Tragedi “Mulut ke Mulut”

Salam, semua!

Di sela medan peperangan (setiap hari weekday adalah medan perang bagi para student di sini untuk nonstop bergelut dengan kuliah, buku dan artikel), sepertinya saya harus menyempatkan diri untuk mengabadikan kekonyolan yang terjadi hari ini. Sebab hari ini saya menyaksikan langsung betapa berbahayanya seseorang menerjemahkan suatu terminologi dalam suatu bahasa ke bahasa lainnya dengan buta, yakni menerjemahkan per kata tanpa memperhatikan konteksnya.

Hari ini saya menghadiri kuliah marketing. Sebagaimana kuliah rumpun ilmu bisnis  pada seperti biasanya, metode perkuliahan yang digunakan adalah diskusi multi-arah. Dosen, mahasiswa satu dan lainnya terlibat aktif dalam diskusi kelas yang membahas dan memperdalam materi yang sedang diajarkan.

Saat materi bersinggungan dengan  dengan topik seputar bagaimana teori marketing dapat diterapkan pada sektor wirausaha, terlontarlah pertanyaan menarik dari sang Dosen, “What method is significant to support marketing entrepreneur’s product?” 

Kelas pun menyambut dengan antusias, ada yang menjawab “A”, lalu yang lain berkata “B”, namun sang dosen masih bertanya, “anything else?“. Seolah belum merasa puas dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan murid-muridnya. Nah, disaat itu lah, seorang teman yang juga berasal dari Indonesia mengangkat tangan seraya menjawab lantang, “Mouth to mouth!”.

.

.

.

Seketika seisi kelas terdiam sepersekian detik.

PIKS

i guess, this imagination suddenly striking to their mind, hearing “Mouth-to-Mouth!”

Setelah momen hening sekejap itu, ada beberapa student yang tertawa ringan, sebagian besar menampilkan raut wajah menahan tertawa (termasuk sang dosen), dan ada pula yang tertawa puas sekali (saya). Saya terpingkal menyadari betapa lucunya situasi yang terjadi.

Sejurus kemudian, sang Dosen meluruskan “Yeah, you’re right! words of mouth!“.

Saya yang masih tertawa cekikikan, berujar dalam hati “Bener sih kalau di Indonesia istilahnya mulut ke mulut, jadi si mbak juga sebenernya ngga salah, mungkin doski reflek karena saking bersemangatnya kali yak” 😀

word of mouth

Ini adalah citra yang dimaksud, idiom dalam Bahasa Inggris-nya adalah “Words of Mouth”

***

Tanpa diragukan lagi, kejadian ini mungkin salah satu yang paling berkesan pagi saya. Sangat kocak, namun membawa makna yang dalam, bahwa bagaimana cara kerja translasi antar berbagai bahasa di dunia tidak seperti fungsi bijektif dalam matematika. Dimana satu terminologi dalam suatu bahasa dapat diterjemahkan dengan cara yang sama persis (per kata) pada bahasa lainnya, dan sebaliknya.

Sudah ah, saya tidak ingin melanjutkan tulisan ini lebih jauh, takutnya saya malah menceracau ke hal lain yang “bukan-bukan”.

Salam!

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: