Tentang Kehilangan

Selamat malam blog-walkers yang baik hatinya! šŸ™‚

Pada postĀ kali ini, saya akan bercerita soal kejadian yang saya alami pada penghujung tahun 2016 kemarin. Ahya! It’s 2017 already guys, happy new year anyway!Ā Kejadian yang mungkin –dan memang– pantas dibilang annoying sih. Weh, kejadian apakah, Parara?

Kecopetan

*hening sejenak*

***

Jumat, 30 Desember 2016

Saya membangunkan adik, Akbar Indarjo, dan menyuruhnya mandi. Hari itu sudah saya agendakan menjadi agenda inti dari liburan akhir tahunnya –sekaligus menengok abangnya– di Jakarta. Kami (terutama Akbar) senang, akhirnya iaĀ bisa benar-benar berlibur akhir tahun di Jakarta, sebab rencana yang sama tahun lalu batal dikarenakan satu dan lain hal. Maka setelah packing seperlunya dalam satu tas ransel dan sarapan, kami berangkat menuju Jungle-land Bogor.

Di Stasiun Juanda, saat baru saja sampai, saya spontan memberitahu Akbar tentangĀ ruleĀ utama membawa tas di tempat keramaian –dan di kota besar– :Ā menaruh tas di depan badan.Ā Ah, mungkin ini pertanda yang pertama.

Singkat kata, kami tiba di Jungle-land. Yippie! Saya senang karena Akbar menikmati setiap wahana yang kami naiki. Saya menjadikan theme-parkĀ sebagai destinasi utama liburannya karena di kota kami tidak ada wahana-wahana sedemikian hebatnya. Wahana komersil pemicu adrenalin paling mentok ya Kora-Kora KW cap Pasar Malam.Ā Sebagai mas yang baik, sudah seharusnya saya membuat kesan yang baik dengan menyenangkan hati adiknya.

ikam handak nonton bioskop kah deng?“*, tanya saya selepas shalat ashar. Akbar mengiyakan, maka saya memutuskanĀ Botani Square menjadi destinasi selanjutnya hari itu. Karena takut tidak kebagian tiket pada jadwal yang kami rencanakan, saya meminta pengemudi taksi onlineĀ yang kami tumpangi berhenti di seberang Botani Square saja –sebab kalau tidak kami harus memutar lumayan jauh. Kami kemudian menyeberang via jembatan penyeberangan. Sepintas, saya melihat spanduk bertuliskan “Waspada Copet” di sekitar jembatan penyeberangan, lantas saya memarahi Akbar lantaran tidak meletakkan tas di depan. Ah, ini pastiĀ pertanda yang kedua.

Lagi, saya senang memberikan pengalaman pertama bagi Akbar –menonton film di bioskop. Waktu menunjukkan pukul 21 lebih saat film berakhir. Sudah malam, sudah saatnya pulang. Di antara langkah kaki dari bioskop – pintu keluar, saya kok tiba-tiba kepikiran apa bahasa inggrisnya copet ya? Hmm, pick-pocket bukan sih?Ā Oke, pertanda yang ketiga–sekaligus yang terakhir.

Ternyata, posisi taksi onlineĀ yang kami pesan berada di seberang Botani Square. Karena sudah malam dan tidak ingin terlalu lama menunggu, saya memutuskan untuk menghampiri si driver,Ā alih-alih meminta dijemput di lobby mall. Kami naik jembatan penyeberangan kembali. Saat baru saja turun, saya setengah berteriak ke Akbar “Tasnya diandak di muka, Deng! maka sudah mas padahi?”**

Genap sudah, saat dia membalik tas ke arah depan, kompartemen belakang tas kami terbuka lebar. Melayang lah dompet dan ponsel saya.

Saya panik, marah, pikiran sontak kacau. Kami pun uring-uringan sepanjang malam.

Untung saja, dompet Akbar yang padahal letaknya pada kompartemen yang sama tidak ikut melayang. Karenanya, kami tetap bisa pulang ke kost saya di Bogor.

Bangun tidur di keesokan harinya adalah momen yang paling saya benci. Dada menyesak. Betapa tidak? Saya dipaksa sadar bahwa kejadian buruk kemarin malam sama sekali bukan sekadar mimpi buruk, melainkan kenyataan yang memang terjadi. Such kinda worst feeling!

***

But, the time heals everything, doesn’t it?

Seiring berjalannya waktu, tingkat kepanikan saya berkurang. Obrolan bersama sahabat di kost seolah –dan memang– membuat segalanya terlihat lebih sepele: saya cuman kehilangan dompet kok. Kejadian yang nyaris semua orang pernah mengalami.

Yang untung cash-nya tidak banyak,

yang untung ATM-nya sudah terblokir,

yang untung masih ada cash di dompet Akbar dengan jumlah yang lumayan, cukuplah untuk menyambung hidup sampai menjemput hari kerja kembali.

Tapi memang, karena uang tunai Akbar terbatas, segala pengeluaran menjadi sangat-sangat saya perhitungkan setelahnya. Rencana untuk bertahun baru di Jakarta kami batalkan. Saya memutuskan kami harus di tetap di Bogor tanpa ada agenda plesir berarti sampai tanggal 1 Januari –dengan alasan akses makan yang murah. Kami Ā rutin makan di Konoha dalam dua hari itu.

***

Epilog

Dalam dua hari, Selasa dan Rabu (2 – 3 Januari) alhamdulillah semua ATM saya sudah kembali aktif. Hei, bukankah akses keuangan yang paling saya khawatirkan? Tuntas sudah šŸ™‚

Memang masih ada beberapa surat berharga lain, utamanya adalah KTP dan SIM yang belum –dapat– terurus karena sesuatu hal, begitu pula dengan nomor ponsel saya pada ponsel yang tercuri. Namun saya percaya, hanya soal waktu semuanya akan kembali. šŸ™‚

Dan kalian tahu?

Hari RabuĀ kemarin, Mas Reiva (teman kantor) menghadiahkan dompet baru yang tak terpakai pada saya.

Hari Kamis-nya, Kepala Divisi menghadiahkan saya insentif yang (sangat) lumayan –jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah cash saya yang hilang, sebab saya, berdasarkan voteĀ rekan-rekan divisi,Ā didaulat menjadiĀ the best employee of 2016.

Hari Kamis pula, saya diajak ke mall, dan Kepala Bagian saya membelikanĀ saya sesuatu yang berharga untuk ikut mengapresiasi kinerja saya selama ini.

Ya Allah, Ya Rabb-Ku yang Maha-Maha. Aku terharu. Terimakasih telah membulatkan pemahaman bahwa konsep kehilangan sejatinya adalah tentang penggantian kepada sesuatu yang lebih baik, sepanjang kami mau menerima dan memetik pelajaran atas qadar-Mu.

Picture1.png

Sure, It Works! šŸ™‚

* bahasa Banjar, yang artinya “Kamu mau nonton bioskop, Dek?”

** tasnya ditaruh di depan, Dek! bukannya sudah mas bilangin?

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Tentang Kehilangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: