Menyambut Ramadhan Pertama di Eropa

Salam, rekan-rekan semua! Semoga sehat selalu ya!

Per akhir April kemarin, delapan bulan sudah saya merantau ke Belanda. Banyak hal menarik (re: berbeda dengan Indonesia) yang saya sebelumnya nantikan akan terjadi di Belanda satu per satu telah saya alami. Melihat musim gugur, merasakan bagaimana menggenggam salju, dan beberapa hal lainnya. Menjelang bulan ke sembilan perantauan saya ini, ada satu hal besar menarik yang juga sudah saya nanti-nantikan bagaimana rasanya. Yap, seperti yang sudah bisa kalian tebak: menjalani bulan puasa di Eropa! 

Apa yang membuat Ramadhan di Eropa menarik? Mungkin ada baiknya kita lihat gambar berikut:

Day night world map

Kalian akan familiar dengan gambar ini saat kalian melakukan perjalanan udara jarak jauh 🙂

 

Di atas adalah day-night world map saat saya pulang ke Jakarta sekitar dua minggu yang lalu, cukup representatif mewakili keadaan yang akan saya hadapi untuk bulan puasa tahun ini. Keterangan gambar: bagian peta yang berwarna lebih hitam menunjukkan wilayah di dunia yang sedang mengalami malam, dan sebaliknya.

Kalau kalian amati, wilayah yang mengalami malam di dunia membentuk daerah Lanjutkan membaca

Iklan

Catatan Kontemplasi untuk Para Aktivis Mahasiswa

Catatan Aktivis

Apa yang ada di benak kalian saat ditanyai definisi aktivis? Di benak penulis, Aktivis adalah gelar yang disandang oleh segolongan mahasiswa yang aktif di (berbagai) organisasi di lingkungan kampusnya. Mereka yang menyandang gelar ini biasanya dikenal sebagai mahasiswa-mahasiswa idealis yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kehidupan yang semakin hari semakin usang dan cenderung ditinggalkan –oleh kebanyakan generasi muda zaman sekarang.

Sebagai konsekuensi dari banyaknya ‘mainan’ organisasi yang mereka punya, mereka sudah pasti memiliki banyak kegiatan di luar kelas perkuliahan. Rapat koordinasi ini, rapat persiapan acara itu, dan rapat-rapat yang lain diselingi sekali-dua melakukan aksi turun ke jalan alias demo, pokoknya kegiatan mereka banyak. Konon, rapat bagi mereka sudah seperti makan, (minimal) tiga kali sehari!

Membicarakan apa yang menjadi isi kepala para aktivis niscaya hanya akan meninggalkan decak kagum. Sebab mereka sudah biasa memikirkan banyak hal yang lebih besar dari sekadar “Nanti malam enaknya makan apa ya?” atau “Liburan semester nanti liburan ke mana ya?”. Sama sekali jauh lebih besar dari hal-hal picisan semacam itu.

Mereka tak jarang memikirkan hal-hal yang telah menyentuh skala ‘negara’. “Kenapa masih banyak penduduk miskin di Indonesia?” “Apa yang salah dengan

Lanjutkan membaca


Semester Based or Block Based Schedule? I choose both?!

Salam, semuanya!

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi sedikit dinamika perkuliahan  saya di Leiden. Sebab, beberapa kali saya mendapat pertanyaan, “Apa saja sih perbedaan sistem perkuliahan antara Indonesia dan Belanda?”. Beberapa poin utama perbedaan sudah sempat saya bagikan di tulisan ini. Namun sepertinya saya terlewat satu poin yang cukup signifikan, deh. Karenanya, post ini saya dedikasikan untuk menjelaskan perbedaan tersebut, plus sedikit curhatan saya tentangnya. Jadi, selamat membaca! 🙂

***

Membicarakan sistem perkuliahan Indonesia, kita tau bahwa satu tahun akademik (pelajaran) tersusun atas dua periode bernama Semester.  Lantas kita akrab dengan istilah “Semester Ganjil dan Genap”. Semester ganjil refers to periode perkuliahan Bulan September – Februari, dan semester genap adalah komplemennya.

 Tidak serta merta berbeda, Belanda pun mengenal sistem perkuliahan per semester seperti ini. Bedanya mungkin hanya pada penyebutan. Di sini tidak ada yang namanya “Odd / Even Semester”, melainkan “Fall / Spring”. Betul, jadi penamaan semester dihubungkan dengan musim yang bersesuaian.

Nah, sistem perkuliahan di Belanda ternyata tidak hanya mengenal semester based schedule. Ternyata ada pula sesuatu yang bernama block based schedule atau “perkuliahan per blok”. Saya pertama kali mengetahui hal ini dari keterangan beberapa awardee StuNed yang bercerita bahwa sistem perkuliahan mereka bukan per semester, melainkan per periode (umumnya) dua bulanan yang disebut “blok” (jadi setahun ada 6 blok).

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan perkuliahan per blok ini? Jadi, jika kita dalam perkuliahan per semester menghabiskan mata kuliah tertentu selama enam bulan (nett-nya mungkin 4 bulan), maka dalam perkuliahan per blok, kita harus menyelesaikan mata kuliah tersebut dalam tempo satu blok tadi (dua bulan). Emang bisa selesai kalau cuma 2 bulan? Materi kuliahnya sedikit dong? Lanjutkan membaca


Beta Banen Markt 2018

Hello Everyone!

As Leiden University master student who takes science based business (SBB) specialization, i am obliged to conduct an internship somewhere during my study program. The internship should be a typical full time job (not part time job such as being teaching assistant etc) lasting between 3 and 6 months in period. Moreover, it should be related to student’s main master program (for me is mathematics).

At the beginning, i was informed that i don’t have to worry seeking internship destination. Since the SBB staffs would regularly announce some internship opportunities to us. But, it turns out that most of them are coming from bio-chemistry science like drug companies. I therefore have to seek my own internship by myself.

I was in little panic back then, since i found myself not a Dutch student who originally knows the nature of everything here. I had no clue at all how to Lanjutkan membaca


Menjadi Minoritas & Self Re-Inventing: Duta Seperti Apa Kita?

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan menukil salah satu kata-kata bijak klasik:

Hidup sejatinya adalah perjalanan

Sebagai manusia yang hidup dalam peradaban (yang katanya) tinggi, selama hidup kita sampai dengan hari ini, kita tentu pernah mengalami fenomena “transisi lingkungan”. Kita berpindah dari lingkungan lama, dan masuk ke lingkungan yang (sama sekali) baru. Contoh trivial sangat mungkin terjadi pada saat perpindahan level sekolah kita, bisa jadi dari SD ke SMP, SMP ke SMA, maupun SMA ke Perguruan Tinggi. Contoh lain misalnya ketika kita mendaftar kursus, les di bimbingan belajar, dan sebagainya.

Saya pribadi mengalami beberapa kali peristiwa semacam ini. Saat transisi dari SD ke SMP (saya adalah satu-satunya lulusan SD saya yang melanjutkan ke SMP tersebut), transisi dari SMA ke Perguruan tinggi (kali ini tidak sendiri, tetapi –hanya– berdua, alumni SMA saya yang melanjutkan ke IPB), dan yang masih baru adalah mimpi jadi nyata saya: melanjutkan sekolah di negeri orang. Saya adalah satu-satunya alumni kampus saya yang saat ini sedang aktif menimba ilmu di Leiden.

Ada dua kesamaan yang mengikuti setiap fenomena transisi lingkungan terjadi. Pertama adalah perubahan status saya relatif terhadap lingkungan, yakni mayoritas menjadi minoritas. Komunitas sosial yang saya melekat padanya di lingkungan lama sudah tak lagi menjadi mayoritas di lingkungan yang baru. Kesamaan kedua yakni

Lanjutkan membaca


Tragedi “Mulut ke Mulut”

Salam, semua!

Di sela medan peperangan (setiap hari weekday adalah medan perang bagi para student di sini untuk nonstop bergelut dengan kuliah, buku dan artikel), sepertinya saya harus menyempatkan diri untuk mengabadikan kekonyolan yang terjadi hari ini. Sebab hari ini saya menyaksikan langsung betapa berbahayanya seseorang menerjemahkan suatu terminologi dalam suatu bahasa ke bahasa lainnya dengan buta, yakni menerjemahkan per kata tanpa memperhatikan konteksnya.

Hari ini saya menghadiri kuliah marketing. Sebagaimana kuliah rumpun ilmu bisnis  pada seperti biasanya, metode perkuliahan yang digunakan adalah diskusi multi-arah. Dosen, mahasiswa satu dan lainnya terlibat aktif dalam diskusi kelas yang membahas dan memperdalam materi yang sedang diajarkan.

Saat materi bersinggungan dengan  dengan topik seputar bagaimana teori marketing dapat diterapkan pada sektor wirausaha, terlontarlah pertanyaan menarik dari sang Dosen, “What method is significant to support marketing entrepreneur’s product?” 

Kelas pun menyambut dengan antusias, ada yang menjawab “A”, lalu yang lain berkata “B”, namun sang dosen masih bertanya, “anything else?“. Seolah belum merasa puas dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan murid-muridnya. Nah, disaat itu lah, Lanjutkan membaca


Winter is (Getting) Ugly

Fijne avond allemaal!*

Saya rasa, tiba saatnya saya menyuarakan kegelisahan di dada. Melihat tanggalan 2018 yang sudah semakin mendekati penghujung bulan kedua, namun ada satu hal yang tak kunjung pergi, entah, mungkin karena satu hal lainnya yang bertindak sebagai komplemen (redaksi ilmu matematika, bukan ekonomi) tidak jua kunjung datang. Ngomongin apa sih, Par?

Freezing weather.

Benar saja, sejauh yang saya tau, dan kemudian saya verifikasi lewat riset (ceileh riset bahasamu Par) kecil-kecilan (baca: googling), yang namanya musim dingin di belahan bumi bagian utara itu dimulai dari 1 Desember dan berakhir di 28 Februari (29 hanya jika tahun yang dimaksud adalah kabisat).

Seasons callendar

Tapi kok ya, di hari-hari belakangan ini, saya merasa suhu bukannya makin naik, eh malah sebaliknya, makin dingin! Desperate rasanya melihat keterangan suhu di ponsel yang tak kunjung beranjak dari 0 dan angka-angka dibawahnya. Omeen!  Lanjutkan membaca


Metode Pohon dalam Logika Matematika

Salam semuanya!

Kali ini, saya akan menulis tentang salah satu metode yang terdapat dalam pembelajaran logika matematika, yakni metode pohon. Dalam tulisan ini, saya akan mencoba menjelaskan pengertian berikut contoh penggunaan metode pohon. Sebagai level pengetahuan teknis dari tulisan ini, saya mengasumsikan pembaca telah familiar dan paham dengan konsep dasar dalam logika matematika seperti preposisi berikut dengan memodelkan kalimat dalam bentuk preposisi, preposisi berperangkai, kesetaraan antar dua preposisi, tautologi dan kontradiksi. Kalau semua sudah ok, maka kita bisa mulai dengan mengetahui apa itu metode pohon dalam logika matematika.

Metode pohon adalah salah satu cara untuk menentukan sah atau tidaknya suatu argumen dalam logika matematika.

Lantas, pertanyaan natural yang akan muncul selanjutnya tentu saja ada hubungannya dengan ‘argumen’ dan ‘kapan argumen dikatakan sah’.

Argumen dalam logika matematika adalah preposisi dalam bentuk:

p_1 \wedge p_2 \dots \wedge p_n \rightarrow q

Selanjutnya, p_1, p_2, \dots p_n dinamakan premis dan q dinamakan simpulan.

Sebagai informasi, setiap premis diperbolehkan berupa preposisi berperangkai. Contoh dari sebuah argumen adalah sebagai berikut: Lanjutkan membaca


Satu Semester Menjadi Mahasiswa Master Matematika di Belanda

Salam, rekan-rekan semua!

Dulu, minggu-minggu pertama setibanya saya di Leiden, setiap saya bertemu dengan para senior (mahasiswa Indonesia yang lebih dulu sekolah di sini), salah satu pesan yang sering saya dapat adalah: “Semester pertama itu masa-masa adaptasi dengan sistem perkuliahan, jadi harus semangat ya! Jalani saja semaksimal mungkin dulu”

“Academic Shock”itulah maksud pesan tadi. Jujur, saya setengah sanksi dengan fenomena yang satu ini. Walaupun sudah sempat mendengar istilahnya saat acara pre-departure-briefing, yang menyebut bahwa nanti kami (calon mahasiswa di Belanda) akan disambut dengan dua macam Shock: Cultural and Academic Shock. Waktu itu saya merasa satu-satunya shock yang patut saya perhatikan adalah yang pertama: perubahan budaya. Namun, waktu membuktikan bahwa saya salah. Academic shock ternyata merupakan sesuatu yang benar-benar signifikan! Mengapa? Berikut saya ceritakan beberapa hal yang membuatnya demikian, tentang beberapa perbedaan sistem perkuliahan Belanda-Indonesia.

Perkuliahan dan PR

Salah satu alasan utama mengapa saya memilih Belanda sebagai destinasi studi jenjang master saya adalah karena Bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar perkuliahan. Lebih dari itu bahkan, sebab mayoritas, hampir semua orang Belanda lancar berbahasa Inggris. Jadi saya dan para mahasiswa internasional yang menuntut ilmu disini tidak kerepotan harus mempelajari bahasa Belanda bahkan untuk dapat melakoni kehidupan sosial di sini (e.g tanya alamat, tanya pelayan restoran, pramu-niaga swalayan, dan lainnya).

Ada beberapa hal yang unik, jika dibandingkan dengan Indonesia, tentang perkuliahan di Belanda. Hal yang pertama adalah adanya break selama 15 menit setiap 45 menit perkuliahan. Jadi jika kuliah berdurasi 3 jam, maka akan ada break sebanyak 3 kali (break terakhir sekaligus menutup perkuliahan). Mungkin karena break periodik ini, kejadian mahasiswa yang pergi ke toilet saat perkuliahan berlangsung sangat jarang terjadi. Break menjadi waktu untuk itu semua: pergi ke toilet, membeli kopi di vending machine, dan tentu saja mengobrol santai.

Perbedaan selanjutnya lebih substantif, yakni sifat perkuliahan yang self-contained alias menitik beratkan mahasiswa untuk Lanjutkan membaca


Amanat Pembina Apel Pagi Asrama: Sukses sebagai Buah Penafsiran

Pagi itu, pukul setengah enam, insan asrama putra TPB (Tingkat Persiapan Bersama) IPB berhamburan keluar gedung asramanya. Masih dalam periode akulturasi, kami diwajibkan untuk mengikuti apel setiap pagi harinya. Apel pagi itu nyaris sama saja dengan apel yang sudah-sudah, kecuali dengan amanat apel yang disampaikan.

Saya rasa kita sepakat bahwa kebanyakan amanat apel membosankan. Pembina apel biasanya tidak akan jauh dari menyampaikan himbauan ini-itu yang sifatnya normatif secara lugas, yang disusun per-poin (supaya runut). Namun amanat apel pagi itu berbeda. Bang Je, pembina apel, sangat apik mengemas amanat apel agar tidak membosankan dengan bercerita ringan, namun sarat akan makna seperti berikut.

***

Alkisah, hiduplah sebuah keluarga kaya dengan dua orang putra yang masih belia. Sang ayah mendapatkan kekayaannya dari sebuah kebun yang teramat luasnya. Kebun itu ia tanami berbagai macam sayur-mayur lagi aneka buah-buahan, lantas rupa-rupa hasil bumi dari kebunnya itu ia jual secara rutin ke pasar-pasar di sekitar desa. Dengan usahanya ini, sang ayah menghidupi keluarganya dengan sangat kecukupan.

gambar kebunNamun,  karena terlalu sayangnya dengan kedua putranya, sang ayah tidak pernah sedikitpun membiarkan anak-anaknya mengetahui pekerjaannya, tentang dari mana sumber penghasilannya berasal. Barangkali, sang ayah tak ingin anak-anaknya menghidupi diri dan keluarganya seperti dirinya, dengan bekerja (lebih banyak) dengan otot, bukan dengan otak. Setali tiga uang, kedua putranya juga tak pernah terbersit rasa penasaran untuk mengetahui seperti apa Lanjutkan membaca