Tips Kuliah di Luar Negeri: Prolog

Beberapa tahun terakhir, rasanya sudah menjadi rahasia umum bahwa “melanjutkan kuliah di luar negeri” merupakan salah satu impian mainstream yang dimiliki oleh banyak (maha)siswa kita. Jika ditarik ke belakang, salah satu penyebabnya mungkin adalah buku fenomenal Negeri Lima Menara yang mengisahkan perjalanan hidup pengarangnya Ahmad Fuadi.

Melalui buku ini, Ahmad Fuadi sukses mendemonstrasikan betapa kuatnya dampak dari sebuah buku. Seperti Laskar Pelangi yang berhasil mengubah sebuah pulau (Belitung), Negeri Lima Menara tak kalah sukses memperkenalkan dan menancapkan paham “man jadda wajada” pada kita, kemudian lantas digunakan sebagai pembenaran untuk tidak takut bermimpi setinggi langit, yang salah satunya tentu saja: sekolah di luar negeri.

negri5menara2

Sebelum munculnya buku ini, saya rasa banyak dari kita sepaham bahwa kuliah di luar negeri adalah hal yang termasuk dalam takdir mubram, yakni takdir yang sifatnya mutlak, tidak bisa kita apa-apakan lagi. Sebab, hanya ada dua kondisi untuk dapat meraihnya: terlahir dari orang tua yang sangat kaya, atau terlahir dengan tingkat kecerdasan yang sangat-sangat tinggi. Kondisi pertama banyak kita temui pada anak-anak konglomerat yang dikuliahkan orang tuanya di US. Kondisi kedua, Habibie adalah contoh idealnya.

Sehingga, bagi orang biasa seperti kita yang lahir dari keluarga biasa, dan dikaruniai kecerdasan yang levelnya ‘sekadar alhamdulillah’, adalah sesuatu yang muluk-muluk untuk memimpikan berkuliah di luar negeri. Tak ubahnya mimpi di siang bolong. Namun, Negeri Lima Menara berhasil mengubah presepsi ini. Berkat buku ini, kita jadi percaya bahwa orang biasa pun sangat bisa untuk mewujudkannya.

Semesta mendukung, bibit kepercayaan itu selanjutnya dipupuk oleh beasiswa sejuta umat bernama LPDP. Sejak angkatan pertama pada tahun 2013 (sumber), kita telah sama-sama menyaksikan bahwa ribuan orang menyusul diberangkatkan setelahnya secara meyakinkan. Dengan jargon tak tertulis “Dana kita (LPDP) melimpah, tidak ada kuota, kelolosan Anda hanya bergantung  pada diri Anda sendiri.”, kita juga menyaksikan bahwa kakak tingkat / teman-teman kita yang semasa kuliah pintarnya tidak sampai pada level keterlaluan pun juga silih berganti sukses menggondol status “Awardee”. Hati kita membatin semakin mantab: benar lah Ahmad Fuadi, aku pun bisa kuliah di luar negeri!

***

Menyoal pemantik mimpi ke luar negeri yang lain

Bagi para alumni/mahasiswa IPB, maka ada satu hal lain yang saya yakin dan percaya telah berjasa besar dalam membumikan mimpi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Hal lain itu, apalagi kalau bukan video motivasi legendaris dari Danang A. Prabowo (ITK 41).

Video yang saya yakin nyaris semua mahasiswa IPB telah menontonnya ini (kalau belum nonton, merugilah kalian. Pun jika kalian bukan anak IPB, saya sangat merekomendasikan guna meluangkan waktu 7 menit untuk menontonnya) bagi saya pribadi telah berjasa besar: membuat saya pertama kali berani membersitkan keinginan untuk sekolah di luar negeri. Sebab kuliah di luar negeri bukanlah mimpi yang terlalu tinggi / mustahil untuk diwujudkan.

Dan video ini lah, salah satunya, yang mengantarkan saya pada kenyataan menjadi mahasiswa master pada program studi Mathematics and Science Based Business di Leiden Univeristy Belanda saat ini!

bersambung…

Melanjutkan Kuliah di Luar Negeri

Siapa yang tidak terlecut semangatnya saat scene ini? 🙂

***

P.S

Sudah lama sejak saya sampai di sini (Belanda), saya menyimpan project untuk membagikan pengalaman (yang semoga bisa pula menjadi tips) perjalanan saya mewujudkan mimpi sekolah di luar negeri dalam seri tulisan yang cukup detil. Seperti judulnya, tulisan ini adalah seri pertama dari project ini. Mohon doanya agar saya dapat menuntaskan project ini dalam waktu yang reasonable (tidak diselingi periode hiatus/vakum). Semua tulisan dalam project ini dapat dilihat pada kategori: Tips Kuliah di Luar Negeri.

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

One response to “Tips Kuliah di Luar Negeri: Prolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: