Satu Hari di Swiss

Halo Semuanya!

Dua minggu yang lalu, saya mengunjungi Swiss dalam sebuah tur kilat akhir pekan.¬† Kunjungan saya ke salah satu kota dengan indeks biaya hidup termahal di dunia ini sebagian dilatarbelakangi oleh ‘amanah’ Ibu saya. Entah apa pasal, Ibu dalam beberapa kesempatan percakapan di telepon secara signifikan menyebut kota Zurich –dan lantas mengompori saya untuk mengunjunginya– lebih sering dibandingkan sederet nama kota di Eropa lainnya.

“Sudah ke Zurich Swiss belum, nak? mau kapan ke sana?”

Alhamdulillah, tunai sudah, Ibu. ūüôā

Sebagai lanjutan prolog, kegiatan plesir saya ke Swiss ini cukup menarik karena saya mencoba dua hal baru berikut:

  1. Saya mencoba biro open-trip student pm2am
  2. Saya ber-solo traveler untuk pertama kalinya

Di suatu waktu, salah seorang teman mengenalkan saya tentang pm2am. Usut punya usut, pm2am adalah biro open trip yang mengkhususkan diri untuk para mahasiswa (internasional) di Eropa. Hal remarkable dari  pm2am adalah, (nyaris) semua open-trip yang mereka selenggarakan mengambil waktu di akhir pekan, dengan durasi yang ngepas: Jumat malam РMinggu pagi. Mungkin ini lah filososofi dari nama mereka: berangkat Jumat malam (pm), tiba kembali Minggu pagi (am). Boleh juga ya!

Karena keunikannya, sebenarnya, saya sangat tertarik untuk menganalisis proses bisnis dari pm2am. Namun, agar tulisan ini tidak membuat kalian bingung karena multi-fokus, jadi mari kita simpan bahasan tersebut dalam kesempatan lain ya!

Beranjak ke poin yang kedua, jujur saya terinspirasi untuk menjajal varian ber-traveling ini dari salah seorang teman yang telah mencoba sebelumnya. Dia bilang, ada sensasi spesial: kaya bocah ilang yang hanya bisa didapat dari ber-solo traveling yang jauh. Menarik juga, pikir saya. Mari kita coba!

***

Setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam dari Utrecht, bus trip sampai di Rhine Falls nyaris pukul 7 pagi, hari Sabtu. Lho katanya Zurich? Iya. Jadi walaupun berdurasi singkat (hanya sehari), ittenary trip mencakup 3 destinasi di Swiss, dan Rhine Falls adalah yang pertama.

Walaupun katanya (dan memang faktanya sih) air terjun terbesar se-Benua Biru, menurut saya ukuran air terjun ini tidak begitu spektakuler, tidak seperti apa yang saya ekspektasikan sesaat sebelum sampai. Ya sangat mungkin tentu saja ekspektasi saya dipengaruhi oleh fakta bahwa saya berasal dari Indonesia. Negeri di mana curug alias air terjun terdapat di banyak tempat dengan ukuran yang lumayan besar.

Kembali ke Rhine Falls. Objek wisata ini tak mengecewakan kok! Selain karena¬† free entrance,¬†pemandangan air terjun dimana-mana indah dan Rhine Falls tak masuk dalam pengecualian. Apalagi dengan keberadaan bangungan berbentuk seperti kastil di sisi air terjun, plus warna air yang biru-kehijauan secara¬†crystal clear a.k.a¬†bening—kita bisa melihat batu-batu di dasar sungainya! Semuanya berpadu menghasilkan latar tempat yang indah di pandang.

Sedikit info minor (yang menurut saya worth to share), objek wisata di Swiss umumnya menyediakan toilet umum GRATIS. Setidaknya itu yang saya dapati pada Rhine Falls, dan satu spot yang saya kunjungi di destinasi selanjutnya. Jadi kalau ngebolang ke Swiss, rasanya tidak wajib untuk menyiapkan receh (recehnya Euro/Franc mah tetep masih berharga soalnya, 17 rebu cuy) untuk karcis masuk WC.

rhine falls

behind view of Rhine Falls

Rombongan trip melanjutkan perjalanan setelah 50 menit menikmati Rhine Falls (timer pm2am secara strict mengatur alokasi waktu di tiap destinasi). Menuju destinasi kedua: kota wisata Lucerne.

Jika Swiss diibaratkan Indonesia, maka Lucerne mungkin dapat kita analogikan dengan Bogor: kota (relatif) kecil yang sarat dengan tujuan wisata. Karena timer hanya memberikan waktu 90 menit di kota cantik ini, saya memilih mencukupkan diri dengan mengunjungi 2 landmark Lucerne: Chapel Bridge & Monumen Singa. Exactly: cantik, bruh!

Selepas tengah hari, kami tiba di destinasi ketiga, sekaligus destinasi terakhir dari trip: The Great City of Zurich.

Karena sudah masuk jam makan siang, perut saya menuntut haknya untuk segera diisi. Perasaan saya bercampur antara lapar, penasaran, dan sedikit takut. Lho lho. Kenapa ada segala dua perasaan terakhir?

Sebabnya adalah, saya akhirnya akan membuktikan sendiri “seberapa mahal” sebenarnya kota dan negara ini. Sebab di dua destinasi pertama trip, saya belum berkesempatan mengetahuinya. Momen makan siang itu tak lain menjadi ajang pembuktian saya. Makanya saya penasaran, sekaligus takut. Jangan-jangan uang yang saya alokasikan tidak cukup? Hahaha.

Ternyata desas-desus yang beredar—bahwa Zurich itu kota yang sangat mahal–benar adanya, pemirsa! Menu makan siang saya: kebab ukuran sedang yang di Belanda 5-6 Euro (di Jerman mungkin bahkan 3 Euro dapat) harganya 10 Franc (~10 Euro)! Padahal, itu pun saya beli di tempat hasil rekomendasi Google atas¬†keywords “cheap kebab in Zurich”.¬†Dan hasil penelusuran sebelumnya, yang mengisyaratkan bahwa:¬†the cheapest meal you can get in Zurich is kebab.¬†Hahaha. Memang parah ya, sodara! #geleng-geleng

Jika kalian sudah pernah mengunjungi Singapura, nah Zurich ini dapat dikatakan sebagai Singapura versi superior-nya lah. Mengapa demikian? Karena terdapat banyak kemiripan antara keduanya: kota yang mewah (walaupun aura Zurich lebih mewah sih),  dilengkapi dengan pusat perbelanjaan barang-barang branded seperti di Orchard Road Singapura, sistem transportasi yang mapan, dan tak kalah opsi wisata alamnya (taman, bukit), tak ketinggalan pula sungai membelah kota, dengan wisata tour-boat yang menggoda. Pokoknya lumayan mirip, meski tentu saja main ambience-nya berbeda.

Salah satu hal menarik dari Zurich adalah public fountain, air mancur mini yang airnya edible alias bisa diminum! Jika sejauh ini paling banter saya temui kota yang menyediakan edible tap water seperti Belanda dan Singapura, itu masih wajar: kran harus kita buka agar air mengalir. Public fountain yang jumlahnya mencapai 1200 buah di Zurich tidak demikian. Mereka benar-benar air mancur aktif yang secara kontinu mengeluarkan air ke bejana di bawahnya. Jadi adalah pemandangan yang lumrah seseorang yang melintas tiba-tiba berhenti, meraih botol minumnya dan menadah air dari air mancur tersebut. Apa tidak takut banyak yang terbuang ya airnya? Luar biasa! Negara kaya mah bebas ya!

Di Zurich, selain jalan-jalan mengelilingi kota, saya ke Bukit Uitliberg (maksud hati ingin melihat pemandangan kota Zurich dari atas, tapi ada daya kabut tebal menutupi), ETH Zurich (kampus tersakti nomor 7 se-dunia), Banhofstrasee (Orchard Road-nya Zurich), dan taman Lindenhof (bekas tempat kastil kuno Zurich).

zurich from above

Zurich City from Lindenhof Park

 

catur

Human Sized Chess Board @ Lindenhof Park

9067398-Zurich-fountain-0

salah satu public fountain di pusat kota Zurich

 

 

Sebelum kembali ke bus yang dipatok timer¬†paling lambat pukul 11 malam, saya menyempatkan diri berkunjung ke masjid untuk sholat maghrib. Saya kagum, karena tidak seperti kebanyakan masjid di Belanda dan Belgia (masjid hanya buka pada saat waktu sholat tiba), masjid (yang saya kunjungi)¬† di Zurich selalu tersedia untuk disinggahi sampai setelah waktu Isya. Pengurus masjidnya pun baik sekali. Setelah sholat, saya setengah dipaksa untuk ikut makan malam bersama, plus dibuatkan teh panas, sembari berkata bahwa cuaca Zurich hari itu dingin dibanding hari-hari lainnya. Kami berbincang, dari mulai dia yang bercerita tentang¬† mahalnya Kota Zurich hingga merembet ke sesuatu yang ‘menarik’, dia berkata: “Do you know Mr.nn (IYKWIM). Your former president? It is suspected that he stored some of his money in here”. Saya terheran-heran.

***

Overall, perjalanan saya ke Swiss, walaupun hanya sehari, menyenangkan. Tentang pm2am, menurut saya trip yang mereka tawarkan worth the money lah. Tidak salah mereka berslogan traveling is not pricey, it is priceless. Pantes kok!

Tentang ber-solo traveling,¬†ini juga menarik. Benar kata si teman, ada sensasi “menjadi bocah hilang”: bocah yang menikmati kota orang sebagai orang asing, sendiri, sembari merefleksikan banyak hal, dan mencoba menemukan diri sendiri, lagi dan selalu.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: