Category Archives: Opini

Catatan Kontemplasi untuk Para Aktivis Mahasiswa

Catatan Aktivis

Apa yang ada di benak kalian saat ditanyai definisi aktivis? Di benak penulis, Aktivis adalah gelar yang disandang oleh segolongan mahasiswa yang aktif di (berbagai) organisasi di lingkungan kampusnya. Mereka yang menyandang gelar ini biasanya dikenal sebagai mahasiswa-mahasiswa idealis yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kehidupan yang semakin hari semakin usang dan cenderung ditinggalkan –oleh kebanyakan generasi muda zaman sekarang.

Sebagai konsekuensi dari banyaknya ‘mainan’ organisasi yang mereka punya, mereka sudah pasti memiliki banyak kegiatan di luar kelas perkuliahan. Rapat koordinasi ini, rapat persiapan acara itu, dan rapat-rapat yang lain diselingi sekali-dua melakukan aksi turun ke jalan alias demo, pokoknya kegiatan mereka banyak. Konon, rapat bagi mereka sudah seperti makan, (minimal) tiga kali sehari!

Membicarakan apa yang menjadi isi kepala para aktivis niscaya hanya akan meninggalkan decak kagum. Sebab mereka sudah biasa memikirkan banyak hal yang lebih besar dari sekadar “Nanti malam enaknya makan apa ya?” atau “Liburan semester nanti liburan ke mana ya?”. Sama sekali jauh lebih besar dari hal-hal picisan semacam itu.

Mereka tak jarang memikirkan hal-hal yang telah menyentuh skala ‘negara’. “Kenapa masih banyak penduduk miskin di Indonesia?” “Apa yang salah dengan

Lanjutkan membaca

Iklan

Menjadi Minoritas & Self Re-Inventing: Duta Seperti Apa Kita?

Izinkan saya memulai tulisan ini dengan menukil salah satu kata-kata bijak klasik:

Hidup sejatinya adalah perjalanan

Sebagai manusia yang hidup dalam peradaban (yang katanya) tinggi, selama hidup kita sampai dengan hari ini, kita tentu pernah mengalami fenomena “transisi lingkungan”. Kita berpindah dari lingkungan lama, dan masuk ke lingkungan yang (sama sekali) baru. Contoh trivial sangat mungkin terjadi pada saat perpindahan level sekolah kita, bisa jadi dari SD ke SMP, SMP ke SMA, maupun SMA ke Perguruan Tinggi. Contoh lain misalnya ketika kita mendaftar kursus, les di bimbingan belajar, dan sebagainya.

Saya pribadi mengalami beberapa kali peristiwa semacam ini. Saat transisi dari SD ke SMP (saya adalah satu-satunya lulusan SD saya yang melanjutkan ke SMP tersebut), transisi dari SMA ke Perguruan tinggi (kali ini tidak sendiri, tetapi –hanya– berdua, alumni SMA saya yang melanjutkan ke IPB), dan yang masih baru adalah mimpi jadi nyata saya: melanjutkan sekolah di negeri orang. Saya adalah satu-satunya alumni kampus saya yang saat ini sedang aktif menimba ilmu di Leiden.

Ada dua kesamaan yang mengikuti setiap fenomena transisi lingkungan terjadi. Pertama adalah perubahan status saya relatif terhadap lingkungan, yakni mayoritas menjadi minoritas. Komunitas sosial yang saya melekat padanya di lingkungan lama sudah tak lagi menjadi mayoritas di lingkungan yang baru. Kesamaan kedua yakni

Lanjutkan membaca


Cara Kerja Nur-ani dan Hal yang Mempengaruhinya

Salam dan selamat malam semuanya!

Seminggu yang lalu, saya mengunggah status status ikhwal renungan saya tentang Nur-ani. Sesuatu yang saya sebut sebagai ‘self-valuating system‘ yang dimiliki oleh setiap kita. Redaksi lengkap status tersebut adalah demikian:

status

Pada tulisan versi blog ini, saya ingin menambahkan penjelasan (versi saya tentunya) tentang bagaimana cara kerja Nur-ani melakukan tugasnya sebagai ‘self-valuating system’. Namun sebelum kesana, saya ingin terlebih dahulu kita satu pemahaman tentang apa sebenarnya makhluk yang bernama Nur-ani ini.

Nur-ani adalah pengejewantahan dari seluruh nilai-nilai kehidupan yang tertanam dalam diri kita. Tentu kita semua paham apa itu nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, rendah hati, ringan tangan, ikhlas, lapang dada, disiplin, tidak mengambil hak orang lain, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka lah yang membentuk rupa dari Nur-ani kita (jika kita punya nilai-nilai tersebut).

Diagram NUrani

Pembentukan Nur-ani

Nur-ani bertindak sebagai ‘self-valuating system’ karena ia layaknya metal detector yang sering kita jumpai di bandara. Ketika seseorang dengan logam (besi) masih dikenakannya, maka metal detector akan berbunyi. Dan prosedur normatifnya adalah orang tersebut tidak boleh masuk. Masalah orang tersebut ternyata dipersilakan masuk atau tidak, sebenarnya ada pada kendali penuh petugas bandara. Sama dengan Nur-ani. Nur-ani akan ‘berbunyi’ memberi peringatan pada empunya ketika empunya hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Namun ‘bunyi’ tersebut hanya sebatas peringatan. Masalah akhirnya empunya melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut, itu terserah keputusan empunya (Ini konsep yang sejatinya punya makna yang dalam).

Selanjutnya, berikut adalah cara kerja Nur-ani yang saya coba ilustrasikan dalam 4 panel gambar berurut: Lanjutkan membaca


Sociopreneur dan Dua Contoh Hebatnya

Mengawali tulisan ini, saya ingin memastikan bahwa judul postingan ini sama sekali tidak ada yang salah. Betul, “sociopreneur”, bukan “entrepreneur” lho ya. Sociopreneur? Mungkin kebanyakan orang masih merasa asing dengan istilah ini, dan lebih mengenal istilah “entrepreneur”. Faktanya, dua istilah ini memang berhubungan dekat kok, tepatnya bahwa sociopreneur adalah salah satu ‘anak’ dari entrepreneur. Lalu apa itu sociopreneur secara persis?

Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namun dengan misi utama menciptakan social-impact yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.

 Sedikit lebih jauh, masyarakat kelas menengah bawah yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya telah ditentukan secara spesifik karakteristik/populasinya.

Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa entitas sociopreneur adalah irisan antara entitas entrepreneur (usaha bisnis murni) dan lembaga sosial seperti yayasan. Jika entrepeneur hanya berorientasi pada profit dan sebaliknya yayasan hanya berfokus pada mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial (tanpa mengusahakan sumbernya dari mana), maka sociopreneur adalah peralihan antara keduanya. Sociopreneur mengusung misi sosial, dengan tidak melupakan bagaimana dana yang diperlukan untuk kegiatan itu dapat terkumpul.

ilustrasi diagram venn sociopreneur

ilustrasi diagram venn sociopreneur

Jadi, sociopreneur secara sederhana dapat dikatakan sebagai Lanjutkan membaca


Senarai: Renungan tentang Sukses-Gagal

Salam bahagia kawan!

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa semua orang, saya yakin sudah memikirkan topik yang akan saya angkat pada posting kali ini paling tidak sekali saja. I guarantee that dengan taraf nyata limit mendekati 0%. (emang ada ya taraf nyata limit-limitan gitu). Tapi seriusan, saya yakin dan percaya setiap raga yang jiwanya masih cukup sehat pasti pernah menanyai dirinya sendiri tentang topik ini, lantas mencari pemahaman yang kiranya layak diinternalisasi bagi diri.

success (1)

Oukay, lets strike to the topic then. Tengah malam ini, saya ingin berbagi sekelumit pemahaman saya tentang “Sukses-Gagal”. Iyap, topik yang klise populer binggo bukan? Kalian tentu pernah, bahkan sering memikirkannya bukan? I know you so well guys (SKSD a.k.a Sok Kenal Sok Deket banget dah lu Par! 😀 ) 🙂

***

Seperti yang sudah saya tulis di bagian mukaddimah barusan, semua orang pasti punya pemahaman masing-masing tentang “Sukses-Gagal”. Tentu saja, karena –Maha Besarnya Sang Pencipta– tidak ada dua orang yang punya pemikiran yang identik sama, maka tentu ada berbagai pemahaman yang muncul. Namun, nampaknya sebagian besar pemahaman itu bermuara pada Lanjutkan membaca


Serba Serbi 9 Juli dalam Perspektif Parara (episode 1)

Peduli atau tidak, lusa, Rabu 9 Juli 2014 pemimpin bangsa ini untuk lima tahun kedepan akan ditentukan. Logistik pemilu sudah didistribusikan, surat suara sudah dicetak, disebar ke seluruh penjuru negeri ini. Hanya ada dua pasang foto disana, Prabowo-Hatta di nomor urut 1 dan Jokowi-JK di nomor urut 2. Acuh? Silakan. Tapi jangan banyak cakap jika Indonesia 5 tahun kedepan tak sesuai dengan harapan.

pilpres-2014

Berdasar survei LIPI terakhir (per 26 Juni 2014), elektabilitas Prabowo-Hatta  dan Jokowi-JK secara berurut adalah 34% dan 43%. Sisanya, sekitar 23% belum menentukan pilihan, atau bahasa inteleknya undecided voters, atau bahasa gaulnya pemilih galau. Kedua tim sukses pemenangan capres-cawapres lantas sepakat betul untuk bertarung memperebutkan Lanjutkan membaca


(Another) Hikmah Asap Riau: Presiden Gak Boleh Cuti!

asap riau

(Republika.co.id, Pekanbaru) . . . Presiden mengatakan, ia tahu bahwa hari ini telah dimulai masa kampanye pemilihan umum legislatif. Sehingga terbuka peluang sejumlah pejabat daerah telah mengajukan cuti untuk melakukan kampanye.

“Sebenarnya dalam kapasitas saya yang lain dijadwalkan untuk juga berkampanye di sebuah provinsi, tapi saya tinggal semua itu karena saya harus bersama-sama saudara mengatasi masalah ini (bencana asap),” katanya.

Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah Sukawi Sutarip mengatakan bahwa Presiden Yudhoyono pada Minggu batal menjadi juru kampanye Partai Demokrat di Magelang, Jawa Tengah, karena memimpin operasi militer Lanjutkan membaca


Jakarta Kota Denda Baru?

Salah satu pasangan pemimpin daerah paling disorot saat ini, Jokowi-Ahok, menerapkan kebijakan baru yang cukup berani pada daerah yang dipimpinnya. Kebijakan itu tak lain adalah Kebijakan denda. Seperti yang dilansir portal berita detik.com, duo pemimpin ini akhirnya memutuskan akan  mengganjar denda pada masyarakatnya yang berani melakukan empat perbuatan perbuatan tidak tertib. Ganjaran denda yang dikenakan pun tidak dapat dibilang ringan, yakni berkisar antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Wah. Berikut adalah empat perbuatan yang akan berakibat pada denda yang dimaksud.

  1.   Membuang sampah sembarangan. Siapa pun yang berani nyampah sembarangan, bersiaplah untuk membayar denda 500 ribu rupiah. Alasannya jelas. Jakarta punya masalah yang serius soal sampah dalam beberapa tahun terakhir.  Sampah Jakarta yang menumpuk bukan pada tempatnya juga Lanjutkan membaca

Setahun Jokowi-Ahok: Perwujudan Kepemimpinan yang Didamba Rakyat Jakarta

setahun menjabat, Jokowi-Ahok gelar dengar pendapat warga DKI di Monas

setahun menjabat, Jokowi-Ahok gelar dengar pendapat warga DKI di Monas

Kemarin, genap setahun sudah Jokowi-Ahok memegang kendali roda pemerintahan DKI Jakarta. Setahun yang progresif. Rasanya, cukup satu kata untuk menggambarkan apa saja yang Jokowi-Ahok lakukan setahun terakhir ini. Kerja. Itu lah dia, kedua pemimpin ini tak henti-hentinya memberikan seluruh waktunya untuk membenahi Ibu Kota tercinta. Ada banyak hal nyata telah dilakukan. Lanjutkan membaca


Bahkan Google pun Aware dengan Bangsa ini

Happy fasting everyone! 🙂

Sudahkah kalian membuka google.com hari ini? Kalau belum, coba buka! Karena hari ini ada google doodle edisi Hari Anak Nasional 2013.

google peringati Hari Anak Nasional 2013 :-)

google peringati Hari Anak Nasional 2013 🙂

Tidak, saya tidak akan mengupas secara mendalam apa itu Hari Anak Nasional dalam tulisan ini. Sebab saya yakin banyak site yang lebih kompeten untuk menjelaskannya. Yang akan sedikit saya bahas adalah salah satu sisi lain dari itu.

Google pun aware dengan bangsa ini

Yap itu tagline-nya. Seperti yang kalian tahu, Google Doodle hanya muncul pada momen-momen tertentu, yang kebanyakan adalah momen penting dunia. Momen-momen seperti peringatan ulang tahun tokoh memorable dunia, peringatan hari kemerdekaan negara-negara dan tanggal-tanggal penting dunia. Atau singkatnya, pada setiap edisi Google Doodle, ia membawa misi mengabarkan ‘sesuatu’ kepada dunia.

Berbicara tentang kiprah keterlibatan negara kita di Google Doodle, tidak terlalu memuaskan. Negara kita dengan segala yang momen yang ada tidak cukup sering menjadi tampilan Google Doodle. Sepengetahuan saya , track-record kita hanyalah momen 17-an, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

google doodle edisi HUT RI ke-67

google doodle edisi HUT RI ke-67

Tetapi hari ini, secara mengejutkan ada sebuah momen dari negara kita yang dijadikan tampilan Google Doodle. Hari Anak Nasional 2013. Tadi, pertama kali saya tahu tentang hal ini, saya kemudian termenung sesaat.

Mengapa Hari Anak Nasional? Karena sudah saatnya bangsa yang besar ini lebih aware dengan anak-anaknya, generasi kunci penerus peradaban bangsa. Google seolah mengingatkan bangsa ini akan pentingnya membina anak-anaknya.

Namun, lihatlah sekeliling, adalah mudah menemukan begitu banyak kemirisan dalam dunia anak-anak di negeri ini. Begitu banyak anak-anak di negeri ini yang tidak terpenuhi haknya atas berbagai hal yang seharusnya ia dapatkan. Pendidikan, banyak sekali anak-anak kita yang putus sekolah karena alasan klasik yang bernama ekonomi. Kasih sayang, banyak anak-anak kita yang ditelantarkan orangtunya sendiri, berita dibuangnya bayi di tong sampah pun sering kita temui. Sebaliknya, mereka seringkali justru sudah memikul kewajiban yang belum saatnya dipikul. Banyak anak-anak kita yang sudah bekerja (apa saja) untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Belum lagi soal perdagangan anak-anak. Belum lagi soal…Ah, mencacahnya lebih jauh hanya semakin membuat sesak. 😦

pemandangan yang sangat biasa, bukan?

pemandangan yang sangat biasa, bukan?

piramida penduduk Indonesia 2012 (bps.go.id)

piramida penduduk Indonesia 2012 (bps.go.id)

Lalu, tahukah kalian? Angka pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi (1,49%) membuat piramida penduduk yang dimiliki oleh Indonesia berbentuk seperti limas. Lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Artinya jelas, populasi negara kita didominasi oleh penduduk usia muda alias anak-anak. Ini berarti 15-25 tahun mendatang, penduduk usia produktif akan jauh lebih besar jumlahnya daripada penduduk usia non-produktif. Kita seharusnya benar-benar ngeh dengan fakta ini. Kita seharusnya mempersiapkan betul anak-anak kita, bukan menelantarkannya. Seharusnya kita bekali mereka dengan akhlak, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur. Sehingga mereka dapat menjadi tulang punggung Indonesia kelak. Generasi yang akhirnya dapat menyongsong kemajuan bangsa ini secara integral.

 
Semoga dengan merenungi makna dibalik Google Doodle hari ini, kita semua sadar dan terinspirasi untuk turut membenahi hidup dan kehidupan anak-anak bangsa ini…