Jalan-Jalan Ke Papandayan

Selamat puasa, semuanya!

Kali ini saya akan menulis tentang cuplikan perjalanan saya mendaki Gunung Papandayan beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat long-weekend di Bulan Mei kemarin. Melalui post ini, saya ingin berbagi pengalaman bagaimana jalur transportasi menuju Gunung Papandayan dan rincian harganya, kondisi trek pendakian, dan kenangan tentu saja. Selamat membaca!

***

 

Mengawali segalanya, saya ingin bercerita sedikit tentang destinasi perjalanan saya kali ini. Gunung Papandayaan adalah salah satu gunung berapi cantik yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kata Wikipedia sih tingginya 2665 mdpl. Gunung ini terkenal dengan dengan spot Hutan Mati-nya yang indah, kawah yang menguar aroma belerang pekat, camping-ground Pondok Saladah, dan Tegal Alun sang padang Edelweis yang eksotik. Ahya, satu informasi penting adalah gunung ini belum berstatus taman nasional. Lantas? Artinya, untuk mengunjungi –dan mendaki– gunung ini, kita tidak perlu melakukan proses registrasi simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi) jauh-jauh hari seperti misalnya pada Gunung Gede. Cukup melakukan registrasi dan membayar tiket masuk di gerbang depan gunung, maka kita sudah bisa langsung mendaki. Jadi Gunung Papandayaan sangat feasible untuk dijadikan destinasi spontaneous escape trip, bangun pagi bengong gak ada kerjaan, tetiba pengen naik gunung, ambil tas, siang sudah ada di puncak Papandayan! *hanya ilustrasi* Baiklah, mari kita mulai ceritanya!

5 Mei 2016, Pukul 10.00

Saya menuju BNI Dramaga, tempat legendaris Civitas IPB jika ingin janjian berkumpul untuk pergi ke suatu tempat, setelah sebelumnya saya bersama Irma pergi ke Bubulak menyewa tenda yang akan kami bawa. Di BNI, saya sudah ditunggu oleh Fanny, Angga, Kak Shelly dan Ari (perempuan). Utusan BNI lengkap, kami mencarter angkot, menuju stasiun Bogor dan diteruskan dengan KRL menuju stasiun Tanjung Barat, stasiun terdekat dengan Terminal Kampung Rambutan.

stasiun Bogor yang selalu ramai dengan orang, pada mau kemana sih? :/

stasiun Bogor yang selalu ramai dengan orang, pada mau kemana sih? :/

Sesampainya di stasiun Tanjung Barat, kami disambut oleh tiga orang anggota trip lainnya: Ana, Rahman dan Fauzan. Nama terakhir adalah teman Fanny dari Palembang, yang rela terbang ke Jakarta ‘hanya’ untuk ikutan naik gunung. Tidak heran sih, doi adalah maniak gunung tulen.  Okay then, rombongan lengkap, kami bersembilan selanjutnya naik angkot no 19 warna merah menuju terminal Kampung Rambutan. Ohiya, tarif angkotnya per orang Rp 5.000 yes.

Pukul 2 siang, kami sampai di Kampung Rambutan, bergegas mencari bus tujuan Garut. Eh ternyata, bus Garut baru saja berangkat. Jadilah, kami memilih antrean bus selanjutnya yang masih kosong, menunggu sampai pukul 4 untuk (akhirnya) berangkat. Mahar untuk perjalanan Jakarta-Garut ini sebesar Rp 52.000. Berhubung perjalanan kami menagambil waktu di hari pertama long-weekend, durasi perjalanan yang umumnya diempuh sekitar 4 jam saja, menjadi 7 jam di hari itu! Kami tiba di terminal Guntur Garut pukul 23. Weleh.

nemu rumah makan dengan harga yang murah banget di Kampugn Rambutan! lokasinya sebelum masuk peron terminal depan Indonaret! Cobain!

nemu rumah makan dengan harga yang murah banget di Kampugn Rambutan! lokasinya sebelum masuk peron terminal depan Indonaret! Cobain!

deretan Bus di Kmapung Rambutan

deretan Bus di Kampung Rambutan

Bus kita ke Garut JOSSTOL

Bus kita ke Garut JOSSTOL

Turun dari bus, kami dihadapkan pilihan untuk langsung melanjutkan perjalanan ataukah menunggu sampai besok hari. Sebab ittenary awal yang dibuat Fanny bilang seharusnya kita sampai di Garut sebelum malam. Akhirnya, karena musholla tempat kami berencana untuk merebahkan badan (baca: tidur) semakin malam semakin penuh sesak dengan para pendaki lain yang juga ingin melanjutkan perjalanannya besok hari saja, maka kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan malam (baca: pagi) itu juga. Kami menuju Cisarupan, semacam spot pinggiran kota menuju Gunung Papandayan. Mungkin lagi-lagi karena trip kami yang mengambil waktu ramai, ongkos angkot  menuju Cisarupan naik dari yang biasanya Rp 15.000 menjadi Rp 20.000 per orang. Dan yang patut dicermati adalah angkot tidak akan jalan sebelum penuh atau dibayar selayaknya penumpang penuh (carter), jadi kami lumayan lama menunggu para pendaki yang sama nekatnya melanjutkan perjalanan tengah malam begitu. Menunggu sampai, kalau tidak salah, 12 orang, dan kami baru berangkat. Ohiya (lagi), ongkos belum selesai, ada semacam upah kenek (baca: pungli) yang duduk di atas atap, yang katanya menjaga carrier-carrier para pendaki tidak jatuh di perjalanan. Halah. Rombongan kami “terpaksa” membayar Rp 20.000 untuk “jasa” ini.

musolla yang sekiranya kami rencanakan mau nginep, eh makin dini hari makin rame ckcck

musolla yang sekiranya kami rencanakan mau nginep, eh makin dini hari makin rame ckcck

6 Juni 2016, Pukul 02.00

Kami tiba di Camp David, lereng Gunung Papandayan tempat registrasi dan parkir kendaraan (bagi yang  membawa), pukul 2 an dini hari. Perjalanan dari Cisarupan ke Camp David kurang lebih 40 menit, dengan moda Losbak (mobil pick-up) berongkos Rp 20.000 (naik juga, biasanya Rp 15.000). Sesaat sebelum sampai, ada gerbang yang dijaga petugas, tempat kita membeli tiket masuk. per orang Rp 15.000. Hawa dingin pegunungan menusuk, di sekeliling kami ternyata banyak juga para pendaki yang sudah berkumpul. Kami memutuskan untuk bermalam (baca: menunggu tiga jam) di sini. Karena kami sama sekali enggan membongkar carrier, kami tidur sekenanya. Hawanya dingin betul! Saya merasa itu adalah salah satu tiga jam terlama dalam hidup, tidak bisa terlelap, hanya tidur-tidur ayam. Brrr.

suasana di camp david

suasana di camp david

parkiran di camp david, rame kan yang ke Papandayan.

parkiran di camp david, rame kan yang ke Papandayan.

another spot di Camp david

another spot di Camp David

Akhirnya Fanny membangunkan saya, bilang sudah waktunya berangkat. Alhamdulillah. Kami bersembilan menuju pos retribusi kebersihan (per orang Rp 3000) dan shalat shubuh. Setelahnya? Pendakian dimulai!

Benarlah apa kata orang, Papandayan adalah gunung semua orang. Karena treknya yang landai –dan tentu saja kecantikannya–, Papandayaan didaki oleh semua kalangan, bukan hanya para pendaki berpengalaman dengan carrier-carrier basar. Faktanya, banyak sekali saya temui orang tua bersama anak-anak kecilnya, anak-anak umuran SMP-SMA dengan celana jeans dan tas ransel sekolahnya, sampai muda-mudi berdandan rapi tanpa membawa tas yang naik berbarengan dengan rombongan kami.

mulai pendakian!

memulai pendakian!

kawah papandayan di samping trek

kawah papandayan di samping trek

gaya dulu :3

gaya dulu :3

tersedia juga ojek yang bisa mengantarkan kita sampai ke persimpangan Jalur Normal, harganya? gak nanya! yang jelas pasti mahal lah

tersedia juga ojek yang bisa mengantarkan kita sampai ke persimpangan Jalur Normal, harganya? gak nanya! yang jelas pasti mahal lah

Umumnya, urutan jalur normal pendakian Papandayan adalah Camp David – Pondok Saladah – Hutan Mati – Tegak Alun – Puncak. Tapi karena kami anaknya tidak normal (heh?), jadinya kami bolak-balik itu urutan pendakian. Kami tiba di Hutan Mati lebih dulu kemudian baru Pondok Saladah. Hah kok bisa? Iya bisa, karena kami memilih jalur ‘tidak’ normal yang lebih terjal, jalur ini bermuara langsung ke Hutan Mati. Perjalanan dari Camp David ke Hutan Mati kami tempuh kurang lebih 3 jam. Setelah beristirahat beberapa saat di Hutan Mati, kami menuju Pondok Saladah sekitar 30 menit. Kami mendirikan tenda kami di sana.

persimpangan Jalur Normal, kami memilih TIDAK NORMAL hahaha

persimpangan Jalur Normal, kami memilih TIDAK NORMAL hahaha

ada banyak warung di sepanjang trek pendakian, sampai pondok saladah, gorengan harganya cuman 1000 lho! bakso 10 ribu (tapi hambar gila sih)

ada banyak warung di sepanjang trek pendakian, sampai pondok saladah, gorengan harganya cuman 1000 lho! bakso 10 ribu (tapi hambar gila sih)

pondok saladah!

pondok saladah!

Secara umum, kontur trek pendakian Papandayan sampai dengan persimpangan “Jalur Normal” tergolong landai. Trek menjadi lumayan terjal setelahnya, hingga Hutan Mati. Permukaan trek mayoritas berbatu sampai dengan Hutan Mati, sedang dari Hutan Mati ke Pondok Saladah trek berupa tanah.

Sore hari, hujan mengguyur Papandayan. Apesnya, tenda laki-laki ternyata sudah afkir. Air hujan merembes kedalam tenda, menjadikan tenda seperti kolam ikan, basah semua bung! Saya, Angga, Fauzan dan Rahman lengkap menggigil. Kemudian dengan gayanya kami bersembilan sepakat untuk serempak tidur duduk di tenda perempuan (yang kapasitas maksimumnya hanya untuk 5 orang). Pukul 23, saya kok tidak tega dengan tampang-tampang capek dari para personil perempuan. Tidak bisa tidur hanya dengan duduk (ya iyalah lu pikir gampang!!). Karenanya, saya keukeuh mengusulkan untuk tetap tidur di tenda masing-masing. Untungnya hujan juga sudah reda, walaupun tenda masih saja sangat lembab dan beberapa bagian bahkan masih basah.

7 Juni 2016, Pukul 06.00

Hari baru menawarkan semangat baru, terlebih karena kami bisa tidur lelap di tenda masing-masing. Kekuatan kami kembali (udah berasa apaan aja), semangat kami yang sempat buyar untuk melakukan summit kembali menggelora! Setelah membuat kopi, kami memutuskan untuk berangkat summit, dengan harapan pukul 8 an kami sudah kembali ke tenda, sarapan, packing dan pulang. Eh ternyata permisah, jauh panggang dari api, kami baru sampai di tenda setelah zuhur. Alasannya adalah insiden salah jalur yang kami alami di perjalanan turun dari puncak Papandayan. Durasi kami menuju puncak hanya 1,5 jam, pulangnya 4 jam Bung! Kami salah jalur dan memutari sisi gunung, melewati jalur yang sangat jarang / atau tidak pernah dilewati orang-orang. Kami sempat hampir kehilangan semangat karena haus dan lapar. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa sampai di tenda kembali.

Terlepas dari insiden menyebalkan dan melelahkan itu, Papandayan memiliki puncak yang tidak biasa. Puncak Papandayaan itu tidak lain hanya sebatas ujung hutan yang memiliki view ke bawah yang cukup luas. Tidak ada puncak dengan kawah curam, puncaknya adalah hutan berkontur relatif datar yang luas. Perjalanan summit yang menurut saya antiklimaks, sebab trek dari Hutan Mati menuju puncak lumayan (memang) terjal. Hal lain yang membuat antiklimaks adalah, di spot yang katanya puncak ini, tidak saya temukan plang maupun penanda yang memberikan kepastian bahwa spot ini adalah puncak. Ckckckckck. Antiklimaks deh pokoknya.

spot yang katanya puncak Papandayan zzz

spot yang katanya puncak Papandayan zzz

hutan edelweis menuju tegal alun

hutan edelweis menuju tegal alun

tegal alun!

tegal alun!

tegal alun!

tegal alun! (2)

Setelah dari tempat yang katanya puncak Papandayan, kami menuju Tegal Alun. Ini adalah salah satu spot tercantik di Papandayan, karena berupa padang Bunga Edelweis yang luas dengan pemandangan yang menawan. Kami menghabiskan waktu lumayan di spot ini untuk berfoto, sebelum dilanjut dengan insiden salah jalur yang saya ceritakan di atas.

tanda-tanda salah jalur: trek yang sangat curam dan gak enak -....-

tanda-tanda salah jalur: trek yang sangat curam dan gak enak -….-

kami tiba di persimpangan Jalur Normal tengah hari dengan suasana begini, kebayang ya kalo kami telat sampe sini bisa beneran tersesat :(

kami tiba (dari salah jalur) di persimpangan Jalur Normal tengah hari dengan suasana begini, kebayang ya kalo kami telat sampe sini bisa beneran tersesat 😦

Tiba di tenda, kami sangat lapar dan lelah. Geng perempuan segera memasak, dan baru matang sekitar pukul 14. Setelah makan dan beberes, kami baru siap turun setelah ashar, dan sampai Camp David tepat setelah maghrib. Menuju terminal Garut, kami mencarter minibus dengan mahar Rp 40.000 per orang (langsung sampai terminal tanpa berhenti di Cisarupan. Sampai di Terminal Garut pukul 20 kurang. Setelah ngetem cukup lama, bus kami ke Kampung Rambutan berangkat pukul 22.30. Tiba di kampung rambutan pukul 3 dini hari, kami beristirahat di musolla terminal hingga shubuh. Akhirnya kami berpisah di stasiun Tanjung Barat, Fauzan dan Rahman ke Tangerang, Ana sudah dari dini hari ke Banten, saya Angga Fanny Kak Shelly Irma dan Ari ke arah Bogor.

Perjalanan selesai.

di dalam minibus menuju terminal guntur, pulang

di dalam minibus menuju terminal guntur, pulang

terminal bogor kembaliii :)

terminal bogor kembaliii 🙂

***

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin berkata bahwa Papandayan adalah gunung yang sangat layak untuk dikunjungi.  Pemandangannya yang cantik, sumber air yang melimpah di atas, treknya yang landai, dan tidak adanya prosedur registrasi simaksi jauh-jauh hari adalah beberapa alasannya. Bagi saya pribadi –atas perjalanan ini–, perjalanan ke Papandayan adalah trip yang menyenangkan. Apalagi, andai saja tidak ada insiden tenda afkir yang bocor dan kesalahan jalur turun dari puncak Papandayan, tentu sangat-sangat menyenangkan dan mengesankan!

Mungkin, satu hal yang menjadi catatan dari gunung ini adalah masih belum mapannya sistem penunjuk arah dan papan-papan nama spot. Dengan masih belum adanya ini, para pengunjung Papandayan berpotensi (dan pasti) bingung kemana dan sedang dimana dia. Bahkan, papan petunjuk yang mengarahkan puncak saja masih belum saya temui, kami sempat bertanya-tanya, ke puncak itu lewat mana sih? Tegal Alun itu dimana sih? Ini benar puncak? ini benar Tegal Alun? Semuanya menjadi tidak jelas karena tidak-adanya papan informasi. Semoga papan-papan ini segera tersedia di kemudian hari. Aamiin.

Menatap Hutan Mati :)

Menatap Hutan Mati 🙂

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: