Too Good To Be True Events

Selamat menikmati senin malam semuanya!

Sesuai dengan apa yang saya ucap pada post saya sebelumnya yang ini, malam ini insya Allah saya akan mencoba membagi pemahaman –yang berdasar pengalaman– tentang apa yang saya sebut sebagai “Too Good To Be True Events”.

Okay then, have a pleasant read guys!

***
Pertama-tama, yuk kita definisikan dulu apa itu “Too Good To Be True Events”. Sebagai orang matematik, saya terbiasa untuk mendefiniskan dulu apapun terminologi baru muncul ke permukaan. Meskipun dengan terminologi-terminologi remeh-temeh macam kata “tergantung” dan “bergantung“. “Tergantung” itu menyatakan keadaan posisi benda, sedang “bergantung” itu menyatakan hubungan pengaruh suatu hal terhadap hal yang lain. Jadilah, orang matematik tidak pernah (atau jarang) berkata “ya tergantung, sore ini hujan apa tidak” saat ditanya “sore nanti jadi futsal?”, melainkan “ya bergantung, sore ini hujan atau tidak”.

Tuh kan, terminologi-terminologi sepele macam itu saja didefinisikan betul oleh orang matematik, gimana terminologi sakral macam “aku mencintaimu”? Pastinya dong didefinisiin dan dipraktekin nya lebih-lebih serius dari kebanyakan orang. Gimana gak beruntung coba kalo punya pasangan –hidup– orang matematik?! HAHAHAHAHA APAAN SIH SKIP

Oke oke kembali ke bahasan kita di awal, berikut adalah definisi saya tentang terminologi yang kita bahas malam ini.

Too good to be true events adalah kejadian-kejadian dimana sesuatu yang sangat-sangat kita inginkan tau-tau

muncul saja dan terjadi di hadapan kita, tanpa banyak kita pasang ekspektasi terhadapnya sebelumnya.

Contoh sederhana dari kejadian ini misalnya di suatu malam yang larut bin dingin kita sedang kelaperan di kosan, terus chat dengan teman-teman di grup WA, merekanya lagi nongkrong di warkop sambil pamer roti bakar coklat keju yang kemudian di upload ke grup. Kita baca, dan positif mupeng. Lalu, sepuluh menit setelahnya, ada temen kosan pulang dan tetiba berkata “eh ini ada jajan, kita makan bareng yuk”, saat bungkus plastik dibuka, pemandangan yang muncul adalah sama persis dengan gambar di grup WA barusan. Senang dong kitanya? Pasti! Parah!

image

Mirip mirip kayagini rotibakarnya malam itu ๐Ÿ™‚

Itu adalah salah satu momen too good to be true event yang saya alami sekitar dua tahun silam. “Kok bisa ya?” tanya saya dalam hati sambil menikmati lelehan coklat dari sela sela roti bakar di mulut. Syukur tak terelak, setelahnya.

***
Hal yang sama –atau mungkin lebih– terjadi akhir tahun 2015 kemarin, saya kan sedang sangat menginginkan suatu buku gitu di online store kan ya, terus saya berniat untuk membeli. Saya kontak penjualnya, tanya harga dan berniat transfer, tapi karena satu dan lain hal, saya kelupaan terus untuk mentransfer itu uang pembelian buku dalam beberapa hari berturut, jadilah saya urungkan –pending lebih tepatnya– niat untuk membaca itu buku. Lah, di akhir pekan, saat saya pulang ke Bogor, ada paket untuk saya yang setelah saya buka isinya buku yang identik dengan apa yang mau saya beli!
Saya senyum senyum sendiri.

image

Buku inilah yang jadi objek pembicaraan kita ๐Ÿ™‚

***
Hal yang tentu saja tidak boleh terlewat dibagikan adalah kejadian akhir minggu kemarin. Kamis sore, saya dipanggil bos saya ke ruangnnya. Setelah mengetuk pintu dan standing properly dihadapan meja beliau, beliau berkata “kamu ke Manado ya, besok sampai minggu”. Saya speechless beberapa saat sebelum menyahut “Siap Pak”.

And yes! Sabtu kemarin saya ke Bunaken! Tempat yang sudah lama saya impikan sebagai destinasi wisata sejak masih SMA dulu.

image

Trip Manado berikut Bunaken akan saya share di post selanjutnya, insya Allah

Saya (kurang) bersyukur, sekali lagi.

***
Tentu saja, pada kejadian too good to be true seperti ini, kita secara refleks akan bersyukur kepada-Nya. Hati kita secara otomatis akan ada pada mode “ndemenak ke” dan sumringah sekali menyikapi pemberian-pemberian–Nya– yang seperti ini. Yang jadi tindak lanjut setelahnya adalah, harusnya kita bisa terus bersikap seperti ini, menyukuri dengan tingkat seperti ini atas segala yang terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Sebab hakikatnya, semuanya adalah pemberian-Nya kepada kita.

Melalui post ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa Dia itu adalah Dzat Yang Maha Maha Baiknya, Yang Maha Maha Pemurahnya. Jadi, tetaplah senantiasa berlaku baik, tidak peduli seremeh apapun perbuatan baik itu seperti menyingkirkan batu / ranting di jalan, atau memutar dan memilih koridor sebelah lain saat petugas kebersihan sedang asik mengepel koridor yang biasa kita lewati di depan.

Bukan, (seharusnya) bukan pujian yang dinantikan, tetapi keridhaan-Nya, bentuk ucapan terimakasih kita kepada-Nya (yang tak mungkin pernah setimpal), yang telah memberi nikmat yang tiada tercacah.

Sekian.

image

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: