Wrap Up Ramadhan & Idul Fitri 1439 H

Selamat Idul Fitri teman-teman! Mohon maaf lahir dan bathin ya!

Rangkaian bulan puasa + lebaran tahun ini sudah pasti pasti akan menjadi momen berkesan dalam hidup saya. Lengkap sudah tangible dan intangible aspek yang membuat semuanya berbeda. Secara tangible, tentu saja disebabkan oleh lokasi (Belanda, instead of Indonesia), yang memunculkan serangkaian implikasi (satu diantaranya yang paling menarik tentu saja soal durasi puasa yang jauh lebih panjang dari Indonesia) seru (karena merupakan hal baru bagi saya) sekaligus menantang mengiringi kegiatan ibadah wajib tahunan ini. Secara intangible, fakta bahwa ini adalah idul fitri pertama saya tidak bersama keluarga tentu saja mambawa sensasi yang membuat suasana hati dan setting perasaan cukup berbeda dari idul fitri yang sudah-sudah.

***

Pandangan teman-teman non-muslim di sini tentang ramadhan

Islam dan beberapa syariatnya ternyata tidak sama sekali terasing di Eropa. Minimal itulah pemahaman yang muncul dalam benak saya ketika saat H-3 puasa yang lalu seorang teman dari Belgia yang mengetahui saya seorang muslim berkata “Ramadhan is coming, right? What will you gonna do?“, di tengah kesibukan kami mempersiapkan makan malam di dapur bersama flat.

Setelah setengah kaget dengan pertanyaan yang dia sampaikan, saya menjawab bahwa saya antusias menunggu datangnya ramadhan, terutama karena ramadhan kali ini akan menjadi ramadhan pertama saya dengan durasi yang lebih lama dari Indonesia. Dia kemudian menanggapi dengan perpaduan antara kagum dan heran, serta berkata bahwa dia tidak habis pikir ada ibadah semacam itu –yang bergitu memberatkan, “How you can manage that –pretty hard thing?“.

Di beberapa kesempatan lainnya, kesan senada juga saya dapatkan dari teman-teman yang lain. Pada intinya, mereka cenderung mengartikan bahwa puasa adalah suatu ‘siksaan’, atau paling tidak sebagai adalah sesuatu yang memberatkan. Saya mendapatkan komentar “Is that doable? But you still have to study including your exams and do many other things during the daylight, right? Doesn’t ramadhan will make you won’t do those stuffs in not-optimal way?”. Teman yang lain berkomentar “Are you sure (for doing fasting)? It must be really hard, since the daylight is damn long currently”.

Tanggapan saya atas persepsi mereka yang menganggap saya pasti merasa sangat terksiksa secara fisik (lapar, lemas etc) berulang kali sama: sambil tersenyum saya berkata “I’m totally okay! I’m used to it!”.

Buka Puasa dan Shalat Tarawih

Berhubung ujian saya yang mengambil jadwal sampai pada pertengahan puasa, paruh pertama ramadhan saya rutin buka puasa di housing saja. Dengan begitu saya dapat segera pergi kembali ke perpustakaan untuk mempersiapkan ujian. Saya terpaksa harus menahan diri dari godaan cerita dari teman-teman yang bercerita tentang meriah dan makmurnya hidangan buka puasa di masjid sekitar Leiden.

Setelah ujian selesai, saya membuktikan sendiri cerita teman tersebut. Ternyata benar saja, buka puasa di masjid sangat terjamin makmurnya. Setelah kurma dan shalat maghrib, jamaah dipersilakan memasuki ruang makan dengan meja-meja cukup besar dikelilingi 8 kursi. Di meja sudah terhidang sajian pembuka berupa sup maroko lengkap dengan rotinya yang khas dan enak (mirip-mirip roti maryam). Setelah santap pembuka selesai, selanjutnya makanan utama berupa masakan kambing/ayam (semacam kari), dengan roti yang lainnya. Dan 8 orang dalam satu meja makan bersama (mirip seperti tumpengan).

Sedikit curhat subjektif, saya lebih suka ketika hidangannya ayam, karena cara memasak orang sini yang tidak memperhatikan/mengharuskan aroma daging harus hilang bersama bumbu masakan, alhasil aroma kambing masih sangat kuat menempel pada dagingnya. Dan itu membuat saya tidak sanggup menelan daging kambing tersebut tanpa bantuan roti dan sup maroko hidangan awal yang terasa cukup manis.

Minumannya pun lengkap, selalu ada air putih, susu dan teh mint. Benar kata teman sayayang menebak perubahan selera saya. Awalnya saya tidak suka dengan teh mint. Aneh saja, teh kan hakikatnya minuman dengan tujuan memberi kehangatan, eh kok malah dicampur dengan daun mint. Tapi ternyata karena rutin tersedia di hidangan buka, saya jadi suka lho!

Ada hal unik lain. Berhubung waktu isya yang sangat larut (sekitar jam 12 malam), masjid di sini, dengan ijtihadnya, memajukan azan isya menjadi 30 menit lebih awal. Azan ini didahului oleh ceramah (sayangnya dalam bahasa Arab) yang berlangsung sekitar setengah jam.

Satu hal yang bagi saya menakjubkan adalah jumlah jamaah yang hadir shalat isya dan tarawih. Jumlahnya sama persis (atau bahkan lebih ramai, karena ada jamaar wanita di lantai atas) dengan jamaah shalat jumat bro! Luar biasa. Setiap hari sama penuhnya, tidak kenal pemajuan saf seiring dengan menuanya bulan ramadhan seperti kebanyakan masjid di Indonesia. Padahal literally waktu shalat isya disini tengah malam, sudah barang tentu lebih berat dibanding di tempat kita ya. Masya Allah!

Masjid terawih

Rame betul yak! 

Shalat tarawih segera dilaksanakan ba’da shalat isya, tanpa ada selingan macam bersahutan shalawat khas budaya Indonesia. Delapan rakaat, dilengkapi dengan tiga rakaat witir dengan dua kali salam (total jumlah salam/shalat ada 6 = 4 tarawih dan 2 witir). Terdapat pergantian imam pada shalat ke 4, jadi masing-masing imam memimpin 3 shalat. Imam yang selalu sama, penceramahnya pun demikian. Ternyata masjid memang mengundang tim alim ulama dari Maroko untuk menyambut ramadhan. Saat witir selesai, biasanya jam menunjukkan nyaris pukul 1 pagi~

Air mineral cuma cuma di masjid

Air minum cuma-cuma bagi jamaah Isya-Tarawih 🙂

Ohya, selain housing dan masjid, buka puasa ramadhan saya kemarin juga diwarnai dengan KBRI dan Pengajian Leiden. KBRI Den Haag mengadakan buka puasa bersama (dan tentunya gratis) setiap hari Jum’at. Karena jauh dan  (kelewat) malam, saya hanya sempat sekali berbuka di sana.

Lebaran

Saya dan teman-teman yang sama-sama pertama kali menjalani ramadhan di sini banyak beranggapan sama: bahwa puasa tahun ini berlangsung cepat betul! Tau-tau saja kita sudah berkumpul untuk melaksanakan takbiran ala kadarnya, dengan salah satu tujuan menggelorakan dan menciptakan sensasi rasa bersuka cita menyambut lebaran tiba di antara sesama perantau.

Di Belanda ada beberapa masjid, berdasarkan komunitasnya (pengurus). Ada masjid maroko (termasuk masjid tempat saya berbuka di atas), ada masjid Turki dan masjid Indonesia. Masjid Indonesia terdekat ada di Den Haag, dan tidak ada alasan bagi saya untuk tidak melaksanakan sholat Ied di sana.

Kelebihan utama melaksanakan shalat dengan khutbah di masjid Indonesia adalah khutbah yang berbahasa Indonesia! Sebab khutbah di kedua masjid yang lain (Maroko dan Turki) berbahasa arab (pada beberapa kesempatan di translate ke bahasa Belanda, sarua bae, urang teh teu ngartos naon artina zzz). Membuat saya tidak mengerti apa yang disampaikan khatib.

setelah shalat ied

diaspora Indonesia selepas shalat Ied di Masjid Al-Hikmah den Haag

Kami dari grup pengajian Leiden kompak membentuk kloter pada hari raya kemarin. Dimulai dengan berangkat sholat Ied bersama, destinasi kedua segera setelah shalat Ied adalah mengunjungi open house duta besar RI untuk Kerajaan Belanda. Jujur, saya salut betul dengan Pak Puja selaku dubes, dengan jabatan beliau yang tinggi, (dan status non-muslim) beliau tidak membuat prosesi open house menjadi sekadar formalitas menyelenggarakan stand makanan Indonesia gratis, beliau berdiri di depan pintu masuk dan menyalami satu per satu semua pengunjung yang datang (jumlahnya ribuan) seraya mengucapkan selamat lebaran. Salut euy! Pemimpin teladan!

wisma duta

suasana open house dubes terbaik

Puas mencoba makanan ini dan itu, agenda rombongan belum selesai. Masih ada satu tempat (makan) lagi untuk dikunjungi. Adalah Bu Rahma, orang Indonesia yang memiliki usaha rumah makan di sekitar Leiden, mengundang untuk datang bersilaturhami, dan tentu saja menikmati hidangan Indonesia lainnya. Hehe

Kemeriahan lebaran masih berlanjut. Kemarin, keluarga besar mahasiswa Indonesia di Leiden mengadakan halal bi halal meriah di halaman belakang komplek Boehavelaan (komplek housing mahasiswa PhD). Kami bersalam-salaman, sambil ceria memanggang ikan bersama, serta menyantap masakan Indonesia lainnya!

Allah, boleh ndak hamba rikues tiap bulan lebaran? 😀

HBH Leiden

Thanks Allah It’s lebaran!

***

Epilog

Alhamdulillah ya Allah atas ramadhan yang baru saja Kau hadiahkan. Rasa senang bercampur sedih terasa dalam hati, senang adalah trivial, sedih karena aku merasa menjadi pribadi yang sangat tertata, terstruktur di bulan ramadhan dan aku takut tidak dapat melakukan yang sama setelahnya. Ya Allah, semoga Engkau pertemukan aku dengan madrasah ramadhan-Mu tahun depan. Aamiin.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: