Menjadi Minoritas & Self Re-Inventing: Duta Seperti Apa Kita?

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan menukil salah satu kata-kata bijak klasik:

Hidup sejatinya adalah perjalanan

Sebagai manusia yang hidup dalam peradaban (yang katanya) tinggi, selama hidup kita sampai dengan hari ini, kita tentu pernah mengalami fenomena “transisi lingkungan”. Kita berpindah dari lingkungan lama, dan masuk ke lingkungan yang (sama sekali) baru. Contoh trivial sangat mungkin terjadi pada saat perpindahan level sekolah kita, bisa jadi dari SD ke SMP, SMP ke SMA, maupun SMA ke Perguruan Tinggi. Contoh lain misalnya ketika kita mendaftar kursus, les di bimbingan belajar, dan sebagainya.

Saya pribadi mengalami beberapa kali peristiwa semacam ini. Saat transisi dari SD ke SMP (saya adalah satu-satunya lulusan SD saya yang melanjutkan ke SMP tersebut), transisi dari SMA ke Perguruan tinggi (kali ini tidak sendiri, tetapi –hanya– berdua, alumni SMA saya yang melanjutkan ke IPB), dan yang masih baru adalah mimpi jadi nyata saya: melanjutkan sekolah di negeri orang. Saya adalah satu-satunya alumni kampus saya yang saat ini sedang aktif menimba ilmu di Leiden.

Ada dua kesamaan yang mengikuti setiap fenomena transisi lingkungan terjadi. Pertama adalah perubahan status saya relatif terhadap lingkungan, yakni mayoritas menjadi minoritas. Komunitas sosial yang saya melekat padanya di lingkungan lama sudah tak lagi menjadi mayoritas di lingkungan yang baru. Kesamaan kedua yakni

disadari atau tidak, saya secara alami akan memperkenalkan siapa diri saya di lingkungan baru tersebut. Bagaimana saya membawa diri, bersikap, bercengkrama, merespon humor, dan lainnya. Dimensi-dimensi diri yang secara holistik akan mendefinisikan diri saya di lingkungan tersebut.

Yang menarik, mendapati lingkungan yang sama sekali dipenuhi dengan orang-orang baru, secara teknis saya dimungkinkan untuk melakukan apa yang saya sebut dengan self re-inventing. Istilah yang saya gunakan untuk menggambarkan fenomena memperkenalkan, mendefinisikan diri secara sama sekali baru, tidak harus sama dengan citra yang melekat pada diri kita di lingkungan kita yang lama.

Misalnya, di lingkungan lama, saya dikenal sebagai orang yang ceriwis, banyak omong. Dengan transisi lingkungan, saya dapat mengubah citra tersebut menjadi kebalikannya: sosok yang kalem nan irit bicara. Toh, orang-orang di lingkungan baru tidak akan dapat mendeteksi ketidak-konsistenan perangai saya, karena mereka baru mengenal saya.

Dalam contoh yang lebih ekstrem, konsep self re-inventing memungkinkan seseorang dapat merubah definisi dirinya secara drastis. Seorang anak sekolah yang di sekolah lamanya terlanjur dikenal kuper, cupu, langganan bully, dapat menjadi anak normal yang tak pernah di-bully di sekolah pindahannya yang baru.

self reinventing

***

Bagi saya, kesempatan merasakan beberapa kali transisi lingkungan merupakan rangkaian pelajaran yang berharga. Terlebih, di kesempatan terakhir, dimana saya pindahan ke Kota Leiden dengan segala kebaruannya. Transisi lingkungan kali ini memperkenalkan saya pada dimensi lain self re-inventing yang belum saya sadari sebelumnya: menjadi duta atas atribut yang melekat pada diri kita.

Dalam kasus yang saya alami, saya (harusnya) menyadari bahwa kini menyandang status sebagai duta bagi setidaknya dua atribut yang melekat pada diri saya. Orang Indonesia dan Seorang Muslim. Dua atribut yang tentu saja relatif cukup baru –dan tentu saja minoritas– di lingkungan ini. Maka dari itu, rangkaian sikap, perangai, cara bersosialisasi yang saya tampilkan bukan hanya berujung pada terbentuknya definisi mereka atas diri saya, melainkan pula atas definisi “Orang Indonesia” dan “Seorang Muslim”. Dan mengingat wajarnya sikap menggeneralisir simpulan atas dasar (sedikit) input yang teramati, adalah sangat mungkin bahwa apa yang saya tampilkan dapat mempengaruhi definisi atas dua atribut yang melekat pada diri saya tersebut secara signifikan, setidaknya bagi orang-orang yang secara intens berinteraksi dengan saya (seperti teman sesama mahasiswa internasional di lingkungan flat).

Menyadari hal ini, sudah semestinya saya lebih bijak membawa diri, menampilkan hanya karakteristik yang sekiranya tidak berpotensi mencederai citra dari dua atribut, yang satu mewarisi segala keluhuran nenek-moyang bangsa, yang satu lagi bahkan lebih mulia, sebagai bentuk panduan hidup paling sempurna.

***

Pun demikian halnya dengan transisi lingkungan pada umumnya. Sosok yang melakukan self re-inventing selain membentuk citra dirinya, juga akan berkontribusi membentuk citra atribut yang melekat padanya. Ketika seorang pemuda fresh graduate diterima bekerja di suatu perusahaan, maka lingkungan kantornya akan sedikit banyak menyimpulkan karakteristik dari lulusan kampus pemuda tersebut dari tindak-tanduk yang ditampilkan oleh pemuda tersebut dalam kesehariannya di kantor.

Maka, sudah sepantasnya kita yang menjadi minoritas dan hendak melakukan self re-inventing di lingkungan baru, perlu memperhatikan atribut-atribut apa saja yang melekat pada diri, dan tidak membiarkan terjadinya mis-konsepsi lantaran apa yang kita tampilkan tidak sesuai dengan rupa sebenarnya dari atribut yang kita wakili.

Untuk mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengajukan serangkaian pertanyaan retorik bagi kita semua.

Duta siapa kah kita? Duta seperti apakah kita? Sudah cukup representatif kah mewakili atribut yang melekat pada diri kita? Atau jangan-jangan yang kita tampilkan justru lebih banyak mencederai murni (bukan citra) kebaikannya?

Sekian.

***

Menjadi catatan bagi penulis pribadi.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: