My Journey to Holland

Assalam rekan-rekan.

Post kali ini akan menceritakan paruh kedua perjalanan saya menuju Holland (untuk bersekolah). Yakni cerita setelah babak pertama yang cukup mengharu biru. Selamat membaca!

***

Man Jadda Wa Jada.

Begitulah kira-kira satu kalimat yang mewakili keseluruhan kepingan cerita.

Setelah berhasil berdamai dengan kenyataan bahwa pendaftaran saya pada beasiswa LPDP tidak ter-record, saya tidak punya pilihan selain menunggu dengan takjim pembukaan batch selanjutnya. Dalam pada itu, membuka portal LPDP menjadi rutinitas baru saya.

Satu bulan berlalu.

“Pendaftaran beasiswa LPDP belum dibuka. Periode pendaftaran selanjutnya akan diinformasikan lebih lanjut”

Begitu kira-kira tulisan yang terdapat di  laman LPDP yang saya temui setiap kali saya membukanya.

Dua bulan berlalu.

Tidak bergeming, masih sama saja.

Hati mulai bertanya, ada apa? Kapan kah dibuka lagi? Oh mungkin awal Maret?

Jalan tiga bulan berlalu.

Lho, kok masih sama?!

mulai panik bung! Ada apakah gerangan?

Saya pun mencoba mencari keterangan dari sumber lain. Sejurus dua jurus kemudian, saya mendapat kabar dari salah seorang teman yang –ternyata– bekerja di LPDP, bahwa terdapat perubahan signifikan pada periode pendaftaran beasiswa LPDP tahun ini. Dikemukakan lah beberapa alasan yang melatarbelakangi kabar tersebut. Singkatnya, LPDP tahun ini tetap akan dibuka, namun waktunya masih tentatif.

Hah?!

Saya pias. Bagaimana bisa begini jadinya? Haruskah LoA saya defer lagi untuk kedua kalinya? 

***

Saya memilih tidak berpangku tangan. Setidaknya saya harus mencoba semua opsi sebelum akhirnya berlepas pasrah. Sebab saya sadar masih ada setidaknya (yang saya tau) masih ada dua beasiswa penuh untuk kuliah di Belanda: StuNed Scholarship & Netherland Fellowship Programme (NFP).

Saya memutuskan berjuang di StuNed, setelah menimbang peluang lolos yang saya rasa relatif lebih tinggi. Maka saya pelototin betul-betul itu semua persyaratan, tahapan pendaftaran, tanggal penting, semuanya! Saya berikrar untuk tidak mengulangi kejadian annoying yang terjadi pada saat saya mendaftar LPDP silam.

Singkat  kisah, semua berkas sudah saya upload. Hal yang paling menguras energi dan pikiran adalah mengompres motivation letter yang semula sudah saya siapkan sepanjang sekitar 900 kata, menjadi maksimum 500 kata, tanpa mengurangi impact yang ingin saya hadirkan. Fyuuuh, alhamdulillah bisa jua. 🙂

Setelah meyakinkan diri bahwa pendaftaran saya benar-benar sudah diterima dengan sebaik-baiknya, maka  masa-masa harap-harap cemas pun dimulai.

***

Akhir yang indah tak jua menampakkan dirinya. Saya diberitahu pihak Leiden bahwa akhir Mei adalah deadline bagi saya untuk membayar Housing Fee & Visa Fee. Total biaya keduanya sampai 10 juta lebih. Saya pun galau hebat. Saya berjudi dengan taruhan 10 juta. Kalau diterima, saya sama sekali tidak menyayangkan. Iya kalau keterima. Kalau tidak? Yaa banyak-banyak elus dada.

Setelah lelah bergulat dengan ekspektasi dan prasangka, saya akhirnya menggadaikan sisi rasionalitas saya dan menggantungnya pada mimpi saya. (Dan akhirnya saya sama sekali tak menyesalinya! 🙂 )

***

Jumat, 2 Juni 2017

Saya membaca email ini berkali dan berkali. Memastikan bahwa ini bukan email permohonan maaf penolakan. Setelah saya yakinkan bahwa yang sebaliknya adalah kebenaran, saya langsung sujud syukur sangat takjim, sangat khidmat.

Terimakasih, Allah…

Bergaya di depan (atau belakang ya) gedung parlemen Belanda, Den Haag.

***

Hidupmu sekali, maka buatlah berkesan!

Bermimpi tak dilarang, bermimpi tak perlu utang, maka bergegaslah mimpimu kau pancang!

Sekali tegak  terpancang, maka jangan biarkan satu alasan pun membuatmu berani menurunkan!

Mulailah mendaki! Teruslah mendaki! Gapai mimpimu! 

Sebab benar orang bijak berkata: tiada yang lebih tinggi dari lututmu, ketika kau terus mendaki.

Hingga nanti pasti kau rasakan, letih layu di sekujur tubuhmu berbuah kesyukuran yang tak kan pernah kau sesalkan.

Leiden, 10 Oktober 2017.

Once a dreamer, always be the one…

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “My Journey to Holland

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: