Author Archives: pararawendy

About pararawendy

Once A Dreamer, Always Be The One

Sedikit Tips Memenangkan IELTS 6,5

Salam semangat, para pemimpi!

Yap, tulisan ini saya dedikasikan kepada kalian yang memimpikan banyak hal, namun masih terganjal oleh sebuah handicap bernama IELTS. Handicap yang seolah menjadi pintu gerbang (yang saat ini masih tertutup rapat), menjadi sekat bagi kalian dari kota  berjudul ‘melanjutkan kuliah di luar negeri’, ‘berpartisipasi dalam konferensi insternasional’, ‘mendaftar short course‘, atau bahkan ‘melamar pekerjaan ideal’.

ielts-banner

IELTS Bukan Pilihan

Boleh jadi, kalian memang sedang mengidam-idamkan salah satu dari hal yang saya sebutkan di atas, dan kalian mendapati diri kalian (sangat) tidak mumpuni ber-casciscus Inggris dan paranoid dengan bahasa Inggris. Lantas kalian berpikir, “adakah cara menggapai impian saya ini tanpa harus menaklukkan IELTS?”.

Sayang sekali, jawaban dari pertanyaan itu adalah TIDAK. IELTS, atau secara lebih general adalah English Proficiency Certificate sudah menjadi persyaratan wajib yang digunakan sebagai salah satu parameter kelayakan untuk mendaftar banyak hal, khususnya bersekolah di luar negeri Jadi mulai sekarang, jadilah rasional. Jika kalian hendak melanjutkan sekolah di luar negeri, maka kalian harus mendapatkan skor IELTS yang memadai. Implikasi ini bernilai mutlak. Berhentilah berandai-andai “saya akan tetap bisa menggapai mimpi saya (bersekolah di luar negeri) tanpa harus pusing-pusing belajar IELTS”.

Lalu, berapa skor yang harus menjadi target? Menurut saya, 6,5 adalah batas bawah yang cukup universal. Sebab sepanjang yang saya ketahui, rata-rata institusi yang mensyaratkan IELTS memberikan batas bawah 6,0-6,5 untuk skor keseluruhan, dengan ketentuan tambahan skor minimal 6,0 untuk masing-masing section (listening, reading, writing dan speaking).

Tips Mempersiapkan Diri

Seperti yang sudah saya sebutkan, tes IELTS terdiri dari 4 sesi, yang masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri-sendiri. Berikut adalah Lanjutkan membaca

Iklan

My Journey to Holland

Assalam rekan-rekan.

Post kali ini akan menceritakan paruh kedua perjalanan saya menuju Holland (untuk bersekolah). Yakni cerita setelah babak pertama yang cukup mengharu biru. Selamat membaca!

***

Man Jadda Wa Jada.

Begitulah kira-kira satu kalimat yang mewakili keseluruhan kepingan cerita.

Setelah berhasil berdamai dengan kenyataan bahwa pendaftaran saya pada beasiswa LPDP tidak ter-record, saya tidak punya pilihan selain menunggu dengan takjim pembukaan batch selanjutnya. Dalam pada itu, membuka portal LPDP menjadi rutinitas baru saya.

Satu bulan berlalu.

“Pendaftaran beasiswa LPDP belum dibuka. Periode pendaftaran selanjutnya akan diinformasikan lebih lanjut”

Begitu kira-kira tulisan yang terdapat di  laman LPDP yang saya temui setiap kali saya membukanya.

Dua bulan berlalu.

Tidak bergeming, masih sama saja.

Hati mulai bertanya, ada apa? Kapan kah dibuka lagi? Oh mungkin awal Maret?

Jalan tiga bulan berlalu.

Lho, kok masih sama?!

mulai panik bung! Ada apakah gerangan?

Saya pun mencoba mencari keterangan dari sumber lain. Sejurus dua jurus kemudian, saya mendapat kabar dari salah seorang teman yang –ternyata– bekerja di LPDP, bahwa terdapat perubahan signifikan pada periode pendaftaran beasiswa LPDP tahun ini. Dikemukakan lah beberapa alasan yang melatarbelakangi kabar tersebut. Singkatnya, LPDP tahun ini tetap akan dibuka, namun waktunya masih tentatif.

Hah?!

Saya pias. Bagaimana bisa begini jadinya? Haruskah LoA saya defer lagi untuk kedua kalinya?  Lanjutkan membaca


It’s Just Too Good To Be True

Assalam. .

Alhamdulillah, rasanya tiada kata yang lebih tepat untuk memulai post ini selain dengan mempersembahkan segala pujian kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Banyak hal (baik) yang terjadi setelah saya menulis pos yang terakhir di blog ini. Dua diantaranya akan saya bagikan pada pos kali ini. Kedua hal tersebut adalah Menikah & Melanjutkan Sekolah.

Menikah

Pada tanggal 9 Juli 2017, satu milestone besar dalam hidup saya terjadi: menikah. Akhirnya jiwa dan raga saya terpaut pada seorang wanita keturunan Jawa, namun lahir dan besar di Bintaro, bernama Niken Rahmah Ghanny. 

Sedikit share highlight dari perjalanan kami menuju pernikahan, Niken sebenarnya merupakan teman semasa tingkat 1 mahasiswa, kebetulan kami dulu satu kelas saat zaman Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Walaupun teman sekelas, faktanya saya dan Niken boleh dibilang menjaga atmosfernya masing-masing alias sangat jarang bertegur sapa, alih-alih berteman dekat. Silaturahim bahkan menjadi hal yang mewah saat kami beranjak ke tingkat 2, dan seterusnya hingga lulus.

Tapi semua berubah sejak Dia, melalui timeline Line, mempertemukan jari-jari kami (halah bahasanya ya) pada awal tahun ini, tepatnya sekitar Februari. Semuanya (hubungan kami) berkembang secara bertahap dengan percepatan yang meyakinkan. Padahal, nyatanya tak satu pun tatap muka terjadi. Tapi rasanya mantab saja, anyhow. Mungkin ini kata orang: Jodoh akan mencari jalan kemantabannya sendiri.

Setelah saling berbagi visi dan pandangan akan hidup dan kehidupan, meminta restu dari orang tua, istikharah, berpikir dan merenung, serta mengulang tiga ritual terakhir berkali dan berkali. Akhirnya Lanjutkan membaca


Terimakasih, Bapak

Dua tahun yang lalu, aku mengenalmu, tak sengaja dan bukan mauku. Adalah maumu tuk mengenalku, ditengah banyak orang mencemooh diriku. Maumu mengenalku saja sudah membuktikan kualitas dirimu: think positive.

19 Ramadhan 1436 Hijriah, kau membuatku mengerti bahwa seleksi masuk kerja adalah sesuatu yang (bisa) sangat staight-forward, hanya dengan wawancara 45 menit saja. 

23 Ramadhan 1436 Hijriah, kau mengirimku ke Sumatera, katamu perjalanan dinas kantor. Padahal, tau apa anak ingusan tanpa pengalaman mensosialisasikan produk kantor hanya dengan 3 hari bekerja? Sesaat setelahnya, aku sadar bahwa itu caramu agar aku bisa pulang kampung berlebaran dengan orang tua dan berbangga diri berkata “Bapak, Ibu, ini THR anakmu”. 

Kau yang menyuruh supirmu mengantarku ke rumahmu, dan memilih menumpang mobil kantor untuk pulang malam-malam.  Padahal bisa saja kau dengan segala otoritasmu menyuruhku berkereta saja ke Pasar Minggu, toh juga jauh lebih cepat dan punya hak apa aku menikmati fasilitasmu? Aku (juga) baru tersadar setelahnya, kau tidak ingin aku kelelahan, berjibaku dengan sesaknya kereta jam pulang kerja.

Dan seluruh kebaikan lain yang kau lakukan kepadaku.

Dan seluruh kebaikan lain yang kau lakukan kepadaku.

Jika hidup adalah terminal persinggahan, maka terlalu banyak hal baik yang engkau  perbuat di terminal singgah ini, tibalah sudah jadwal keberangkatan kendaraan yang kau pilih untuk pergi ke tujuan. 

Terimakasih, Bapak. 

Aku percaya Bapak bahagia di tujuan.


Cara Kerja Nur-ani dan Hal yang Mempengaruhinya

Salam dan selamat malam semuanya!

Seminggu yang lalu, saya mengunggah status status ikhwal renungan saya tentang Nur-ani. Sesuatu yang saya sebut sebagai ‘self-valuating system‘ yang dimiliki oleh setiap kita. Redaksi lengkap status tersebut adalah demikian:

status

Pada tulisan versi blog ini, saya ingin menambahkan penjelasan (versi saya tentunya) tentang bagaimana cara kerja Nur-ani melakukan tugasnya sebagai ‘self-valuating system’. Namun sebelum kesana, saya ingin terlebih dahulu kita satu pemahaman tentang apa sebenarnya makhluk yang bernama Nur-ani ini.

Nur-ani adalah pengejewantahan dari seluruh nilai-nilai kehidupan yang tertanam dalam diri kita. Tentu kita semua paham apa itu nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, rendah hati, ringan tangan, ikhlas, lapang dada, disiplin, tidak mengambil hak orang lain, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka lah yang membentuk rupa dari Nur-ani kita (jika kita punya nilai-nilai tersebut).

Diagram NUrani

Pembentukan Nur-ani

Nur-ani bertindak sebagai ‘self-valuating system’ karena ia layaknya metal detector yang sering kita jumpai di bandara. Ketika seseorang dengan logam (besi) masih dikenakannya, maka metal detector akan berbunyi. Dan prosedur normatifnya adalah orang tersebut tidak boleh masuk. Masalah orang tersebut ternyata dipersilakan masuk atau tidak, sebenarnya ada pada kendali penuh petugas bandara. Sama dengan Nur-ani. Nur-ani akan ‘berbunyi’ memberi peringatan pada empunya ketika empunya hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Namun ‘bunyi’ tersebut hanya sebatas peringatan. Masalah akhirnya empunya melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut, itu terserah keputusan empunya (Ini konsep yang sejatinya punya makna yang dalam).

Selanjutnya, berikut adalah cara kerja Nur-ani yang saya coba ilustrasikan dalam 4 panel gambar berurut: Lanjutkan membaca


2017’s Grateful Project

Good Evening, everyone!

Post kali ini akan berisi salah satu resolusi konkret saya pada tahun 2017 ini. Wah, tahun barunya kan sudah lewat setengah bulan, Parara? Well, memang terlambat sedikit sih. But nevermind, i believe there is no “too late” for sharing the good things 🙂

***

Random scroll saya pada akun 9GAG di Line awal tahun kemarin menjadi muasal dari munculnya resolusi ini. FYI, saya memang cukup sering escape sejenak ke akun-akun dengan konten fun seperti 9GAG dan tahilalats setiap kali jenuh menyergap diri. 9gag kuat dengan konten lucu dan tak jarang juga mengagumkan, sedangkan tahilalats selalu berhasil menyuguhkan komik strip yang slank, yang absurd tapi kocak. Karenanya saya suka menghabiskan waktu bersama dua makhluk ini, padahal sih kalau mau jujur lebih suka sama kamu, tapi berhubung kamunya yang sibuk melulu, ya mau dikata apa (woy siapa woy Paar! ahaha).

Skip, mari kembali ke topik. Jadi saat itu saya menemukan post begini:

Lanjutkan membaca


Tentang Kehilangan

Selamat malam blog-walkers yang baik hatinya! 🙂

Pada post kali ini, saya akan bercerita soal kejadian yang saya alami pada penghujung tahun 2016 kemarin. Ahya! It’s 2017 already guys, happy new year anyway! Kejadian yang mungkin –dan memang– pantas dibilang annoying sih. Weh, kejadian apakah, Parara?

Kecopetan

*hening sejenak*

***

Jumat, 30 Desember 2016

Saya membangunkan adik, Akbar Indarjo, dan menyuruhnya mandi. Hari itu sudah saya agendakan menjadi agenda inti dari liburan akhir tahunnya –sekaligus menengok abangnya– di Jakarta. Kami (terutama Akbar) senang, akhirnya ia bisa benar-benar berlibur akhir tahun di Jakarta, sebab rencana yang sama tahun lalu batal dikarenakan satu dan lain hal. Maka setelah packing seperlunya dalam satu tas ransel dan sarapan, kami berangkat menuju Jungle-land Bogor.

Di Stasiun Juanda, saat baru saja sampai, saya spontan memberitahu Akbar tentang rule utama membawa tas di tempat keramaian –dan di kota besar– : menaruh tas di depan badan. Ah, mungkin ini pertanda yang pertama. Lanjutkan membaca


Prosa Tanpa Nama

Kau,
Kau yang duduk takjim di depan meja kerjamu. Kuamati, sekali dua telunjuk kananmu kau angkat ke pelipis, membenarkan letak kacamata. Frame lengkung lumayan tebal dengan lensa berbentuk oval. Ku tebak mata lebarmu minus dua.

Kau,
Kau yang lebih banyak diam. Kucatat, kau lebih suka mengangguk perlahan sambil mengamati sumber suara dengan seksama. Bukan, bukan karena kau tak paham. Aku tau persis –setelahnya– kau sangat cakap dalam banyak hal. Hanya saja sepertinya kau tau betul kapan harus menyuarakan uneg-unegmu dan kapan harus membiarkannya tersimpan rapi dalam benakmu saja.

Kau,
Kau yang selalu menawarkan bantuan dengan tulus. Perduli apa bertumpuk file kerja yang selalu mengantri memintamu untuk kau selesaikan? Nyatanya kau selalu tersedia disana, tempat dimana aku dan semua orang butuh bantuan. Tanpa sedikitpun menggerutu, walaupun kadang kau harus mengulang jawaban satu pertanyaan yang sama berkali-kali. Tulus.

Kau,
Kau yang pertama memujiku tanpa sanepan-sanepan tersirat seperti kebanyakan orang. Pujian yang membuatku mengerti bahwa apresiasi berdampak signifikan pada performa siapapun, pada posisi apapun. Aku sungguh mengingat dengan jelas, detik demi detik percakapan kita hingga kau mengeluarkan pujian itu, lengkap dengan nada suaramu yang sarat dengan ketulusan.

Kau,
Kau yang mengajarkanku bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing, dan orang lain tak wajib tau atas ujian kita –lantas menuntut mereka empati.

Kau yang mengajarkanku bahwa ujian hidup bukan menjadi alasan tuk tak menampilkan sisi hati terlembut kita pada semua orang.

Kau yang mengajarku bahwa sebagai hamba, kita sama sekali tak pantas untuk protes (terlalu) keras atas skenario-Nya.

Terima kasih.

***

“Terengah-engah ku berlari, dari rasa yang harus ku batasi…”


Berdamai dengan Rencana-Mu

Selamat Ahad rekan-rekan yang budiman!

Maafkan saya yang baru muncul ke permukaan. Berbulan-bulan saya (sengaja) break dari blog karena suatu alasan. Siang ini, saya akan menceritakan alasan ke-vakum-an saya tersebut, sekaligus mencoba mengambil sedikit hikmah yang terserak diantaranya.

Kita mulai, ya?

***

Semua bermula saat saya menerima SK pengangkatan sebagai karyawan tetap di kantor, bulan Juli kemarin. Itu artinya, genap setahun sudah saya bekerja. Genap setahun pula saya meninggalkan bangku sekolah. Sudah tiba saatnya untuk mencoba merealisasikan rencana studi saya pada jenjang sekolah yang selanjutnya.

Saya pun menyingsingkan lengan baju, membulatkan tekad untuk menyiapkan segala hal yang harus disiapkan. Sebab, ternyata perkara melanjutkan sekolah pasca kita bekerja itu tak semudah yang ada dalam benak saya. Dahulu, saya berpikir akan mudah bagi seseorang yang telah bekerja untuk melanjutkan sekolah. Saya selalu mendengar orang-orang bercerita “Si kakak X tuh disekolahin kantornya di Inggris” atau “Om gue dulu dapet beasiswa dari kantornya dikuliahin di Ausie”. Dari cerita-cerita tentang orang yang telah bekerja dan melanjutkan studi tersebut, saya menarik benang merah berupa redaksi “disekolahkan kantor”, “beasiswa kantor”. Which is, implikasinya adalah
Lanjutkan membaca


Terharu Itu Sederhana

Selamat berpuasa di hari ke-27 rekan-rekan sekalian!

Pagi ini saya sumringah betul, sebab hari ini saya mudik ke kampung halaman! Finally bisa kembali ke Sampit tercinta setelah setengah tahun. Doakan saya selamat sampai tujuan ya! 🙂

image

Selain ingin berkabar tentang ke-mudik-an saya, melalui post kali Saya akan mencoba bercerita tentang hal-hal yang membuat saya terharu. Ya, di bulan ramadhan tahun ini hanya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya (sangat) terharu. Di post kali ini saya akan menceritakan dua diantaranya. Dua kejadian ini sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya tapi tetap saja sangat spesial rasanya jika terjadi — dan selalu membuat saya terharu. Baik, apakah gerangan Par, hal yang membuatmu terharu?

***
Sujud Tilawah dalam Shalat

image

image

Sumber: muslim.or.id

Betul sekali, semenjak saya membaca cerita pada buku agama islam SMP saya (yang dapat dilihat pada post ini),  ya jadi sangat terobsesi untuk merasakan Lanjutkan membaca