Category Archives: Pelajaran Hidup

Terimakasih, Bapak

Dua tahun yang lalu, aku mengenalmu, tak sengaja dan bukan mauku. Adalah maumu tuk mengenalku, ditengah banyak orang mencemooh diriku. Maumu mengenalku saja sudah membuktikan kualitas dirimu: think positive.

19 Ramadhan 1436 Hijriah, kau membuatku mengerti bahwa seleksi masuk kerja adalah sesuatu yang (bisa) sangat staight-forward, hanya dengan wawancara 45 menit saja. 

23 Ramadhan 1436 Hijriah, kau mengirimku ke Sumatera, katamu perjalanan dinas kantor. Padahal, tau apa anak ingusan tanpa pengalaman mensosialisasikan produk kantor hanya dengan 3 hari bekerja? Sesaat setelahnya, aku sadar bahwa itu caramu agar aku bisa pulang kampung berlebaran dengan orang tua dan berbangga diri berkata “Bapak, Ibu, ini THR anakmu”. 

Kau yang menyuruh supirmu mengantarku ke rumahmu, dan memilih menumpang mobil kantor untuk pulang malam-malam.  Padahal bisa saja kau dengan segala otoritasmu menyuruhku berkereta saja ke Pasar Minggu, toh juga jauh lebih cepat dan punya hak apa aku menikmati fasilitasmu? Aku (juga) baru tersadar setelahnya, kau tidak ingin aku kelelahan, berjibaku dengan sesaknya kereta jam pulang kerja.

Dan seluruh kebaikan lain yang kau lakukan kepadaku.

Dan seluruh kebaikan lain yang kau lakukan kepadaku.

Jika hidup adalah terminal persinggahan, maka terlalu banyak hal baik yang engkau  perbuat di terminal singgah ini, tibalah sudah jadwal keberangkatan kendaraan yang kau pilih untuk pergi ke tujuan. 

Terimakasih, Bapak. 

Aku percaya Bapak bahagia di tujuan.

Iklan

Cara Kerja Nur-ani dan Hal yang Mempengaruhinya

Salam dan selamat malam semuanya!

Seminggu yang lalu, saya mengunggah status status ikhwal renungan saya tentang Nur-ani. Sesuatu yang saya sebut sebagai ‘self-valuating system‘ yang dimiliki oleh setiap kita. Redaksi lengkap status tersebut adalah demikian:

status

Pada tulisan versi blog ini, saya ingin menambahkan penjelasan (versi saya tentunya) tentang bagaimana cara kerja Nur-ani melakukan tugasnya sebagai ‘self-valuating system’. Namun sebelum kesana, saya ingin terlebih dahulu kita satu pemahaman tentang apa sebenarnya makhluk yang bernama Nur-ani ini.

Nur-ani adalah pengejewantahan dari seluruh nilai-nilai kehidupan yang tertanam dalam diri kita. Tentu kita semua paham apa itu nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, rendah hati, ringan tangan, ikhlas, lapang dada, disiplin, tidak mengambil hak orang lain, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka lah yang membentuk rupa dari Nur-ani kita (jika kita punya nilai-nilai tersebut).

Diagram NUrani

Pembentukan Nur-ani

Nur-ani bertindak sebagai ‘self-valuating system’ karena ia layaknya metal detector yang sering kita jumpai di bandara. Ketika seseorang dengan logam (besi) masih dikenakannya, maka metal detector akan berbunyi. Dan prosedur normatifnya adalah orang tersebut tidak boleh masuk. Masalah orang tersebut ternyata dipersilakan masuk atau tidak, sebenarnya ada pada kendali penuh petugas bandara. Sama dengan Nur-ani. Nur-ani akan ‘berbunyi’ memberi peringatan pada empunya ketika empunya hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Namun ‘bunyi’ tersebut hanya sebatas peringatan. Masalah akhirnya empunya melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut, itu terserah keputusan empunya (Ini konsep yang sejatinya punya makna yang dalam).

Selanjutnya, berikut adalah cara kerja Nur-ani yang saya coba ilustrasikan dalam 4 panel gambar berurut: Lanjutkan membaca


Tentang Kehilangan

Selamat malam blog-walkers yang baik hatinya! 🙂

Pada post kali ini, saya akan bercerita soal kejadian yang saya alami pada penghujung tahun 2016 kemarin. Ahya! It’s 2017 already guys, happy new year anyway! Kejadian yang mungkin –dan memang– pantas dibilang annoying sih. Weh, kejadian apakah, Parara?

Kecopetan

*hening sejenak*

***

Jumat, 30 Desember 2016

Saya membangunkan adik, Akbar Indarjo, dan menyuruhnya mandi. Hari itu sudah saya agendakan menjadi agenda inti dari liburan akhir tahunnya –sekaligus menengok abangnya– di Jakarta. Kami (terutama Akbar) senang, akhirnya ia bisa benar-benar berlibur akhir tahun di Jakarta, sebab rencana yang sama tahun lalu batal dikarenakan satu dan lain hal. Maka setelah packing seperlunya dalam satu tas ransel dan sarapan, kami berangkat menuju Jungle-land Bogor.

Di Stasiun Juanda, saat baru saja sampai, saya spontan memberitahu Akbar tentang rule utama membawa tas di tempat keramaian –dan di kota besar– : menaruh tas di depan badan. Ah, mungkin ini pertanda yang pertama. Lanjutkan membaca


Berdamai dengan Rencana-Mu

Selamat Ahad rekan-rekan yang budiman!

Maafkan saya yang baru muncul ke permukaan. Berbulan-bulan saya (sengaja) break dari blog karena suatu alasan. Siang ini, saya akan menceritakan alasan ke-vakum-an saya tersebut, sekaligus mencoba mengambil sedikit hikmah yang terserak diantaranya.

Kita mulai, ya?

***

Semua bermula saat saya menerima SK pengangkatan sebagai karyawan tetap di kantor, bulan Juli kemarin. Itu artinya, genap setahun sudah saya bekerja. Genap setahun pula saya meninggalkan bangku sekolah. Sudah tiba saatnya untuk mencoba merealisasikan rencana studi saya pada jenjang sekolah yang selanjutnya.

Saya pun menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk menyiapkan segala hal yang harus disiapkan. Sebab, ternyata perkara melanjutkan sekolah pasca kita bekerja itu tak semudah yang ada dalam benak saya. Dahulu, saya berpikir akan mudah bagi seseorang yang telah bekerja untuk melanjutkan sekolah. Saya selalu mendengar orang-orang bercerita “Si kakak X tuh disekolahin kantornya di Inggris” atau “Om gue dulu dapet beasiswa dari kantornya dikuliahin di Ausie”. Dari cerita-cerita tentang orang yang telah bekerja dan melanjutkan studi tersebut, saya menarik benang merah berupa redaksi “disekolahkan kantor”, “beasiswa kantor”. Which is, implikasinya adalah
Lanjutkan membaca


Terharu Itu Sederhana

Selamat berpuasa di hari ke-27 rekan-rekan sekalian!

Pagi ini saya sumringah betul, sebab hari ini saya mudik ke kampung halaman! Finally bisa kembali ke Sampit tercinta setelah setengah tahun. Doakan saya selamat sampai tujuan ya! 🙂

image

Selain ingin berkabar tentang ke-mudik-an saya, melalui post kali Saya akan mencoba bercerita tentang hal-hal yang membuat saya terharu. Ya, di bulan ramadhan tahun ini hanya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya (sangat) terharu. Di post kali ini saya akan menceritakan dua diantaranya. Dua kejadian ini sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya tapi tetap saja sangat spesial rasanya jika terjadi — dan selalu membuat saya terharu. Baik, apakah gerangan Par, hal yang membuatmu terharu?

***
Sujud Tilawah dalam Shalat

image

image

Sumber: muslim.or.id

Betul sekali, semenjak saya membaca cerita pada buku agama islam SMP saya (yang dapat dilihat pada post ini),  ya jadi sangat terobsesi untuk merasakan Lanjutkan membaca


Too Good To Be True Events

Selamat menikmati senin malam semuanya!

Sesuai dengan apa yang saya ucap pada post saya sebelumnya yang ini, malam ini insya Allah saya akan mencoba membagi pemahaman –yang berdasar pengalaman– tentang apa yang saya sebut sebagai “Too Good To Be True Events”.

Okay then, have a pleasant read guys!

***
Pertama-tama, yuk kita definisikan dulu apa itu “Too Good To Be True Events”. Sebagai orang matematik, saya terbiasa untuk mendefiniskan dulu apapun terminologi baru muncul ke permukaan. Meskipun dengan terminologi-terminologi remeh-temeh macam kata “tergantung” dan “bergantung“. “Tergantung” itu menyatakan keadaan posisi benda, sedang “bergantung” itu menyatakan hubungan pengaruh suatu hal terhadap hal yang lain. Jadilah, orang matematik tidak pernah (atau jarang) berkata “ya tergantung, sore ini hujan apa tidak” saat ditanya “sore nanti jadi futsal?”, melainkan “ya bergantung, sore ini hujan atau tidak”.

Tuh kan, terminologi-terminologi sepele macam itu saja didefinisikan betul oleh orang matematik, gimana terminologi sakral macam “aku mencintaimu”? Pastinya dong didefinisiin dan dipraktekin nya lebih-lebih serius dari kebanyakan orang. Gimana gak beruntung coba kalo punya pasangan –hidup– orang matematik?! HAHAHAHAHA APAAN SIH SKIP

Oke oke kembali ke bahasan kita di awal, berikut adalah definisi saya tentang terminologi yang kita bahas malam ini.

Too good to be true events adalah kejadian-kejadian dimana sesuatu yang sangat-sangat kita inginkan tau-tau
Lanjutkan membaca


I am my own man, I make my own luck

Happy Sunday, Everybody! 🙂

Sebelum lanjut membaca post ini, bagi yang belum klik tombol play video di atas, klik dulu atuh lah. Sebab lagu di atas adalah basis dari bahasan kita hari ini. “Click!”, Okay, we can go to the main topic then! But wait, if you can’t handle the beat and wanna sing along, here i give you the lyric (via metrolyrics.com).

How can we make amends when we said all we said?
I call and you don’t pick up
How can I say instead that I hope it’s for the best?
I won’t, and I won’t give up

I’m sorry, Mother
I know I let you down
I’m sorry for how I up and left this town

How can we push aside all the bad and make it right
Now you got me all choked up
I’m sorry, brother
I know I let you down Lanjutkan membaca


Adab (menjadi yang) Diberi

Happy solar-eclipse day guys!
Gimana? Tadi pagi ikutan “merayakan” euforia gerhana matahari tidak? 😀

Baiklah, kali ini saya sreg ingin membagikan secuil pemahaman hidup yg saya pahami. Semoga saja baik dan ada manfaatnya ya barang secuil pula.  Selamat membaca!

***

image

Pernahkah kalian diberi sesuatu oleh seseorang? Saya yakin pernah. Katakan kalian ultah, lalu sahabat kalian memberi kalian suatu barang sebagai kado. Atau saat kalian wisuda (bagi yang sudah tentunya, yang belum? Semangat!), kalian pasti mendapat satu atau beberapa cindera-mata, seperti sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku, di malam itu, potret diri dalam bingkai, ataupun yang lainnya.

Sebenarnya tak perlu menunggu momen-momen sebesar ulang tahun atau wisuda, saya juga percaya banyak sekali momen-momen di ordinary-day dimana kalian diberi sesuatu oleh orang lain. Ayah yang pulang kantor membawakan dua bungkus Lanjutkan membaca


Lunas Sudah Jual-Belimu dengan-Nya, Roger

Salam, dan selamat malam semuanya.

roger

Malam ini, mari kita berkenalan dengan seorang sosok sederhana nan kisahnya melelehkan hati. Yang mana sosoknya, gerangan? Betul, mari kita berkenalan dengan sosok yang ada pada foto di atas.

Roger, begitu ia biasa disapa oleh segenap civitas akademika IPB. Civitas akademika katamu? Apakah beliau dosen? Tidak, tidak, beliau bukanlah seorang dosen atau yang dekat dengan itu. Beliau adalah asongan yang setia menjajakan dagangannya di kawasan kampus IPB Dramaga.

Membicarakan kepopuleran Roger di IPB, seolah sebelas-dua belas saja dengan membicarakan kepopuleran Rektor kami tercinta, Prof. Herry Suhardiyanto. Mengapa bisa? Mungkin penjelasan yang paling sederhananya adalah karena cara Beliau (Roger) menjajakan dagangannya. Beliau ini cara jualannya tiada dua. Beliau berjalan kaki mengelilingi kampus, dari satu fakultas ke fakultas lain, dari satu koridor ke koridor lain, dari satu kelas ke kelas lain, beliau datang, masuk dan menawarkan dagangannya kepada segenap mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Ditambah, Beliau memiliki jargon-jargon ciri khas saat menjajakan dagangan. Jargon-jargon yang terlalu pekat, terlalu identik merujuk pada sosok Beliau, sosok Roger. Jadi karena inilah, bisa dikatakan semua mahasiswa IPB mengenali Beliau.

Lalu, apa gerangan dagangan Beliau?

Siap-siap lah menahan napas sejenak Lanjutkan membaca


Sociopreneur dan Dua Contoh Hebatnya

Mengawali tulisan ini, saya ingin memastikan bahwa judul postingan ini sama sekali tidak ada yang salah. Betul, “sociopreneur”, bukan “entrepreneur” lho ya. Sociopreneur? Mungkin kebanyakan orang masih merasa asing dengan istilah ini, dan lebih mengenal istilah “entrepreneur”. Faktanya, dua istilah ini memang berhubungan dekat kok, tepatnya bahwa sociopreneur adalah salah satu ‘anak’ dari entrepreneur. Lalu apa itu sociopreneur secara persis?

Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namun dengan misi utama menciptakan social-impact yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.

 Sedikit lebih jauh, masyarakat kelas menengah bawah yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya telah ditentukan secara spesifik karakteristik/populasinya.

Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa entitas sociopreneur adalah irisan antara entitas entrepreneur (usaha bisnis murni) dan lembaga sosial seperti yayasan. Jika entrepeneur hanya berorientasi pada profit dan sebaliknya yayasan hanya berfokus pada mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial (tanpa mengusahakan sumbernya dari mana), maka sociopreneur adalah peralihan antara keduanya. Sociopreneur mengusung misi sosial, dengan tidak melupakan bagaimana dana yang diperlukan untuk kegiatan itu dapat terkumpul.

ilustrasi diagram venn sociopreneur

ilustrasi diagram venn sociopreneur

Jadi, sociopreneur secara sederhana dapat dikatakan sebagai Lanjutkan membaca