Cara Kerja Nur-ani dan Hal yang Mempengaruhinya

Salam dan selamat malam semuanya!

Seminggu yang lalu, saya mengunggah status status ikhwal renungan saya tentang Nur-ani. Sesuatu yang saya sebut sebagai ‘self-valuating system‘ yang dimiliki oleh setiap kita. Redaksi lengkap status tersebut adalah demikian:

status

Pada tulisan versi blog ini, saya ingin menambahkan penjelasan (versi saya tentunya) tentang bagaimana cara kerja Nur-ani melakukan tugasnya sebagai ‘self-valuating system’. Namun sebelum kesana, saya ingin terlebih dahulu kita satu pemahaman tentang apa sebenarnya makhluk yang bernama Nur-ani ini.

Nur-ani adalah pengejewantahan dari seluruh nilai-nilai kehidupan yang tertanam dalam diri kita. Tentu kita semua paham apa itu nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, rendah hati, ringan tangan, ikhlas, lapang dada, disiplin, tidak mengambil hak orang lain, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka lah yang membentuk rupa dari Nur-ani kita (jika kita punya nilai-nilai tersebut).

Diagram NUrani

Pembentukan Nur-ani

Nur-ani bertindak sebagai ‘self-valuating system’ karena ia layaknya metal detector yang sering kita jumpai di bandara. Ketika seseorang dengan logam (besi) masih dikenakannya, maka metal detector akan berbunyi. Dan prosedur normatifnya adalah orang tersebut tidak boleh masuk. Masalah orang tersebut ternyata dipersilakan masuk atau tidak, sebenarnya ada pada kendali penuh petugas bandara. Sama dengan Nur-ani. Nur-ani akan ‘berbunyi’ memberi peringatan pada empunya ketika empunya hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Namun ‘bunyi’ tersebut hanya sebatas peringatan. Masalah akhirnya empunya melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut, itu terserah keputusan empunya (Ini konsep yang sejatinya punya makna yang dalam).

Selanjutnya, berikut adalah cara kerja Nur-ani yang saya coba ilustrasikan dalam 4 panel gambar berurut:

Skema Nurani

1. Kita menjumpai sesuatu yang baru

Kita menjumpai hal baru di luar sana yang dilakukan orang lain, lantas ada sebagian suara dalam diri untuk berusaha menduplikasi (meniru) apa yang dilakukan orang tersebut (misalnya karena sesuatu tersebut dipandang sangat lumrah untuk dilakukan pada lingkungan tersebut).

2. Bertanya pada Nur-ani

Jangan langsung ditiru! Disinilah  Nur-ani berperan sebagai ‘self-valuating system’. Tanyakan pada Nur-ani kita, apakah sesuatu yang baru tersebut tidak melanggar nilai-nilai yang telah ada dalam diri kita? Apakah dapat mengakibatkan kebohongan? Apakah menyusahkan orang lain? Apakah arogan? Dan apakah apakah yang lain.

3a. Nur-ani OK: Just Do It

Jika semua pertanyaan preventif tadi jawabannya “tidak”, artinya sesuatu itu baik-baik saja untuk ditiru. Maka kita dapat mulai ikut melakukannya.

3b. Nur-ani tidak OK: Putar Balik

Jika salah satu saja, ada nilai yang dilanggar oleh sesuatu tersebut, maka putar balik adalah pilihan yang retorik. Tahanlah diri sekuat mungkin untuk tidak ikut melakukannya, walaupun misalnya, semua orang melakukannya dan merasa ‘baik-baik saja’.

***

Kemudian, karena pertanyaan salah seorang teman di kolom komentar, saya jadi kembali merenung. Renungan lanjutan tentang hal-hal apa saja yang mempengaruhi terbentuknya Nur-ani yang tegas dan berfungsi dengan baik.

Apa saja yang mempengaruhi Nur-ani? Meninjau apa itu Nur-ani pada bagian awal tulisan ini, maka menjawab pertanyaan ini ekuivalen dengan menjawab apa saja yang dapat mempengaruhi terbentuk/terkikisnya nilai-nilai hidup pada diri seseorang. Maka hal-hal itu adalah:

1. Didikan Orang Tua

Tentu semua sepakat bahwa orang tua lah yang pertama kali menanamkan nilai-nilai kehidupan pada setiap kita. Saya percaya bahwa setiap kita pernah mendapatkan nasihat “Kita tidak boleh berbohong ya Nak, karena itu dosa” dari kedua orang tua kita. Tak pelak, didikan orang tua adalah hal pertama dan paling utama yang akan membentuk kualitas Nur-ani seseorang. Maka beruntunglah kita, yang memiliki orang tua yang baik hatinya, yang tertanam begitu banyak nilai-nilai kebaikan hidup dalam hati-hati beliau lantas ‘diturunkan’ pada kita, anaknya. Oh sungguh, terimakasih Ibu, terimakasih Ayah.

2. Lingkungan

Lingkungan adalah hal kedua. Bayangkan sebuah bar karaoke dengan segala ekosistemnya. Pekerja bar tersebut sudah sekian lama dekat dengan alkohol. Maka suatu ketika, di waktu yang kesekian, sangat mungkin ia akan mencoba alkohol dengan segala kelumrahan dan kemudahan akses atas alkohol tersebut. Benarlah sudah kata pepatah: bertemanlah dengan penjual parfum, maka kau akan tertular wanginya. Bertemanlah dengan pandai besi, maka mungkin bajumu akan ikut terbakar.

3. Toleransi pada Pelanggaran-Pelanggaran yang dianggap Kecil

Hal selanjutnya yang juga mempengaruhi, dalam konteks ini berpengaruh pada menurunnya kualitas Nur-ani adalah toleransi pada pelanggaran kecil. Menyambung contoh pada nomor 2, semula pekerja tersebut anti alkohol. Kemudian karena stimulus yang terus menerus, ia kemudian berpikir mungkin mencoba satu teguk saja tak mengapa. Kemudian satu teguk menjadi satu gelas, dari satu gelas menjadi satu botol, sari satu botol menjadi rutinitas dan kebiasaan. Maka hilanglah sudah nilai ‘anti-alkohol’ dalam dirinya. Nur-ani nya tak akan lagi melarang ketika ia hendak meminum alkohol (sebab sudah tak ada nilai yang dilanggar)

***

Saya menulis status ini bukan karena saya sudah sepenuhnya memfungsikan Nur-ani saya sebagai ‘self-valuating system‘ yang ideal (baca: apa yang saya lakukan tidak ada yang melanggar Nur-ani), saya masih jauh dari itu. Sebagaimana hashtag yang saya bubuhkan, saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengingat yang cukup signifikan bagi saya untuk melakukan apa yang sudah saya tulis sendiri.

Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah.

lindungi hamba-Mu yang lemah ini, Allah…

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: