Category Archives: Ramadhan

Terharu Itu Sederhana

Selamat berpuasa di hari ke-27 rekan-rekan sekalian!

Pagi ini saya sumringah betul, sebab hari ini saya mudik ke kampung halaman! Finally bisa kembali ke Sampit tercinta setelah setengah tahun. Doakan saya selamat sampai tujuan ya! 🙂

image

Selain ingin berkabar tentang ke-mudik-an saya, melalui post kali Saya akan mencoba bercerita tentang hal-hal yang membuat saya terharu. Ya, di bulan ramadhan tahun ini hanya mengalami beberapa kejadian yang membuat saya (sangat) terharu. Di post kali ini saya akan menceritakan dua diantaranya. Dua kejadian ini sebenarnya sudah pernah saya alami sebelumnya tapi tetap saja sangat spesial rasanya jika terjadi — dan selalu membuat saya terharu. Baik, apakah gerangan Par, hal yang membuatmu terharu?

***
Sujud Tilawah dalam Shalat

image

image

Sumber: muslim.or.id

Betul sekali, semenjak saya membaca cerita pada buku agama islam SMP saya (yang dapat dilihat pada post ini),  ya jadi sangat terobsesi untuk merasakan Lanjutkan membaca

Iklan

Flash Note: Rangkaian Mudik Lebaran 1435 H

Hellow Guys. 🙂

Langsung saja yaa, malam ini saya ingin posting tentang rangkaian mudik saya tahun lalu. Ya, agaknya memang sudah terlanjur menjadi momen yang berumur. Tapi tak apalah, yang berumur belum tentu tak menarik bukan? (kode?) Saya harus memenuhi janji diri yang sudah kadung (terlanjur, bahasa jawa, red) terucap. 😀

***

Menyambut lebaran tahun lalu, saya bertekad untuk kembali mensukseskan gerakan yang saya sebut dengan 3M (Mumpung Masih Muda). Tentu saja, konotasi yang tepat untuk makna gerakan 3M ini adalah “saya harus mensyukuri nikmat masa muda saya, periode otot kawat tulang besi (gatot kaca?) dengan mencoba (baca: menjelajah) banyak hal –tempat– baru”.

Saya telah membuat keputusan, bahwa rute mudik saya kali ini (saat itu, red) harus lebih panjang dari yang sudah-sudah. Jadilah, saya membuat rangkaian mudik yang disisipi dengan nuansa-nuansa liburan gitu. Singkat kisah, saya memilih Solo sebagai pos pertama,  Magetan sebagai pos kedua, dilanjut dengan Surabaya di pos ketiga dan Banjarmasin sebagai pos keempat sekaligus terakhir sebelum mencapai puncak mahameru Sampit, kampung halaman saya. Whoa! Buset lu Par itu mudik apa fieldtrip jurusan? Jadi lu liburan di empat kota dulu sebelum pulang? 😀

inilah penampakan rute rangkaian mudik lebaran 1435 saya kemarin :-)

inilah penampakan rute rangkaian mudik lebaran 1435 saya kemarin 🙂

Lanjutkan membaca


Sepuluh Hari Ketiga Ramadhan 1434 Hijriah

Terbangun dari siang hari ini, saya tiba-tiba teringat akan project tiga tulisan saya. Ya, ptoject untuk menulis 3 post yang masing-masing meliput hal-hal apa saja yang saya jalani per sepuluh hari di Bulan Ramadhan 1423 H. Dua tulisan sudah saya selesaikan, yakni Sepuluh Hari Pertama Ramadhan 1434 Hijriah dan Sepuluh Hari Kedua Ramadhan 1434 HijriahOke, insya Allah sore ini saya ingin menuntaskan untuk tulisan yang terakhir. Karena ini late posting, saya mungkin akan melupakan beberapa hal yang seharusnya bisa saya ceritakan, saya hanya akan menulis hal-hal yang saya ingat saja.

***

Mengawali tulisan ini, saya ingin berdoa. Mengingat apa sabda nabi, sepuluh hari terakhir itu adalah itqun minan naar, dijauhkan dari api neraka. Ya Rabb, semoga hamba-Mu termasuk dalam golongan yang disabdakan oleh Nabi ini. Amiiin.

Oke, yang saya ingat, tema sepuluh hari terakhir ramadhan 1434 H kemarin itu adalah evaluating. Banyak hal yang perlu dievaluasi. Banyak. Lanjutkan membaca


Berkeliling Kota Mentaya

Good afternoon guys!

Sore ini saya insya Allah ingin melunasi janji saya yang telah saya utarakan pada tulisan “Catatan pra-mudik 1434H”.  Benar! saya akan menulis tentang jalan-jalan keliling Sampit, Kota Mentaya.

***

2013-08-28 06.09.49

Di suatu sore, saya bersama adik saya Akbar Indarjo memutuskan untuk ngabuburit berkeliling kota. Sesuai dengan kebiasaan, saya memilih rute favorit.

Rumah – Bundaran KB – Jalan Kembali – Menyusuri pinggir Sungai Mentaya – Masjid Jami – PPM (Pusat Perbelanjaan Mentaya) – Bandara H. Asan – Stadion 29 November – bundaran Polisi – Rumah. 

Nah, kita mulai dengan Bundaran KB. Seperti yang ada dalam benak kalian, KB disini adalah singkatan dari Keluarga Berencana. Entah. Saya yang orang sampit asli juga masih heran dan tak mengerti apa alasan pemerintah daerah membangun Bundaran KB ini.   Lanjutkan membaca


Hijab

Happy 22nd Ramadhan everyone! 🙂

Tulisan ini ditujukan terutama pada diri penulis pribadi. Sebagai bahan pembelajaran.
***
Apa kepanjangan dari IPB? Tentu mayoritas dari kalian akana menjawab “Institut Pertanian Bogor”, bukan?

Nah, bagi kalian yang belum tau, IPB itu punya banyak kepanjangan lain lho! Salah tiganya adalah Institut Pleksibel Banget, Institut Perbankan Bogor dan Institut Pesantren Bogor.  😀

Pada tulisan ini saya akan sedikit cerita tentang salah satu hal di IPB yang ikut menjadi muasal kepanjangan yang terakhir, Institut Pesantren Bogor. Hal apakah itu?

Hijab

Mengutip dari fmghifari.blogspot.com, saya dapatkan definisi sebagai berikut.

Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Ta’rifat mendefinisikan al-Hijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti man’u yaitu mencegah. Al-Zabidy dalam kitabnya Taj al-‘Urus mengartikan hijab sebagai sedgala sesuatu yang menghalangi antara kedua belah pihak.

Pada kenyataannya, sebagian besar dari kita saat mendengar kata “hijab” akan cenderung reflek memikirkan “jilbab”. Singkatnya, sebagian besar dari kita mengindentikkan hijab dengan urusan akhwat (wanita). Tapi dengan membaca definisi hijab di atas, ternyata hijab itu luas cakupannya. Hijab itu bukan sekadar soal jilbab. 🙂

Memaknai definisi tersebut, hijab jelas juga merupakan urusan ikhwan (pria). Para ikhwan berhijab dengan berusaha menahan pandangannya (menundukkan pandangan) pada akhwat. Hal ini perlu agar proses berhijab jalan dari kedua sisi. Sehingga tujuan hijab cenderung lebih dapat tercapai.
***

Beruntungnya saya sekolah di IPB. Lingkungannya yang islami sedikit banyak mendidik saya luar dan dalam (insya Allah). Salah satu bukti keislamian di kampus ini adalah gambar berikut.

dibalik sana tempatnya akhwat

dibalik sana tempatnya akhwat

foto diambil setelah akhwat sudah keluar ruangan

foto diambil setelah akhwat sudah keluar ruangan

Kalian tentu biasa membaca papan (atau yang semacamnya) yang bertuliskan larangan berdekat-dekatan antar pria dan wanita di dalam masjid. Tapi gambar diatas diambil bukan di dalam masjid. Yang dijadikan hijab pada gambar di atas adalah sebuah bekas dekorasi gabus dari suatu acara. Suatu sore saya berada di sana dan semula tidak ada hijab di ruangan tersebut, tapi sesaat kemudian salah seorang teman di ruangan tersebut mengambil dekorasi gabus dan menegakkannya di tengah ruangan, menjadi sekat. Katanya, ada akhwat yang ingin masuk, ada sesuatu yang perlu diurus. Jadilah dekorasi gabus itu menjadi hijab dadakan.

Saya sungguh terinspirasi dari kejadian tersebut. Kesadaran teman-teman di sini soal berhijab ternyata sudah mumpuni. Subhanallah.. 🙂

semangat berhijab!

dihilangkannya bagian  koran yang memuat foto wanita (tempat: mading Alhurr)

dihilangkannya bagian koran yang memuat foto wanita (tempat: mading Alhurr)


Sepuluh Hari Kedua Ramadhan 1434 Hijriah

Selamat puasa semuanya! 🙂

Tulisan ini adalah bagian kedua dari project tiga tulisan saya mengenai liputan perjalanan Ramadhan tahun ini. Bagi kalian yang belum membaca bagian pertamanya, silakan klik disini. Tak terasa sudah saja terlewati ‘babak semifinal’ ini.

***

Sepuluh hari kedua Ramadhan tahun ini itu temanya Optimizing.

Ada cukup banyak hal yang terjadi di sepuluh hari kedua ini. Berikut saya akan ceritakan masing-masing sebisa dan seingat saya.

Soal makan sahur, tidak ada yang berubah. Ibu Kos selalu setia membangunkan dan menyiapkan santap sahur. Ohya, di sepuluh hari kedua ini ada kudapan yang menjadi Top Menu: Sayur Asem Ikan. Berhubung saya tidak tahu apa nama ikannya, jadilah saya tulis cuman begitu 😛 . Yang pasti ikan sungai, rasanya Joss sodara-sodara! Thanks Bu Koos! Tapi kudapan ini bikin saya jadi homesick, soalnya Umi juga jago masak beginian. 😦

top menu

Soal buka bersama Alhurriyyah, juga tak banyak perubahan. Saya masih setia hadir di kajian sore menjelang buka, lalu kemudian dilanjutkan dengan buka bersama. Peserta buka Alhurr di sepuluh hari kedua ini justru ramai-ramainya. jadilah, saya hanya tiga kali mendapatkan kupon makanan berat. (Luruskan niat woy!):-D

rame benget, kan?

rame benget, kan?

di hari keduapuluh, saya dapat nomor 001 :)

di hari keduapuluh, saya dapat nomor 001 🙂

Kemudian soal ngajar-mengajar. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan amanah menjadi pengajar di program tutorial matrikulasi Salam ISC 2013. Dan kabar baiknya, di dua pertemuan terakhir, murid saya nambah! Senangnyaa! 🙂

ki-ka: Wildan  (baru), Oki (baru), Deva dan Dhityo

ki-ka: Wildan (baru), Oki (baru), Deva dan Dhityo

Oiya, saya juga diberi kesempatan untuk menyediakan soal untuk Try Out mereka. Sepuluh soal Landasan Matematika pun saya ketik rapi. Tetapi ada sedikit miss kepahaman. Karena instruksi panitia yang secara eksplisit hanya meminta saya membuat soal, saya tak merasa diminta menjadi pembahas di Try Out. Eh, ternyata pernyataan itu sudah sepaket, buat soal+ jadi pembahas. Dan saya baru tahu kepanikan panitia (menunggu saya yang tak kunjung datang di Lokasi Try Out) pada H-15 menit pembahasan, dan posisi saya suram, belum mandi. Jadilah saya reflek mempersiapkan diri, buru-buru. Tapi Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. 🙂

Agenda yang lain, saya mengikuti buka bersama dengan teman-teman seperjuangan, Keluarga Besar Matematika 48. Tempatnya di kontrakan salah seorang teman yang lumayan jauh. Sayang, saya lupa mendokumentasikan momen-momennya. Tidak bisa saya bagi deh. -___-

Satu lagi, agenda tak terencana, ngabuburit ke Desa Carangpulang, salah satu desa lingkar kampus IPB. Ngabuburit yang gak jelas sih sebenarnya. -___-

narsis bareng Dedi :D

narsis bareng Dedi 😀

kebooo :D

kebooo 😀

***

Oya, progress report azzam saya di sepuluh hari kedua ini cukup memuaskan (Amiiin). Qur’an tercinta menyisakan Juz ‘Amma untuk dibaca, program sedekah (sedekah itu luas sekali lho) insya Allah lancar, muroja’ah juga Alhamdulillah sudah beberapa kali dilaksanakan. Tapi soal menambah hapalan belum banyak kemajuan, sepertinya harus saya kejar di sisa-sa ramadhan ini. -___-

Bismillah…


Sepuluh Hari Pertama Ramadhan 1434 Hijriah

Dalam rangka menyemarakkan Ramadhan tahun ini, saya berencana meresume keberlangsungan pelaksanaan Ramadhan 1434H dalam tiga tulisan. Masing-masing berisi rangkuman serba-serbi kegiatan yang saya jalani per sepuluh hari. Yap, tulisan ini adalah bagian pertama dari mereka. 🙂

***

Penuh rahmat

Segala puji hanya milik Allah, tidak terasa sepuluh hari sudah terlewati. Apa kata Rasul

10 hari pertama Ramadhan adalah rahmat, 10 hari berikutnya adalah pengampunan dan 10 hari terakhir adalah pelepasan Dari azab neraka

Tidak diragukan lagi kebenaran apa yang diucap Rasulullah tersebut. Saya merasakan begitu banyak rahmat, nikmat yang dilimpahkan-Nya di sepuluh hari pertama ini. Berikut saya mencoba menuliskan sedikit, dan hanya sedikit dari rahmat yang begitu banyak tersebut.

Saya mulai dengan “santap sahur”. Alhamdulillah, tahun ini, sama seperti tahun lalu, Ibu Kos berbaik hati menyiapkan lauk untuk santap sahur. Tanpa alpa, beliau menghidangkan kudapan telur, ayam, ikan dan yang lainnya beserta sayur setiap waktu sahur. Lengkap dengan membangunkan kami, para penghuni Cempaka 17. “Parara, bangun.. bangun.. Sahur.”. Keren sekali beliau. B-)

Kemudian soal “buka”. Tidak kalah hebat (nikmat yang diberikan-Nya). Sepuluh hari pertama ini nyaris saya selalu mendapat takjil cuma-cuma. Masjid kampus, Alhurriyyah, seperti tahun-tahun sebelumnya, menyelenggarakan kajian keislaman rutin yang diikuti dengan buka puasa bersama. Yang menambah hebat, tahun ini disiapkan pula makanan berat secara rutin. Seratus lebih nasi kotak disiapkan setiap harinya. Jadilah, saya beberapa kali di sepuluh hari pertama ini murni mendapatkan makanan berbuka dari Alhurriyyah saja. 🙂

suasana buka Alhurr saat mahasiswa angkatan 50 berhalangan hadir

suasana buka Alhurr saat mahasiswa angkatan 50 berhalangan hadir

saya dan Bang Benny di buka perdana Alhurr

saya dan Bang Benny di buka perdana Alhurr

makanan berat gratis pertama :p

makanan berat gratis pertama :p

 

kupon makanan berat Alhurr yang saya dapat

kupon makanan berat Alhurr yang saya dapat

Nah, kalau yang tadi selalu berhubungan dengan makanan, sekarang saya tulis yang lain. Kenyamanan berpuasa. Itulah yang saya rasakan pada sepuluh hari pertama ini. Kenyamanan itu terbentuk dari banyak hal. “Salah dua” dari faktor-faktor tersebut adalah saya merasakan pikiran saya yang cenderung lebih jernih, pembawaan diri yang lebih tenang. Sepuluh hari pertama ini alhamdulillah, saya merasa ringan melaksanakan berbagai kegiatan.

Kemudian berbicara tentang tulisan saya Azzam di Ramadhan 1434 Hijriah. Alhamdulillah, beberapa poin di tulisan tersebut sedang dalam proses pelaksanaan. Saya resmi mengajar tutorial matrikulasi Salam ISC untuk mata kuliah LM (Landasan Matematika). Walaupun jumlah murid saya berkurang jauh dari tahun lalu, dari tujuh (atau delapan?) menjadi hanya dua di tahun ini, saya senang karena tetap bisa mengajar. Kalian tau? Menjadi pengajar di tutorial matrikulasi Salam ISC memang selalu spesial. Ada hal yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. 🙂

Tentang tilawah Qur’an. Alhamdulillah, saya malam ini baru saja menyelesaikan surah ke 19, surah Maryam. Ada sesuatu yang keren soal tilawah Qur’an ini. Bukan. Bukan saya yang keren, melainkan adik saya tercinta Akbar Indarjo. Di hari keempat puasa kemarin, saya ditelepon rumah dan Umi bilang kalau Akbar sudah juz 15. Subhanallah, saya langsung speechless saat itu. Abangnya kalah jauh, baru bisa menyusul di hari kesepuluh. -___-

Selanjutnya di sepuluh hari pertama puasa ini, saya juga terhitung dua kali melakukan buka bersama (di luar Alhurriyyah). Yang pertama adalah saat hari kelima, hari minggu kemarin, buka puasa bareng para pengajar tutorial Salam ISC. Dan yang kedua adalah bareng anak-anak ikhwan matematika 48. Buka bersama yang kedua ini mengambil tempat di Agri Park. Karena buka bersama inilah saya jadi tahu yang mana yang namanya Taman Kencana dan Lapangan Sempur (ketauan gak gaulnya). Tapi buka bersama ini juga kontroversial terhadap salah satu poin azzam saya di Ramadhan tahun ini. Ada insiden yang terjadi -___-. Namun, semoga saya tidak terhitung melanggar poin azzam tersebut. Amiiin.

agripark views

agripark views

agri park bogor

 

bersama adam

bersama adam

pada sibuk milih menu

pada sibuk milih menu

belum puas di AgriPark, disambung di McDonald's nyam nyam

belum puas di AgriPark, disambung di McDonald’s nyam nyam

ini ni awal mula insiden -__-

ini ni awal mula insiden -__-

 

Oke, mungkin itulah beberapa hal yang dapat saya tulis tentang sepuluh hari pertama Ramadhan 1434H. Tentu masih banyak sekali rahmat lainnya. Tak terhitung jumlahnya. Saya tidak bisa, dan memang tidak akan bisa menuliskannya semua disini.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya (QS An-Nahl:18)


Jangan Bohong, Lagi Puasa!

Selamat puasa semuanya! Semoga kualitas puasa kita semakin baik dari hari ke hari ya 🙂

Latar belakang saya menulis tulisan ini adalah suatu scene memori di masa-masa MPKMB (Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru) Angkatan 48 dulu. Suatu saat pada barisan pra-mobilisasi menuju GWW (Graha Widya Wisuda), ada seseorang (atau beberapa) kakak panitia yang berkata “Jangan berbohong dek, bulan puasa ini”.

***

Kalimat tersebut menggelitik saya hingga saat ini. Jangan bohong, bulan puasa ini. Setiap mengingat kalimat tersebut, selalu muncul pertanyaan yang sama dalam benak saya, “Lalu, jika bukan bulan puasa, apakah kita ‘dibolehkan’ berbohong?”. Pertanyaan saya tersebut retorik, bukan? 🙂 Karena sudah barang tentu jawabannya “TIDAK”.

Tetapi pada kenyataannya, saya tidak jarang mendapati kalimat-kalimat ‘bernada’ sama seperti kalimat tersebut di setiap Ramadhan. Salah satunya saya dapati beberapa hari yang lalu saat browsing di suatu news-site, saya mendapati artikel berjudul “Gubernur: PNS Jauhi Saling Fitnah Selama Ramadhan”. Sontak setelah membaca judulnya, keluar pula pertanyaan ‘senada’ dalam benak saya “Lalu, apakah di luar bulan puasa PNS tersebut boleh berfitnah-ria?”.

Well. Saya sepenuhnya menyadari bahwa kalimat-kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. Saya tahu kalau perbuatan-perbuatan tercela semacam itu dapat mencederai pahala puasa. Tetapi kemudian, apakah perbuatan-perbuatan tercela itu tidak kenapa-kenapa dilakukan saat kita tidak sedang berpuasa? Tentu tidak, bukan? 🙂

Saya tergelitik, karena kalimat-kalimat seperti itu seakan-akan menjawab “Ya, tidak masalah kalau di luar bulan puasa” pada pertanyaan saya yang terakhir. Kita harus alim di bulan puasa, dilarang berbuat buruk. Lalu jika bulan puasa telah berakhir, larangan tersebut seolah hilang saja.

Bulan puasa adalah bulan penempaan diri. Penempaan menjadi yang lebih baik dari segala sisi. Apalagi akhlak. Tujuan besarnya adalah kita menjadi sosok yang istiqomah dalam kebaikan, pun dalam menghindari keburukan. Tidak suka berbohong pada saat Ramadhan ya berlajut pula saat di luar ramadhan. Tidak saling fitnah juga demikian. Dilakukan secara istiqomah juga pada sebelas bulan lainnya

Sudah saatnya kita tidak mendikotomikan bulan-bulan. Jangan lagi ada anggapan bahwa ada bulan yang strictly melarang kita berbuat buruk, namun ada bulan yang seolah fine-fine saja menjadi latar waktu kita melakukan hal-hal buruk. Itulah poin yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini. 🙂

Terakhir, saya teringat perkataan Prof. Anja Meryandini, dosen biologi saya waktu TPB (Tingkat Persiapan Bersama) dulu. Saya tidak mengingat sempurna redaksi beliau, tapi intinya kurang lebih sama.

Setiap perbuatan, tidak peduli sekecil apapun perbuatan itu, hanya memiliki satu nilai: baik ataukah buruk. Tidak ada yang namanya perbuatan setengah buruk, atau seperempat baik misalnya. Jadi, tugas kita adalah mengidentifikasi perbuatan itu dengan tepat, lalu lakukan yang baik dan hindari yang buruk. — Prof. Anja

 


Tentang Tidurnya Orang Puasa

Ramadhan kian mendekat 🙂 . Di H-3 menuju bulan puasa 1434 Hijriah ini saya akan mencoba menulis sesuatu tentang ramadhan. Sebab saya memang sudah berencana untuk menulis tulisan yang bertemakan “puasa dan serba-serbinya” dalam periode ini, mencoba untuk bersinergi.

Well, sejatinya intisari tulisan ini adalah sesuatu yang klasik. Saya hanya mencoba menuliskannya kembali dengan bahasa saya.

Kalian semua tentu sudah pernah mendengar satu hadis yang isinya seperti ini kurang lebih seperti ini berikut.

Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya terkabulkan dan amalannya dilipat gandakan

Saat saya menulis tulisan ini, saya sadar bahwa status hadits ini masih diragukan. Apakah shahih ataukah dhaif. Namun, terlepas dari itu, saya pribadi menilai bahwa tidak ada salahnya menganggap hadits tersebut benar. Namun seharusnya didasari dengan beberapa catatan pemahaman. Pemahaman yang baik.

Pemahaman itu lah yang ingin saya bagikan lewat tulisan ini.

***

Saya pertama kali mendengar hadits tersebut kalau tidak salah saat saya masih menjadi siswa sekolah dasar, sudah lama sekali. Waktu itu berpuasa adalah barang yang relatif masih baru bagi saya. Karena seingat saya, saya baru aktif berpuasa ramadhan sehari penuh itu kelas dua sekolah dasar.

Saya, waktu itu, kemudian sering mendengarkan Umi beberapa kali mengatakan kembali hadits tersebut ke saya. Umi sering sekali mengucapkan hadits tersebut saat saya lagi bertingkah (nakal, red) di tengah hari saat puasa.

“Kata Nabi, tidurnya orang puasa itu ibadah lho, Nak. Coba daripada bertingkah gitu, memancing temennya berkurang pahala puasanya, mending kamu tidur. Dihitung ibadah, dapat pahala.”

Saya ingat betul perkataan Umi itu. 🙂

Merenugni perkataan Umi, sampailah pada pemahaman yang pertama. Tidurlah jika tidak ada kegiatan baik (bermanfaat) yang dapat kita lakukan. Atau dengan bahasa lain, tidurlah saat kita cenderung ingin berbuat sesuatu yang sia-sia, tidak ada gunanya (seperti nakalnya saya tadi). Daripada melakukan sesuatu yang dapat mengurangi kekhusyukan berpuasa, tidur akan lebih baik.
Selanjutnya, hadits ini di lapangan kerap kali ‘disalahgunakan’. Banyak orang yang kemudian menggunakan hadits ini sebagai ‘tameng’ pembenaran untuk mengisi hari-hari di bulan Ramadhan, lalu menganggap bahwa mengisi puasa dengan tidur itu sudah sangat cukup. Woi! Tentu bukan begitu. Tidur itu memang ibadah, tapi ibadah yang paling minimum.

Seperti yang salah seorang teman saya katakan, “Bulan puasa itu bulan dimana diadakan diskon besar-besaran terhadap pahala”. Jadi seharusnya, kalimat yang menjadi implikasi logis dari hadits ini adalah “Ayo semangat beribadah di bulan Ramadhan! Lha wong tidur saja itu lho dinilai ibadah, apalagi kalau kegiatan yang dalam keseharian memang sudah dinilai sebagai ibadah”. Itu baru benar!

Nah, itu lah poin pemahaman yang kedua. Pahamilah bahwa tidur yang dimaksud dalam hadits ini itu adalah satu hal minimum untuk mendapatkan pahala di bulan ramadhan. Jadi, selama kita mampu melakukan ibadah yang ‘lebih hebat’ dari tidur, kenapa tidak kita lakukan? 🙂

diagram analogi sederhana :-)

diagram analogi sederhana, terjadi pergeseran titik netral saat Ramadhan  🙂


Keajaiban Berbagi & The Law of Diminishing Return

Mengawali semuanya, selain untuk khalayak, tulisan saya kali ini juga ditujukan pada diri penulis sendiri.
Intisari tulisan ini adalah substansi kultum Irfan Syauqi Beik, kepala prodi Ekonomi Syariah IPB, di suatu ba’da isya menjelang terawih di Masjid Al-Hurriyyah Ramadhan 1433H.

Semua orang pasti setuju bahwa ‘berbagi’ merupakan anggota dari himpunan tak tercacah (karena saking banyak anggotanya) akhlak terpuji. Selayaknya anggota akhlak terpuji lainnya, berbagi juga memiliki karakteristik yang mirip dengan ‘teman-temannya’ sesama anggota akhlak terpuji, yaitu mudah diucapkan namun susah dipraktikkan. Yap, itulah faktanya. Mayoritas dari kita cenderung berat untuk mempraktikkan amal baik yang satu ini.

Kemudian telah banyak bermunculan kalimat-kalimat hebat yang merupakan hikmah dari indahnya berbagi. Mereka dirancang sebagai ‘obat’ untuk menghilangkan rasa berat untuk berbagi tersebut. Salah satu kalimat hebat itu adalah “Berbagi sama sekali tidak mengurangi nikmat, justru menambahnya”.

Banyak orang, termasuk penulis sendiri, awalnya tidak menerima kalimat tersebut. Kalimat itu mungkin memang benar secara pahala-sentris, tapi tidak secara logis. Mana ada ceritanya berbagi yang secara fisik nyata-nyata adalah memberikan sebagian milik kita menjadi milik orang lain justru dibilang menambah? (Astaghfirullah, maafkan kejahilliahan hamba ya Rabb 😦 )

Itulah goal dari tulisan ini. Tulisan ini mencoba memperlihatkan secara logis / sains-sentris bahwa kalimat hebat tadi sama sekali tidak keliru.

***

Bayangkan di suatu sore menjelang berbuka, ada dua orang pemuda (katakanlah A dan B) yang karena ‘lapar mata’ mereka sama-sama membeli 3 gelas es kelapa. Saat bedug maghrib terdengar, pemuda A segera meminum ketiga gelas es kelapa secara berurutan. Berbeda dengan pemuda B, ia berubah pikiran dan memilih untuk berbagi, hanya meminum satu gelas es kelapanya dan memberikan dua gelas lainnya kepada dua orang temannya, masing-masing satu gelas. Kemudian pemuda B beserta kedua temannya meminum satu gelas es kelapa yang mereka punyai masing-masing.

Maka ini lah yang terjadi.

Di antara mata kuliah TPB yang saya dapat, ada mata kuliah Ekonomi Umum (ekum). Selanjutnya di ekum itu ada salah satu hukum yang disebut “the law of diminishing return” atau yang saya artikan bebas sebagai “hukum hasil produksi yang semakin menurun”. Hukum yang eksis di teori ekonomi mikro ini secara sederhana menjamin bahwa jika dilakukan penambahan terus menerus terhadap salah satu faktor produksi sedangkan faktor yang lain dibiarkan tetap, maka tingkat produktifitas akan terus menurun.

Nah, hukum ini agaknya juga berlaku dalam kasus kedua pemuda kita tadi. Misalkan tingkat utilitas (kepuasan) yang akan dihasilkan oleh satu gelas es kelapa adalah 100 untuk gelas pertama yang diminum. Kemudian menurut hukum kita tadi, tingkat utilitas yang dihasilkan olah es kelapa gelas kedua yang diminum olah orang yang sama secara berurutan tentu saja mengalami penurunan, katakanlah menjadi 80. Penurunan ini sesuatu yang masuk akal, bukan? Kepuasan kita akan semakin berkurang saat menyantap sesuatu secara terus-menerus. Oke, dengan argumen yang sama, misalkan tingkat kepuasan yang dihasilkan oleh gelas yang diminum ketiga kali secara berurutan oleh orang yang sama adalah 60.

Selanjutnya, sekarang kita hitung berapa total kepuasan yang terjadi pada kedua kasus kita tadi. Pada kasus pemuda A, total tingkat kepuasan yang dihasilkan oleh ketiga gelas es kelapa yang diminumnya adalah 100 + 80 + 60 = 240. Sedangkan pada kasus pemuda B, ketiga es kelapa diminum pada urutan yang pertama oleh masing masing pemiliknya, jadi total tingkat kepuasan adalah 100 + 100 + 100 = 300.

Nah, terlihat keajaibannya bukan? Kasus pemuda B menghasilkan total tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari kasus pemuda A. Jadi ternyata berbagi bukan mengurangi nikmat, justru menambahnya! 🙂