Di Tengah Perjalanan

Halo hai, everibodeh! Narai habar*?

Berakhirnya Bulan Juni kemarin menandai selesainya kegiatan akademik saya di semester dua. Itu berarti pula bahwa perjalanan menyelesaikan mimpi berada di pertengahan jalan!

Bersyukur

Saya rasa, tidak ada poin yang lebih penting untuk menghiasi post ini kecuali “bersyukur”. Nyaris setahun saya berada di sini, masih tak jarang saya setengah merasa bahwa ini adalah mimpi. Terlalu menyenangkan rasanya jika mengingat mimpi yang dulu diidam-idamkan (sekolah di luar negeri) akhirnya bertemu dengan kenyataan.

Alasan untuk bersyukur tidak selesai sampai di situ. Dalam menjalani dinamika sebagai mahasiswa di dua semester terakhir, sangat nyata terasa campur tangan-Nya memperlancar lagi mempermudah segala urusan. Meluluskan dengan nilai yang baik pada mata kuliah yang saya sempat merasa pesimistis untuk bisa sekadar lulus, menghadirkan teman/sosok yang seakan khusus diutus untuk mempermudah urusan-urusan akademik, dan beragam kelancaran yang Dia hadiahkan, yang, tidak akan habis jika saya harus mencacah semuanya.

Terimakasih, Allah ya Kariim. ūüôā

Hal menarik di semester kemarin

Di semester dua kemarin, terdapat beberapa hal menarik. Pertama, ada satu mata kuliah, judulnya Stochastic Process, yang membuat saya harus mengetahui dan mengakui batas kemampuan akademik saya. Pada awalnya, saya terpaksa mengambil mata kuliah ini berkenaan dengan sempitnya slot jadwal kosong kuliah (jadwal mata kuliah minor bisnis saya padat merayap). Saat dijalani, eh ternyata mata kuliahnya emejing rek! Abstraknya banget-banget! I never imagined before that probability theory could be sooo far from concrete construction.

Setelah mencoba bertahan dengan berusaha sementok yang saya bisa dalam 4 minggu  pertama jalannya perkuliahan, sepertinya keadaan tak kunjung membaik. Nilai PR mingguan saya masih tak beranjak dari batas minimal untuk dapat mengikuti ujian, yakni 5,5. Usut punya usut, kekusutan saya kemungkinan besar karena ternyata mata kuliah tersebut memiliki mata kuliah prasyarat yang belum saya ambil. Owalah pantes!! Jadilah, daripada berpotensi hanya membuang waktu, karena kemungkinan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal, maka saya putuskan untuk mengakui kerendahan diri dengan melepas mata kuliah tersebut.

Hal menarik kedua masih berkaitan. Salah satu alasan yang menguatkan saya untuk melepas mata kuliah Stochastic Process adalah adanya mata kuliah lain berjudul Advanced Linear Programming. Mata kuliah ini, walaupun bentrok dengan jadwal minor, menurut saya waktu itu patut untuk diperjuangkan sebagai pengganti Stochastic Process. Karena mata kuliah ini langka bin unik. Satu, karena menyediakan full online lecture, rekaman video kuliah mingguan dari lokasi kelasnya di Utrecht University. Dua, karena grade component mata kuliah in hanya satu: nilai ujian akhir, tok!.Tidak ada yang namanya komponen nilai PR/tugas lainnya. Long story short, all praise to God, saya lulus mata kuliah ini tanpa pernah sekali pun datang ke kelas, hanya belajar bermodalkan online lecture dan literatur, dan tentu saja datang saat ujian.

Pantang Kendurkan “Ikat Pinggang”

Dengan izin dan karunia-Nya, saya telah menyelesaikan 58 ECTS (satuan kredit di sini)  dalam dua semester kemarin (masing-masing 29 ECTS). Jadi, jika mengambil batas kredit minimum 120 ECTS untuk jenjang master, maka saya memerlukan setidaknya 62 ECTS lagi untuk selesai. Nyaris setengah jalan.

Berkenaan dengan itu, alhamdulillah saat ini saya telah menjalani periode magang, yang insya Allah akan berlangsung selama 4 bulan sampai dengan November. Setelahnya, semoga saya dapat langsung memulai penulisan thesis secepatnya.

Sedikit berbagi tentang magang, master matematika memangnya perlu? Ya, magang merupakan agenda wajib dari kurikulum Science Based Business, minor yang saya ambil sebagai pendamping dari bidang utama saya matematika.

Sayang gak sih ilmu matematikanya gak kepake kalau magang? Eits jangan salah. Satu hal yang  saya kagumi dari Belanda adalah banyaknya pekerjaan scientific yang dapat menjadi wadah kita mengaktualisasikan bidang keilmuan kita. Contohnya adalah kantor magang saya saat ini: Significance.

Significance adalah konsultan kuantitatif yang berfokus pada pemodelan transportasi beskala makro (negara) berbasis matematika. Salah satu contoh konkret pekerjaanya misalnya project magang saya: bagaimana mengembangkan metode simulasi terhadap fungsi permintaan transportasi yang bersifat stokastik (tak pasti) dengan varian (kuadrat simpangan baku) yang kecil / tolerable. Jadi tentu saja ilmu matematika saya sangat digunakan. Menarik, bukan? Tidak salah jika setengah dari jumlah karyawan Significance memiliki gelar PhD.

Walaupun per semester ini insya Allah saya sudah tidak mengambil mata kuliah, saya tidak boleh lengah lantas mengendurkan “ikat pinggang” yang sudah mulai kencang , menyesuaikan dengan ritme dan kualitas akademik di sini. Saya harus tetap fokus. Sebab setelah magang, akan ada mega-proyek yang sesungguhnya bagi seorang mahasiswa master. Apalagi kalau bukan menulis thesis?

Jika menengok kembali pola belajar pada saat mengambil mata kuliah yang sudah sangat self-contained, maka sudah pasti periode penulisan thesis kelak kadar belajar mandirinya akan semakin menggila! Karenanya pasti diperlukan fokus, tekad dan kerja keras  yang tinggi pula untuk menyelesaikannya dengan baik.

Bismillah, mudahkan jalannya, ya Allah. . .

***

Belgium

Pose dari Brussels, Belgium, short vacation setelah semester 2 selesai

*Apa kabar, Bahasa Dayak Ngaju

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

2 responses to “Di Tengah Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: