Pengalaman Magang di Belanda

Awal bulan ini, periode magang saya berakhir. Project berdurasi empat bulan yang saya jalani di Significance, sebuah konsultan pemodelan transportasi di Den Haag, ditutup dengan agenda saya memberikan lunch-talk tentang hasil pekerjaan saya pada seluruh kolega kantor. Beragam rasa: senang, bangga, lega, haru dan sendu saling berkelindan dalam benak saya setelah sesi itu selesai.

Performa magang

Performa solusi yang saya kembangkan (kanan) dibanding solusi lama perusahaan (kiri). Terlihat solusi saya jauh lebih stabil (minim varians). 

Tiga rasa pertama yang saya sebutkan tentu saja hadir. Sebab berakhirnya magang ini berarti banyak: pertama tentu saja arti trivia-nya yang berarti riset saya selama empat bulan membuahkan hasil yang memuaskan! Solusi yang saya sintesis berperforma sangat baik dan membawa Significance beberapa langkah di depan persaingan antar  perusahaan pemodelan serupa lainnya. Arti kedua, akhir magang ini manandai secara de-facto selesainya semester 3 (dari 4 semester total)  dari program studi yang saya ambil. Dan arti terakhir, saya berhasil memenuhi bagian kurikulum wajib dari program studi.

Izinkan saya mengelaborasi makna terakhir yang satu ini. Sebagai mahasiswa yang mengambil minor Science-Based-Busines untuk penunjang major utama (matematika), saya dikenakan kewajiban untuk melaksanakan magang profesional. Harus dilakukan, tidak bisa tidak. Kewajiban ini awalnya sedikit banyak membuat saya khawatir, setidaknya karena dua hal: Saya adalah mahasiswa internasional dan bidang keilmuan saya yang (terlalu) scientific, matematika.

Tentang hal pertama, dalam perspektif dunia profesional di sini, saya boleh dibilang seorang mahasiswa stranger yang tak bisa berbahasa Belanda. Mari sejenak membayang, ada seorang mahasiswa India yang hanya mengandalkan bahasa Inggris-nya kuliah di kampus Indonesia, lalu dia diwajibkan untuk magang. Waduh, rasa-rasanya kok kecil sekali peluang baginya untuk bisa diterima magang di salah satu kantor di Jakarta. Sebab itu artinya ia harus menemukan kantor yang seluruh karyawannya tak masalah berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Jadi, situasi ini mirip dengan kondisi saya. Saya tempat terserang panik karena masalah bahasa dan status saya sebagai mahasiswa internasional saat mencari kantor magang.

Hal kedua tak kalah mengkhawatirkan. Dengan latar belakang matematika, level master pula, emang ada ya kantor yang membuka lowongan magang untuk saya (dengan job-desc yang sesuai)? Ada gitu posisi magang yang membuat ilmu saya ini terpakai? Panik gelombang kedua pun menyergap.

Tapi ternyata prasangka saya salah adanya. Belanda adalah trully international country. Menjadi mahasiswa international di Belanda tak akan membuatmu merasa terasing–akses atas apapun. Sangat banyak kantor (bukan semuanya ya, tentu masih ada juga kantor yang memperuntukkan lowongan hanya untuk dutch people) yang seolah menutup mata alias tak membedakan status pelamar. Sepanjang bisa berbahasa Inggris dan kualifikasi sesuai, peluang terbuka lebar!

Realita pada kekhawatiran kedua lebih membahagiakan. Betapa tidak, saya takjub menyadari begitu banyak pekerjaan scientific di negara ini. Yang saya maksud dengan  pekerjaan scientific adalah pekerjaan yang mensyaratkan dan memang menerapkan advanced-level of hard science seperti matematika, fisika, kimia, biologi dsb. Peluang mengaktualisasikan diri terbuka lebar, di luar ‘sekadar’ menjadi dosen. Untuk bidang saya sendiri, spektrumnya mulai dari data scientist yang sedang naik daun, konsultan di berbagai bidang kuantitatif, dan yang lainnya. Tempat magang saya sendiri adalah konsultan dalam pemodelan transportasi yang sangat kental dengan keilmuan urban planning, statistical modeling, dan tentu saja matematika.

Sedikit lepas dari konteks, mungkin, hal ini adalah contoh tempting (godaan) yang nyata bagi saya pada saat lulus nanti. Ups hahaha! Saya jadi paham bahwa kabar yang saya dengar dari berita-berita tentang orang cerdas Indonesia yang ogah pulang ke Indonesia muasalnya adalah karena di Indonesia tak ada tempat bagi mereka untuk berkarya menghidupkan keilmuannya. Saya benar-benar paham sekarang: ternyata ucapan itu sama sekali bukan klise belaka boi!

michiel de bok

berfoto dengan salah-dua kolega di kantor. Orang yang di tengah mungkin adalah orang Belanda paling ramah/respectful/friendly yang pernah saya temui sejauh ini. Salute Dr. Michiel de Bok!

***

Selanjutnya, saya ingin sedikit membahas seputar budaya kerja orang-orang Belanda, (semoga) pada umumnya, berdasarkan apa yang saya rasakan dan amati selama magang kemarin.

Dimulai dari gambaran secara umum. Tipikal jam kerja kantor di Belanda adalah Nine-to-Five, i.e. dari jam 9 pagi sampai dengan jam 5 sore. Durasi 8 jam ini termasuk lunch break, umumnya 30 menit di sekitar jam 12. Lho kok maksi-nya sebentar amat? Iya, karena makanan mereka simple sekali: sandwich. Ada pula yang membawa roti tawar dengan lembaran daging/keju untuk isian di tengahnya. Jadi wajar kalau istirahat makan siangnya sangat singkat. Orang kantor biasanya berkumpul di sudut tempat makan, menyantap rotinya sembari mengobrol santai (bukan tentang kerjaan) sampai sekitar 30 menit. Lalu tanpa aba-aba, mereka pada bubar dan kembali ke meja kerjanya masing-masing. That’s it.

Ahya, jam kerja Nine-to-Five nyatanya tidak mengikat secara kaku. Karyawan bebas datang jam berapa pun, umumnya sebelum tengah hari, lalu bekerja dengan total durasi yang sama 8 jam. That’s totally common.

Menyoal lembur, dari pengamatan saya sepertinya kok tidak ada terminologi ini dalam dunia kerja di Belanda.  Lha kok bisa? Iya, sepertinya beban kerja setiap karyawan di kantor sudah diperhitungkan dan disesuaikan dengan jam kerja dari karyawan tersebut.  Jadi rasanya semuanya pas gitu. Durasi jam kerja normal memungkinkan dan memang sangat ngepas dengan load kerjaan yang dibebankan padanya. Canggih ya!

Seperti negara lain pada umumnya, Belanda menganut mahzab 5 hari kerja Senin-Jumat. Namun dalam hal ini pula Belanda telah satu tingkat lebih baik dari kita di Indonesia. Satu hari dalam seminggu, karyawan direkomendasikan untuk kerja dari rumah. Harinya terserah kita. Kebanyakan sih sudah bisa ditebak ya, memilih hari Senin atau Jumat. Walaupun ada pula yang memilih selain dua hari itu.

Nah sekarang tiba di bagian terbaik. Mari kita membahas soal libur. Dalam satu tahun, hari libur nasional di Belanda itu bisa dihitung dengan jari (kurang dari sepuluh). Lho kok kontradiktif Par? Katanya ini bagian terbaik? Gimana sih? 

Et, et sabar. Justru ini muasal keterbaikannya. Di luar libur nasional, di mana kita tak bisa memilih untuk bekerja atau meliburkan diri–pokoknya harus libur, semua instansi libur, tak bisa mengurus  administrasi dsb–, setiap karyawan masih mendapatkan  hak libur kerja alias cuti yang melimpah: 20-an hari men! Pengambilan cuti ini juga terbaik, sudah mirip seperti hak prerogatif karyawan yang tak bisa diganggu-gugat. Bebas diambil kapan saja tanpa harus disertai alasan. Hal terbaik lainnya, tak ada batasan pengambilan cuti secara berurutan. Mau diambil sekaligus? Tak ada yang melarang! Bayangkan! Jadi adalah lumrah menemui kasus dimana seorang karyawan libur selama 3 minggu dan bahkan bisa lebih! Betapa fleksibelnya ya!

Et, et (lagi), yang terbaik dari yang terbaik belum muncul. Total durasi kerja penuh waktu di Belanda itu tak selalu 40 jam seminggu. Beban kerja 35, 36, 38 jam per minggu juga banyak ditemui. Nah, hal best-of-the-best-nya adalah misalkan di kontrak kerja kita tertulis beban kerja sebanyak 38 jam per minggu, maka kita dapat mengakumulasikan over-time work, dan mengkonversikannya ke satu hari libur penuh. Maksdunya begini, kita kerja 8 jam / hari, seminggu kita berarti bekerja selama 40 jam, artinya lebih 2 jam dari yang seharusnya kita lakukan sesuai kontrak. Jadi,  dengan melakukan hal yang sama selama 4 minggu, kita berhasil mengakumulasikan kelebihan jam kerja sebanyak 2 x 4 = 8 jam, alias: tambahan satu hari libur penuh. Ajib yak!

***

Baiklah, saya kira cukup sekian post kali ini. Semoga saya bisa keukeuh pendirian menahan godaan begitu wuenak-nya kehidupan profesional di Belanda (doanya serius gak neeh, Par. Hahaha).

Tot dan! (Sampai nanti)

 

 

Iklan

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One Lihat semua pos milik pararawendy

4 responses to “Pengalaman Magang di Belanda

  • Naufal eL-ghiyats

    Menariikk, terimakasih sharing pengalamannya 👏🏻

    Btw ttg dunia kerja saya pernah baca tulisan orang kurang lebih agak mirip seperti yg abang tulis; perbandingan kerja orang indo dengan orang luar negeri. Orang indo kerja habis2an sampai lembur2 segala, sementara orang luar kerja sehari cuma 5-8 jam tapi dari kwalitas mereka masih unggul. Katanya salah satu faktornya gegara orang indo fokusnya mudah teralihkan, jadi dari total belasan jam kerja dia yang benar2 fokus all out untuk kerja gak sebanyak itu, berbeda dengan orang luar.

    Berdasarkan pengamatan abang gmn tuh bang?

    • pararawendy

      nah itu, persis! Orang Belanda di luar break makan siang, boleh dibilang 7,5 jam itu fokus tidak berhenti bekerja. Paling diselingi break menyeduh teh atau kopi. Intinya: mereka efisien dan (karena) fokus.

  • Rian tomat

    Saya malah dapat offer 32 jam mas par atau cuman 4 hari 1 minggu kerjanya 😂😂😂 cuman sayang di offer nya hari senin dan tanpa babibu jumat suruh berangkat ke belanda 😂😂😂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: