Adab (menjadi yang) Diberi

Happy solar-eclipse day guys!
Gimana? Tadi pagi ikutan “merayakan” euforia gerhana matahari tidak? 😀

Baiklah, kali ini saya sreg ingin membagikan secuil pemahaman hidup yg saya pahami. Semoga saja baik dan ada manfaatnya ya barang secuil pula.  Selamat membaca!

***

image

Pernahkah kalian diberi sesuatu oleh seseorang? Saya yakin pernah. Katakan kalian ultah, lalu sahabat kalian memberi kalian suatu barang sebagai kado. Atau saat kalian wisuda (bagi yang sudah tentunya, yang belum? Semangat!), kalian pasti mendapat satu atau beberapa cindera-mata, seperti sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku, di malam itu, potret diri dalam bingkai, ataupun yang lainnya.

Sebenarnya tak perlu menunggu momen-momen sebesar ulang tahun atau wisuda, saya juga percaya banyak sekali momen-momen di ordinary-day dimana kalian diberi sesuatu oleh orang lain. Ayah yang pulang kantor membawakan dua bungkus
martabak manis untuk kalian santap,  temen yang sengaja beli eskrim dua yang satu untuk kalian tentunya) karena sedang syukuran atas sesuatu, temen yang tau tau membawakan sekantong pastik penuh rambutan karena ia diberi oleh temennya yang lain kebanyakan, dan yang lain, dan yang lain, you name it!

Nah, bagaimana eloknya menyikapi pemberian-pemberian ini?

Caranya adalah dengan bersikap “ndemena’ke” (bahasa jawa, artinya kurang lebih seperti “sumringah, ceria, antusias”).

Betul, jadi sudah seharusnya saat kita diberi sesuatu, apapun itu, kita selalu bersikap ndemena’ke atas apa yang diberikan orang lain ke kita tersebut. Bersikaplah sumringah, ceria, antusias, seolah kita sangat senang dengan barang yang diberikan ke kita itu. Seolah katamu, Par? Ya. Sebab memang pada kenyataannya di lapangan, tidak setiap benda yang diberikan ke kita itu memang benar-benar sesuatu yang sangat kita sukai, sangat kita nanti, saya bisa jamin itu. Katakanlah faktanya dari lubuk hati yang terdalam kita menganggap sesuatu yang diberikan ke kita itu sebagai sesuatu yang biasa, misalnya teman membawakan kita seloyang pancake di saat sikonnya kita baru saja selesai makan dan (otomatis) masih kenyang, maka tetaplah bersikap sumringah & antusias terhadap pancake itu dengan, misalnya, mengambil pisau dan memotong sebagian kue (walaupun sangat kecil) dan mencoba memakannya sambil berucap “waah, makasih lho sudah dibawain kue!”.

Syukur-syukur kalau memang pemberian tersebut memang sesuatu yang sangat kita nanti, sangat kita ingini. Tentu kita memang secara mutlak kudu bersikap ndemena’ke terhadap pemberian tersebut. Kalau saya menamakan fenomena jenis ini sebagai “too good to be true events” . Mungkin fenomena ini akan menjadi bahasan di post selanjutnya.

Memangnya manfaat bersikap ndemena’ke apa sih? Besar sekali tau manfaatnya! Dengan bersikap ndemenak’ke, orang yang memberi akan merasa bahagia sebab kita menyukai pemberiannya. Sangat bahagia malah. Efeknya, bukan tidak mungkin kita akan diberi sesuatu lagi olehnya –Ini bukan ngajarin bersikap pragmatis ya. Hanya saja yang jelas orang tersebut tidak akan “kapok” memberi sesuatu ke kita, karena kita tidak menghargai pemberian mereka. Kira-kira, bisa dimengerti ya sekarang manfaatnya? Kalau belum, tak masalah, saya yakin suatu saat ketika kalian telah menapaki dunia kerja, kalian akan mengerti penjelasan ini. ☺

Yap, jadi begitulah kira-kira adab (menjadi yang) diberi. Sebenarnya bahasan ini memang normatif, sih. Saya yakin setiap kita sudah tau bagaimana bersikap ketika diberi. Namun, pengalaman saya bilang bahwa tak jarang orang-orang yang diberi ini masih mengecilkan hati pemberinya. Bukan masalah ikhlas – tidak ikhlas tentunya, tapi masalah ikhlas – ikhlas banget + bahagia. Kira-kira begitu.

Okay then, cukup sekian sesi sharing siang ini. Semoga setelah membaca tulisan ini, tidak ada lagi kita yang nyeletuk “sebenernya gue tau nasi bebek yng enak banget, di daerah cikini dia“, saat kita lagi ditraktir temen kita yang syukuran di warung nasi bebek sebelah kantor.

Salam.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Adab (menjadi yang) Diberi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: