Category Archives: Tebaran kebaikan

Sukses sebagai Buah Penafsiran: Refleksi Amanat Apel Pagi Asrama

Pagi itu, pukul setengah enam, insan asrama putra TPB (Tingkat Persiapan Bersama) IPB berhamburan keluar gedung asramanya. Masih dalam periode akulturasi, kami diwajibkan untuk mengikuti apel setiap pagi harinya. Apel pagi itu nyaris sama saja dengan apel yang sudah-sudah, kecuali dengan amanat apel yang disampaikan.

Saya rasa kita sepakat bahwa kebanyakan amanat apel membosankan. Pembina apel biasanya tidak akan jauh dari menyampaikan himbauan ini-itu yang sifatnya normatif secara lugas, yang disusun per-poin (supaya runut). Namun amanat apel pagi itu berbeda. Bang Je, pembina apel, sangat apik mengemas amanat apel agar tidak membosankan dengan bercerita ringan, namun sarat akan makna seperti berikut.

***

Alkisah, hiduplah sebuah keluarga kaya dengan dua orang putra yang masih belia. Sang ayah mendapatkan kekayaannya dari sebuah kebun yang teramat luasnya. Kebun itu ia tanami berbagai macam sayur-mayur lagi aneka buah-buahan, lantas rupa-rupa hasil bumi dari kebunnya itu ia jual secara rutin ke pasar-pasar di sekitar desa. Dengan usahanya ini, sang ayah menghidupi keluarganya dengan sangat kecukupan.

gambar kebunNamun,  karena terlalu sayangnya dengan kedua putranya, sang ayah tidak pernah sedikitpun membiarkan anak-anaknya mengetahui pekerjaannya, tentang dari mana sumber penghasilannya berasal. Barangkali, sang ayah tak ingin anak-anaknya menghidupi diri dan keluarganya seperti dirinya, dengan bekerja (lebih banyak) dengan otot, bukan dengan otak. Setali tiga uang, kedua putranya juga tak pernah terbersit rasa penasaran untuk mengetahui seperti apa Lanjutkan membaca

Iklan

Sedikit Tips Memenangkan IELTS 6,5

Salam semangat, para pemimpi!

Yap, tulisan ini saya dedikasikan kepada kalian yang memimpikan banyak hal, namun masih terganjal oleh sebuah handicap bernama IELTS. Handicap yang seolah menjadi pintu gerbang (yang saat ini masih tertutup rapat), menjadi sekat bagi kalian dari kota  berjudul ‘melanjutkan kuliah di luar negeri’, ‘berpartisipasi dalam konferensi insternasional’, ‘mendaftar short course‘, atau bahkan ‘melamar pekerjaan ideal’.

ielts-banner

IELTS Bukan Pilihan

Boleh jadi, kalian memang sedang mengidam-idamkan salah satu dari hal yang saya sebutkan di atas, dan kalian mendapati diri kalian (sangat) tidak mumpuni ber-casciscus Inggris dan paranoid dengan bahasa Inggris. Lantas kalian berpikir, “adakah cara menggapai impian saya ini tanpa harus menaklukkan IELTS?”.

Sayang sekali, jawaban dari pertanyaan itu adalah TIDAK. IELTS, atau secara lebih general adalah English Proficiency Certificate sudah menjadi persyaratan wajib yang digunakan sebagai salah satu parameter kelayakan untuk mendaftar banyak hal, khususnya bersekolah di luar negeri Jadi mulai sekarang, jadilah rasional. Jika kalian hendak melanjutkan sekolah di luar negeri, maka kalian harus mendapatkan skor IELTS yang memadai. Implikasi ini bernilai mutlak. Berhentilah berandai-andai “saya akan tetap bisa menggapai mimpi saya (bersekolah di luar negeri) tanpa harus pusing-pusing belajar IELTS”.

Lalu, berapa skor yang harus menjadi target? Menurut saya, 6,5 adalah batas bawah yang cukup universal. Sebab sepanjang yang saya ketahui, rata-rata institusi yang mensyaratkan IELTS memberikan batas bawah 6,0-6,5 untuk skor keseluruhan, dengan ketentuan tambahan skor minimal 6,0 untuk masing-masing section (listening, reading, writing dan speaking).

Tips Mempersiapkan Diri

Seperti yang sudah saya sebutkan, tes IELTS terdiri dari 4 sesi, yang masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri-sendiri. Berikut adalah Lanjutkan membaca


2017’s Grateful Project

Good Evening, everyone!

Post kali ini akan berisi salah satu resolusi konkret saya pada tahun 2017 ini. Wah, tahun barunya kan sudah lewat setengah bulan, Parara? Well, memang terlambat sedikit sih. But nevermind, i believe there is no “too late” for sharing the good things 🙂

***

Random scroll saya pada akun 9GAG di Line awal tahun kemarin menjadi muasal dari munculnya resolusi ini. FYI, saya memang cukup sering escape sejenak ke akun-akun dengan konten fun seperti 9GAG dan tahilalats setiap kali jenuh menyergap diri. 9gag kuat dengan konten lucu dan tak jarang juga mengagumkan, sedangkan tahilalats selalu berhasil menyuguhkan komik strip yang slank, yang absurd tapi kocak. Karenanya saya suka menghabiskan waktu bersama dua makhluk ini, padahal sih kalau mau jujur lebih suka sama kamu, tapi berhubung kamunya yang sibuk melulu, ya mau dikata apa (woy siapa woy Paar! ahaha).

Skip, mari kembali ke topik. Jadi saat itu saya menemukan post begini:

Lanjutkan membaca


Berdamai dengan Rencana-Mu

Selamat Ahad rekan-rekan yang budiman!

Maafkan saya yang baru muncul ke permukaan. Berbulan-bulan saya (sengaja) break dari blog karena suatu alasan. Siang ini, saya akan menceritakan alasan ke-vakum-an saya tersebut, sekaligus mencoba mengambil sedikit hikmah yang terserak diantaranya.

Kita mulai, ya?

***

Semua bermula saat saya menerima SK pengangkatan sebagai karyawan tetap di kantor, bulan Juli kemarin. Itu artinya, genap setahun sudah saya bekerja. Genap setahun pula saya meninggalkan bangku sekolah. Sudah tiba saatnya untuk mencoba merealisasikan rencana studi saya pada jenjang sekolah yang selanjutnya.

Saya pun menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk menyiapkan segala hal yang harus disiapkan. Sebab, ternyata perkara melanjutkan sekolah pasca kita bekerja itu tak semudah yang ada dalam benak saya. Dahulu, saya berpikir akan mudah bagi seseorang yang telah bekerja untuk melanjutkan sekolah. Saya selalu mendengar orang-orang bercerita “Si kakak X tuh disekolahin kantornya di Inggris” atau “Om gue dulu dapet beasiswa dari kantornya dikuliahin di Ausie”. Dari cerita-cerita tentang orang yang telah bekerja dan melanjutkan studi tersebut, saya menarik benang merah berupa redaksi “disekolahkan kantor”, “beasiswa kantor”. Which is, implikasinya adalah
Lanjutkan membaca


Terharu Itu Sederhana

Selamat berpuasa di hari ke-27 rekan-rekan sekalian!

Pagi ini saya sumringah betul, sebab hari ini saya mudik ke kampung halaman! Finally bisa kembali ke Sampit tercinta setelah setengah tahun. Doakan saya selamat sampai tujuan ya! 🙂

image

Selain ingin berkabar tentang ke-mudik-an saya, melalui post kali Saya akan mencoba bercerita tentang hal-hal yang membuat saya terharu. Ya, di bulan ramadhan tahun ini hanya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya (sangat) terharu. Di post kali ini saya akan menceritakan dua diantaranya. Dua kejadian ini sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya tapi tetap saja sangat spesial rasanya jika terjadi — dan selalu membuat saya terharu. Baik, apakah gerangan Par, hal yang membuatmu terharu?

***
Sujud Tilawah dalam Shalat

image

image

Sumber: muslim.or.id

Betul sekali, semenjak saya membaca cerita pada buku agama islam SMP saya (yang dapat dilihat pada post ini),  ya jadi sangat terobsesi untuk merasakan Lanjutkan membaca


Too Good To Be True Events

Selamat menikmati senin malam semuanya!

Sesuai dengan apa yang saya ucap pada post saya sebelumnya yang ini, malam ini insya Allah saya akan mencoba membagi pemahaman –yang berdasar pengalaman– tentang apa yang saya sebut sebagai “Too Good To Be True Events”.

Okay then, have a pleasant read guys!

***
Pertama-tama, yuk kita definisikan dulu apa itu “Too Good To Be True Events”. Sebagai orang matematik, saya terbiasa untuk mendefiniskan dulu apapun terminologi baru muncul ke permukaan. Meskipun dengan terminologi-terminologi remeh-temeh macam kata “tergantung” dan “bergantung“. “Tergantung” itu menyatakan keadaan posisi benda, sedang “bergantung” itu menyatakan hubungan pengaruh suatu hal terhadap hal yang lain. Jadilah, orang matematik tidak pernah (atau jarang) berkata “ya tergantung, sore ini hujan apa tidak” saat ditanya “sore nanti jadi futsal?”, melainkan “ya bergantung, sore ini hujan atau tidak”.

Tuh kan, terminologi-terminologi sepele macam itu saja didefinisikan betul oleh orang matematik, gimana terminologi sakral macam “aku mencintaimu”? Pastinya dong didefinisiin dan dipraktekin nya lebih-lebih serius dari kebanyakan orang. Gimana gak beruntung coba kalo punya pasangan –hidup– orang matematik?! HAHAHAHAHA APAAN SIH SKIP

Oke oke kembali ke bahasan kita di awal, berikut adalah definisi saya tentang terminologi yang kita bahas malam ini.

Too good to be true events adalah kejadian-kejadian dimana sesuatu yang sangat-sangat kita inginkan tau-tau
Lanjutkan membaca


Adab (menjadi yang) Diberi

Happy solar-eclipse day guys!
Gimana? Tadi pagi ikutan “merayakan” euforia gerhana matahari tidak? 😀

Baiklah, kali ini saya sreg ingin membagikan secuil pemahaman hidup yg saya pahami. Semoga saja baik dan ada manfaatnya ya barang secuil pula.  Selamat membaca!

***

image

Pernahkah kalian diberi sesuatu oleh seseorang? Saya yakin pernah. Katakan kalian ultah, lalu sahabat kalian memberi kalian suatu barang sebagai kado. Atau saat kalian wisuda (bagi yang sudah tentunya, yang belum? Semangat!), kalian pasti mendapat satu atau beberapa cindera-mata, seperti sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku, di malam itu, potret diri dalam bingkai, ataupun yang lainnya.

Sebenarnya tak perlu menunggu momen-momen sebesar ulang tahun atau wisuda, saya juga percaya banyak sekali momen-momen di ordinary-day dimana kalian diberi sesuatu oleh orang lain. Ayah yang pulang kantor membawakan dua bungkus Lanjutkan membaca


Lunas Sudah Jual-Belimu dengan-Nya, Roger

Salam, dan selamat malam semuanya.

roger

Malam ini, mari kita berkenalan dengan seorang sosok sederhana nan kisahnya melelehkan hati. Yang mana sosoknya, gerangan? Betul, mari kita berkenalan dengan sosok yang ada pada foto di atas.

Roger, begitu ia biasa disapa oleh segenap civitas akademika IPB. Civitas akademika katamu? Apakah beliau dosen? Tidak, tidak, beliau bukanlah seorang dosen atau yang dekat dengan itu. Beliau adalah asongan yang setia menjajakan dagangannya di kawasan kampus IPB Dramaga.

Membicarakan kepopuleran Roger di IPB, seolah sebelas-dua belas saja dengan membicarakan kepopuleran Rektor kami tercinta, Prof. Herry Suhardiyanto. Mengapa bisa? Mungkin penjelasan yang paling sederhananya adalah karena cara Beliau (Roger) menjajakan dagangannya. Beliau ini cara jualannya tiada dua. Beliau berjalan kaki mengelilingi kampus, dari satu fakultas ke fakultas lain, dari satu koridor ke koridor lain, dari satu kelas ke kelas lain, beliau datang, masuk dan menawarkan dagangannya kepada segenap mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Ditambah, Beliau memiliki jargon-jargon ciri khas saat menjajakan dagangan. Jargon-jargon yang terlalu pekat, terlalu identik merujuk pada sosok Beliau, sosok Roger. Jadi karena inilah, bisa dikatakan semua mahasiswa IPB mengenali Beliau.

Lalu, apa gerangan dagangan Beliau?

Siap-siap lah menahan napas sejenak Lanjutkan membaca


Sociopreneur dan Dua Contoh Hebatnya

Mengawali tulisan ini, saya ingin memastikan bahwa judul postingan ini sama sekali tidak ada yang salah. Betul, “sociopreneur”, bukan “entrepreneur” lho ya. Sociopreneur? Mungkin kebanyakan orang masih merasa asing dengan istilah ini, dan lebih mengenal istilah “entrepreneur”. Faktanya, dua istilah ini memang berhubungan dekat kok, tepatnya bahwa sociopreneur adalah salah satu ‘anak’ dari entrepreneur. Lalu apa itu sociopreneur secara persis?

Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namun dengan misi utama menciptakan social-impact yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.

 Sedikit lebih jauh, masyarakat kelas menengah bawah yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya telah ditentukan secara spesifik karakteristik/populasinya.

Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa entitas sociopreneur adalah irisan antara entitas entrepreneur (usaha bisnis murni) dan lembaga sosial seperti yayasan. Jika entrepeneur hanya berorientasi pada profit dan sebaliknya yayasan hanya berfokus pada mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial (tanpa mengusahakan sumbernya dari mana), maka sociopreneur adalah peralihan antara keduanya. Sociopreneur mengusung misi sosial, dengan tidak melupakan bagaimana dana yang diperlukan untuk kegiatan itu dapat terkumpul.

ilustrasi diagram venn sociopreneur

ilustrasi diagram venn sociopreneur

Jadi, sociopreneur secara sederhana dapat dikatakan sebagai Lanjutkan membaca


Senarai: Renungan tentang Sukses-Gagal

Salam bahagia kawan!

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa semua orang, saya yakin sudah memikirkan topik yang akan saya angkat pada posting kali ini paling tidak sekali saja. I guarantee that dengan taraf nyata limit mendekati 0%. (emang ada ya taraf nyata limit-limitan gitu). Tapi seriusan, saya yakin dan percaya setiap raga yang jiwanya masih cukup sehat pasti pernah menanyai dirinya sendiri tentang topik ini, lantas mencari pemahaman yang kiranya layak diinternalisasi bagi diri.

success (1)

Oukay, lets strike to the topic then. Tengah malam ini, saya ingin berbagi sekelumit pemahaman saya tentang “Sukses-Gagal”. Iyap, topik yang klise populer binggo bukan? Kalian tentu pernah, bahkan sering memikirkannya bukan? I know you so well guys (SKSD a.k.a Sok Kenal Sok Deket banget dah lu Par! 😀 ) 🙂

***

Seperti yang sudah saya tulis di bagian mukaddimah barusan, semua orang pasti punya pemahaman masing-masing tentang “Sukses-Gagal”. Tentu saja, karena –Maha Besarnya Sang Pencipta– tidak ada dua orang yang punya pemikiran yang identik sama, maka tentu ada berbagai pemahaman yang muncul. Namun, nampaknya sebagian besar pemahaman itu bermuara pada Lanjutkan membaca