam lagi perjalanan dari sana menuju Pekanbaru. Astaga. -….-

Dangan bermacam fakta yang sudah disebutkan barusan dan constraints (kendala, red) utama adalah budget dan fakta bahwa di rombongan kami ada dua orang wanita, maka rembug kami malam itu di kamar hotel Gloris memutuskan bahwa kami harus men-skip Riau dari destinasi Sin-Sum. Kami kemudian memutuskan untuk membeli tiket Citilink langsung ke Padang dengan jadwal persis keesokan harinya (ini backpacker apa backpacker sih pake pesawat mulu wakakaka).

Jadi, di Batam, kami benar-benar hanya numpang lewat. Malam itu, kami jalan-jalan mencari makan, dan maunya sih, mencari ponsel BM a.k.a Black Market yang murah banget itu. Kan katanya di Batam gudangnya. Eh, pemirsah, jauh panggang dari api. Kehidupan malam di Nagoya suram banget, serem. Ternyata disekitar hotel kami banyak pusat hiburan malam, dan, jalan-jalan sudah sangat sepi padahal baru pukul delapan malam. Ya Rabbi, serius serem banget. Jadilah, kami semakin ingin cepat-cepat meninggalkan kota ini, maafin kita ya Batam. 😦

makan malam di batam, percaya gak sih saya sempat ditawarin mba-mba beer? -.....-

makan malam di batam, percaya gak sih saya sempat ditawarin mba-mba beer? -…..-

Keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah packing rapi. Pesawat kami ke Padang pukul 10.30, sedangkan pesawat Hercules pukul 15.30. Sebelum berangkat ke bandara, kami jalan-jalan singkat, 30 menit sekali lagi memutari sekitaran hotel. Kalau pagi ternyata tak terlalu serem kok. Kami akhirnya mendapati pedagang ponsel BM. Saya terkejut, melihat ponsel-ponsel –ada iphone 6 juga– dijajakan dengan setting lapak yang sama persis dengan penjual sayur mayur macam cabai, bayam, dan semacamnya. Hanya bermodal terpal, jojodog a.k.a dingklik a.k.a tempat duduk kayu kecil, beres, dihamparkanlah itu ponsel-ponsel segala merek. What the! Tapi saya tak mendokumentasikannya, takut broo. Sebab kayaknya semua orang sudah sama-sama tau tentang keberadaan mereka, saya ogah iseng-iseng “mengusik”.

Sampai di bandara Hang Nadim Batam pukul 10 kurang, kami ngasoo saja di selasar bandara. Berhubung jadwal pesawat kami lebih awal daripada pesawat Hercules, jadilah terbalik sudah. Bukan kami yang “melepas” Hercules, tapi dia yang “melepas” kami. Hahaha, rasain luu Les, itu hukumannya gak khatamin Sin-Sum bareng kita-kita. 😛

groufie lengkap terakhir :-(

groufie lengkap terakhir 😦

***

Okay, Batam: Fin.

Please welcome to the city of delicious cuisine: Padang!

Bersambung…

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: