Terkadang, Semua memang (hanya) perlu Waktu

Salam hangat, teman-teman!

Di suatu pagi, beberapa bulan yang lalu, saya bangun dengan terburu-buru. Sebabnya adalah, saya baru teringat harus mampir dulu ke kantor administrasi kampus untuk membayar uang sewa housing (flat) bulanan, sementara jadwal kuliah pagi menghadang pula hari itu. Jadi lah saya menjalani ritual pagi dengan speed tercepat yang saya bisa.

Salah satu rangkaian ritual adalah memasak nasi (derita orang Indonesia yang tak bisa move on dari nasi). Saya merutuki diri, kemrungsung.  Sebab sadar tak peduli betapa inginnya saya untuk cepat-cepat menyelesaikan  rutinitas pagi itu, literally I can do nothing to rush the rice cooker working faster. Suka tak suka, mepet tak mepet, setidaknya saya harus menunggu selama 20 menitan sampai nasi matang.

Rice cooker bekerja ternyata memang hanya perlu waktu.

Di kesempatan lain namun masih dengan tema serupa: buru-buru, saya hanya punya chicken wings instan siap goreng untuk menjadi lauk saya hari itu. Diburu waktu, saya menggoreng chicken wings dengan mengatur api paling besar, maksud hati agar cepat matang. Seolah benar, saya mendapati warna kulit chicken wings yang saya goreng cepat sekali berubah jadi kecokelatan–pertanda telah matang. Hore cepat matang! Namun nyatanya, jauh panggang dari api. Saya salah, karena bagian dalam ayam tersebut masih mentah saat saya makan di siang harinya. Saya termenung sesaat.

Menggoreng chicken wings ternyata memang hanya perlu waktu.

Dalam renungan yang sama, saya juga teringat momen setelah saya selesai menggoreng chicken wings tadi. Saya menatus (menuangkan) minyak ke wadah untuk bisa dipakai menggoreng lagi (maklum ada mental abang-abang gorengan hehe). Tak peduli betapa inginnya saya membuat seluruh minyak di penggorengan itu tertuang, dengan segera, nyatanya saya memang hanya harus menunggu beberapa saat, agar si minyak ini berpindah tempat, hingga tetes terakhir.

Menuang minyak goreng ternyata memang hanya perlu waktu

Mari kita alihkan pembicaraan kita: adakah contoh hal lain yang berprinsip sama, di luar rutinitas yang erat kaitannya dengan kegiatan di dapur. Sebab mungkin sebagian kalian menganggap hal-hal yang saya contohkan di atas terlalu trivia. Ya iyalah dimana-mana orang juga tau, masak itu perlu waktu!

Ada! Dan saya percaya sebagian kalian pasti telah mengalaminya: move on. Betul apa betul, hayo?

Pegat hubungan dengan orang yang spesial di hati itu nyatanya memang tidak mengenakkan. Menyadari bahwa sikon tak memungkinkan untuk kembali, maka kita, entah dengan pilihan sendiri atau dipaksa kondisi, harus move on. Nyatanya lagi, move on itu tak mudah. Kalau ada orang yang bilang mudah, itu artinya dia belum menganggap mantan kekasihnya sebagai orang yang benar-benar spesial.

Pada masa-masa move on, apa-apa jadi tak enak. Makan tak nikmat, berkegiatan gontai, pikiran kalut, semuanya tak menggairahkan! At some point, saya yakin kita akan terlintas pikiran seperti ini: “ini sulit ya, apa saya akan benar-benar bisa move on darinya?”

Tapi, saat kita terus bertekad harus move on, dibarengi salah satunya dengan tidak mencoba penasaran dengan membuka-buka akun medsosnya, atau menahan diri untuk tak mengirim pesan singkat menanyakan kabarnya. Saya percaya pada akhirnya waktu akan membuat kita berdamai dengan kenyataan bahwa diri kita dan dirinya memanglah bukan sepasang kekasih lagi. Maka lihat dan bangga lah dengan keadaan diri kita saat ini, sosok yang telah berhasil berdamai dengan masa lalu asmara yang tak mengenakkan.

Move on ternyata memang hanya perlu waktu.

***

Konsep yang sama, entah berpola atau tidak, berlaku pula pada kegiatan kita belajar. 

Menjadi mahasiswa master matematika, saya mendapat kesempatan (baca: diwajibkan) untuk mengetahui dan mempelajari konsep-konsep matematika tingkat lanjut yang kadangkala sangat abstrak dan sangat jauh contoh/implementasinya dalam dunia nyata. Jangan bayangkan konsep turunan yang bermakna kemiringan garis singgung atau integral yang merupakan manifestasi dari luas daerah di bawah kurva. Konsep-konsep yang ada pada level graduate student banyak yang jauh lebih abstrak dari itu.

Hal yang menyebalkan dari konsep-konsep abstrak tersebut adalah, seringkali memang tidak ada bahasa/penjelasan yang lebih sederhana untuk menjelaskan konsep tersebut. Akar penjelasan paling mendasar dari suatu konsep apapun di matematika ada pada “definisinya”. Dan sialnya, tidak ada bahasa lain yang lebih sederhana dari definisi yang dapat menjelaskan what’s really happening with this freaking abstract concept?!

Sebelum kesini, saya sempat percaya bahwa tidak ada alasan seseorang tidak langsung memahami sesuatu, jika telah dijelaskan oleh pakarnya dengan pemahaman mendalam dan tau persis atas sesuatu tersebut. Ternyata saya salah.

Waktu saya masih berpemahaman seperti itu, saya gelisah luar biasa saat tidak memahami suatu konsep baru di perkuliahan. Saya sudah membuka beragam literatur, menggeledah forum matematikawan di internet, mencari penjelasan di YouTube, saya masih belum mengerti. Saya marah, setengah putus asa.

Sebagai usaha terakhir, saya menanyakan penjelasan konsep tersebut pada teaching assistant mata kuliah yang bersangkutan. Saya semakin tidak puas, sebab penjelasan yang dia sampaikan sama persis dengan apa yang sudah saya baca di pencarian saya yang sudah-sudah. Saya protes, bilang “Saya masih tidak dapat mengerti, apakah kamu mempunyai penjelasan yang lebih mudah dipahami?”. Dia menjawab, dengan jawaban yang sangat membekas di hati saya,

“konsep ini persis seperti yang saya jelaskan baru saja kepadamu. konsep ini memang sedikit abstrak, dan jangan panik jika kamu menemukan konsep baru yang abstrak. Biarkan konsep itu mengendap dalam pikiranmu untuk beberapa saat,  dan yakinlah ada saatnya kamu akan memahami  apa yang sebenarnya terjadi —dengan konsep tersebut.

Akhirnya, kita sepakat satu hal lagi: belajar ternyata memang (hanya) perlu waktu. Jadi, kalau suatu saat, atau mungkin saat ini kalian sedang mengalami kebuntuan dalam belajar, jangan lah berputus asa. Lakukan usaha terbaik untuk memahami. Jika memang nikmat paham belum juga datang, diamkan sejenak hingga waktu menjemputnya datang kepadamu.

everything good takes time

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: