SIN-SUM Backpackers Adv 7th-10th day : Flash Epilogue

24 Januari, sebelum shubuh.

Kondektur bus yang kami tumpangi setengah berteriak berucap “Enim! Enim! Jembatan!”. Saya, Aher dan Vina yang memang sedari pemberhentian rumah makan terakhir sengaja tetap terjaga merespon sigap woro-woro tersebut, menuju ke pintu depan bus. Setelah nyaris 20 jam perjalanan, singgah di tiga rumah makan –yang menu makanannya mahal dan sungguh hambar– antah-berantah di tengah jalur lintas tengah Sumatera yang berkelok-kelok, kami turun di Muara Enim, yang berjarak empat jam dari Palembang, kota tujuan kami selanjutnya.

Turun dari bus, saya sempat terdiam setengah menit, melihat sekeliling. Gelap, sepi dan menyeramkan. Saya sempat sedikit menyumpah semua kru bus yang berkata bahwa tempat kami diturunkan ini adalah tempat yang ramai dengan bus dan mobil menuju Palembang. Satu hal pasti yang kami dapati saat itu adalah, kami diturunkan di tengah hutan! Kemudian, daripada menyebarkan panik ke Aher dan Vina, saya berlagak tenang mengajak mereka berjalan ke utara, menyusuri jalan. Alhamdulillah sekitar 200 meter, ternyata ada perkampungan warga dan –yang paling penting– masjid tempat shalat shubuh. Kami sepakat menunggu di dalam masjid, menunggu shubuh, menunggu kehidupan.

Selepas shubuh, kami kembali menuju jembatan tempat kami diturunkan tadi. Kami diberitahu warga bahwa memang betul bahwa jembatan itu adalah tempat biasa warga yang hendak ke Palembang menunggu mobil. Alhamdulillah, benar saja, sekitar 15 menit kami menunggu, datang sebuah mobil travel minibus dan menghampiri kami. “Palembang?”, ucap sopir dari dalam. “Iya Pak”, jawab kami semangat. Setelah tawar menawar, 200 ribu adalah mahar yang harus kami bayar untuk sampai ke ibu kota Sumatera Selatan itu.

Tiga jam perjalanan, saat Palembang sudah semakin dekat, sopir menanyakan kami dimana kami akan turun. Kami saling pandang satu sama lain, tidak langsung menjawab. To be honest, Palembang adalah satu-satunya destinasi yang belum kebayang di mana kami akan menginap.  Sontak, saya langsung teringat dua nama teman yang setau saya asalnya dari Palembang, menanyakan peluang kami bisa numpang di rumah mereka. Nihil. Keduanya masih di Bogor, tidak pulang kampung. Kemudian Vina juga mencoba hal yang sama, menghubungi teman SMA nya yang melanjut studi di Universitas Sriwijaya. Eh, ternyata dia hari ini ulang tahun dan –tentu saja– sudah punya agenda seharian bersama teman-temannya, tidak bisa diganggu. Jadi lah dahi saya berkerut-kerut, ini mau dimana ya turunnya, mau dimana kami menginap?

Akhirnya kami sepakat minta diturunkan di depan sebuah rumah makan cepat saji, dengan alasan yang minim korelasi: Vina kebelet buang air.  Bodo amat dengan masalah penginapan. Ahaha. Tiga puluh menit kemudian,  langkah kaki kami terhenti di depan sebuah wisma, Wisma Rupalesta. Kami memutuskan untuk menginap di wisma yang rate per orang per malamnya 60 ribu rupiah ini, setelah mondar-mandir mencari penginapan yang murah –dan gagal. Setelah saya disentak Aher dan Vina karena mengusulkan sebuah hotel bintang 3 untuk tempat menginap ya iyalah dasar backpacker gak tau diri. Terlepas dari suasananya yang (agak) menebar aura mistis apasih, menemukan wisma ini adalah kebetulan yang membahagiakan.

Menebar aura mistis? Maksudnya apaan teh? Iya, wisma Rupalesta terlihat dan terasa sepi sekali, padahal di saat yang sama sedang ada acara keolahragaan antar-provinsi yang juga menggunakan wisma ini untuk tempat menginap. Auranya serem euy.

tuh kan ada acara, jadi harusnya mah rame ya~

tuh kan ada acara, jadi harusnya mah rame ya~

Kunci kamar kami :3

Kunci kamar kami :3

Tampak balkon Wisma Rupalesta, dan Aher yang diam-diam "menghanyutkan"

Tampak balkon Wisma Rupalesta, dan Aher yang diam-diam “menghanyutkan”

***

Sejenak meluruskan kaki dan menaruh barang-barang, kami berangkat kembali. Apalagi tujuannya kalau bukan landmark Palembang yang tersohor itu? yap, kami ingin jalan-jalan ke Jembatan Ampera dan sekitarnya. Sesampainya di sekitar jembatan, datang dua orang wanita yang menghampiri kami. Kejutan, Aher ternyata punya murid yang asalnya Palembang! Dini namanya, dia membawa serta adiknya, untuk menemani kami berkeliling.

Atas rekomendasi Dini, kami menyambangi Taman Kambang Iwak Besak. Karena rumah mereka jauh, dan hari sudah mulai sore, Dini dan adiknya pamit undur diri. Kami dipanggilkan angkot yang menuju ke sana. Taman ini adalah salah satu spot nongkrong anak muda di Palembang. Di sore hari, banyak muda-mudi dan keluarga yang jogging memutari taman ini. Ada pula beberapa yang menggunakan sepatu roda, dan skate board. Karena tidak berkostum jogging, dan utamanya karena badan yang sudah lemah stamina, kami memilih menyewa sepeda 3 tempat duduk untuk berkeliling. 30 menit 30 ribu, kalau tidak salah ingat.

Ampera tampak sore hari

Ampera tampak sore hari

Vina bergaya di depan benteng kuto besak

Vina bergaya di depan benteng kuto besak

Taman Kambang iwak Besak, tempat orang-orang jogging dan bersantai

Taman Kambang iwak Besak, tempat orang-orang jogging dan bersantai

Tada! Akhirnya nyidamnya Vina terkabul juga. Kami jadi makan eskrim potong singapur, tapi di PALEMBANG. hahaha

Tada! Akhirnya nyidamnya Vina terkabul juga. Kami jadi makan eskrim potong singapur, tapi di PALEMBANG. hahaha

Rental penyewaan sepeda di Kambang Iwak Besak

Rental penyewaan sepeda di Kambang Iwak Besak

ada kran air minum cuma-cuma juga lho.

ada kran air minum cuma-cuma juga lho.

Selepas maghrib, kami kembali ke Ampera. Kami menuju rumah makan pinggir Sungai Musi yang sedari tadi sore kami incar-incar untuk kami tamui. Dan ternyata harga menunya –tentu saja– mahal! Kami tak peduli, “this journey is not so often right?” kami membela diri. Somehow, makin kesini kok kayaknya kami semakin mengukuhkan diri sebagai backpacker yang tak tau diri ya. Hahaha biarin. 😛

ini dia tempat makan (baca: restoran) mengapung yang kami incar hahaha

ini dia tempat makan (baca: restoran) mengapung yang kami incar hahaha

suasana makan di restoran terapung --yang mahal.

suasana makan di restoran terapung –yang mahal.

ampera tampak malam hari

ampera tampak malam hari

***

25 Januari, selepas shalat shubuh.

Kami kembali berkemas, tiket yang kami punya mengharuskan untuk tiba di stasiun kereta Palembang sebelum pukul setengah delapan. Rencana awalnya, kami ingin menjajal naik Transmusi (Transjakarta ver Palembang, red) gitu, tapi karena 15 menitan ditunggu di halte tak kunjung muncul, akhirnya kami naik bus kota yang keneknya mengangguk saat kami tanya “Stasiun bang?”.

Sampai di stasiun, saya dan Vina semakin yakin saja bahwa ada yang tidak beres dengan Aher. He looks so strange with his silence. Gelagat mencurigakan Aher sebenarnya sudah muncul sejak kami check-in di Rupalesta. Dia kerap celingukan, gelisah dan diam. Sampai klimaksnya, sesaat sebelum kami bertiga naik ke kereta, dia setengah berteriak “Waalaikumsalam!”. Lah, ini siapa yang disaut salamnya sama si Aher, saya pikir. And, as we guessed, di kereta, dia akhirnya mau cerita bahwa dia mendapat “teman” baru sejak di Muara Enim, tempat kami turun dari Bus yang kami naiki dari Padang. Si “teman” ini ternyata selalu menempel ke Aher dan selalu mengajak ngobrol. Dan, di stasiun tadi, “teman” ini bersedia melepas Aher, mengucap salam pamit deh doi. Jadi, genaplah sudah penjelasan kegajean Aher selama ini. Serem yak >…<

stasiun kertapati, tempat aher dan teman barunya berpisah :E

stasiun kertapati, tempat aher dan teman barunya berpisah :E

Satu rahasia umum yang wajib kalian tahu tentang perjadwalan kereta api lintas Sumatera adalah: Jangan percaya dengan jadwal yang tertera di tiket! Benar saja, di tiket kami, jelas-jelas tertulis bahwa kami akan tiba di stasiun Rajabasa Lampung pada pukul 16.05. Tapi sudah pukul 20.00 saja kami belum juga sampai. Ckckck. Penjelasannya adalah, kereta kami banyak berhentinya. Sebab jalur rel kereta api di sini masih jalur tunggal, dan penggunaannya harus bergantian dengan kereta pengangkut batu bara yang panjangnya gak nyante, 44 gerbong men!

Adalah pukul 21.00 kami tiba di Bandar Lampung. Atas saran Arli, kami naik travel saja lah (lagi-lagi tak mencerminkan sebuah tim backpacker hahahaha). Lima puluh ribu rupiah satu orang, untuk sampai di Persimpangan Fajar, Kalianda. Tempat dimana Arli dan keluarganya telah stand-by menjemput kami. Kami tiba di rumah Arli pukul 22.00 lebih. Larut, dan lelah. Tak ada yang bisa dilakukan selain makan dan tidur. Mempersiapkan diri menjelajah Kalianda besok hari! 🙂

***

26 Januari, pukul 08.00.

Kami berempat dalam perjalanan menuju Way Belerang, pemandian air panas yang berasal dari mata air pekat dengan belerang. Impresi pertama saat saya mendekat ke kolam pemandian adalah terkejut dengan aroma yang serupa dengan (maaf) kentut yang –tentu saja– tidak sedap. Yap, memang bau belerang demikian adanya. Hal yang ajaib adalah, kami menikmati pemandian ini dengan gratis. Padahal nyata sudah tertulis di bagian depan pemandian harga tiket untuk masuk. Mungkin karena penjaganya belum datang, atau sebenarnya sudah tapi dia takut sama Arli? jadi kami bisa asal masuk saja mungkin ya.  😀

Groufie genk sin-sum di depan way belerang

Groufie genk sin-sum di depan way belerang

tuh kan harusnya gak gratis haha

tuh kan harusnya gak gratis haha

kolam belerang yang bauu kentuuut

kolam belerang yang bauu kentuuut

yang nomer tujuhnya teman-teman. hahaha

yang nomer tujuhnya teman-teman. hahaha

Setelah puas membuat badan berbau (maaf) kentut. Kami di ajak Arli menuju pemandian kolam renang yang sebenarnya. Nah kalau disini keajaiban yang tadi terjadi di Way Belerang tak berlaku lagi. Berjalan menuju kolam, kami dicegat dengan petugas yang menanyai kami sudah punya tiket masuk apa belum. Jadilah kami membayar 40 ribu untuk 4 orang. Pemandian masih sepi, kolam renang yang lumayan besar seolah hanya dibut untuk kami berempat. 🙂

kolam renang destinasi kedua

kolam renang destinasi kedua

Menjejak tengah hari, kami berangkat menuju destinasi yang lebih menantang (karena lebih jauh). Kami ke pantai! Perjalanan sekitar 30 menit tak terasa karena pemandangan bibir pantai selalu mengawani di sisi kanan jalan. Tiba di lokasi, kami mendapat personel baru. Dinita dan keluarga, Dinita ini adalah teman se-departemen matematika juga. Karena keluarga Dinita jualah, kami bisa mengirit pengeluaran untuk makan siang. Sebab ibunya Dinita sudah membawakan bekal yang lebih dari cukup untuk makan siang kami semua. Hehehe.

