Satu Semester Menjadi Mahasiswa Master Matematika di Belanda

Salam, rekan-rekan semua!

Dulu, minggu-minggu pertama setibanya saya di Leiden, setiap saya bertemu dengan para senior (mahasiswa Indonesia yang lebih dulu sekolah di sini), salah satu pesan yang sering saya dapat adalah: “Semester pertama itu masa-masa adaptasi dengan sistem perkuliahan, jadi harus semangat ya! Jalani saja semaksimal mungkin dulu”

“Academic Shock”itulah maksud pesan tadi. Jujur, saya setengah sanksi dengan fenomena yang satu ini. Walaupun sudah sempat mendengar istilahnya saat acara pre-departure-briefing, yang menyebut bahwa nanti kami (calon mahasiswa di Belanda) akan disambut dengan dua macam Shock: Cultural and Academic Shock. Waktu itu saya merasa satu-satunya shock yang patut saya perhatikan adalah yang pertama: perubahan budaya. Namun, waktu membuktikan bahwa saya salah. Academic shock ternyata merupakan sesuatu yang benar-benar signifikan! Mengapa? Berikut saya ceritakan beberapa hal yang membuatnya demikian, tentang beberapa perbedaan sistem perkuliahan Belanda-Indonesia.

Perkuliahan dan PR

Salah satu alasan utama mengapa saya memilih Belanda sebagai destinasi studi jenjang master saya adalah karena Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar perkuliahan. Lebih dari itu bahkan, sebab mayoritas, hampir semua orang Belanda lancar berbahasa Inggris. Jadi saya dan para mahasiswa internasional yang menuntut ilmu disini tidak kerepotan harus mempelajari bahasa Belanda bahkan untuk dapat melakoni kehidupan sosial di sini (e.g tanya alamat, tanya pelayan restoran, pramu-niaga swalayan, dan lainnya).

Ada beberapa hal yang unik, jika dibandingkan dengan Indonesia, tentang perkuliahan di Belanda. Hal yang pertama adalah adanya break selama 15 menit setiap 45 menit perkuliahan. Jadi jika kuliah berdurasi 3 jam, maka akan ada break sebanyak 3 kali (break terakhir sekaligus menutup perkuliahan). Mungkin karena break periodik ini, kejadian mahasiswa yang pergi ke toilet saat perkuliahan berlangsung sangat jarang terjadi. Break menjadi waktu untuk itu semua: pergi ke toilet, membeli kopi di vending machine, dan tentu saja mengobrol santai.

Perbedaan selanjutnya lebih substantif, yakni sifat perkuliahan yang self-contained alias menitik beratkan mahasiswa untuk belajar mandiri untuk memahami materi perkuliahan. Nah, bagian inilah yang membuat saya (agak) kagok. Sebab dosen hanya menyampaikan materi secara general saja di kelas. Detilnya? Kita harus mempelajarinya sendiri secara mandiri. Entah itu dengan membaca beragam literatur, maupun dengan menonton kuliah online di Youtube (jika cukup beruntung, materi kuliah merupakan ilmu yang sudah populer lantas ada kuliahnya di Youtube).

Setiap mata-kuliah umumnya dilengkapi dengan PR / tugas mingguan. Terdapat perbedaan signifikan pada kontribusi PR ini dalam menunjang perkuliahan. PR-PR di sini sangat berperan dalam mengantarkan konsep materi yang tak jarang tidak disampaikan di perkuliahan. What? Tidak disampaikan? Kok jadi PR? Ya, jangan salah, misalnya di kuliah kita dikenalkan dengan sebuah konstruksi matematik “si Anu”. Nah di soal di PR biasanya akan menggali pemahaman kita tentang “si Anu” ini tadi dengan meminta kita memeriksa properti apa saja yang dimiliki oleh “si Anu”. Luar biasa, bukan? Ini sangat berbeda dengan PR-PR di jaman S1, di mana, rata-rata, PR ‘hanya’ bersifat repetisi konsep yang telah disampaikan di kuliah.

exercise

Tuh nyebelin kan yak Exercise-nya:(

Ohiya, satu lagi. Kalau ini khusus bagi mahasiswa master matematika di Belanda. Jadi, universitas-universitas di sini yang menyelenggarakan program magister matematika, menawarkan kuliah-kuliah unggulannya untuk diambil oleh mahasiswa manapun se-Belanda. Sebagai contoh, saya mahasiswa Leiden, namun kuliah saya juga ada yang di University of Amsterdam, VU Amsterdam, dan (insya Allah) pula di Utrecht. Menariknya, biaya perjalanan ke universitas tujuan akan diganti secara periodik. Jadi biaya transport tak jadi soal. Asik ya.

mastermath

Ayo dipilih, dipilih course-nya 😀

Beban Kredit

Membandingkan beban kredit antara Belanda dan Indonesia, di atas kertas sebenarnya sama saja lho. Di Belanda, normalnya seorang mahasiswa diwajibkan mengambil 30 ECTS (European Credit Transfer System) dalam satu semester. Beban studi per ECTS-nya adalah 28 jam. Artinya, universitas mengharapkan kita menghabiskan waktu belajar selama 28 x 30 = 840 jam selama satu semester.

Bandingkan dengan Indonesia, yang menggunakan Sistem Kredit Semester (SKS). Satu SKS setara dengan 1 jam perkuliahan, 1 jam kegiatan terstruktur, dan 1 jam kegiatan belajar tak terstruktur per minggu. Jika diasumsukan satu semester terdiri dari 14 minggu dan rata-rata SKS yang diambil adalah 20 SKS per semester, maka kita akan sampai pada total jam belajar yang persis sama: 840 jam.

Namun entah apa pasal, saya merasa seluruh symptom yang ada menggiring saya pada kesimpulan bahwa beban studi di sini (Belanda) lebih berat dari Indonesia. Betapa tidak? Perpustakaan yang selalu ramai setiap hari (termasuk akhir pekan) sampai dengan jam tutupnya pukul 12 malam adalah premis yang nyata. Semua orang disini sangat sibuk menghabiskan waktu dengan belajar, belajar, dan belajar.

Ujian, Nilai dan Batas Kelulusan

Terakhir tentang ujian. Di sini, setidaknya yang saya alami, mata kuliah ditutup dengan ujian (walaupun ada mata kuliah yang tidak ada ujiannya) berdurasi 3 jam. Jika hasil ujian ada di bawah standar, atau karena kita iseng dan penasaran, tersedia Resit (ujian ulang), lantas nilai ujian yang akan dihitung adalah yang tertinggi di antara keduanya.

Berbeda dengan perguruan tinggi di Indonesia yang memberi nilai akhir dengan huruf mutu A-E, di Belanda penilaiannya angka 1-10. Ada yang kelipatan 1, ada pula yang 0,5. Sedikit intermezzo, nilai 10 di sini adalah hal yang sangat langka. Cerita seorang teman, sepanjang karirnya salah satu dosennya, selama puluhan tahun, ia hanya pernah memberikan nilai 10 pada 3 orang saja, dan ia masih ingat dengan jelas nama-nama ketiga mahasiswa super tersebut. Sadis ya.

Bagian yang juga agak menakutkan adalah batas kelulusan. Jika di Indonesia, batas kelulusan (bersyarat) adalah mendapat huruf mutu D, yang jika dikonversi ke nilai adalah kurang dari atau sama dengan 40  (skala 1-100). Di sini, batas kelulusan ada di 5,5 (dari skala 1-10). Dapat dibawah itu? Fail! Jadi memang sepertinya standar lulusan disini (sedikit) lebih tinggi ya.

Capture

Tuh kan, 9-10 sangat jarang! (sumber: neso indonesia)

***

Alhamdulillah, satu semester telah terlewati. Semoga, deretan academic shock di atas telah berhasil saya lewati (dan adaptasi). Mari kita jelang semester dua dan selanjutnya dengan penuh pengharapan baik.

Tot ziens! 🙂

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Satu Semester Menjadi Mahasiswa Master Matematika di Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: