Category Archives: Opini

Cara Kerja Nur-ani dan Hal yang Mempengaruhinya

Salam dan selamat malam semuanya!

Seminggu yang lalu, saya mengunggah status status ikhwal renungan saya tentang Nur-ani. Sesuatu yang saya sebut sebagai ‘self-valuating system‘ yang dimiliki oleh setiap kita. Redaksi lengkap status tersebut adalah demikian:

status

Pada tulisan versi blog ini, saya ingin menambahkan penjelasan (versi saya tentunya) tentang bagaimana cara kerja Nur-ani melakukan tugasnya sebagai ‘self-valuating system’. Namun sebelum kesana, saya ingin terlebih dahulu kita satu pemahaman tentang apa sebenarnya makhluk yang bernama Nur-ani ini.

Nur-ani adalah pengejewantahan dari seluruh nilai-nilai kehidupan yang tertanam dalam diri kita. Tentu kita semua paham apa itu nilai-nilai kehidupan. Kejujuran, rendah hati, ringan tangan, ikhlas, lapang dada, disiplin, tidak mengambil hak orang lain, dan seterusnya dan seterusnya. Mereka lah yang membentuk rupa dari Nur-ani kita (jika kita punya nilai-nilai tersebut).

Diagram NUrani

Pembentukan Nur-ani

Nur-ani bertindak sebagai ‘self-valuating system’ karena ia layaknya metal detector yang sering kita jumpai di bandara. Ketika seseorang dengan logam (besi) masih dikenakannya, maka metal detector akan berbunyi. Dan prosedur normatifnya adalah orang tersebut tidak boleh masuk. Masalah orang tersebut ternyata dipersilakan masuk atau tidak, sebenarnya ada pada kendali penuh petugas bandara. Sama dengan Nur-ani. Nur-ani akan ‘berbunyi’ memberi peringatan pada empunya ketika empunya hendak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya. Namun ‘bunyi’ tersebut hanya sebatas peringatan. Masalah akhirnya empunya melakukan atau tidak melakukan tindakan tersebut, itu terserah keputusan empunya (Ini konsep yang sejatinya punya makna yang dalam).

Selanjutnya, berikut adalah cara kerja Nur-ani yang saya coba ilustrasikan dalam 4 panel gambar berurut: Lanjutkan membaca

Iklan

Sociopreneur dan Dua Contoh Hebatnya

Mengawali tulisan ini, saya ingin memastikan bahwa judul postingan ini sama sekali tidak ada yang salah. Betul, “sociopreneur”, bukan “entrepreneur” lho ya. Sociopreneur? Mungkin kebanyakan orang masih merasa asing dengan istilah ini, dan lebih mengenal istilah “entrepreneur”. Faktanya, dua istilah ini memang berhubungan dekat kok, tepatnya bahwa sociopreneur adalah salah satu ‘anak’ dari entrepreneur. Lalu apa itu sociopreneur secara persis?

Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namun dengan misi utama menciptakan social-impact yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah.

 Sedikit lebih jauh, masyarakat kelas menengah bawah yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya telah ditentukan secara spesifik karakteristik/populasinya.

Dari definisi di atas, dapat dimengerti bahwa entitas sociopreneur adalah irisan antara entitas entrepreneur (usaha bisnis murni) dan lembaga sosial seperti yayasan. Jika entrepeneur hanya berorientasi pada profit dan sebaliknya yayasan hanya berfokus pada mengelola dan mengalokasikan dana untuk kegiatan sosial (tanpa mengusahakan sumbernya dari mana), maka sociopreneur adalah peralihan antara keduanya. Sociopreneur mengusung misi sosial, dengan tidak melupakan bagaimana dana yang diperlukan untuk kegiatan itu dapat terkumpul.

ilustrasi diagram venn sociopreneur

ilustrasi diagram venn sociopreneur

Jadi, sociopreneur secara sederhana dapat dikatakan sebagai Lanjutkan membaca


Senarai: Renungan tentang Sukses-Gagal

Salam bahagia kawan!

Pertama-tama, izinkan saya mengatakan bahwa semua orang, saya yakin sudah memikirkan topik yang akan saya angkat pada posting kali ini paling tidak sekali saja. I guarantee that dengan taraf nyata limit mendekati 0%. (emang ada ya taraf nyata limit-limitan gitu). Tapi seriusan, saya yakin dan percaya setiap raga yang jiwanya masih cukup sehat pasti pernah menanyai dirinya sendiri tentang topik ini, lantas mencari pemahaman yang kiranya layak diinternalisasi bagi diri.

success (1)

Oukay, lets strike to the topic then. Tengah malam ini, saya ingin berbagi sekelumit pemahaman saya tentang “Sukses-Gagal”. Iyap, topik yang klise populer binggo bukan? Kalian tentu pernah, bahkan sering memikirkannya bukan? I know you so well guys (SKSD a.k.a Sok Kenal Sok Deket banget dah lu Par! 😀 ) 🙂

***

Seperti yang sudah saya tulis di bagian mukaddimah barusan, semua orang pasti punya pemahaman masing-masing tentang “Sukses-Gagal”. Tentu saja, karena –Maha Besarnya Sang Pencipta– tidak ada dua orang yang punya pemikiran yang identik sama, maka tentu ada berbagai pemahaman yang muncul. Namun, nampaknya sebagian besar pemahaman itu bermuara pada Lanjutkan membaca


Serba Serbi 9 Juli dalam Perspektif Parara (episode 1)

Peduli atau tidak, lusa, Rabu 9 Juli 2014 pemimpin bangsa ini untuk lima tahun kedepan akan ditentukan. Logistik pemilu sudah didistribusikan, surat suara sudah dicetak, disebar ke seluruh penjuru negeri ini. Hanya ada dua pasang foto disana, Prabowo-Hatta di nomor urut 1 dan Jokowi-JK di nomor urut 2. Acuh? Silakan. Tapi jangan banyak cakap jika Indonesia 5 tahun kedepan tak sesuai dengan harapan.

pilpres-2014

Berdasar survei LIPI terakhir (per 26 Juni 2014), elektabilitas Prabowo-Hatta  dan Jokowi-JK secara berurut adalah 34% dan 43%. Sisanya, sekitar 23% belum menentukan pilihan, atau bahasa inteleknya undecided voters, atau bahasa gaulnya pemilih galau. Kedua tim sukses pemenangan capres-cawapres lantas sepakat betul untuk bertarung memperebutkan Lanjutkan membaca


(Another) Hikmah Asap Riau: Presiden Gak Boleh Cuti!

asap riau

(Republika.co.id, Pekanbaru) . . . Presiden mengatakan, ia tahu bahwa hari ini telah dimulai masa kampanye pemilihan umum legislatif. Sehingga terbuka peluang sejumlah pejabat daerah telah mengajukan cuti untuk melakukan kampanye.

“Sebenarnya dalam kapasitas saya yang lain dijadwalkan untuk juga berkampanye di sebuah provinsi, tapi saya tinggal semua itu karena saya harus bersama-sama saudara mengatasi masalah ini (bencana asap),” katanya.

Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah Sukawi Sutarip mengatakan bahwa Presiden Yudhoyono pada Minggu batal menjadi juru kampanye Partai Demokrat di Magelang, Jawa Tengah, karena memimpin operasi militer Lanjutkan membaca


Jakarta Kota Denda Baru?

Salah satu pasangan pemimpin daerah paling disorot saat ini, Jokowi-Ahok, menerapkan kebijakan baru yang cukup berani pada daerah yang dipimpinnya. Kebijakan itu tak lain adalah Kebijakan denda. Seperti yang dilansir portal berita detik.com, duo pemimpin ini akhirnya memutuskan akan  mengganjar denda pada masyarakatnya yang berani melakukan empat perbuatan perbuatan tidak tertib. Ganjaran denda yang dikenakan pun tidak dapat dibilang ringan, yakni berkisar antara 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Wah. Berikut adalah empat perbuatan yang akan berakibat pada denda yang dimaksud.

  1.   Membuang sampah sembarangan. Siapa pun yang berani nyampah sembarangan, bersiaplah untuk membayar denda 500 ribu rupiah. Alasannya jelas. Jakarta punya masalah yang serius soal sampah dalam beberapa tahun terakhir.  Sampah Jakarta yang menumpuk bukan pada tempatnya juga Lanjutkan membaca

Setahun Jokowi-Ahok: Perwujudan Kepemimpinan yang Didamba Rakyat Jakarta

setahun menjabat, Jokowi-Ahok gelar dengar pendapat warga DKI di Monas

setahun menjabat, Jokowi-Ahok gelar dengar pendapat warga DKI di Monas

Kemarin, genap setahun sudah Jokowi-Ahok memegang kendali roda pemerintahan DKI Jakarta. Setahun yang progresif. Rasanya, cukup satu kata untuk menggambarkan apa saja yang Jokowi-Ahok lakukan setahun terakhir ini. Kerja. Itu lah dia, kedua pemimpin ini tak henti-hentinya memberikan seluruh waktunya untuk membenahi Ibu Kota tercinta. Ada banyak hal nyata telah dilakukan. Lanjutkan membaca


Bahkan Google pun Aware dengan Bangsa ini

Happy fasting everyone! 🙂

Sudahkah kalian membuka google.com hari ini? Kalau belum, coba buka! Karena hari ini ada google doodle edisi Hari Anak Nasional 2013.

google peringati Hari Anak Nasional 2013 :-)

google peringati Hari Anak Nasional 2013 🙂

Tidak, saya tidak akan mengupas secara mendalam apa itu Hari Anak Nasional dalam tulisan ini. Sebab saya yakin banyak site yang lebih kompeten untuk menjelaskannya. Yang akan sedikit saya bahas adalah salah satu sisi lain dari itu.

Google pun aware dengan bangsa ini

Yap itu tagline-nya. Seperti yang kalian tahu, Google Doodle hanya muncul pada momen-momen tertentu, yang kebanyakan adalah momen penting dunia. Momen-momen seperti peringatan ulang tahun tokoh memorable dunia, peringatan hari kemerdekaan negara-negara dan tanggal-tanggal penting dunia. Atau singkatnya, pada setiap edisi Google Doodle, ia membawa misi mengabarkan ‘sesuatu’ kepada dunia.

Berbicara tentang kiprah keterlibatan negara kita di Google Doodle, tidak terlalu memuaskan. Negara kita dengan segala yang momen yang ada tidak cukup sering menjadi tampilan Google Doodle. Sepengetahuan saya , track-record kita hanyalah momen 17-an, Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.

google doodle edisi HUT RI ke-67

google doodle edisi HUT RI ke-67

Tetapi hari ini, secara mengejutkan ada sebuah momen dari negara kita yang dijadikan tampilan Google Doodle. Hari Anak Nasional 2013. Tadi, pertama kali saya tahu tentang hal ini, saya kemudian termenung sesaat.

Mengapa Hari Anak Nasional? Karena sudah saatnya bangsa yang besar ini lebih aware dengan anak-anaknya, generasi kunci penerus peradaban bangsa. Google seolah mengingatkan bangsa ini akan pentingnya membina anak-anaknya.

Namun, lihatlah sekeliling, adalah mudah menemukan begitu banyak kemirisan dalam dunia anak-anak di negeri ini. Begitu banyak anak-anak di negeri ini yang tidak terpenuhi haknya atas berbagai hal yang seharusnya ia dapatkan. Pendidikan, banyak sekali anak-anak kita yang putus sekolah karena alasan klasik yang bernama ekonomi. Kasih sayang, banyak anak-anak kita yang ditelantarkan orangtunya sendiri, berita dibuangnya bayi di tong sampah pun sering kita temui. Sebaliknya, mereka seringkali justru sudah memikul kewajiban yang belum saatnya dipikul. Banyak anak-anak kita yang sudah bekerja (apa saja) untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Belum lagi soal perdagangan anak-anak. Belum lagi soal…Ah, mencacahnya lebih jauh hanya semakin membuat sesak. 😦

pemandangan yang sangat biasa, bukan?

pemandangan yang sangat biasa, bukan?

piramida penduduk Indonesia 2012 (bps.go.id)

piramida penduduk Indonesia 2012 (bps.go.id)

Lalu, tahukah kalian? Angka pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi (1,49%) membuat piramida penduduk yang dimiliki oleh Indonesia berbentuk seperti limas. Lebar di bawah dan mengerucut ke atas. Artinya jelas, populasi negara kita didominasi oleh penduduk usia muda alias anak-anak. Ini berarti 15-25 tahun mendatang, penduduk usia produktif akan jauh lebih besar jumlahnya daripada penduduk usia non-produktif. Kita seharusnya benar-benar ngeh dengan fakta ini. Kita seharusnya mempersiapkan betul anak-anak kita, bukan menelantarkannya. Seharusnya kita bekali mereka dengan akhlak, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai luhur. Sehingga mereka dapat menjadi tulang punggung Indonesia kelak. Generasi yang akhirnya dapat menyongsong kemajuan bangsa ini secara integral.

 
Semoga dengan merenungi makna dibalik Google Doodle hari ini, kita semua sadar dan terinspirasi untuk turut membenahi hidup dan kehidupan anak-anak bangsa ini…

 


Jangan Bohong, Lagi Puasa!

Selamat puasa semuanya! Semoga kualitas puasa kita semakin baik dari hari ke hari ya 🙂

Latar belakang saya menulis tulisan ini adalah suatu scene memori di masa-masa MPKMB (Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru) Angkatan 48 dulu. Suatu saat pada barisan pra-mobilisasi menuju GWW (Graha Widya Wisuda), ada seseorang (atau beberapa) kakak panitia yang berkata “Jangan berbohong dek, bulan puasa ini”.

***

Kalimat tersebut menggelitik saya hingga saat ini. Jangan bohong, bulan puasa ini. Setiap mengingat kalimat tersebut, selalu muncul pertanyaan yang sama dalam benak saya, “Lalu, jika bukan bulan puasa, apakah kita ‘dibolehkan’ berbohong?”. Pertanyaan saya tersebut retorik, bukan? 🙂 Karena sudah barang tentu jawabannya “TIDAK”.

Tetapi pada kenyataannya, saya tidak jarang mendapati kalimat-kalimat ‘bernada’ sama seperti kalimat tersebut di setiap Ramadhan. Salah satunya saya dapati beberapa hari yang lalu saat browsing di suatu news-site, saya mendapati artikel berjudul “Gubernur: PNS Jauhi Saling Fitnah Selama Ramadhan”. Sontak setelah membaca judulnya, keluar pula pertanyaan ‘senada’ dalam benak saya “Lalu, apakah di luar bulan puasa PNS tersebut boleh berfitnah-ria?”.

Well. Saya sepenuhnya menyadari bahwa kalimat-kalimat tersebut tidak sepenuhnya salah. Saya tahu kalau perbuatan-perbuatan tercela semacam itu dapat mencederai pahala puasa. Tetapi kemudian, apakah perbuatan-perbuatan tercela itu tidak kenapa-kenapa dilakukan saat kita tidak sedang berpuasa? Tentu tidak, bukan? 🙂

Saya tergelitik, karena kalimat-kalimat seperti itu seakan-akan menjawab “Ya, tidak masalah kalau di luar bulan puasa” pada pertanyaan saya yang terakhir. Kita harus alim di bulan puasa, dilarang berbuat buruk. Lalu jika bulan puasa telah berakhir, larangan tersebut seolah hilang saja.

Bulan puasa adalah bulan penempaan diri. Penempaan menjadi yang lebih baik dari segala sisi. Apalagi akhlak. Tujuan besarnya adalah kita menjadi sosok yang istiqomah dalam kebaikan, pun dalam menghindari keburukan. Tidak suka berbohong pada saat Ramadhan ya berlajut pula saat di luar ramadhan. Tidak saling fitnah juga demikian. Dilakukan secara istiqomah juga pada sebelas bulan lainnya

Sudah saatnya kita tidak mendikotomikan bulan-bulan. Jangan lagi ada anggapan bahwa ada bulan yang strictly melarang kita berbuat buruk, namun ada bulan yang seolah fine-fine saja menjadi latar waktu kita melakukan hal-hal buruk. Itulah poin yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini. 🙂

Terakhir, saya teringat perkataan Prof. Anja Meryandini, dosen biologi saya waktu TPB (Tingkat Persiapan Bersama) dulu. Saya tidak mengingat sempurna redaksi beliau, tapi intinya kurang lebih sama.

Setiap perbuatan, tidak peduli sekecil apapun perbuatan itu, hanya memiliki satu nilai: baik ataukah buruk. Tidak ada yang namanya perbuatan setengah buruk, atau seperempat baik misalnya. Jadi, tugas kita adalah mengidentifikasi perbuatan itu dengan tepat, lalu lakukan yang baik dan hindari yang buruk. — Prof. Anja

 


Mengkritisi Statistik Manipulatif

Lagi-lagi terjadi lah permasalahan klasik tahunan di negaraku. Untuk kesekian kalinya sekian golongan ngotot dengan sekian versi penanggalan qamariah-nya masing-masing.

***

Bagi kalian yang sudah sempat membaca tulisan saya yang Menyoal Kenaikan BBM, kalian pasti akan menemukan kalimat saya yang menyinggung tentang lembaga survei yang independen. Nah, pada kesempatan ini saya akan mencoba sedikit ngomong tentang objek yang menjadi muasal kesimpulan yang diklaim oleh lembaga-lembaga survei tersebut. Yap, saya akan mencoba ngomong soal statistik.

statistics-stats-backgrounds-wallpapers

Oiya, sebagai pendahuluan, saya ingin kalian tahu pasti bahwa saya tidak berniat menggurui ataupun sok tahu soal statistik. Karena faktanya, mayor saya matematika. 🙂

Sebagian besar isi tulisan ini saya dapatkan dari buku “Elementary Survey Sampling”-nya Richard L. Scheaffer dan wejangan Dr. Anang Kurnia pada kuliah Perancangan Percobaan.

 

***

Dimulai dari definisi

Setiap menemukan istilah baru, yang sebelumnya belum pernah ditemui, mulailah dengan mencari tahu definisinya. Sebab definisi akan menjelaskan apa arti istilah tersebut, memberikan syarat situasi yang harus dipenuhi jika sesuatu itu memerlukan syarat untuk dapat terjadi, dan memberikan batasan berlakunya sesuatu yang didefinisikan. Jadi jika tidak dimulai dari definisi, sangat mungkin terjadi kesalahan penafsiran atas istilah baru yang dimaksud tadi.

Statistik adalah karakteristik yang dimiliki oleh contoh.

Sebagian orang memahami bahwa statistik dan statistika itu adalah dua hal yang sama. Kurang tepat. Mereka tidaklah sama, statistika adalah ilmu yang mempelajari tentang statistik.

Masih ngambang? 😀

Oke, jadi begini. Statistik itu memang tipikal kata yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan mendefinisikan dirinya sendiri. Ia baru akan dapat dipahami saat kita juga mengetahui definisi kata-kata yang menjadi ‘teman’-nya. Atas alasan itulah izinkan saya juga memberikan definisi dari populasi, contoh dan parameter. Mengapa justru populasi yang saya definisikan lebih dulu? Karena definisi contoh hanya dapat dimengerti dengan jelas jika kita sudah memahami definisi populasi.

populasi adalah keseluruhan objek yang menjadi minat kita untuk diambil kesimpulan terhadapnya.

contoh adalah subset atau himpunan bagian dari populasi, yakni sekumpulan objek yang benar-benar diamati untuk diketahui karakteristik yang dimilikinya.

parameter adalah karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Nah, sudah mulai tercerahkan? Kalau belum, silakan simak uraian berikut. 🙂

Seorang ahli gizi ingin mengetahui rata-rata berat badan seorang lansia yang berusia diatas 60 tahun di sebuah provinsi. Karena tidak mungkin ia mencacah satu-per satu lansia di provinsi tersebut dan mendata berat-badannya, maka ia memilih untuk mengambil 100 lansia secara acak dan kemudian ia tanyakan berapa berat badannya. Nah, dari uraian ini yang menjadi populasi adalah seluruh lansia yang berusia di atas 60 tahun. yang menjadi contohnya adalah 100 lansia yang dipilih secara acak dari seluruh daerah di provinsi tersebut, kemudian didata berat badannya. Parameter (yang ingin diduga) adalah rata-rata berat badan seorang lansia. Sedangkan statistiknya adalah data berat badan (yang kemudian dirata-ratakan) lansia yang benar-benar ia (si ahli gizi) dapatkan dari 100 orang lansia tersebut.
Setelah memahami sederhananya apa itu statistik, mari kita menuju ke poin yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini.

***

Sekitar lima tahun terakhir, saya sedikit memperhatikan pemberitaan tentang jumlah penduduk miskin di negara kita ini. Membaca artikel di koran maupun menonton berita di TV, suatu ketika saya mendapati pernyataan berikut.

menurut bank dunia, hampir separuh penduduk Indonesia adalah miskin.

dan pada saat yang relatif sama saya juga mendapati yang satu ini

pemerintah mengklaim penduduk Indonesia yang miskin hanya tinggal kurang dari 30%.

Saya kemudian kemudian bingung, mengapa di waktu yang sama ada dua jumlah penduduk miskin Indonesia? Selisihnya jauh pula. Beberapa saat berlalu, saya akhirnya mendapat sedikit pencerahan tentang hal ini.

***

Definisi yang berbeda

Muasal perbedaan ini adalah perbedaan definisi. Yap, seperti yang saya telah kemukakan di awal tulisan ini. Ketidakjelasan pendefinisian rentan sekali menyebabkan kesalahan tafsir. Itulah yang terjadi pada kasus ini. Kata ‘miskin’ tidak didefinisikan dengan jelas. Ketidakjelasan definisi ini kemudian berakibat pada ketidaktunggalan pendefinisian kata ‘miskin’ tersebut.

Secara sederhana dan gamblang, pemerintah (pada klaimnya) mendefinisikan ‘miskin’ berbeda dengan ‘miskin’nya Bank Dunia. Menurut Bank Dunia, seseorang dikatakan miskin apabila penghasilannya dibawah 2 dolar amerika per hari. Ternyata, pemerintah, mendefinisikan ‘miskin’nya dengan ‘hanya’ mereka yang berpenghasilan dibawah 7 ribu rupiah perhari. Terlihat bukan? Melihat kurs yang ada, dua dolar itu jelas-jelas paling tidak sama dengan 18 ribu rupiah (kurs 9000, faktanya detik ini rupiah cenderung terus melemah dan nyaris 10000 per dolar). Jadi jelas saja pemerintah mendapatkan angka yang jauh lebih kecil dari Bank Dunia. -___-

Pemilihan contoh rawan manipulasi

Seperti yang sudah saya sampaikan secara tersirat pada uraian tentang ahli gizi di atas, salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh contoh adalah ia harus dapat merepresentasikan keadaan populasi yang sebenarnya secara keseluruhan. Nah, dalam kaitannya dengan kasus perbedaan jumlah penduduk miskin kita tadi, bisa-bisa saja lembaga survei yang mencadi sumber klaim pemerintah tersebut tidak netral, lalu mengambil contoh yang tidak memenuhi sifat utama contoh tadi. Misalnya saja, daerah yang penduduknya dijadikan contoh (untuk diidentifikasi, miskin atau bukan) adalah hanya lingkungan perumahan yang teratur. Jika demikian, tentu statistik yang dihasilkan akan bias (tidak sesuai dengan kenyataan), karena contoh tidak mewakili keadaan populasi secara keseluruhan (karena pada kenyataan juga terdapat pemukiman kumuh). Pada akhirnya hal ini juga akan mengakibatkan menurunkan angka kemiskinan yang didapat.

representasi bias

representasi bias

***

Akhirnya, saya berharap kita semua bisa lebih bersikap kritis terhadap klaim-klaim statistik seperti ini. Jangan buru-buru percaya begitu saja dengan klaim yang bernada ‘encouraging’. Sebab, seringkali kita akan jadi malas bekerja, memperbaiki diri, jika banyak orang terus memuji.