Jalan-Jalan ke Giethoorn

Halo semua!

Mayoritas kalian tentu familiar dengan Venice. Kota yang terletak di bagian timur laut Italia ini dikenal karena kanal-kanalnya yang (katanya) indah. Lantas nyaris tidak mungkin rasanya membenak Kota Venice tanpa membayangkan diri kita sedang asyik di atas perahu menyusuri kanal, sambil menikmati setiap sudut pemandangan kota. (Pasti) Menggembirakan betul, ya!

Well, jika kalian sangat mengidolakan Kota Venice dan sangat ingin suatu saat dapat liburan kesana, sampai-sampai menjadi bucket-list destinasi nomor wahid tujuan wisata manca-negara, maka boleh jadi, post ini akan mengganti posisi Venice dalam bucket-list kalian. Seminimal-minimalnya, saya percaya bahwa kalian akan galau berat, jika disuruh memilih mendahulukan Venice atau tempat yang akan caya ceritakan pada post ini untuk dikunjungi pertama kali.

Penasaran? Selamat membaca!

***

Saya harus mengakui bahwa pada periode sekarang-sekarang ini, masa-masa musim panas, masa-masa dimana durasi waktu siang  lebih panjang dibanding malam, hawa liburan itu seperti aroma semangkuk Indomie rebus rasa ayam bawang yang  baru diangkat dari kompor, dimasak dengan telur plus irisan cabe rawit dan bawang goreng: SANGAT MENGGODA. Bawaannya pengen liburan mulu kalau weekend tiba, kurang lebih seperti itu rasanya.

Atas dasar itu lah, plus dibumbui dengan keinginan teman yang hendak berkunjung ke Giethoorn sebelum pulang ke Indonesia, plus saya yang memang telah menaruh Giethoorn dalam salah satu bucket-list, saya akhirnya alhamdulillah dapat berkunjung ke ‘Belanda punya Venice’ di akhir pekan kemarin.

Kok Venice dibawa-bawa? Ya, karena memang, kota ini memiliki kemiripan dengan Venice. Sama-sama dianugerahi kanal-kanal indah yang membelah penjuru kota. Bedanya ada beberapa. Pertama, air kanal di Giethoorn adalah air tawar, beda dengan Venice yang air laut (atau minimal payau). Kedua, jika kanal di Venice kanan-kirinya langsung gedung-gedung (tua, yang tidak semuanya terawat), maka di Giethoorn, pinggir-pinggir kanal didominasi halaman rumah warga yang ditumbuhi rerumputan/bunga yang hijau terawat. Ketiga, mungkin yang paling utama dan konklusif: Overall, menurut saya Giethoorn lebih OKE.

Nah loh!

Penjelasannya adalah, simply karena menurut saya Giethoorn lebih indah dan (masih) lebih terawat. Dalam kunjungan saya ke Venice awal tahun kemarin, jujur saya sedikit kecewa karena ekspektasi saya gagal ditemui oleh realita Kota Venice. Mulai dari air kanal yang kotor, banyak sudut kanal yang tiak terawat (seperti lumut pada dasar dinding gedung pinggir kanal), hingga keberadaan oknum-oknum “peminta-minta berkedok pemberi hadiah bunga secara setengah memaksa”. Jadi kesimpulan saya: Venice itu over-rated. Masih lebih bagus Giethoorn kemana-mana, suer deh.

So, how to get Giethoorn?

Gampang kok! Dari mana pun kalian di Belanda, naiklah kereta yang melintasi Stasiun Steenwijk, turun lah di sana. Keluar stasiun, naik bus 270 tujuan Giethoorn, berhenti di halte Giethoorn, Dominee Hylkemaweg. Perjalan bus dari stasiun sekitar 15-20 menit. Sampai lah sudah!

What it offers and How things work

‘Sajian’ utama di Giethoorn tentu saja adalah: tur menyusuri kanal dengan perahu.

Sesampainya di lokasi, kalian akan disambut dengan deretan perahu diparkir di pinggir kanal dengan merek Zwaantje, menggoda nian siap untuk disewa. Di sisi kanal, ada restoran masakan Belanda dengan nama sama. Loket penyewaan berada di samping restoran. Tarif sewa perahu bervariasi, bergantung pada durasi sewa dan jenis perahu. Sebagai gambaran, perahu kecil dengan kapasitas sampai dengan 4 orang dipatok 15 Euro per jamnya. Sedang yang muat 8 orang dibanderol dua kali lipatnya, 30 Euro.

Ah ya, hal beberapa hal penting yang harus dicatat seputar kegiatan plesir utama di Giethoorn ini. Pertama adalah, jangan panik jika kalian mendapati antrean mengular panjang di loket penyewaan Zwaantje. Kalian harus tau bahwa penyewaan perahu tidak hanya Zwaantje kok, masih banyak rental lain yang berada di sepanjang tepian kanal yang sama dengan Zwaantje. Zwaantje menang tempat doang kok, dan dengan kelebihannya ini, harga yang ditawarkan relatif lebih mahal dibandingkan dengan rental lainnya.

penampakan perahu

Penampakan perahu, tahan seruduk! 

ticket zwaantje

panjangnya antrean di loket Zwaantje

Hal kedua, jenis boat-tour yang tersedia. Secara umum, ada dua cara menikmati dan menyusuri kanal-kanal cantik di Giethoorn. Cara pertama adalah seperti yang sudah kita bahas: dengan menyewa dan mengendarai sendiri perahu yang disewa, tanpa ada supir orang rental. Mungkin kalian bertanya, memangnya semua orang bisa menyetir perahu? Bagaimana jika saya tidak bisa? Jangan khawatir, jawabannya adalah: Kamu pasti bisa! Paksakan saja menyetir sendiri, belajar otodidak dengan praktik langsung. Lah kalau nabrak, lalu perahunya rusak bagaimana? Jangan khawatir (lagi), perahu-perahu di Giethoorn didesain sedemikian rupa sehingga kuat dan tahan tubrukan dari segala sisi. Mungkin memang untuk dipersiapkan bagi orang-orang yang belum mahir mengendarai perahu ya! Haha.  Kemarin saja perahu kami juga nubruk beberapa kali. Cara kedua, adalah mengikuti boat-tour massal. Ada beberapa tempat yang menawarkan tur kanal dengan perahu yang besar, muat puluhan orang, dengan pemandu wisata. Untuk jenis ini, harganya sekitar 7,5 Euro dengan durasi sekitar 75 menit, dan berangkat setiap rentang waktu tertentu sesuai yang dijadwalkan penyelenggara.

giethoorn_vaarkaart

map tour kanal Giethoorn, lengkap dengan estimasi durasi tournya 1-3 jam 🙂

Hal terakhir tentang persewaan perahu, penting diingat bahwa rata-rata semua loket penyewaan hanya menerima pembayaran secara tunai. Walaupun terkesan sangat lumrah bagi kita orang Indonesia, di Belanda hal ini tidak terlalu lumrah lho! Karena negara ini memiliki penetrasi pembayaran kartu (non-tunai) yang salah satu tertinggi di dunia. Orang-orang, termasuk saya pribadi, hampir tidak pernah membawa uang cash di dompet, saking wajarnya pembayaran dengan kartu debit. Jadi jangan lupa siapkan uang tunai ya, sebelum datang ke Giethoorn!

Sebelum atau sesudah menyusuri kanal, kita dapat singgah mengisi perut di restoran-restoran yang tersedia banyak di lokasi wisata. Seperti lokasi wisata populer lainnya, harga makanan di Giethoorn cenderung mahal, rek. Harganya berkisar 7-20 an Euro per porsi. So sad. 

Jika kantong tidak mengizinkan makan berat, maka satu hal yang saya rekomendasikan untuk dilakukan setelah asyik berperahu adalah makan es krim gelato dan duduk manis di pinggir kanal! Harga es krimnya masih wajar kok, per scoop-nya 1,5 Euro. Hmmm, lekker!

Disclaimer

Ada kabar yang bilang bahwa di Giethoorn itu seluruh trnasportasi hanya via perahu tanpa tersedia akses / jalan untuk mobil. Kabar ini berlebihan ya, pemirsa. Faktanya, jalan untuk dilalui mobil masih ada kok di pinggir-pinggir kanal. Rumah-rumah warga di sekitar lokasi juga tidak sedikit yang memarkir mobilnya di pekarangan.

***

Jadi, setelah membaca post ini, masih yakin nih Giethoorn tidak menggantikan tempat Venice di bucket-list kalian? 🙂

IMG_20180805_173215-01-min

Giethoorn menantimu! 🙂

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: