Catatan Kontemplasi untuk Para Aktivis Mahasiswa

Catatan Aktivis

Apa yang ada di benak kalian saat ditanyai definisi aktivis? Di benak penulis, Aktivis adalah gelar yang disandang oleh segolongan mahasiswa yang aktif di (berbagai) organisasi di lingkungan kampusnya. Mereka yang menyandang gelar ini biasanya dikenal sebagai mahasiswa-mahasiswa idealis yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kehidupan yang semakin hari semakin usang dan cenderung ditinggalkan –oleh kebanyakan generasi muda zaman sekarang.

Sebagai konsekuensi dari banyaknya ‘mainan’ organisasi yang mereka punya, mereka sudah pasti memiliki banyak kegiatan di luar kelas perkuliahan. Rapat koordinasi ini, rapat persiapan acara itu, dan rapat-rapat yang lain diselingi sekali-dua melakukan aksi turun ke jalan alias demo, pokoknya kegiatan mereka banyak. Konon, rapat bagi mereka sudah seperti makan, (minimal) tiga kali sehari!

Membicarakan apa yang menjadi isi kepala para aktivis niscaya hanya akan meninggalkan decak kagum. Sebab mereka sudah biasa memikirkan banyak hal yang lebih besar dari sekadar “Nanti malam enaknya makan apa ya?” atau “Liburan semester nanti liburan ke mana ya?”. Sama sekali jauh lebih besar dari hal-hal picisan semacam itu.

Mereka tak jarang memikirkan hal-hal yang telah menyentuh skala ‘negara’. “Kenapa masih banyak penduduk miskin di Indonesia?” “Apa yang salah dengan

gaya kepemimpinan presiden saat ini?” “Bagaimana menciptakan budaya jujur pada anak-anak zaman sekarang?”, itulah kiranya topik-topik yang wira-wiri di kepala mereka. Mengagumkan bukan? Tidak mengherankan kalau ada yang menyebut mereka (termasuk diri mereka sendiri, terkadang) dengan sebutan “negarawan muda”.

Namun, ternyata ada fenomena yang menggelitik penulis terkait dengan kehidupan kampus sebagian aktivis ini. Apakah gerangan? Tak sedikit penulis mendapati mahasiswa-mahasiswa yang layak mendapat gelar aktivis memiliki pencapaian akademik yang tak prima. Secara frontal: IPK-nya jeblok.

Dua makhluk pertama dalam abjad, si A dan si B, pada transkrip nilai mereka dapat dihitung dengan jari –atau bahkan tidak ada? Adalah “rantai karbon” C yang mendominasi halaman informasi nilai di KRS mereka. Yang membuat menjadi semakin ironi adalah, tidak sedikit dari mereka tampak biasa-biasa saja dengan pencapaian tak prima ini.

Tidak ada rasa kecewa mendalam yang tampak dalam mimik muka mereka setiap kali melihat papan pengumuman nilai UTS/UAS yang kebanyakan hanya mentok di ‘kepala lima’, lantas tidak tampak perbaikan nilai (maupun usaha) di semester-semester selanjutnya. Tentu fenomena ini menjadi sangat kontradiktif dengan nilai-nilai luhur yang katanya mereka junjung tinggi-tinggi, bukan?

***

Saatnya berubah, menjadi aktivis yang lebih baik

Wahai para aktivis, tidak paham kah kalian? Bahwa salah satu nilai luhur yang kalian pegang erat-erat, yang kalian sering sekali koar-koarkan terlebih saat tiba musim pemilihan ketua BEM , ketua Himpunan, maupun ketua Unit, yakni Amanah, telah kalian langgar bulat-bulat saat IPK kalian jeblok. Lupa kah kalian atas amanah yang orang tua kalian berikan untuk menjadi mahasiswa yang bisa membanggakan mereka? Terlepas dari apapun kegiatan sambilan positif yang dapat kalian lakukan selama menjadi mahasiswa, tugas utama kalian tetap menuntut ilmu.

Sebagai aktivis di BEM, kalian tidak rela jika laporan pertanggung-jawaban akhir tahun BEM kalian tidak diterima. Tetapi sebagai aktivis ‘diri sendiri’, kalian sangat rela saat performa akademik kalian sama sekali tidak mencerminkan tanggung jawab terhadap diri pribadi, orangtua, dan negara!

Wahai para aktivis, tidak paham kah kalian? Bahwa, sekali lagi, semua nilai-nilai luhur yang selalu kalian suarakan lantang dan kalian jadikan panji-panji dalam organisasi itu harus kalian jewantahkan dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya sekelumitnya saja. Kalian mestinya paham bahwa dalam menyongsong setiap musim ujian, tidak cukup hanya dengan berjargon “UTS ku Jujur”.

Betul kita harus jujur dalam mengerjakan ujian, tidak mencontek dan seterusnya yang curang-curang. Lantas apakah saat hasilnya tak memuaskan kita puas-puas saja dan berpikir “Alhamdulillah, biar jelek kan yang penting murni usaha sendiri gak nyontek”? Salah besar! Tambahkanlah jargon “UTS ku Sungguh-Sungguh”, “UTS ku Prima”, sebagai manifestasi nilai kerja keras pantang menyerah yang tentu kalian punyai jua.

Sebagai ketua himpunan, kalian berusaha sekuat tenaga agar rapor penilaian dari Badan Pengawas Himpunan bernilai ‘Sangat Bagus’. Kalian malu jika yang keluar hanya nilai ‘Cukup’. Tetapi kalian kalem-kalem saja saat transkrip nilai kalian dipenuhi dengan huruf mutu “C”? Tak masuk akal, bukan?

Oleh karena itu, kiranya kuat sudah alasan untuk memperbaiki capaian akademik yang tercecer selama ini, wahai kalian para aktivis. Berhentilah bertindak konyol dan kontradiktif. Berubahlah! Jikalau kalian memang benar-benar memegang nilai-nilai luhur yang selalu kalian banggakan selama ini.

***

Tulisan ini adalah repost dari tulisan serupa yang dimuat di portal opini selasar.com

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: