(Catatan) Tiga Bulan di Negeri van Oranje

Assalam, rekan-rekan!

Entah terasa atau tidak, per hari ini, genap sudah 3 bulan saya merantau di Belanda, tepatnya di sebuah kota kecil nun cantik bernama Leiden. Seperempat tahun menikmati keseharian disini, ingin rasanya saya berbagi catatan tentang hal-halĀ  menarik tentang Belanda versi saya, sebagai salah satu refleksi kehidupan (baru) saya selama tiga bulan terakhir. Selamat membaca!

***

Indonesia dan Belanda tentu berbeda, satu karakteristik yang paling mencolok tentu saja adalah letak geografis. Negara kita, Indonesia adalah negara tropis yang ‘hanya’ memiliki dua musim, sedangkan Belanda adalah negara dengan iklim sedang dengan empat musim. Pada mulanya, saya hanya berpikir bahwa perbedaan iklim dan cuaca inilah yang akan menjadi hal menarik dari perantauan saya. Tentu saya sangat penasaran bagaimana rasanya melihat langsung daun-daun berguguran pada musim gugur (done!) dan menggenggam salju (dua bulan lagi, insya Allah). Namun ternyata, terdapat banyak hal-hal menarik lainnya seperti di bawah ini. šŸ™‚

  • Kosakata bahasa Belanda yang mirip dengan Indonesia

Saat baru saja keluar bandara Schipol, saya terkaget melihat mesin ATMĀ  di pelataran bandara. Dari jarak sekitar 5 meter, saya mendapati kata “GRATIS” terpampang besar-besar di layar ATM tersebut. Saya sontak terkagum, dan berpikir terlalu positif (ajegile)Ā kalau Indonesia sangat diapresiasi oleh Belanda, mungkin karena banyaknya diaspora Indonesia di negeri ini (FYI, ada 1,7 juta diaspora Indonesia di Belanda lho), atau mungkin karena mereka merasa bersalah karena potongan cerita masa lalunya dengan kita (if you know what i mean). Apapun alasannya, yang jelas saya merasa tersanjung saja dengan adanya bahasa Indonesia di mesin ATM.

Tapi, ternyata sayanya yangĀ ke-GR-an. Nyatanya, “Gratis” adalah kosakata bahasa Belanda tulen, yang artinya juga sama persis dengan yang kita pahami di bahasa Indonesia. Hahaha.

23755582_1758729864137043_6950598507441151966_n

Tuh kan, bener. Ayo siapa yang mau korting?

Yap, ada beberapa kosakata bahasa Belanda yang sama/mirip dengan yang kita punya. Kali ini saya cukup yakin bahwa ini terjadi sebagai dampak dari pertalian sejarah di antara kita di masa lalu (halah bahasamu Par). SelainĀ ‘gratis’, ada juga ‘kulkas’, ‘korting’, ‘onderdeel’, ‘kameer’ (kamar), ‘kantoor’ (kantor), ‘gang’ (jalan), ‘kassa’ (kasir), dan masih banyak yang lainnya.

  • Kolosalnya sepeda

Di Belanda, sepeda adalah moda transportasi yang sangat populer. Tidak seperti di Indonesia yang memandang sepeda sebagai moda transportasi berjenis inferior (cenderung semakin ditinggalkan oleh orang yang berkecukupan), di sini semua orang bangga memakai sepedanya sebagai moda transportasi sehari-hari. Bahkan, agar semakin terbayang, jumlah sepeda yang ada di Amsterdam lebih dari jumlah penduduknya lho! 880 ribu berbanding 800 ribuĀ (sumber)! Di Leiden pun sepeda tak kalah massalnya. Jadi bisa terbayang ya betapa populernya sepeda disini. Nampaknya bersepeda memang sudah menjadi salah satu budaya bagi masyarakat Belanda.

Sejalan dengan lumrahnya sepeda, maka kehidupan persepedaan disini juga ada di level yang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Beberapa buktinya adalah adanya jalur khusus sepeda di setiap ruas jalan besar, wajib hukumnya bagi setiap sepeda memiliki lampu depan dan belakang yang berfungsi aktif (saya sempat nyaris ditilang karena kedapatan tidak menyalakan lampu saat bersepeda sehabis maghrib), aneka variasi sepeda seperti sepeda dengan dua sadel (baik seri memanjang ataupun paralel melebar), sepeda dengan bak anak di depan, sepeda untuk deliveryĀ semuanya sangat wajar ditemui di jalanan kota.

Ohiya, hal terakhir tentang sepeda, disini ada satu anekdot bahwa, jika kita tak sengaja meninggalkan ponsel dan kunci sepeda, maka yang akan cepat hilang adalah kunci sepeda! Ahaha. Semoga saja jodoh saya dengan sepeda andalan saya paripurna hingga saya selesai studi. Aaamiinn!

  • Air keran yang minum-able

Hari pertama kedatangan di Belanda adalah salah satu hari ter-melelahkan dalam hidup saya. Betapa tidak, saya harus menggotong dua koper besar kesana-kemari. Sampai pada titik kulminasi dengan berjalan dari stasiun Leiden Centraal ke Gedung Rektorat tempat saya mengambil monthly allowance pertama saya. Berjalan sekitar 2 km, tergopoh-gopoh dengan sisa tenaga yang ada. Saya sangat kehausan, terakhir minum adalah ketika masih di dalam pesawat. Sesampainya di rektorat, saya dipersilakan rehat ke toilet sekaligus untuk minum. Awalnya saya bingung, ke toilet kok disuruh minum? Ternyata penjelasannya adalah bahwa air keran di Leiden, dan Belanda pada umumnya itu layak langsung diminum. Wah! Jadilah saya resmi tergabung pada komunitas baru: Para Peminum Air Keran!

  • Arah kiblat bukan lagi ke Barat

Lagi, mengenang hari pertama kedatangan. Sesampainya saya di housing (sebutan disini untuk kostan), saya merebahkan diri sejenak dan bermaksud shalat. Reflek, saya menengok luar jendela, melihat matahari dengan maksud menyimpulkan arah barat itu sebelah mana. Setelah merasa sudah yakin dengan arah barat, maka saya menggelar sejadah, kemudian saya terdiam sejenak, baru tersadar bahwa saya saat ini berada di Eropa! Kiblat tentu bukan lagi ke barat. Astaga. Maka saya pun langsung membuka Google Maps, dan mendapati bahwa arah kiblat bagi saya dalam dua tahun kedepan adalah arah tenggara! šŸ™‚

WhatsApp Image 2017-11-23 at 21.13.50

Kiblat tak lagi ke Barat~

  • Right-Sided Street

Benar sekali, logika berlalu-lintas disini mengambil kanan sebagai jalur default. Perubahan ini sepertinya sepele. Namun ternyata saya perlu waktu beberapa minggu hingga saya benar-benar terbiasa dan tidak membahayakan pengguna jalan lain. Sebab ada dua perubahan krusial yang mengikuti.

Pertama adalah soal belok kiri. Di Indonesia, perkara belok kiri adalah perkara berlalu lintas yang paling sepele. Tanpa bak-bik-buk dan tolah-toleh, kita tinggal arahkan setang ke kiri, dan selesai. Disini? Sebaliknya! Perkara belok kiri adalah perkara paling rumit. Saya harus melihat sana dan sini lebih dulu dan baru bisa belok.

Kedua adalah soal menyeberang. Otak saya sudah ter-set default bahwa saat saya hendak menyeberang, arah yang pertama harus dilihat adalah kanan, baru setelah pertengahan jalan, kita ganti pandangan ke arah kiri, memastikan kendaraan tidak ada yang lewat dari masing-masing sisi. Disini sebaliknya. Tengok kiri dulu baru kanan. Saya sempat dua kali membahayakan diri saya karena kaget ternyata arah kiri ada kendaraan yang lewat (saya menengok ke kanan). Astaghfirullah, dan Alhamdulillah ya Allah saya tidak kenapa-kenapa.

  • Toilet bayar!

Ini jujur membuat saya awkward. Saya tidak menyangka negara maju seperti Belanda, mensyaratkan penduduknya untuk membayar saat hendak buang hajat di fasilitas umum seperti stasiun. Dan ongkosnya pun tidak bisa dibilang murah, rata-rata adalah 70 sen, bahkan ada yang sampai 1 Euro (FYI, 1 Euro setara sekitar Rp 15.700). Ebuset, 16 rebu buat ngilangin kebelet?

23843572_1758729790803717_4145380865155172389_n

Gimana kalau tak punya duit? šŸ˜¦

  • Puisi di tembok

Salah satu hal yang saya suka dari Leiden adalah cantiknya. Kotanya cantik betul rek, dengan kanal-kanal, bangunan eksotis, tidak terlalu ramai. Dan salah satu pelengkap kecantikannya adalah banyaknya puisi yang tersebar dipenjuru kota. Dimana tepatnya? You guess! Di dinding tembok-tembok rumah yang ada terletak di tempat strategis dan muda terlihat. Tak sebatas puisi, bahkan persamaan fisika pun ada lho! Luar biasa. Ohiya, sebagai orang Indonesia, kita harus berbangga, karena puisi “Aku” kepunyaan Chairil Anwar menjadi salah satu puisi yang diabadikan pula!

  • Toko bunga

Belanda dijuluki sebagai negeri tulip tentu bukan tanpa alasan. Selain tentu karena keberadaan Keukenkof yang mahsyur itu, mungkin juga karena banyaknya toko bunga di penjuru kota. Mencatut hukum ekonomi paling fundamental: ada supply tentu karena ada demand. Orang Belanda suka sekali menghadiahkan bunga untuk berbagai kesempatan pada koleganya.

23843660_1758729034137126_3966926470192618238_n23795927_1758729937470369_491376643205621876_n

  • Potong rambut mahal!

Hal menarik (lebih ke annoying mungkin ya) lain yang ingin saya bagikan adalah mahalnya jasa potong rambut. Betapa tidak? Tiga bulan disini, rambut sudah semakin tidak rapi saja. Tapi, sampai dengan minggu lalu, saya mendapati mahar bagi seorang pria untuk memotong rambutnya adalah belasan Euro! OMR (Oh My Rabb, red), nyaris 200 ribu untuk sekadar potong rambut?! Saya kok ya kurang rela ya. Telusur demi telusur, saya akhirnya tanpa sengaja menemukan tempat potong rambut dengan harga 10 Euro. Menyadari panjang rambut yang sudah melewati batas kenyamanan beraktifitas, saya akhirnya merelakan 10 Euro.

  • DLS

DLS adalah singkatan dariĀ Daylight Saving Time.Ā Makhluk apakah dia? Singkatnya, DLS adalah pemajuan waktu satu jam disekitar musim panas, dengan tujuan agar orang-orang masih dapat ‘menikmati’ sinar matahari selepas berekegiatan (jam kerja). Wah! Dengan kata lain, jika pada saat saya baru sampai di Belanda, perbedaan waktu dengan Indonesia adalah 5 jam, kini (per akhir oktober kemarin) menjadi 6 jam. Jujur, saya merasa picik sekali, selama ini tidak mengetahui sama sekali tentang hal ini. Astaganagabonarjadidua šŸ˜¦

DLS

***

Jadi, hal-hal itu tadi yangĀ noticableĀ bagi saya, selama disini. Sebenarnya masih ada beberapa yang lain sih. Tapi post ini akan terlalu panjang dan membosankan untuk dibaca jika saya tulis semua.Ā So,Ā sekian dulu ya!

Tot Ziens!*

*Sampai jumpa

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: