Berdamai dengan Rencana-Mu

Selamat Ahad rekan-rekan yang budiman!

Maafkan saya yang baru muncul ke permukaan. Berbulan-bulan saya (sengaja) break dari blog karena suatu alasan. Siang ini, saya akan menceritakan alasan ke-vakum-an saya tersebut, sekaligus mencoba mengambil sedikit hikmah yang terserak diantaranya.

Kita mulai, ya?

***

Semua bermula saat saya menerima SK pengangkatan sebagai karyawan tetap di kantor, bulan Juli kemarin. Itu artinya, genap setahun sudah saya bekerja. Genap setahun pula saya meninggalkan bangku sekolah. Sudah tiba saatnya untuk mencoba merealisasikan rencana studi saya pada jenjang sekolah yang selanjutnya.

Saya pun menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk menyiapkan segala hal yang harus disiapkan. Sebab, ternyata perkara melanjutkan sekolah pasca kita bekerja itu tak semudah yang ada dalam benak saya. Dahulu, saya berpikir akan mudah bagi seseorang yang telah bekerja untuk melanjutkan sekolah. Saya selalu mendengar orang-orang bercerita “Si kakak X tuh disekolahin kantornya di Inggris” atau “Om gue dulu dapet beasiswa dari kantornya dikuliahin di Ausie”. Dari cerita-cerita tentang orang yang telah bekerja dan melanjutkan studi tersebut, saya menarik benang merah berupa redaksi “disekolahkan kantor”, “beasiswa kantor”. Which is, implikasinya adalah

kemudahan bagi si karyawan yang disekolahkan ini. Dalam prasangka saya sebelumnya, si karyawan ini tinggal menunjukkan performa kerja terbaiknya dan mengutarakan mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke kantor, lantas kantor lah yang menguruskan –sebagian besar– proses pendaftaran universitas hingga keberangkatannya.

Tapi proses aslinya, setidaknya yang saya alami, tak sesederhana itu. Saya tetap menjadi orang yang paling bertanggung jawab –berikut serangkaian usaha yang menyertainya– atas realisasi kelanjutan studi saya. Dari pemenuhan sertifikat bahasa inggris, hingga proses-proses selanjutnya. Sebab ternyata, terdapat begitu banyak pertimbangan yang pada akhirnya memberatkan saya untuk mengambil alih kemudi –alih-alih menyerahkan sepenuhnya kepada kantor– dan bertanggung jawab atas seluruh proses yang terjadi.

Singkat kisah, saya pun membuat time line atas apa-apa saja yang harus saya kerjakan dan kapan harus dieksekusi. Mulai dari test IELTS, melengkapi berkas pendaftaran universitas, mendaftar universitas, melengkapi berkas beasiswa dan mendaftar beasiswa. Saya menarget, akhir tahun ini semua sudah jelas hitam-putihnya atas seluruh rangkaian hal tersebut. Nah, kelima agenda ini lah yang membuat saya sengaja istirahat menulis di blog ini. Saya ingin fokus 110% dalam mempersiapkan segalanya, saya ingin distraksi seminim mungkin (karena pekerjaan di kantor nyatanya sukses menjadi distraksi yang berarti). Dan Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah,  4 step sudah berhasil saya lalui. Tiba pada step yang terakhir, proses mendaftar beasiswa, ternyata meleset dari target.

Entah apa pasal, pendaftaran online saya tidak ter-record sistem. Saya sudah mencoba mencari penjelasan pada admin beasiswa tersebut, namun tetap tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang alasan kenapa pendaftaran saya tidak ter-record. Pendaftaran anda belum ter-submit, sekian.

Sedikit (banyak padahal) kecewa, nyatanya saya tak punya pilihan lain selain tetap menjaga asa untuk mencoba mendaftar pada batch selanjutnya, bukan? Saya berusaha mencoba untuk melihat the big picture dari-Nya. Insya Allah, tertundanya kepastian ini memang jalan yang terbaik bagi saya. Jangan-jangan (ini pasti sih, hakikatnya), Dia menyimpan sesuatu yang lebih baik pada batch selanjutnya. Jangan-jangan persiapan saya pada batch ini belum matang (karena memang pekerjaan belakangan sangat-sangat menyita waktu dan pikiran). Jangan-jangan. . .

Jadilah, siang ini saya kembali ke blog ini. Hei! Bukankah ini adalah satu hikmah konkrit dari ketertundaan kepastian beasiswa saya? Mungkin saja Dia menginginkan saya membagikan prasangka baik pada-Nya ke segenap kalian, bukan? 🙂

aku percaya pada-Mu, Allah :-) 

aku percaya pada-Mu, Allah 🙂

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Berdamai dengan Rencana-Mu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: