This Ramadhan can’t be more Beautiful!

Salam, semua!

Selamat berkhidmat, menikmati ibadah di penghujung bulan ramadhan ya teman!

Per tulisan saya yang terakhir bulan lalu, saya sebenarnya sengaja berniat untuk hiatus menulis blog untuk jangka waktu beberapa bulan. Muasalnya, sikon saya yang sedang genting. Ikhwal kegiatan di akhir masa studi master saya di sini. Apalagi kalau bukan thesis?

Mencurahkan uneg-uneg, saya ingin berbagi informasi tentang perbedaan (baca: ketimpangan) kualitas pendidikan tinggi matematika antara Indonesia dan Belanda. Usah membahas yang lain, kali ini saya ingin menyoroti perbedannya dalam hal standar tugas akhir.  Bernama skripsi untuk S1, thesis untuk S2, dan disertasi untuk S3.

Di Indonesia, setidaknya yang saya alami dan ketahui, standarnya adalah demikian. Skripsi itu hanyalah berisi aplikasi/terapan satu subjek yang tak dipelajari di kelas. Dengan kata lain, tujuan skripsi sebenarnya hanyalah menguji kemampuan belajar mandiri mahasiswa.

Untuk jenjang master, standar kelaikan muatan thesis adalah: menerapkan satu metode matematik pada persoalan baru, dan menjawab pertanyaan “mengapa menggunakan metode tersebut?”. Sedangkan, untuk disertasi, standarnya tentu saja lebih tinggi. Yaitu, berkontribusi mengembangkan teori baru.

Di Belanda, standarnya lebih tinggi. Untuk jenjang sarjana saja, Lanjutkan membaca

Iklan

Mengenang Indahnya Kehidupan Masa Tingkat Persiapan Bersama IPB

Salam, semua!

Dengan random, saya ingin menapak tilas memori kehidupan semasa kuliah S1 dulu. More precisely, masa-masa kuliah tahun pertama di IPB.

***

Berkenalan dengan TPB

Juli 2011, alhamdulillah saya telah selesai dengan kebimbangan klasik yang dialami oleh kebanyakan siswa SMA kelas 3: Kuliah dimana ya? Daftar perguruan tinggi kedinasan macam STAN dkk tidak ya? Ambil jurusan apa ya? Prospek jurusan ini apa ya?

stan stis

Dua sekolah kedinasan yang sangat menggoda di mata anak SMA

Saya bertolak ke Bogor dengan hati mantab untuk mengenyam pendidikan tinggi di Departemen Matematika IPB. Sejatinya tak sepenuhnya mantab. Ada sedikit rasa khawatir sekaligus tertantang mengingat saya harus merantau, hidup jauh dari orang tua untuk pertama kalinya.

Sebagai siswa yang baru saja selesai dengan SMA, saya sudah tidak sabar menjawab keingintahuan tentang apa yang akan saya pelajari di kuliah. Akan kah saya langsung berkutat dengan beragam teorema matematika?

Eh, ternyata. Tak secepat itu anak muda!

Sebagai mahasiswa baru dengan jalur masuk SNMPTN undangan yang lebih awal, kami mendapatkan privilege untuk menjajal TPB dengan Lanjutkan membaca


Melawan Arus Politik Pasca Kebenaran

Lebih kurang dua minggu lagi, rakyat Indonesia akan melaksanakan hajatan besar lima tahunan: memilih pemimpin negara untuk periode lima tahun ke depan. Berkenaan dengan ini, saya ingin sedikit mencurahkan uneg-uneg yang mengganggu pikiran. Rasa tak nyaman yang menumpuk sejak wacana mengenai pilpres ini mulai diberitakan oleh media, dan direspon oleh publik dari sekitar setahun terakhir.

Saya jengah. Pengar dengan hiruk-pikuk respon publik atas kontestasi politik ini. Bukan karena saya tak suka dengan masyarakat kita yang ternyata sudah melek politik. Melainkan, karena dari yang saya amati dan rasakan, saya berksimpulan bahwa respon publik yang berkembang cenderung sudah tidak pada kategori yang baik/sehat. Masyarakat kita seolah terpisah dalam polarisasi absolut dua kubu pasangan calon. 

Betapa tidak. Saya merasa, kok orang-orang dapat digolongkan dengan begitu absolutnya ke dalam dua kubu yang berbeda: kubu pendukung paslon 01, dan kubu pendukung paslon 02. Sampai sini sih harusnya tak masalah ya. Namun, yang terjadi kemudian adalah orang-orang anggota masing-masing kubu dengan seragam (dan piciknya)  berlaku dua hal berikut, tak kurang, tak lebih, presisi betul:

  1. Menjunjung, memuji dan menganggap benar SEGALA sesuatu yang ada paslon jagoannya.
  2. Nyinyir, mengkritik, dan menganggap salah SEGALA sesuatu yang ada pada paslon lawan.

Dua tabiat ini lah yang membuat saya jengah. Amat dan teramat. Saya heran kemana perginyanya rasionalitas dan akal sehat kita? Sampai-sampai, Lanjutkan membaca


Cara Menyampaikan Kritik dengan Kaidah ‘Oreo’

Halo, salam semuanya!

Sebagai prolog, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Berhubung sikon saya sedang fokus dengan penelitian thesis, saya jadi lebih jarang menyambangi dan ‘menafkahi’ blog ini dengan tulisan baru. Padahal, kalau boleh jujur (ya boleh lah, jujur  memang (boleh) dilarang?!), sebenarnya rancangan tulisan ada puluhan di kotak draft, menunggu untuk dieksekusi.

Namun apa mau dikata, penelitian saya tentang reinforcement learning mengharuskan saya untuk berkutat dengan loop: paper-literature-synthesis-code-repeatAlhamdulillah, saat ini insya Allah topik spesifik sudah disepakati. Fokus saya saat ini adalah memastikan aspek substansi matematik dalam thesis cukup kuat, dengan mengeksplorasi riset teoretikal pada metode awal yang saya ajukan. As always, mohon doanya ya!

Baiklah, mari kita eksekusi satu draft tulisan yang muncul sejak sekitar setengah tahun yang lalu ini. Selamat membaca!

***

menyampaikan kritik

orang mendapatkan kritik

Kritik. Siapa yang mau dikritik? Saya rasa tak semua orang bisa dengan senang hati menerima kritik yang disampaikan padanya, bahkan meskipun hal yang dikritik adalah sesuatu yang sebenarnya benar Lanjutkan membaca


Catatan Awal Tahun

“Sesungguhnya sesuatu yang paling jauh dari diri kita adalah masa lalu” – Imam Al-Ghazali

Selamat tahun baru semuanya!

Apapun kesan relatif kita atas tahun 2018 yang baru saja kita tinggalkan (ada yang bilang “tak terasa ya 2018 terlewati begitu saja”, pun pasti ada yang bilang “akhirnya tahun kemarin bisa terlewati juga”), kenyataan mengatakan bahwa saat ini kita telah sama-sama berada di tahun baru 2019.

Saya sengaja mencukupkan ucapan selamat tahun baru di atas, tanpa menambahi embel-embel pertanyaan ikutan standar seperti “apa nih resolusi kalian di tahun ini?”. Sebab, bagi saya, somehow, pertanyaan tersebut sudah terlanjur hambar bagi saya. Tidak lagi meriah sebagai mana saya memaknainya dulu jaman masih muda kinyis-kinyis.

Benar lah beberapa quote yang dibagikan oleh teman-teman seangkatan saya di awal tahun kemarin, yang isinya kurang lebih mengatakan bahwa makin kesini segala hal tentang tahun baru tidak lah sesakral dulu, lengkap dengan menyusun daftar rinci bin teknis tentang resolusi fantantis dan bertekad angat-angat tai ayam akan menjadi sosok diri yang sama sekali baru, yang ditandai dengan momen sakral bernama pergantian tahun.

Kenyataannya adalah, pergantian tahun hanyalah bagian dari dinamika kontunuitas waktu. Karenanya, berharap terlalu banyak pada resolusi bermodalkan kesakralan momen tahun baru sudah berulang kali berakhir dengan Lanjutkan membaca


The Growth Trap: Apa dan Kenapa?

Jika kita, by any chance,  diminta untuk menggolongkan perusahaan bagus (dan tidak bagus), maka growth rate atau tingkat pertumbuhan (bisa profit, maupun volume penjualan) adalah salah satu parameter yang dapat kita lihat. Sebab growth rate yang tak lain adalah presentase selisih  laba (sales) tahun ini dengan tahun lalu, dibagi dengan laba (sales) tahun lalu memang merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mencerminkan performa sebuah perusahaan. Jika laporan keuangan tahunan mencantumkan nilai pertumbuhan sales bisnis yang terus bertumbuh, maka sebuah perusahan dinilai berperforma baik dan berprospek cerah, atau dengan kata lain: perusahaan bagus.

performing-your-way-to-small-business-growth

Dalam proses menggolongkan perusahaan baik tadi, kita bisa memilih perusahaan dengan growth rate yang selalu positif di beberapa tahun terakhir untuk menjadi anggotanya. Pun sebaliknya dengan golongan yang satunya.

Namun demikian, pada kenyataannya nilai pertumbuhan (profit maupun sales) yang selalu positif tidak selamanya membawa dampak baik bagi perusahaan tersebut. Sebab, dalam situasi tertentu, constant positive growth rate justru cenderung akan menimbulkan masalah yang dikenal dengan growth trap.

Apa itu growth trap?

Growth trap adalah keadaan perusahaan yang terlalu berorientasi untuk meraih tingkat pertumbuhan tertentu (umumnya dilatarbelakangi oleh ekspektasi untuk menyamai tingkat pertumbuhan yang dicapai pada tahun-tahun sebelumnya), hingga mengesampingkan aspek bisnis lain yang lebih penting dari sekadar angka pertumbuhan tersebut.

Contoh: Perusahaan ritel, sebut saja Indoapril, berbangga diri karena Lanjutkan membaca


Dia Selalu Ada di Sana

Kau acapkali mengeluh

Marah, hidup penuh masalah, katamu kukuh

Entah sejak kapan, keyakinanmu mulai runtuh

Lantas, dengan lancang kau berani bertanya

“Dimana Tuhan, Kalau memang Dia ada?”

Oh, Maha Nyata keberadaan Tuhan, dengan dua sifat-Nya

Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dia selalu ada di sana, di antara keluhmu

Keluhmu yang berubah-ubah tiap waktu

Tak sadar kah dirimu?

Keluhmu yang selalu saja baru itu

Adalah tanda kasih sayang-Nya

Tanda campur tangan-Nya

Bahwa masalahmu tak pernah mengendap terlalu lama

Bahwa prahara selalu hanya sementara

Gusarmu tentang keberadaan-Nya

Hanya karena kau tak menyadari

Atau jangan-jangan, kau yang menutup diri?

Karena sungguh, Dia selalu ada di sana

Meliputi jeda antar dua masalahmu yang fana

 

Rijswijk, 4 Desember 2018


Pengalaman Magang di Belanda

Awal bulan ini, periode magang saya berakhir. Project berdurasi empat bulan yang saya jalani di Significance, sebuah konsultan pemodelan transportasi di Den Haag, ditutup dengan agenda saya memberikan lunch-talk tentang hasil pekerjaan saya pada seluruh kolega kantor. Beragam rasa: senang, bangga, lega, haru dan sendu saling berkelindan dalam benak saya setelah sesi itu selesai.

Performa magang

Performa solusi yang saya kembangkan (kanan) dibanding solusi lama perusahaan (kiri). Terlihat solusi saya jauh lebih stabil (minim varians). 

Tiga rasa pertama yang saya sebutkan tentu saja hadir. Sebab berakhirnya magang ini berarti banyak: pertama tentu saja arti trivia-nya yang berarti riset saya selama empat bulan membuahkan hasil yang memuaskan! Solusi yang saya sintesis berperforma sangat baik dan membawa Significance beberapa langkah di depan persaingan antar  perusahaan pemodelan serupa lainnya. Arti kedua, akhir magang ini manandai secara de-facto selesainya semester 3 (dari 4 semester total)  dari program studi yang saya ambil. Dan arti terakhir, saya berhasil memenuhi bagian kurikulum wajib dari program studi.

Izinkan saya mengelaborasi makna terakhir yang satu ini. Sebagai mahasiswa yang mengambil minor Science-Based-Busines untuk penunjang major utama (matematika), saya dikenakan kewajiban untuk melaksanakan magang profesional. Harus dilakukan, tidak bisa tidak. Kewajiban ini awalnya Lanjutkan membaca


Sekilas tentang Social Impact

Bagi para generasi milenial alias Gen-Y dan mungkin juga Gen-Z yang tak sepenuhnya acuh dengan perkembangan informasi, besar kemungkinan telah familiar dengan sesuatu yang bernama “Social Impact”. Pasalnya, istilah ini dapat dibilang sedang naik  daun belakangan.

Secara spesifik, istilah ini sering kita temui pada artikel pemberitaan media bertemakan start-up (perusahaan rintisan). Sebut saja Go-Jek dan Bukalapak. Kedua start-up ini dalam banyak kesempatan mengutarakan bahwa salah satu misi perusahaannya adalah menciptakan social impact. Di wadah yang lain, social impact juga sering diangkat dalam seminar-seminar kemahasiswaan maupun kewirausahaan terkini.

Lantas, apa sebenarnya social impact itu?

Social impact adalah dampak positif yang dirasakan oleh suatu kelompok masyarakat tertentu yang muncul sebagai akibat dari suatu aksi/kegiatan tertentu.

Dari definisi social impact di atas, dapat diketahui bahwa cakupan social  impact itu luas sekali. Boleh dibilang, kata kuncinya adalah “pemberdayaan masyarakat”. Selama memenuhi kata kunci ini, maka dapat digolongkan sebagai social impact. Dalam hal ini perlu ditekankan bahwa pemberdayaan memiliki banyak dimensi, seiring dengan banyak dan kompleksnya aspek dalam kehidupan masyarakat. Sebab Di dalamnya termasuk aspek ekonomi/finansial, pendidikan, dan yang lainnya.

Sekarang mari beranjak membahas contoh dari social impact di kehidupan kita sehari-hari.

Kembali menyinggung bahasan di awal. Dalam konteks misi yang dikampanyekan oleh perusahaan rintisan seperti Go-Jek, social impact yang dimaksud ada pada aspek ekonomi/finansial. Platform aplikasi ojek online yang mereka kembangkan telah menjelma menjadi Lanjutkan membaca


Tips Mendapatkan LoA

To some extent, melanjutkan kuliah di luar negeri dapat disamakan dengan sukses memiliki usaha sendiri: sama-sama sangat mudah dimimpikan namun hanya sedikit yang tau bagaimana cara memulainya. Seolah, peta rute yang menjelaskan detil tata-cara menjadikannya nyata tersimpan dalam sebuah kotak pandora yang tiada sesiapa pun tau di mana ia berada, alih-alih paham apa isinya. Dalam pada itu, jika kalian adalah jiwa-jiwa yang telah terlecut semangatnya untuk bersekolah di luar negeri (karena membaca tulisan ini, misalnya), maka tulisan ini boleh jadi merupakan perwujudan kotak pandora yang kalian cari-cari.

***

Letter of Acceptance

lounge departemen matematika Leiden University. Foto-foto di belakang itu riwayat semua  guru besar matematika Leiden  (ada Snellius loh!)

Kotak pandora itu bernama Letter of Acceptance (LoA)

Berdasarkan pengamatan saya, banyak orang yang menginginkan sekolah di luar negeri (tak terkecuali saya, dulu) tidak begitu paham bagaimana langkah-langkah teknis nan konkret untuk lolos mendaftar sebagai calon mahasiswa di universitas idamannya. Berbagi pengalaman pribadi, dulu saya sempat mengira bahwa mendapatkan LoA itu proses yang sangat sulit dan misterius.

Mengapa? Karena dari kabar burung yang saya dengar,  LoA itu hanya dikeluarkan secara eksklusif oleh profesor di kampus yang kita tuju. Dan, satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah kita harus memintanya secara langsung, dengan cara berkorespondensi via email. Belum selesai, di email, konon kita harus melampirkan Lanjutkan membaca