Category Archives: Tebaran kebaikan

2017’s Grateful Project

Good Evening, everyone!

Post kali ini akan berisi salah satu resolusi konkret saya pada tahun 2017 ini. Wah, tahun barunya kan sudah lewat setengah bulan, Parara? Well, memang terlambat sedikit sih. But nevermind, i believe there is no “too late” for sharing the good things šŸ™‚

***

Random scroll saya pada akun 9GAG di Line awal tahun kemarin menjadi muasal dari munculnya resolusi ini. FYI, saya memang cukup sering escape sejenak ke akun-akun dengan konten fun seperti 9GAG dan tahilalats setiap kali jenuh menyergap diri. 9gag kuat dengan konten lucu dan tak jarang juga mengagumkan, sedangkan tahilalats selalu berhasil menyuguhkan komik strip yang slank, yang absurd tapi kocak. Karenanya saya suka menghabiskan waktu bersama dua makhluk ini, padahal sih kalau mau jujur lebih suka sama kamu, tapi berhubung kamunya yang sibuk melulu, ya mau dikata apa (woy siapa woy Paar! ahaha).

Skip, mari kembali ke topik. Jadi saat itu saya menemukan post begini:

Lanjutkan membaca

Iklan

Berdamai dengan Rencana-Mu

Selamat AhadĀ rekan-rekan yang budiman!

Maafkan saya yang baru muncul ke permukaan. Berbulan-bulan saya (sengaja)Ā break dari blog karena suatu alasan. Siang ini, saya akan menceritakan alasan ke-vakum-an saya tersebut, sekaligus mencoba mengambil sedikit hikmah yang terserak diantaranya.

Kita mulai, ya?

***

Semua bermula saat saya menerima SK pengangkatan sebagai karyawan tetap di kantor, bulan Juli kemarin.Ā Itu artinya, genap setahun sudah saya bekerja. Genap setahun pula saya meninggalkan bangku sekolah. Sudah tiba saatnya untuk mencoba merealisasikan rencana studi saya pada jenjang sekolah yang selanjutnya.

Saya pun menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk menyiapkan segala hal yang harus disiapkan. Sebab, ternyata perkara melanjutkan sekolah pasca kita bekerja itu tak semudah yang ada dalam benak saya. Dahulu, saya berpikir akan mudah bagi seseorang yang telah bekerja untuk melanjutkan sekolah. Saya selalu mendengar orang-orang bercerita “Si kakak X tuh disekolahinĀ kantornya di Inggris” atauĀ “Om gue dulu dapet beasiswa dari kantornya dikuliahin di Ausie”. Dari cerita-cerita tentang orang yang telah bekerja dan melanjutkan studi tersebut, saya menarik benang merah berupa redaksi “disekolahkan kantor”, “beasiswa kantor”. Which is,Ā implikasinya adalah
Lanjutkan membaca


Terharu Itu Sederhana

Selamat berpuasa di hari ke-27 rekan-rekan sekalian!

Pagi ini saya sumringah betul, sebab hari ini saya mudik ke kampung halaman! Finally bisa kembali ke Sampit tercinta setelah setengah tahun. Doakan saya selamat sampai tujuan ya! šŸ™‚

image

Selain ingin berkabar tentang ke-mudik-an saya, melalui post kali Saya akan mencoba bercerita tentang hal-hal yang membuat saya terharu. Ya, di bulan ramadhan tahun ini hanya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya (sangat) terharu. Di post kali ini saya akan menceritakan dua diantaranya. Dua kejadian ini sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya tapi tetap saja sangat spesial rasanya jika terjadi — dan selalu membuat saya terharu. Baik, apakah gerangan Par, hal yang membuatmu terharu?

***
Sujud Tilawah dalam Shalat

image

image

Sumber: muslim.or.id

Betul sekali, semenjak saya membaca cerita pada buku agama islam SMP saya (yang dapat dilihat pada post ini),  ya jadi sangat terobsesi untuk merasakan Lanjutkan membaca


Too Good To Be True Events

Selamat menikmati senin malam semuanya!

Sesuai dengan apa yang saya ucap pada post saya sebelumnya yang ini, malam ini insya Allah saya akan mencoba membagi pemahaman –yang berdasar pengalaman– tentang apa yang saya sebut sebagai “Too Good To Be True Events”.

Okay then, have a pleasant read guys!

***
Pertama-tama, yuk kita definisikan dulu apa itu “Too Good To Be True Events”. Sebagai orang matematik, saya terbiasa untuk mendefiniskan dulu apapun terminologi baru muncul ke permukaan. Meskipun dengan terminologi-terminologi remeh-temeh macam kata “tergantung” dan “bergantung“. “Tergantung” itu menyatakan keadaan posisi benda, sedang “bergantung” itu menyatakan hubungan pengaruh suatu hal terhadap hal yang lain. Jadilah, orang matematik tidak pernah (atau jarang) berkata “ya tergantung, sore ini hujan apa tidak” saat ditanya “sore nanti jadi futsal?”, melainkan “ya bergantung, sore ini hujan atau tidak”.

Tuh kan, terminologi-terminologi sepele macam itu saja didefinisikan betul oleh orang matematik, gimana terminologi sakral macam “aku mencintaimu”? Pastinya dong didefinisiin dan dipraktekin nya lebih-lebih serius dari kebanyakan orang. Gimana gak beruntung coba kalo punya pasangan –hidup– orang matematik?! HAHAHAHAHA APAAN SIH SKIP

Oke oke kembali ke bahasan kita di awal, berikut adalah definisi saya tentang terminologi yang kita bahas malam ini.

Too good to be true events adalah kejadian-kejadian dimana sesuatu yang sangat-sangat kita inginkan tau-tau
Lanjutkan membaca


Adab (menjadi yang) Diberi

Happy solar-eclipse day guys!
Gimana? Tadi pagi ikutan “merayakan” euforia gerhana matahari tidak? šŸ˜€

Baiklah, kali ini saya sreg ingin membagikan secuil pemahaman hidup yg saya pahami. Semoga saja baik dan ada manfaatnya ya barang secuil pula.  Selamat membaca!

***

image

Pernahkah kalian diberi sesuatu oleh seseorang? Saya yakin pernah. Katakan kalian ultah, lalu sahabat kalian memberi kalian suatu barang sebagai kado. Atau saat kalian wisuda (bagi yang sudah tentunya, yang belum? Semangat!), kalian pasti mendapat satu atau beberapa cindera-mata, seperti sekuntum mawar merah yang kau berikan kepadaku, di malam itu, potret diri dalam bingkai, ataupun yang lainnya.

Sebenarnya tak perlu menunggu momen-momen sebesar ulang tahun atau wisuda, saya juga percaya banyak sekali momen-momen di ordinary-day dimana kalian diberi sesuatu oleh orang lain. Ayah yang pulang kantor membawakan dua bungkus Lanjutkan membaca


Lunas Sudah Jual-Belimu dengan-Nya, Roger

Salam, dan selamat malam semuanya.

roger

Malam ini, mari kita berkenalan dengan seorang sosok sederhana nan kisahnya melelehkan hati. Yang mana sosoknya, gerangan? Betul, mari kita berkenalan dengan sosok yang ada pada foto di atas.

Roger, begitu ia biasa disapa oleh segenap civitas akademika IPB. Civitas akademika katamu? Apakah beliau dosen? Tidak, tidak, beliau bukanlah seorang dosen atau yang dekat dengan itu. Beliau adalahĀ asongan yang setia menjajakan dagangannya di kawasan kampus IPB Dramaga.

Membicarakan kepopuleran Roger di IPB, seolah sebelas-dua belas saja dengan membicarakan kepopuleran Rektor kami tercinta, Prof. Herry Suhardiyanto. Mengapa bisa? Mungkin penjelasan yang paling sederhananya adalah karena cara Beliau (Roger) menjajakan dagangannya. Beliau ini cara jualannya tiada dua. Beliau berjalan kaki mengelilingiĀ kampus, dari satu fakultas ke fakultas lain, dari satu koridor ke koridor lain, dari satu kelas ke kelas lain, beliau datang, masuk dan menawarkan dagangannya kepada segenap mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Ditambah, Beliau memiliki jargon-jargon ciri khas saat menjajakan dagangan. Jargon-jargon yang terlalu pekat, terlalu identik merujuk pada sosok Beliau, sosok Roger. Jadi karena inilah, bisa dikatakan semua mahasiswa IPB mengenali Beliau.

Lalu, apa geranganĀ dagangan Beliau?

Siap-siap lah menahan napas sejenak Lanjutkan membaca


Sociopreneur dan Dua Contoh Hebatnya

Mengawali tulisan ini, saya ingin memastikan bahwa judul postingan ini sama sekali tidak ada yang salah. Betul, “sociopreneur”, bukan “entrepreneur” lho ya. Sociopreneur? Mungkin kebanyakan orang masih merasa asing dengan istilah ini, dan lebih mengenal istilah “entrepreneur”. Faktanya, dua istilah ini memang berhubungan dekat kok, tepatnya bahwa sociopreneur adalah salah satu ‘anak’ dari entrepreneur. Lalu apa itu sociopreneur secara persis?

Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namunĀ dengan misi utama menciptakanĀ social-impactĀ yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ā Sedikit lebih jauh, masyarakat kelas menengah bawah yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya telah ditentukan secara spesifik karakteristik/populasinya.

Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa entitas sociopreneur adalah irisan antara entitas entrepreneur (usaha bisnis murni) dan lembaga sosial seperti yayasan. Jika entrepeneur hanya berorientasi pada profit dan sebaliknya yayasan hanya berfokus pada mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial (tanpaĀ mengusahakanĀ sumbernya dari mana), maka sociopreneur adalah peralihan antara keduanya. Sociopreneur mengusung misi sosial, dengan tidak melupakan bagaimana dana yang diperlukan untuk kegiatan itu dapat terkumpul.

ilustrasi diagram venn sociopreneur

ilustrasi diagram venn sociopreneur

Jadi, sociopreneur secara sederhana dapat dikatakan sebagai Lanjutkan membaca


Senarai: Renungan tentang Sukses-Gagal

Salam bahagia kawan!

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa semua orang, saya yakin sudah memikirkan topik yang akan saya angkat pada posting kali ini paling tidak sekali saja. I guarantee thatĀ dengan taraf nyata limit mendekati 0%. (emang ada ya taraf nyata limit-limitan gitu). Tapi seriusan, saya yakin dan percaya setiap raga yang jiwanya masih cukup sehat pasti pernah menanyai dirinya sendiri tentang topik ini, lantas mencari pemahaman yang kiranya layak diinternalisasi bagi diri.

success (1)

Oukay, letsĀ strike to the topic then. Tengah malam ini, saya ingin berbagi sekelumit pemahaman saya tentang “Sukses-Gagal”. Iyap, topik yang klise populer binggoĀ bukan? Kalian tentu pernah, bahkan sering memikirkannya bukan? I know you so well guys (SKSD a.k.a Sok Kenal Sok Deket banget dah lu Par! šŸ˜€ )Ā šŸ™‚

***

Seperti yang sudah saya tulis di bagian mukaddimahĀ barusan, semua orang pasti punya pemahaman masing-masing tentang “Sukses-Gagal”. Tentu saja, karena –Maha Besarnya Sang Pencipta– tidak ada dua orang yang punya pemikiran yang identik sama, maka tentu ada berbagai pemahaman yang muncul. Namun, nampaknya sebagian besar pemahaman itu bermuara pada Lanjutkan membaca


Slide Bernilai 1,5 Juta

Halo semuanya! šŸ™‚

Setelah (Lagi-lagi) lama menghilang, sore ini saya tetiba ingin berbagi tentang suatu hal ikhwal yang saya rasa lumayan tak asing, apalagi di kalangan mahasiswa. Kita, para mahasiswa, tentu pernah sekali-dua mendapatkan tugas presentasi, bukan? Terlebih bagi mereka yang hobinya ikut kompetisi, mengirim paper, essay, PKM (program kreatifitas mahasiswa),Ā Ā dan segala kompetisi lainnya, pasti presentasi adalah semacam makanan pokok yang secara rutin mereka konsumsi.

Okeh, jadi ceritanya bahasan kita pada post kali ini adalah salah satu (dari dua) bagian yang tak terpisahkan dari presentasi. Siapakah dia? Slide (bahan) presentasi. Lalu apa yang satunya lagi, Par? Emmph, kasih tauw gaq eaa? Satu lainnya adalah teknik menyampaikan presentasi.

Entahlah, kebanyakan orang, menurut saya, hanya berfokus pada cara mereka menyampaikan dan menjawab pertanyaan juri (jika dalam perlombaan) saat mereka presentasi. Mereka kemudian hanya Lanjutkan membaca


Sujud Tilawah

Di suatu pagi buta, ayah seperi biasa mengajakku ke masjid di komplek rumah kami. Shalat shubuh berjamaah, itulah tujuannya. Namun, ada yang tak biasa dari shalat shubuh pagi itu. Di rakaat kedua, sang imam melantunkan surah Al-‘Alaq setelah kami, para makmum, selesai mengucap “Amiiin”. Nah, setelah ayat terakhir selesai dilantunkan, beliau mengucap takbir kemudian langsung sujud. Wah, imam lupa ruku’, benakku dalam hati. Ingin rasanya mengucap “Subhanallah” untuk mengingatkan kekhilafan imam saat itu. Tetapi, dengan segera niatan untuk mengingatkan imam itu urung ku lakukan, sebab para makmum yang lain termasuk ayah seolah bergeming saja. Setelah sujud beberapa saat, imam kemudian mengucap takbir dan kemudian ruku’. Selanjutnya shalat berjalan seperti biasa. Hatiku bertanya-tanya, ini kenapa shalat shubuhnya begini? Lanjutkan membaca