Winter is (Getting) Ugly

Fijne avond allemaal!*

Saya rasa, tiba saatnya saya menyuarakan kegelisahan di dada. Melihat tanggalan 2018 yang sudah semakin mendekati penghujung bulan kedua, namun ada satu hal yang tak kunjung pergi, entah, mungkin karena satu hal lainnya yang bertindak sebagai komplemen (redaksi ilmu matematika, bukan ekonomi) tidak jua kunjung datang. Ngomongin apa sih, Par?

Freezing weather.

Benar saja, sejauh yang saya tau, dan kemudian saya verifikasi lewat riset (ceileh riset bahasamu Par) kecil-kecilan (baca: googling), yang namanya musim dingin di belahan bumi bagian utara itu dimulai dari 1 Desember dan berakhir di 28 Februari (29 hanya jika tahun yang dimaksud adalah kabisat).

Seasons callendar

Tapi kok ya, di hari-hari belakangan ini, saya merasa suhu bukannya makin naik, eh malah sebaliknya, makin dingin! Desperate rasanya melihat keterangan suhu di ponsel yang tak kunjung beranjak dari 0 dan angka-angka dibawahnya. Omeen! 

suhu dingin leiden

See? It’s not ending soon 😦

Bagi kalian yang mungkin penasaran, gimana sih rasanya suhu 0 derajat itu? Sebagai gambaran, bagi kalian yang pernah naik gunung, suhu rata-rata puncak Gunung Gede Pangrango adalah 18 derajat, dan pada malam hari berkisar 5 derajat (sumber). Jadi, dari yang saya rasakan, suhu (sangat) rendah tidak bisa bersembunyi dari tangan, kepala, dan pipi.

Dari pengalaman saya selama ini, suhu 5 derajat kebawah akan memaksa saya untuk menggunakan sarung tangan. Menolak? Bersiaplah untuk tersiksa dengan rasa ngilu yang severe di ruas-ruas jari. Mirip dengan momen kita memegang es batu dengan tangan secara langsung. Awalnya panas, lalu lama kelamaan berubah jadi ngilu. Symptom lain dari threshold 5 derajat adalah rasa sakit di kepala tepat di belakang telinga. Maka, adalah haram hukumnya sengaja tidak membawa beanie saat bepergian.

Bagaimana dengan 0 derajat? Titik beku air ini ditandai oleh pipi. Jika terpapar angin di suhu ini (atau lebih rendah), pipi saya biasanya akan kram, seperti sensasi pegal dan akibatnya susah menggerakkan mulut (untuk berbicara) dengan leluasa.

Bagaimana dengan kaki? Jangan ditanya, ternyata ketahan-malangan kaki terhadap dingin relatif paling rendah dibanding bagian tubuh lainnya. Sejak autumn dimana suhunya masih ada di sekitar 10 derajat saja saya sudah tidak berani keluar dengan sandal. Ngilu! Mungkin inilah alasan mengapa saya sangat jarang menemui orang-orang bepergian menggunakan sandal di sini. Semua rata-rata menggunakan sepatu. Maka, versatility sandal kebanggaan bangsa Indonesia “Swallow” sudah tidak berlaku lagi disini. Ckckck

swallow

I’m missing looking you around, bro 😦

***

Ohiya, satu lagi. Judul tulisan ini sepertinya bagus juga, sebab merepresentasikan dimensi lain dari musim dingin. Jadi, winter is ugly! In the sense that i (or everyone too) apparently look dull with those tiny selection of winter jacket! Coba kalian perhatikan foto-foto berikut! Betapa tidak variatifnya penampakan saya, gegara tak berdaya menahan dingin kalau melepas jaket –barang sebentar.

Bahkan ada seorang teman, pas sama-sama liburan kemarin saya tanya “Lu ga foto?” bilang begini, “Ga ah, entar aja gue balik kesini lagi pas summer, biar fotonya cakepan dikit”. Amsyong ndak?! Ahaha. 

***

Come on, warm(er) day! We do miss you, already! Please do come sharply!

* Selamat malam, semua!

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: