Category Archives: Kehidupan Kampus

Lunas Sudah Jual-Belimu dengan-Nya, Roger

Salam, dan selamat malam semuanya.

roger

Malam ini, mari kita berkenalan dengan seorang sosok sederhana nan kisahnya melelehkan hati. Yang mana sosoknya, gerangan? Betul, mari kita berkenalan dengan sosok yang ada pada foto di atas.

Roger, begitu ia biasa disapa oleh segenap civitas akademika IPB. Civitas akademika katamu? Apakah beliau dosen? Tidak, tidak, beliau bukanlah seorang dosen atau yang dekat dengan itu. Beliau adalah asongan yang setia menjajakan dagangannya di kawasan kampus IPB Dramaga.

Membicarakan kepopuleran Roger di IPB, seolah sebelas-dua belas saja dengan membicarakan kepopuleran Rektor kami tercinta, Prof. Herry Suhardiyanto. Mengapa bisa? Mungkin penjelasan yang paling sederhananya adalah karena cara Beliau (Roger) menjajakan dagangannya. Beliau ini cara jualannya tiada dua. Beliau berjalan kaki mengelilingi kampus, dari satu fakultas ke fakultas lain, dari satu koridor ke koridor lain, dari satu kelas ke kelas lain, beliau datang, masuk dan menawarkan dagangannya kepada segenap mahasiswa yang ada di kelas tersebut. Ditambah, Beliau memiliki jargon-jargon ciri khas saat menjajakan dagangan. Jargon-jargon yang terlalu pekat, terlalu identik merujuk pada sosok Beliau, sosok Roger. Jadi karena inilah, bisa dikatakan semua mahasiswa IPB mengenali Beliau.

Lalu, apa gerangan dagangan Beliau?

Siap-siap lah menahan napas sejenak Lanjutkan membaca

Iklan

Pararawendy, Bidikmisi dan Mimpi Pasca Kampus

Bidik Misi adalah program bantuan biaya pendidikan dan beasiswa yang dimotori oleh Ditjen Pendidikan Tinggi. Sejak diluncurkan pada tahun 2010 silam, bidik misi telah menguliahkan lebih dari seratus ribu mahasiswa yang kurang beruntung secara finansial, namun memiliki prestasi akademik yang baik. Mengusung tagline, “Menggapai Asa, memutus mata rantai kemiskinan”, bidik misi seolah benar-benar menjadi oase di tengah gurun berbentuk  dahaga-dahaga luar biasa besar dalam benak pemuda-pemudi indonesia yang haus untuk menuntut ilmu ke jenjang pendidikan tinggi, namun terganjal oleh alasan klise bernama kemiskinan.

IMG_001a

Saya, Pararawendy Indarjo, adalah pemuda dari kota kecil di Kalimantan Tengah yang beruntung bertemu dengan bidikmisi. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Bapak saya, Sularjo, adalah pegawai lapang pada bagian perencanaan dari salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang kehutanan. Ibu saya, Asih Indarti, hanya sibuk mengurus rumah alias ibu rumah tangga. Sedikit membahas pekerjaan Bapak sebagai pekerja lapang, menghitung luasan lahan, mengukur diameter batang pohon, menebas semak untuk membuka lahan perusahaan adalah tugas utama yang menjadi rutinitas yang beliau jalani sebagai pekerjaan yang dicintainya sejak tahun 1984 beliau memutuskan merantau ke kalimantan. Sekali-dua, beliau juga ikut membantu proses pemanenan/penyadapan karet perusahaan. Laiknya pekerja lapang pada umumnya, sedikit (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang bisa dibanggakan tentang penghasilan bapak. Singkatnya, keluarga kami adalah keluarga yang sederhana. Mungkin, kelihaian ibu me-manage keuangan keluarga lah yang membuat kami, ketiga anaknya dapat bersekolah laiknya anak-anak lainnya, bahkan menyekolahkan kakak saya hingga jenjang D3.

Memang, jika coba membandingkan keadaan ekonomi, saya pikir, keluarga saya masih sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan mayoritas teman-teman penerima bidikmisi lainnya. Saya pikir, kehidupan keluarga kami masih dapat dikatakan layak (secara sederhana, tentu saja). Dan mungkin fakta itu juga yang membuat saya “ditolak” sebanyak dua kali oleh panitia seleksi Bidik Misi IPB di angkatan saya. Saya baru dinyatakan sebagai penerima Bidik Misi di gelombang penerimaan yang ketiga, gelombang yang terakhir. Tentu saja, saya merasa sangat bersyukur karenanya. Bidik misi menghapus 100% kekhawatiran saya tentang ancaman ketidaklancaran studi (berkenaan dengan ihwal kewajiban administrasi).

Dengan sedikit latar belakang yang saya ceritakan tadi, tentu saja, makna bidikmisi bagi saya adalah priceless! tak ternilai! Tak pernah terbayangkan dalam benak saya sebelumnya bahwa saya bisa bersekolah di universitas sekelas IPB tanpa mengeluarkan uang serupiah pun! Tak pernah terbayang pula dalam benak saya, bagaimana ibu harus memutar otaknya lebih keras menyisihkan gaji bapak yang tak seberapa tadi untuk uang saku dan biaya kuliah saya jika saya tak berjodoh dengan bidik misi ini –walaupun ibu kala itu selalu meyakinkan saya bahwa semua (studi saya) akan baik-baik saja dengan atau tanpa bidikmisi. Karenanya, terimakasih bidikmisi, sungguh terimakasih.

Akhirnya, nyaris empat tahun berlalu. Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya saya hadiahkan ke hadirat-Nya, saya berhasil menyelesaikan studi S-1 saya di kampus rakyat ini. Terlebih, saya lulus dengan transkrip yang hanya memuat satu huruf saja, A. Benar, saya lulus dengan IPK 4.00. Saya dedikasikan pencapaian saya ini kepada orang tua saya, Bapak Sularjo, Ibu Asih Indarti, dan tentu saja kepada Bidik Misi.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, rencana saya kedepan adalah sesegera mungkin mendapatkan pegangan. Pegangan dalam artian dua, yakni mendapatkan kepastian untuk melanjutkan studi jenjang master –yang memang saya mimpikan di luar negeri– sesegera mungkin, atau bekerja. Sebab saya masih punya tanggungan satu adik untuk dikuliahkan kelak. Kalau boleh saya bercerita, harapan saya dapat berkarya di lembaga bonafit yang memungkinkan staff nya untuk melanjutkan studi. Jika ditanya lebih spesifik, saya bermimpi untuk berkarya di OJK (Ototritas Jasa Keuangan), sebab OJK adalah lembaga negara dan bidang keilmuannya relatif linear dengan latar belakang keilmuan saya (Finance, actuarial math). Sebab tentu saja, saya masih pemuda yang sama dengan pemuda empat tahun lalu yang ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, pemuda yang haus akan ilmu!


Another: Tips Belajar Menuju IPK Prima

Selamat malam semua! 🙂

Daripada bengong, yuk kita lanjutin yuk baca sequel (biar berasa film-film hollywood gitu) tulisan saya tentang materi soga gedung C2 kemarin.

Okay, seperti yang sudah kalian duga –bagi yang sudah baca tulisan sebelumnya (makanya baca woy!), tulisan kali ini seharusnya akan berisi tentang motivasi belajar menyongsong UAS. “Seharusnya”?. Ya, karena menurut saya –dan mungkin mayoritas dari kalian juga– mencari motivasi itu bukan hal yang mudah, begitupula dengan membuat materi agar orang termotivasi. Jadilah, dengan dasar penjelasan tersebut, saya sedikit melakukan improve-isasi dengan agak melebarkan topik menjadi “bagaimana cara belajar yang baik”. Semoga tidak mengurangi kebermanfaatannya yaa. 🙂

***

 

UAS is coming up. Are you ready?

UAS is coming up. Are you ready?

Sudah minggu perkuliahan keberapa sekarang? Kelima bukan? Artinya, kurang dari 20 hari lagi kalian (mentang-mentang sudah sarjana pake kata “kalian”) akan menghadapi ritual rutinan sebelum menjejak semester baru: UJIAN AKHIR SEMESTER. Bagaimana persiapan UAS kali ini, adik-adikku (songong)? Lanjutkan membaca


Soga Gedung C2 14 Mei 2015

Happy Sunday Noon Everyone!

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis 14 Mei, saya untuk kedua kalinya diminta untuk mengisi soga a.k.a social gathering gedung di asrama TPB IPB. Setelah kali pertama dulu di C3, kali ini yang beruntung (sok-sokan banget lu Par) saya sambangi adalah Asrama Putra C2. Saya di-request untuk menyampaikan materi tentang Tips Menyongsong Kehidupan Pasca TPB dan Motivasi Menghadapi UAS.

Slide1

Curcol sedikit, sebenarnya saya hampir menolak tawaran dari Kang Galih (Senior Residence yang mengundang saya ngisi soga), sebab undangan beliau yang agak dadakan. Saya baru dikabari H-1, dan beliau meminta materi dalam bentuk slide ppt. Berhubung biasanya saya kalau menyiapkan materi teh dua harian, jadi awalnya saya tidak langsung mengiyakan. Eh, tapi kemudian Kang Galih memberi keringanan, bilang tak apa tidak ada slide, nanti diskusi tanya jawab saja acaranya, okedeh saya iyakan.

Sampai H-4 jam, saya belum menyiapkan materi apapun untuk disampaikan. Saya hanya mengawang saja kira-kira apa saja pertanyaan yang bakal keluar dari insan-insan asrama di C2. Kemudian saya merasa bahwa saya harus menuliskan poin-poin yang harus saya sampaikan dalam bentuk soft-file, biar nanti diskusinya terarah maksudnya. Magically speaking, tiba-tiba saja saya

Lanjutkan membaca


Random Comeback: I Have a Dream!

Malam semua! Adakah kiranya yang masih sudi rutin melipir ke blog ini? Excuse me, did you say “rutin”, Par? Ahahaha. Ya ya. Kerajinan posting berkurang bukan berarti tingkat ke-PD-an juga berkurang, kan? 😀

Oke, baiklah. Jadi ceritanya malam ini saya akhirnya menyempatkan diri untuk mengabadikan secuil pikir yang sedang terlintas di kepala. Di tengah riuh-rendahnya pikir di beberapa bulan belakangan. Kalian yang sedang / pernah merasakan menjadi MTA a.k.a Mahasiswa Tingkat Akhir pasti mengerti arah pembicaraan kita sekarang. “kita” siapa kang? Emang siapa-sama siapa yang lagi bicara nih?

Alrite! Sebagai MTA yang alhamdulillah belum tak mau acuh dengan diri sendiri, saya sudah semestinya memikirkan lebih banyak hal dari sebelumnya. Topik pikir yang pertama dan paling utama tentu saja penyusunan skr*psi (maaf ya harus disensor, karena itu kata-kata paling tabu se- Lanjutkan membaca


Satu atau Dua?

Selamat pagi menjelang siang!

Menyongsong pemira (pemilihan raya a.k.a pemilunya anak IPB), saya ingin sedikit menulis–tentunya dalam pandangan saya–tentang momentum tahunan yang agaknya sakral ini. Ohiya, jangan lantas buru-buru men-judge  bahwa tulisan ini akan berisi dukungan saya terhadap pasangan calon tertentu ya, saya tahu betul bahwa kemarin (8 November, red) adalah hari terakhir masa kampanye. Jadi tulisan ini saya pastikan tidak memiliki niatan politis tertentu. Tulisan ini adalah bentuk keisengan saya saja bermatematika, yang saya bawa ke issue pemira. 😀

***

Kalian ingat dengan salah satu permainan tebak-tebakan dimasa kecil kita dulu?

Seseorang menyuruh kita memikirkan satu angka, terserah, kemudian dia menyuruh kita melakukan sejumlah operasi terhadap angka yang kita pikirkan tadi, lalu setelah selesai, dia dengan bangganya menebak angka apa yang menjadi hasil dari serangkaian operasi barusan. Dan dengan magis tebakannya benar! Hebat!

Nah, pada kesempatan ini saya akan mencoba memberikan penjelasan matematisnya Lanjutkan membaca


Slide Bernilai 1,5 Juta

Halo semuanya! 🙂

Setelah (Lagi-lagi) lama menghilang, sore ini saya tetiba ingin berbagi tentang suatu hal ikhwal yang saya rasa lumayan tak asing, apalagi di kalangan mahasiswa. Kita, para mahasiswa, tentu pernah sekali-dua mendapatkan tugas presentasi, bukan? Terlebih bagi mereka yang hobinya ikut kompetisi, mengirim paper, essay, PKM (program kreatifitas mahasiswa),  dan segala kompetisi lainnya, pasti presentasi adalah semacam makanan pokok yang secara rutin mereka konsumsi.

Okeh, jadi ceritanya bahasan kita pada post kali ini adalah salah satu (dari dua) bagian yang tak terpisahkan dari presentasi. Siapakah dia? Slide (bahan) presentasi. Lalu apa yang satunya lagi, Par? Emmph, kasih tauw gaq eaa? Satu lainnya adalah teknik menyampaikan presentasi.

Entahlah, kebanyakan orang, menurut saya, hanya berfokus pada cara mereka menyampaikan dan menjawab pertanyaan juri (jika dalam perlombaan) saat mereka presentasi. Mereka kemudian hanya Lanjutkan membaca


Jalan-Jalan Ke Bandung ft Gumatika

Suatu weekend di bulan Mei kemarin, tanggal 17 tepatnya, saya akhirnya berhasil mewujudkan salah satu keinginan saya, main ke bandung! 😀

Well, benar adanya kalau kalian menyimpulkan ini late-post. Biarin, saya memang sudah mengatur sedemikian rupa sehingga post ini menjadi bak pahlawan yang munculnya belakangan dan mengalahkankan sang raja iblis (ngomong opoo too, paar 😀 )

Banyak orang di luar sana (sebelah mana?) yang berkeyakinan bahwa Bogor-Bandung itu dua kota yang deket, sebelahan aja gitu. Saya sebelum ke Bandung juga berpikiran yang sama, Bogor ke Bandung paling kayak Bogor ke Depok. Et, et, itu salah besar meen. Bogor-Bandung boro-boro dibilang deket, 4 jam men, empat jam pake mobil. Sudah mirip kayak Sampit-Palangkaraya kan? Ckckck.

***

Oke, jadi judul jalan-jalan ke bandungnya kemarin itu “Aksioma 2014” (Aksi Kunjungan Mahasiswa Matematika). Yap, itu nama dari salah satu proker-nya departemen Public Relation di Gumatika Heroes 2014. Isi acaranya jelas, studi banding ke jurusan matematika di perguruan tinggi lain (baca: murni jalan-jalan hahaha). Tahun ini yang PT beruntung (?) kami samperin adalah.. jeng jeng..Institut Teknologi Bandung! uwaaw Lanjutkan membaca


Kado Wisuda Kabil & Kabon

Rabu, 25 Juni 2014

Pukul 09.07

“Viin, heer, lii, jadi gak hari ini?” tiga sms saya kirim dengan satu teks identik.

Pukul 9.50

“Lu dimana? buruu” isi sms si Aher niat banget bikin buru-buru.

“oke, gue berangkat” balas saya sekenanya.

Pukul 10.07

Saya sudah duduk manis di depan Green-Co, merengut, sebab Aher, Vina, dan Arli ternyata masih di departemen dalam rangka menyerahkan form Pembimbing Skripsi. Miskom. Mereka ternyata nyuruh buru-buru ke departemen, bukan ke Bara.

Pukul 10.27

Akhirnya trio yang ditunggu datang juga, dengan begini team sudah lengkap, kami siap memburu cindera-mata untuk hadiah Kak Bilyan dan Kak Bono yang hari ini wisuda.

Kami berempat langsung memasuki Green-Co, yang sebenarnya tak sesuai rencana. Lanjutkan membaca


Yakin “Buanglah sampah disini”, nih?

Di salah satu sudut kampus, saya menemukan pemandangan begini coba~

IMG_20140624_140053Wah waah, seharusnya urusan bak sampah bukan lah sesuatu yang berat bukan? 🙂 Lanjutkan membaca