Category Archives: Mimpi

It’s Just Too Good To Be True

Assalam. .

Alhamdulillah, rasanya tiada kata yang lebih tepat untuk memulai post ini selain dengan mempersembahkan segala pujian kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Banyak hal (baik) yang terjadi setelah saya menulis pos yang terakhir di blog ini. Dua diantaranya akan saya bagikan pada pos kali ini. Kedua hal tersebut adalah Menikah & Melanjutkan Sekolah.

Menikah

Pada tanggal 9 Juli 2017, satu milestone besar dalam hidup saya terjadi: menikah. Akhirnya jiwa dan raga saya terpaut pada seorang wanita keturunan Jawa, namun lahir dan besar di Bintaro, bernama Niken Rahmah Ghanny. 

Sedikit share highlight dari perjalanan kami menuju pernikahan, Niken sebenarnya merupakan teman semasa tingkat 1 mahasiswa, kebetulan kami dulu satu kelas saat zaman Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Walaupun teman sekelas, faktanya saya dan Niken boleh dibilang menjaga atmosfernya masing-masing alias sangat jarang bertegur sapa, alih-alih berteman dekat. Silaturahim bahkan menjadi hal yang mewah saat kami beranjak ke tingkat 2, dan seterusnya hingga lulus.

Tapi semua berubah sejak Dia, melalui timeline Line, mempertemukan jari-jari kami (halah bahasanya ya) pada awal tahun ini, tepatnya sekitar Februari. Semuanya (hubungan kami) berkembang secara bertahap dengan percepatan yang meyakinkan. Padahal, nyatanya tak satu pun tatap muka terjadi. Tapi rasanya mantab saja, anyhow. Mungkin ini kata orang: Jodoh akan mencari jalan kemantabannya sendiri.

Setelah saling berbagi visi dan pandangan akan hidup dan kehidupan, meminta restu dari orang tua, istikharah, berpikir dan merenung, serta mengulang tiga ritual terakhir berkali dan berkali. Akhirnya pada akhir April, saya mantab untuk sowan ke rumah orang tua Niken, untuk menyampaikan maksud mempersunting putri pertama mereka. Alhamdulillah, gayung bersambut meyakinkan. Lagi-lagi benar kata orang (yang sudah menikah ya): kalau jodoh, pasti segala urusan persiapan pernikahan akan lancar dengan sendirinya. Benar saja, semuanya terasa ringan dan kencang. Maka singkat kisah kami melangsungkan pernikahan selepas lebaran kemarin.

19894993_1620277504648947_483040827093777389_n

Allah, semoga Engkau meridhai pernikahan kami.

Melanjutkan Sekolah

24 Agustus, saya baru merasakan yang namanya menjejakkan kaki pada tempat yang berjarak belasan ribu kilometer dari rumah. Biidznillah, saya dapat melanjutkan studi jenjang magister di negeri kincir angin atawa tulip atawa keju, you name it lah nama lain dari The Netherland.

Perjalanan agak panjang saya selama satu tahun belakangan (saya tulis ‘agak’ karena ternyata banyak perjalanan teman-teman saya yang lebih panjang, lebih berdarah-darah dibanding saya, masya Allah) akhirnya menemui kenyataan bahwa siang hari ini tadi saya menemui assistant professor untuk berkonsultasi mata kuliah apa saja yang harus saya ambil untuk tahun pertama pendidikan master saya. Saya sungguh terharu, maka nikmat yang sebelah mana yang sanggup saya dustakan?

lalala

Jika saya rewind memori perjuangan satu tahun terakhir, bahkan lebih, yakni semenjak berkuliah di luar negeri terlintas dalam pikiran saya sebagai mimpi yang terlalu mewah, terlalu tinggi, terlalu indah untuk terwujud, too good to be true. Rasa-rasanya sudah ribuan kali batin saya membenak “Akhirnya”, “Akhirnya ya Allah”, “Allah karim, akhirnya”. Namun saya juga harus sadar bahwa “akhirnya” yang saya benak merupakan awal dari perjuangan selanjutnya, merupakan gerbang menuju check point pengembangan diri saya yang selanjutnya. Bismillah.

Semoga Allah meridhai seluruh ikhtiar yang berawal dari niat baik kita semua…

21199640_2094262453932892_511312967823601125_o

Orientasi Mahasiswa Fakultas Sains 2017

***

p.s teruntuk istriku Rahma: tunggu Mas beberapa saat ini ya, Sayang. Peluk & cium dalam doa, selalu untukmu. 

Iklan

2016 Greeting

Selamat berhari Minggu semua! 🙂

Setelah beberapa saat saya terhanyut dalam kelengahan yang mendalam –sehingga blog ini terbengkalai. Izinkan saya kembali menafkahi blog ini dengan sedikit cuap-cuap tentang tahun (baru) 2016. What?! Yeah, it’s already 2016, dude.

***

Lite Flashback of 2015

Terimakasih Allah, telah memberikan wujud terbaik 2015 kepada hamba-Mu ini. Begitu banyak peristiwa yang terjadi di tahun tempat bercokolnya Ultimate Pi Day ini, dengan nyaris semuanya adalah nikmat yang tiada terkira dari-Nya untuk saya. Apa saja emang, Par? Berikut daftar ringkasnya:

  • Ngebolang ke luar negeri.

Yap, penghulu dari semua momen super saya di tahun 2015 adalah hajatan saya bersama Geng Sin-Sum Adv Backpacker yang bertajuk berpetualang ke negeri dongeng Singapura dan Sumatera (bagi yang belum sempat baca cerita gajenya, silakan klik tulisan ini). Hajatan ini menjadi sangat spesial karena dua hal: pertama, ini adalah pertama kalinya saya menjejak kaki di luar wilayah NKRI tercinta. Kedua bertepatan dengan milad saya yang ke-21. Sedikit curcol, hajatan ini sebenarnya Lanjutkan membaca


Pararawendy, Bidikmisi dan Mimpi Pasca Kampus

Bidik Misi adalah program bantuan biaya pendidikan dan beasiswa yang dimotori oleh Ditjen Pendidikan Tinggi. Sejak diluncurkan pada tahun 2010 silam, bidik misi telah menguliahkan lebih dari seratus ribu mahasiswa yang kurang beruntung secara finansial, namun memiliki prestasi akademik yang baik. Mengusung tagline, “Menggapai Asa, memutus mata rantai kemiskinan”, bidik misi seolah benar-benar menjadi oase di tengah gurun berbentuk  dahaga-dahaga luar biasa besar dalam benak pemuda-pemudi indonesia yang haus untuk menuntut ilmu ke jenjang pendidikan tinggi, namun terganjal oleh alasan klise bernama kemiskinan.

IMG_001a

Saya, Pararawendy Indarjo, adalah pemuda dari kota kecil di Kalimantan Tengah yang beruntung bertemu dengan bidikmisi. Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Bapak saya, Sularjo, adalah pegawai lapang pada bagian perencanaan dari salah satu BUMN yang bergerak dalam bidang kehutanan. Ibu saya, Asih Indarti, hanya sibuk mengurus rumah alias ibu rumah tangga. Sedikit membahas pekerjaan Bapak sebagai pekerja lapang, menghitung luasan lahan, mengukur diameter batang pohon, menebas semak untuk membuka lahan perusahaan adalah tugas utama yang menjadi rutinitas yang beliau jalani sebagai pekerjaan yang dicintainya sejak tahun 1984 beliau memutuskan merantau ke kalimantan. Sekali-dua, beliau juga ikut membantu proses pemanenan/penyadapan karet perusahaan. Laiknya pekerja lapang pada umumnya, sedikit (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang bisa dibanggakan tentang penghasilan bapak. Singkatnya, keluarga kami adalah keluarga yang sederhana. Mungkin, kelihaian ibu me-manage keuangan keluarga lah yang membuat kami, ketiga anaknya dapat bersekolah laiknya anak-anak lainnya, bahkan menyekolahkan kakak saya hingga jenjang D3.

Memang, jika coba membandingkan keadaan ekonomi, saya pikir, keluarga saya masih sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan mayoritas teman-teman penerima bidikmisi lainnya. Saya pikir, kehidupan keluarga kami masih dapat dikatakan layak (secara sederhana, tentu saja). Dan mungkin fakta itu juga yang membuat saya “ditolak” sebanyak dua kali oleh panitia seleksi Bidik Misi IPB di angkatan saya. Saya baru dinyatakan sebagai penerima Bidik Misi di gelombang penerimaan yang ketiga, gelombang yang terakhir. Tentu saja, saya merasa sangat bersyukur karenanya. Bidik misi menghapus 100% kekhawatiran saya tentang ancaman ketidaklancaran studi (berkenaan dengan ihwal kewajiban administrasi).

Dengan sedikit latar belakang yang saya ceritakan tadi, tentu saja, makna bidikmisi bagi saya adalah priceless! tak ternilai! Tak pernah terbayangkan dalam benak saya sebelumnya bahwa saya bisa bersekolah di universitas sekelas IPB tanpa mengeluarkan uang serupiah pun! Tak pernah terbayang pula dalam benak saya, bagaimana ibu harus memutar otaknya lebih keras menyisihkan gaji bapak yang tak seberapa tadi untuk uang saku dan biaya kuliah saya jika saya tak berjodoh dengan bidik misi ini –walaupun ibu kala itu selalu meyakinkan saya bahwa semua (studi saya) akan baik-baik saja dengan atau tanpa bidikmisi. Karenanya, terimakasih bidikmisi, sungguh terimakasih.

Akhirnya, nyaris empat tahun berlalu. Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya saya hadiahkan ke hadirat-Nya, saya berhasil menyelesaikan studi S-1 saya di kampus rakyat ini. Terlebih, saya lulus dengan transkrip yang hanya memuat satu huruf saja, A. Benar, saya lulus dengan IPK 4.00. Saya dedikasikan pencapaian saya ini kepada orang tua saya, Bapak Sularjo, Ibu Asih Indarti, dan tentu saja kepada Bidik Misi.

Setelah resmi menyandang gelar sarjana, rencana saya kedepan adalah sesegera mungkin mendapatkan pegangan. Pegangan dalam artian dua, yakni mendapatkan kepastian untuk melanjutkan studi jenjang master –yang memang saya mimpikan di luar negeri– sesegera mungkin, atau bekerja. Sebab saya masih punya tanggungan satu adik untuk dikuliahkan kelak. Kalau boleh saya bercerita, harapan saya dapat berkarya di lembaga bonafit yang memungkinkan staff nya untuk melanjutkan studi. Jika ditanya lebih spesifik, saya bermimpi untuk berkarya di OJK (Ototritas Jasa Keuangan), sebab OJK adalah lembaga negara dan bidang keilmuannya relatif linear dengan latar belakang keilmuan saya (Finance, actuarial math). Sebab tentu saja, saya masih pemuda yang sama dengan pemuda empat tahun lalu yang ingin melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi, pemuda yang haus akan ilmu!


Random Comeback: I Have a Dream!

Malam semua! Adakah kiranya yang masih sudi rutin melipir ke blog ini? Excuse me, did you say “rutin”, Par? Ahahaha. Ya ya. Kerajinan posting berkurang bukan berarti tingkat ke-PD-an juga berkurang, kan? 😀

Oke, baiklah. Jadi ceritanya malam ini saya akhirnya menyempatkan diri untuk mengabadikan secuil pikir yang sedang terlintas di kepala. Di tengah riuh-rendahnya pikir di beberapa bulan belakangan. Kalian yang sedang / pernah merasakan menjadi MTA a.k.a Mahasiswa Tingkat Akhir pasti mengerti arah pembicaraan kita sekarang. “kita” siapa kang? Emang siapa-sama siapa yang lagi bicara nih?

Alrite! Sebagai MTA yang alhamdulillah belum tak mau acuh dengan diri sendiri, saya sudah semestinya memikirkan lebih banyak hal dari sebelumnya. Topik pikir yang pertama dan paling utama tentu saja penyusunan skr*psi (maaf ya harus disensor, karena itu kata-kata paling tabu se- Lanjutkan membaca


Slide Bernilai 1,5 Juta

Halo semuanya! 🙂

Setelah (Lagi-lagi) lama menghilang, sore ini saya tetiba ingin berbagi tentang suatu hal ikhwal yang saya rasa lumayan tak asing, apalagi di kalangan mahasiswa. Kita, para mahasiswa, tentu pernah sekali-dua mendapatkan tugas presentasi, bukan? Terlebih bagi mereka yang hobinya ikut kompetisi, mengirim paper, essay, PKM (program kreatifitas mahasiswa),  dan segala kompetisi lainnya, pasti presentasi adalah semacam makanan pokok yang secara rutin mereka konsumsi.

Okeh, jadi ceritanya bahasan kita pada post kali ini adalah salah satu (dari dua) bagian yang tak terpisahkan dari presentasi. Siapakah dia? Slide (bahan) presentasi. Lalu apa yang satunya lagi, Par? Emmph, kasih tauw gaq eaa? Satu lainnya adalah teknik menyampaikan presentasi.

Entahlah, kebanyakan orang, menurut saya, hanya berfokus pada cara mereka menyampaikan dan menjawab pertanyaan juri (jika dalam perlombaan) saat mereka presentasi. Mereka kemudian hanya Lanjutkan membaca


Self Remindering

Semester limas sudah di depan mata. Parara harus ngapain? bismillah…

  1. Ada Kalkulus Cup di september. Semoga bisa berdiri di podium.
  2. Ada Kompetisi Statistika Dasar, juga di september. It will be better if i start the preparation.
  3. Ada IPB Mathematics Challenge di oktober (atau november?). Hajar sudah dari sekarang.
  4. Proposal Kegiatan Mahasiswa. Mari kita buat kultur mengamen yang lebih baik.
  5. Melanjutkan job sebagai asisten. Tetap kalkulus atau metode statistik? Terserah Allah.
  6. Nyicil tugas akhir. Minimal harus tau topik lho.
  7. i just want to go abroad, indeed. 😦

i’m wondering what is the highest definition of ‘Cool’?

untuk kesekian kalinya, malam ini, saya, Pararawendy Indarjo, galau soal yang satu ini. Apa to definisi keren yang sebenarnya? -____-

***

1. Kawan SD saya ada yang bengga sekali dengan hobinya ngegame, gameholic dia memang. Doi sering share tentang dunia pgame yang ditekuninya di jejaring sodial.
Includeing komentar-komentarnya yang bernada ‘I’m so proud for being an expert gamer’. Hmm, kayaknya keren banget deh!

2. Kawan SMP saya ada yang heboh sama dunia IT, khususnya yang berbau-bau koneksi jaringan (simply: Internet). Doi yang satu ini sering banget share soal keberhasilannya dapetin tips & trik berselancar di dunia maya.
mulai dari koneksi yang super cepat (doi pernah bilang dia pernah download dengan kecepatan 400 mbps[whats!]), trik biar bisa ngenet gratis menggunakan provider ini, provider itu. Buset, Hitech banget deh skill internetnya. Cool (maybe?)!

3. Kawan SMA saya ada yang punya passion besar sama dunia magic a.k.a sulap dkk. Kawan yang satu ini aktif di komunitas magic. Otomatis, doi kayaknya proud abis sama hal-hal yang berbau begituan.
include gothic style, pernak-pernik sulap (e.g: dompet yang bisa kebakar kalo di buka [oh gosh!]). Dan tentu, doi cengar-cengir mulu kerjaannya kalo lagi unjuk gigi ke kita-kita. Apalagi kalo share soal event-event sulap.

4. Kawan SMA pula sekarang. Doi kameraholic. Buset. Akun jejaringnya dipenuhi dengan foto-foto high definition produk dari kamera DSLR (atau yang lebih tinggi). Saya kadang ngiri lho, perasaan belum pernah deh punya foto diri yang bener-bener niat dari kamera begituan. -____-

5. Kawan SMA lagi. Doi yang satu ini semenjak jadi anak kuliahan demen banget sama yang namanya ular dkk (yang saya PHOBIA terhadapnya). Foto doi lagi dikalungin ular (!), nyium keningnya cobra (!!) dengan gampang ditemui di akun jejaringnya. Dan doi kayaknya senyum bangga mulu di foto-foto (yang bikim Aem Syong) itu.

6. Sekarang temen kuliah. Saya punya temen yang luarnya kalem, terkesan masa bodoh dengan lingkungan, tapi ternyata dalemnya? Eh buset dah lu! Over-expected typically person! Doi punya blog yang pro banget. Bingung deh kapan doi nulis itu ratusan artikel yang keren gelo itu.
Blog hits nya puluhan ribu cuy! keren gila, kaga?

***

Sebenarnya masih ada banyak yang lain. Mereka, teman-teman saya yang kayaknya hidupnya pada keren semua. Jadi minder (seriusan) deh kalo ngeliat diri saya sendiri.
Anyway, saya masih galau dan belum menemukan jawaban yang saya rasa pas untuk definisi ‘keren’. So, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan tetap galau dengan itu. Berharap saya akan menjadi ‘keren’ di suatu saat nanti (semoga secepatnya). Amin.

Sekian.


Get Burned!

Malam ini saya kembali “terbakar”! Setelah tak sengaja membuka blog alah seorang kakak tingkat, saya jadi galau tingkat dewa. >.<

***

Saya teringat puluhan resolusi yang belum terwujud. Resolusi ini, resolusi itu, semuanya belum terwujud, belum terlaksanakan. Terkadang, seperti malam ini, rasanya semua mimpi itu kosong. Bingung menghinggapi, bagaimana jalan tuk mewujudkannya? Aduh, saya benar-benar bingung.

***

Ya Rabb, hanya Engkau lah yang bisa mewujudkannya untukku. Maka malam ini hatiku bersimpuh memohon pada Kekuasaan-Mu, wujudkanlah..