tampak view pantai. pantai apa sih namanya lupak! >...<

tampak view pantai. pantai apa sih namanya lupak! >…<

Sore datang segera, bersamaan dengan mendung gelap di langit Kalianda. Kami kemudian berpisah dengan Dinita dan keluarga, dan melanjutkan mengunjungi spot lain yang menjadi tempat favorit untuk berenang. Pantai Banding namanya. Kami puas berenang-renang di kolam renang tanpa batas ini, berseru-seru saat ombak yang cukup besar datang. Kami bermain ombak sampai maghrib sesaat lagi menjelang, dan rintik hujan yang mulai turun. Dua pertanda alam yang memaksa kami pulang ke rumah Arli. Di perjalanan pulang, kami sempatkan mampir ke Tempat Pelelangan Ikan untuk membeli ikan buat dibakar nanti malam. Khilaf, kami membeli terlalu banyak ikan, yang berujung pada ketidaksanggupan kami menghabiskannya. Dasar ya. Ckckck.

Malam harinya, kami jalan-jalan menglilingi kota Kalianda. Kota kabupaten yang relatif masih sepi. Kami ke alun-alun, makan bakso paling josh se-Kalianda, makan terang bulan, ke masjid agung Kalianda, dan ke depan kantor bupati Kalianda, serta membeli oleh-oleh pisang kepok Lampung yang melegenda itu, lalu pulang.

kalianda mesjidnya kece juga euy B-)

kalianda mesjidnya kece juga euy B-)

Ahiya, satu hal yang menarik selama perjalanan berputar-putar di Kota Kalianda tadi adalah: saya tak menemukan satu pun tukang parkir yang beroperasi! Benar saja, entah itu di parkiran bakso, terang-bulan, sentra oleh-oleh sampai di alun-alun, sama sekali tidak ada tukang parkir broh! Enak sekali ya, jadi pengeluaran jalan-jalan kota setidaknya berkurang dengan tidak harus mengeluarkan biaya parkir –yang seringkali tidak jelas. Setelah saya konfirmasi ke Arli, makin sahih lah pengamatan saya tadi. Orang Kalianda memang tak suka dengan keberadaan tukang parkir di banyak tempat. Ternyata sejatinya ada kok tukang parkir, tapi hanya di tempat-tempat tertentu, di waktu-waktu tertentu, yang mengharuskan kendaraan yang parkir tertata rapi agar lahan parkirnya muat menampung kendaraan-kendaraan.

pertamini yang bertebaran di kalianda, sekarang masih gak ya? kan katanya dilarang~

pertamini yang bertebaran di kalianda, sekarang masih gak ya? kan katanya dilarang~

jangan salah, beli di pertamini yang ditanya berapa duit lho, bukan berapa liter. Udah berasa SPBU beneran kan :D

jangan salah, beli di pertamini yang ditanya berapa duit lho, bukan berapa liter. Udah berasa SPBU beneran kan 😀

***

27 Januari, pukul 10.00.

Angkot yang kami minta jemput sudah menunggu di depan rumah Arli. Saya, Aher dan Vina berpamitan dan berterimakasih pada keluarga Arli yang telah sudi menampung dan menjamu kami dengan sangat baik. Kami berangkat ke Pelabuhan Bakauheni, naik feri menyeberang ke Pulau Jawa, untuk menyudahi perjalanan tim SIN-SUM Backpackers Adv selama 10 hari ini. Perjalanan yang sungguh memorable!

FIN.

bergaya di dermaga tempat peleangan ikan kalianda

bergaya di dermaga tempat peleangan ikan kalianda

SinSum (530)

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: