Menyambut Ramadhan Pertama di Eropa

Salam, rekan-rekan semua! Semoga sehat selalu ya!

Per akhir April kemarin, delapan bulan sudah saya merantau ke Belanda. Banyak hal menarik (re: berbeda dengan Indonesia) yang saya sebelumnya nantikan akan terjadi di Belanda satu per satu telah saya alami. Melihat musim gugur, merasakan bagaimana menggenggam salju, dan beberapa hal lainnya. Menjelang bulan ke sembilan perantauan saya ini, ada satu hal besar menarik yang juga sudah saya nanti-nantikan bagaimana rasanya. Yap, seperti yang sudah bisa kalian tebak: menjalani bulan puasa di Eropa! 

Apa yang membuat Ramadhan di Eropa menarik? Mungkin ada baiknya kita lihat gambar berikut:

Day night world map

Kalian akan familiar dengan gambar ini saat kalian melakukan perjalanan udara jarak jauh 🙂

 

Di atas adalah day-night world map saat saya pulang ke Jakarta sekitar dua minggu yang lalu, cukup representatif mewakili keadaan yang akan saya hadapi untuk bulan puasa tahun ini. Keterangan gambar: bagian peta yang berwarna lebih hitam menunjukkan wilayah di dunia yang sedang mengalami malam, dan sebaliknya.

Kalau kalian amati, wilayah yang mengalami malam di dunia membentuk daerah seperti topi, dengan bagian bawah lebih lebar (bahkan mencakup seluruh permukaan bumi di bagian kutub selatan), mengecil di bagian atas, dengan puncak tidak sampai menutup ujung kutub utara. Artinya, saat ini di kutub selatan selalu mengalami malam hari tanpa siang, dan sebaliknya di kutub utara yang selalu siang hari tanpa malam.

Pada awalnya, saya merasa ada yang salah dengan diagram pembagian waktu siang-malam dunia ini. Sebab pikir saya, harusnya bentuk yang benar adalah simply berbentuk segi empat beraturan, dengan sisi-sisi tegak sejajar satu sama lain, tegas membagi dua daerah di bumi siang dan malam, dari kutub selatan hingga utara. Tapi ternyata saya salah, mengingat fakta bahwa sumbu rotasi bumi adalah 23,5 derajat (miring, bukan tegak), maka gambar kita di atas adalah representasi sesungguhnya dari pembagian siang-malam di berbagai belahan dunia.

Lantas apa hubungannya gambar di atas dengan ramadhan di Eropa? Implikasi gambar di atas jelas: pada periode sekarang ini (persisnya 21 Maret – 23 September), belahan bumi bagian utara mengalami durasi siang hari  yang lebih panjang dibanding malam. Karena kita tau bahwa waktu sehari-semalam adalah konstan 24 jam, kesimpulannya adalah: siang hari di belahan bumi bagian utara (termasuk Eropa di dalamnya) saat ini sudah jauh di atas 12 jam. Persisnya, kata Mbah Google segini:

Sunrise leiden

Luar biasa ya! Dan memang sekarang, jam 9 malam itu masih terang banget, berasa jam 5 di Indonesia deh. Meh..

 

Dari definisinya, durasi puasa tentu lebih panjang dari durasi sun-light di atas. Maka berikut adalah jadwal waktu shalat di Kota Leiden saat ini:

gebedstijden_web

Bisa dilihat, untuk hari ini (5 Mei) misalnya durasi puasa normal adalah dari pukul 04.04 sampai dengan 21.18, alias 17 jam lebih! Dan bisa kita lihat pula bahwa durasi ini masih terus bertambah panjang di hari-hari ke depan! Waktu shubuh semakin maju, sebaliknya waktu maghrib semakin mundur saja! Oh my Rabb!

***

Jika dibandingkan dengan ramadhan di Indonesia, yang telah saya jalani  sejak kecil hingga setahun yang lalu, rata-rata puasa dimulai dari pukul 4 pagi dan selesai  pada pukul 6 sore, berdurasi sekitar 14 jam. Menyadari hal ini, saya rasa ramadhan kali ini bukan hanya menarik, tapi juga menantang!

Salah satunya, dalam rangka mempersiapkan diri menyambut ramadhan tahun ini, saya sekali dua mencoba berpuasa Senin-Kamis. Yang saya dapati adalah, masuk pukul 20.00, saya sedikit banyak kehilangan fokus, badan cukup signifikan melemas, dan tidak berhasrat melakukan apa-apa (jangan tanya untuk belajar ya!). Bolak-balik melihat keluar jendela, kok ya halaman masih terang benderang, mataharinya masih saja di situ, belum tenggelam-tenggelam juga hahaha.

Ohiya, anyway, kami para perantauan Indonesia di Belanda, sudah mendapatkan pengumuman resmi bahwa awal ramadhan tahun ini jatuh pada tanggal 17 Mei 2018. Pengumuman ini dikeluarkan oleh Masjid Indonesia Al-Hikmah di Den Haag. Berikut adalah potongan surat pengumumannya:

Ramdhan al hikmah

Nah kalo gini kan enak, daripada tiap tahun harus nunggu ketidakpastian sampai hari-H kan #eh :p

 

Baiklah, saya berdoa semoga dapat menjalani bulan puasa tahun ini dengan baik, permudah ya Allah, dan tentunya: laa haula walaa quwwataa, illaa billaah, sungguh tiada daya dan kekuatan, melainkan (dari) milik-Mu.

***

Akhir kata, semoga Allah mengizinkan kita menjumpai bulan yang penuh berkah, Ramadhan Karim tahun ini. Baalighnaa ramadhaan, ya Allah… 🙂

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: